
Kyai Hasyim lahir di Dusun Gedang di Utara
Kota Jombang. Lahir pada tanggal 14 Pebruari 1987. Orang tuanya bernama Kyai
Asy’ari dan Nyai Halimah. Sedangkan Kyai Asy’ari sendiri menantu Kyai Utsman
Pengasuh Pesantren Gedang. Secara lengkap nama lengkap Kyai Hasyim adalah Muhammad
Hasyim bin Asy’ari bin ‘Abdul Wahid bin ‘Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin
‘Abdurrahman (Joko Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya) bin
‘Abdullah bin ‘Abdul Aziz bin ‘Abdul Fattah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yaqin yang
lebih popular dengan sebutan Sunan Giri.
Garis keturunan tersebut menunjukan bahwa Hasyim
Asy’ari mempunyai garis keturunan ulama dan bangsawan yang secara genetic bersambung
sampai pada Prabu Brawijaya VI, yang pada pemerintahannya masih beragama Hindu
Jawa.
Hasyim Asy’ari muda merupakan sosok yang
haus terhadap ilmu pengetahuan. Sejak kecil sudah mendapatkan pendidikan di
pesantren kakeknya di Gedang dan dilanjutkan selama 10 tahun dalam pendidikan ayahnya
di Pesantren Keras. Kecerdasan yang sangat luarbiasa, hingga pada umur 13
tahun, ia telah menjadi guru para santri-santri senior di Pesantren Keras.
Pada umur 15 tahun ia belajar lagi di Pesantren
Wonorejo di Daerah Trowulan Mojokerto. Setelah itu, melanjutkan pengembaraan pendidikan
di Pesantren Wonokoyo di Probolinggo selama tiga tahun. Lalu meneruskan
pengembaraan intelektual di Pesantren Langitan Tuban. Melanjutkan lagi ke Pesantren
Tenggelis Surabaya, ke Pesantren Kademangan di Bangkalan yang saat itu di asuh
oleh Syeikh Khalil bin Abdul Latif, belajar di Pesantren Siwalan Panji Buduran
Sidoarjo. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Mekah yang saat itu menjadi
pusat ilmu pengetahuan agama dan perkumpulnya para ulama dunia.
Pada tanggal 26 Rabi’ul Awwal 1317 hijriyah
bertepatan dengan 3 Agustus 1899 Masehi, Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren
Tebuireng. Meskipun beberapa kali pesantren tersebut dihancurkan oleh tentara Belanda,
ia tetap sabar dan istiqomah dalam menyebarkan ilmu-ilmu agama. Justru semakin
ditekan, santri semakin bertambah banyak. Dari Pesantren Tebuireng ini
melahirkan para ulama-ulama besar dan mendirikan ribuan pesantren di seluruh pelosok
nusantara. Kepakaran dalam bidang ilmu agama dan mampu menghafalkan kitab-Kitab
Hadist Kutubussitah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud,
Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah) dan kepakaran ilmu-ilmu
agama lainya yang kemudian mendapatkan gelar Hadratusyeikh atau Maha
Guru para ulama yang tersebar di nusantara dan luar negeri.
Di pesantren tebuireng lahir organisasi ulama
yang disebut dengan Nadhlatul Ulama (NU), Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi),
Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) serta Laskar-Laskar Perjuangan seperti
Hisbullah dan Fisabilillah.
Resolusi Jihad Wujud Pribadi Nasionalis
Religius
Tulisan singkat ini hanya akan menulis sebagian
kecil karya nyata Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad yang terjadi pada
tanggal 22 oktober 1945. Ini yang kemudian diperingati sebagai hari santri.
Mengapa seorang ulama yang keilmuannya sudah mendunia dan melalui keilmuannya telah melahirkan ratusan ribu ulama dan ribuan pesantren menggunakan istilah resolusi jihad untuk mempertahankan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mengapa Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa mencintai tanah air sebagian dari iman?. Bahkan demi menjaga negeri ini, ia menyerukan jihad fi sabilillah.
Mengapa juga orang-orang
yang belum matang ilmu agama nya sering menilai konsep “cinta tanah air
sebagian dari iman” dianggap bid’ah dan bertentangan dengan syariat Islam.
Lucunya lagi, orang-orang yang berkoar-koar mengatakan demikian masih terbatas
pemahaman agama nya dan juga belum pernah merasakan betapa beratnya menjaga
eksistensi negara sebagai negara yang berdaulat dan terbebas dari penjajahan. Orang
yang belum matang ilmu agama nya dengan modal youtube sangat lantang mengatakan
: “Indonesia negara thogut”, “tidak sesuai dengan model politik pada zaman
nabi, tidak sesuai dengan masa khulafaurrasiyidin, dinasity umayyah, dinasti
abasiyyah dan seterusny”. Lalu di sisi lain mengatakan, “hubbul wathan
minal iman” tidak ada zaman nabi, itu bid’ah, dan bid’ah penghuninya masuk
neraka!.
