Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Resolusi Jihad Hasyim Asy’ari; Perpaduan Sunan Giri dan Prabu Brawijaya VI



Kamis , 08 Mei 2025



Telah dibaca :  754

Kyai Hasyim lahir di Dusun Gedang di Utara Kota Jombang. Lahir pada tanggal 14 Pebruari 1987. Orang tuanya bernama Kyai Asy’ari dan Nyai Halimah. Sedangkan Kyai Asy’ari sendiri menantu Kyai Utsman Pengasuh Pesantren Gedang. Secara lengkap nama lengkap Kyai Hasyim adalah Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin ‘Abdul Wahid bin ‘Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin ‘Abdurrahman (Joko Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya) bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Aziz bin ‘Abdul Fattah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yaqin yang lebih popular dengan sebutan Sunan Giri.

Garis keturunan tersebut menunjukan bahwa Hasyim Asy’ari mempunyai garis keturunan ulama dan bangsawan yang secara genetic bersambung sampai pada Prabu Brawijaya VI, yang pada pemerintahannya masih beragama Hindu Jawa.

Hasyim Asy’ari muda merupakan sosok yang haus terhadap ilmu pengetahuan. Sejak kecil sudah mendapatkan pendidikan di pesantren kakeknya di Gedang dan dilanjutkan selama 10 tahun dalam pendidikan ayahnya di Pesantren Keras. Kecerdasan yang sangat luarbiasa, hingga pada umur 13 tahun, ia telah menjadi guru para santri-santri senior di Pesantren Keras.

Pada umur 15 tahun ia belajar lagi di Pesantren Wonorejo di Daerah Trowulan Mojokerto. Setelah itu, melanjutkan pengembaraan pendidikan di Pesantren Wonokoyo di Probolinggo selama tiga tahun. Lalu meneruskan pengembaraan intelektual di Pesantren Langitan Tuban. Melanjutkan lagi ke Pesantren Tenggelis Surabaya, ke Pesantren Kademangan di Bangkalan yang saat itu di asuh oleh Syeikh Khalil bin Abdul Latif, belajar di Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Mekah yang saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan agama dan perkumpulnya para ulama dunia.

Pada tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1317 hijriyah bertepatan dengan 3 Agustus 1899 Masehi, Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng. Meskipun beberapa kali pesantren tersebut dihancurkan oleh tentara Belanda, ia tetap sabar dan istiqomah dalam menyebarkan ilmu-ilmu agama. Justru semakin ditekan, santri semakin bertambah banyak. Dari Pesantren Tebuireng ini melahirkan para ulama-ulama besar dan mendirikan ribuan pesantren di seluruh pelosok nusantara. Kepakaran dalam bidang ilmu agama dan mampu menghafalkan kitab-Kitab Hadist Kutubussitah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah) dan kepakaran ilmu-ilmu agama lainya yang kemudian mendapatkan gelar Hadratusyeikh atau Maha Guru para ulama yang tersebar di nusantara dan luar negeri.

Di pesantren tebuireng lahir organisasi ulama yang disebut dengan Nadhlatul Ulama (NU), Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) serta Laskar-Laskar Perjuangan seperti Hisbullah dan Fisabilillah.

Resolusi Jihad Wujud Pribadi Nasionalis Religius

Tulisan singkat ini hanya akan menulis sebagian kecil karya nyata Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad yang terjadi pada tanggal 22 oktober 1945. Ini yang kemudian diperingati sebagai hari santri.

Mengapa seorang ulama yang keilmuannya sudah mendunia dan melalui keilmuannya telah melahirkan ratusan ribu ulama dan ribuan pesantren menggunakan istilah resolusi jihad untuk mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengapa Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa mencintai tanah air sebagian dari iman?. Bahkan demi menjaga negeri ini, ia menyerukan jihad fi sabilillah.

Mengapa juga orang-orang yang belum matang ilmu agama nya sering menilai konsep “cinta tanah air sebagian dari iman” dianggap bid’ah dan bertentangan dengan syariat Islam. Lucunya lagi, orang-orang yang berkoar-koar mengatakan demikian masih terbatas pemahaman agama nya dan juga belum pernah merasakan betapa beratnya menjaga eksistensi negara sebagai negara yang berdaulat dan terbebas dari penjajahan. Orang yang belum matang ilmu agama nya dengan modal youtube sangat lantang mengatakan : “Indonesia negara thogut”, “tidak sesuai dengan model politik pada zaman nabi, tidak sesuai dengan masa khulafaurrasiyidin, dinasity umayyah, dinasti abasiyyah dan seterusny”. Lalu di sisi lain mengatakan, “hubbul wathan minal iman” tidak ada zaman nabi, itu bid’ah, dan bid’ah penghuninya masuk neraka!.

Mari belajar merenung sedikit saja sejarah bangsa dan bangsa-bangsa muslim lain saat mereka telah dikapling-kapling menjadi nation state!.

Generasi sekarang sudah mulai melupakan sejarah. Betapa sedihnya ulama NU melihat bangsa Palestina sampai detik ini belum menjadi negara yang berdaulat. Sejak tahun 1938, NU di bawah kepemimpinan KH. Mahfudz Shidiq terus berjuang agar bisa menjadi negara merdeka. Terserah bentuknya. Yang penting Merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. tapi sampai hari ini tidak berhasil. Salah satu penyebabnya karena bangsa Palestina mempunyai multi agama seperti Islam, Yahudi dan Nasrani. Setiap agama juga mempunyai visi politik sendiri untuk menjadi negara Merdeka. Kelompok garis kanan ingin mendirikan negara agama. Kelompok garis kiri ingin mendirikan negara beragama. Kelompok sosialis ingin mendirikan negara berideologi sosialis. Ribet. Mereka benci terhadap Yahudi yang disokong oleh Inggris dan bangsa barat lainnya, tapi setiap kelompok “gontok-gontokan” ingin menang sendiri dan ingin berkuasa sendiri untuk menjadi negara Palestina yang merdeka. Suatu gambaran psikologi masyarakat yang sangat sulit untuk disatukan.

Dari fakta ini sebenarnya bahwa menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia tentang keberagaman agama yang tidak mungkin mengistimewakan agama tertentu dan “meng-anak-tirikan” agama lain. Konsekuensinya masyarakat Indonesia Timur ingin melepaskan diri dari NKRI pada tahun 1945. Mereka mayoritas beragama Kristen.

Hasyim Asy’ari melihat ini sebagai suatu problem yang sangat besar. Maka, menerima filosofis Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai jalan tengah untuk mewujudkan kepentingan yang lebih besar yaitu Indonesia Merdeka. Sebab apa artinya memaksakan Piagam Jakarta tapi Indonesia kembali lagi ke masa lalu yaitu saling gontok-gontokan dan dijajah lagi oleh bangsa barat.  Mengalah sedikit untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar, yaitu mendapatkan kekayaan yang sangat banyak berupa Indonesia Merdeka. Dengan kemerdekaan tersebut, umat Islam bisa sholat dengan tenang, bisa menjalankan ajaran islam dengan leluasa. Begitu juga umat lainnya. tentu saja berbeda jika situasi bertolak belakang jika setiap tokoh agama ingin membentuk negara dengan ideologi mereka masing-masing. Mungkin juga Indonesia masih seperti sebagian negara Timur Tengah yang terus bertengkar dengan sesama saudara sendiri akibat berbeda agama, suku dan budaya.

Maka saat bangsa belanda ingin merebut kembali wilayah nusantara menjadi jajahan nya, Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Membela tanah air itu hukumnya wajib. Mati membela tanah air bagian dari mati sahid. Ketegasan prinsip dalam berbangsa dan bernegara sangat jelas dan tidak abu-abu.

Penulis artikel ini menilai hadratusyeikh dalam melihat bangsa Indonesia dengan menggunakan pendekatan agama model Sunan Giri dalam berdakwah dan menyebarkan agama melalui pendekatan pendidikan, budaya dan politik. Sebab agama tanpa adanya ketiga factor tersebut, maka agama tidak bisa diterapkan dengan maksimal.

Sedangkan rasa nasionalisme atau cinta tanah air, pada diri Hasyim Asy’ari menetes dari Prabu Brawijaya VI yang melahirkan semangat kebangsaan dan kedaulatan negara.

Kolaborasi Sunan Giri dan Prabu Brawijaya VI pada diri Hadratusyeikh Hasyim As’ari ini yang menjadi semangat cinta tanah air sebagai perekat paling kuat dalam berbangsa dan bernegara yang religus model ke-Indonesia-an. Ingin menegakan kejayaan suatu agama terletak bagaimana penganutnya mampu merealisasikan prestasi-prestasi diri dalam persaingan yang sangat kompetitif di dunia saat sekarang ini. Itulah bagian dari kesempurnaan ajaran Islam.

Maka yang dibutuhkan saat sekarang ini adalah mengisi wadah negara Indonesia dengan amalun sholihun (karya-karya yang berkualitas). Jika ini bisa dipegang, maka bangsa dan negara Indonesia menjadi rujukan bagi bangsa dan negara lain. Jika semua bangsa tunduk secara ekonomi dan politik Indonesia, maka bangsa ini sebenarnya secara filosofis telah menjadi khalifah fi al-ardhi



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85

Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157

Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344

Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872