Mari belajar merenung sedikit saja sejarah bangsa
dan bangsa-bangsa muslim lain saat mereka telah dikapling-kapling menjadi
nation state!.
Generasi sekarang sudah mulai melupakan
sejarah. Betapa sedihnya ulama NU melihat bangsa Palestina sampai detik ini
belum menjadi negara yang berdaulat. Sejak tahun 1938, NU di bawah kepemimpinan
KH. Mahfudz Shidiq terus berjuang agar bisa menjadi negara merdeka. Terserah bentuknya.
Yang penting Merdeka dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. tapi sampai hari
ini tidak berhasil. Salah satu penyebabnya karena bangsa Palestina mempunyai
multi agama seperti Islam, Yahudi dan Nasrani. Setiap agama juga mempunyai visi
politik sendiri untuk menjadi negara Merdeka. Kelompok garis kanan ingin
mendirikan negara agama. Kelompok garis kiri ingin mendirikan negara beragama. Kelompok
sosialis ingin mendirikan negara berideologi sosialis. Ribet. Mereka benci
terhadap Yahudi yang disokong oleh Inggris dan bangsa barat lainnya, tapi
setiap kelompok “gontok-gontokan” ingin menang sendiri dan ingin berkuasa
sendiri untuk menjadi negara Palestina yang merdeka. Suatu gambaran psikologi
masyarakat yang sangat sulit untuk disatukan.
Dari fakta ini sebenarnya bahwa menjadi
pengingat bagi bangsa Indonesia tentang keberagaman agama yang tidak mungkin
mengistimewakan agama tertentu dan “meng-anak-tirikan” agama lain. Konsekuensinya
masyarakat Indonesia Timur ingin melepaskan diri dari NKRI pada tahun 1945. Mereka
mayoritas beragama Kristen.
Hasyim Asy’ari melihat ini sebagai suatu
problem yang sangat besar. Maka, menerima filosofis Sila Pertama Ketuhanan Yang
Maha Esa sebagai jalan tengah untuk mewujudkan kepentingan yang lebih besar
yaitu Indonesia Merdeka. Sebab apa artinya memaksakan Piagam Jakarta tapi Indonesia
kembali lagi ke masa lalu yaitu saling gontok-gontokan dan dijajah lagi oleh
bangsa barat. Mengalah sedikit untuk
mendapatkan kemenangan yang lebih besar, yaitu mendapatkan kekayaan yang sangat
banyak berupa Indonesia Merdeka. Dengan kemerdekaan tersebut, umat Islam bisa
sholat dengan tenang, bisa menjalankan ajaran islam dengan leluasa. Begitu juga
umat lainnya. tentu saja berbeda jika situasi bertolak belakang jika setiap
tokoh agama ingin membentuk negara dengan ideologi mereka masing-masing. Mungkin
juga Indonesia masih seperti sebagian negara Timur Tengah yang terus bertengkar
dengan sesama saudara sendiri akibat berbeda agama, suku dan budaya.
Maka saat bangsa belanda ingin merebut kembali
wilayah nusantara menjadi jajahan nya, Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari
mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Membela tanah air itu hukumnya wajib. Mati membela
tanah air bagian dari mati sahid. Ketegasan prinsip dalam berbangsa dan bernegara
sangat jelas dan tidak abu-abu.
Penulis artikel ini menilai hadratusyeikh
dalam melihat bangsa Indonesia dengan menggunakan pendekatan agama model Sunan
Giri dalam berdakwah dan menyebarkan agama melalui pendekatan pendidikan,
budaya dan politik. Sebab agama tanpa adanya ketiga factor tersebut, maka agama
tidak bisa diterapkan dengan maksimal.
Sedangkan rasa nasionalisme atau cinta
tanah air, pada diri Hasyim Asy’ari menetes dari Prabu Brawijaya VI yang
melahirkan semangat kebangsaan dan kedaulatan negara.
Kolaborasi Sunan Giri dan Prabu Brawijaya VI pada diri Hadratusyeikh Hasyim As’ari ini yang menjadi semangat cinta tanah air
sebagai perekat paling kuat dalam berbangsa dan bernegara yang religus model
ke-Indonesia-an. Ingin menegakan kejayaan suatu agama terletak bagaimana penganutnya
mampu merealisasikan prestasi-prestasi diri dalam persaingan yang sangat
kompetitif di dunia saat sekarang ini. Itulah bagian dari kesempurnaan ajaran Islam.
Maka yang dibutuhkan saat sekarang ini
adalah mengisi wadah negara Indonesia dengan amalun sholihun
(karya-karya yang berkualitas). Jika ini bisa dipegang, maka bangsa dan negara Indonesia
menjadi rujukan bagi bangsa dan negara lain. Jika semua bangsa tunduk secara
ekonomi dan politik Indonesia, maka bangsa ini sebenarnya secara filosofis telah
menjadi khalifah fi al-ardhi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872