Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

12 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Setiap Anak Punya Kunci Pembuka Kecerdasan



Sabtu , 24 Januari 2026



Telah dibaca :  419

Anak-anak SD pada era 80-an masih banyak yang belum bisa membaca dan menulis. Saya tidak tahu apakah ini hanya di kampung ku atau mungkin di sekolah-sekolah lainnya. secara teori tentu saja kondisi kecerdasan peserta didik berbeda-beda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Selain karena faktor makanan, ada faktor pendidikan dan pengalaman guru-gurunya. Jika anak-anak di kampung, buta huruf masih hal yang wajar. Majalah Tempo mencatat buta huruf pada tahun 1980-an masih sangat tinggi di pedesaan dan kota yang masih berkembang.

Ketika saya masuk kelas 1 MI-Madrasah Ibtidaiyah- sebenarnya pengalaman pertama hidup bersosialisasi dengan dunia luar. Selama hampir 7 tahun selalu berada di kamar akibat kondisi belum bisa berjalan. Belum ada bimbingan belajar atau permainan yang merangsang akal untuk kreatif berimajinasi. Hanya ada kesedihan dan tangis karena kondisi tersebut. setelah semua itu berakhir dan masuk pada dunia baru-sekolah di mi-, saya mulai mengenal huruf dan angka.

Saya sangat lambat memahami huruf-huruf. Lebih lambat lagi ketika huruf-huruf tersebut di rangkai menjadi satu kata. Bagi anak-anak yang mempunyai kecerdasan lumayan bagus, membaca rangkaian huruf “I”,”N”, “I”…”I”, “B”, “U”…”B”, “U”,”D”,”I” dengan mudah mengucapkan: “INI IBU BUDI”.

Bagi saya waktu itu, ketika guru menyuruh merangkai kata dan mengucapkan dalam satu kalimat mengalami kesulitan luarbiasa. Rangsangan imajinasi pikiran dan kemampuan memahami penjelasan guru tentang pola merangkai kata menjadi kalimat bermakna sangat sulit. Benar-benar situasi yang sangat tidak menyenangkan. Keringat dingin keluar. Saat melihat kiri dan kanan, seolah-olah teman-teman ku mengejek ketidakmampuan ku yang menurut mereka hal yang sangat mudah.

Guru sering menemuiku dan memberi nasehat agar belajar di rumah. Saya menuruti nasehatnya. Sering saya minta Mbak Yu Siti Huriyah mengajariku. Namun lama-lama ia pun bosan mengajariku. Terlalu lambat untuk bisa menerima pelajaran. Ia pun marah-marah dan meninggalkan ku. Akhirnya saya pun tetap tidak bisa membaca. Meskipun setiap tahun naik kelas, isinya banyak yang merah. Hanya pelajaran akidah akhlak yang nilainya baik. Mungkin karena saya tidak terlalu banyak bicara sehingga terlihat sopan,  dan selalu duduk diam di bangku sudah dianggap baik akhlaknya. Padahal sebenarnya saya sedang mengalami penderitaan batin yang sangat dalam akibat tidak bisa membaca dan menulis.

Ketika naik kelas, saya lupa kelas berapa. Mungkin kalau tidak kelas 4, bisa jadi kelas 5 MI. ada seorang guru bernama Ibu Roro Suharsih. Guru sejarah. Ia guru yang sangat cantik. Pakai kacamata, pakai jilbab berbadan tinggi dan langsing. Ia guru yang sangat disiplin. Saat dia ngajar, tidak ada yang berani berbicara. Semua diam. Model mengajarnya, ia hanya butuh kapur yang berwarna putih. Tanpa bantuan buku, ia menulis peristiwa sejarah nasional secara mendetail. Ia menghubungkan tahun dan kejadian dengan dihubungkan garis-garis.

Umpanya, ia menulis Perang Diponegoro dengan pola seperti ini. Tahun 1825 s/d 1830------------------Perang Diponegoro. Perang terjadi………………..5 tahun. Pada tanggal 28 Maret 1830, ia di tangkap oleh………………….Jenderal De Kock. Jadi setiap pelajaran sejarah, Ibu Roro Suharsih menerangkan seperti ini dengan menggunakan baris panjang anak panah. Sehingga seluruh papan tulis penuh dengan anak panah untuk menghubungkan kejadian satu dengan kejadian lainnya.

Saya mendengarkan dengan baik. Saya tulis seluruh apa yang ada di papan tulis sebagaimana yang ditulis oleh guru. Begitu seterusnya. Setiap ngajar sejarah, saya selalu mencatat model apa yang ditulis dalam papan tulis.

Suatu hari Ibu Roro Suharsih melakukan UTS-Ujian Tengah Semester. Seluruh buku dikumpulkan. Teman-teman ku mengumpulkan semua dan ditaruh di atas meja.

Saya duduk paling belakang. Buku tidak ditaruh di atas meja. saya simpan di laci meja. sebab saya sudah berfikir jika dikumpulkan, saya tidak bisa menjawab. Sedangkan teman-teman ku tentu saja bisa menjawab. Mereka sudah bisa membaca dan menulis dengan baik.

Ketika UTS rata-rata isinya tentang perang diponegoro, saya pun menjawab dengan memindahkan catatan ku persis seperti catatan ibu guru di papan tulis. Ada garis-garis panjang menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Saya tidak paham soal. Tapi saya hanya memindahkan catatan ku dalam lembar jawaban.

Ketika UTS sudah selesai, kami pun istirahat. Semua keluar. Beberapa waktu kemudian, saya disuruh datang ke dalam kantor. Perasaanku sangat tidak karuan. Ada rasa berdosa. Pikiranku berkata,”jangan-jangan ibu guru mengetahui kalau saya mencontek jawaban dari buku”.

Ketika saya duduk berhadapan dengan Ibu Guru Roro Suharsih benar-benar seperti dihadapan seorang hakim. Ada perasaan yang tidak karuan campur baur antara perasaan bersalah dan takut mendapatkan hukuman. Saya hanya diam siap-siap mendengar apa yang akan disampaikan oleh ibu guru.

“Imam, setelah ibu memeriksa hasil UTS, nilai mu tertinggi dalam satu lokal. Nilai mu 85, sedangkan nilai teman-teman mu rata-rata hanya 60. Selamat ya, dan tingkatkan lagi belajar mu”.

Kaget. Sungguh kaget luarbiasa. hil yang mustahal. Tapi itu nyata. Waktu itu memang ucapan Ibu Roro Suharsih seperti sebuah motivasi yang sangat spektakuler. Sekaran saya membayangkan diri kejadian saat itu, seorang anak yang belum bisa merangkai kata tiba-tiba mendapatkan kejutan berupa nilai tertinggi mengalahkan teman-teman ku yang hebat-hebat. sampai-sampai teman ku tidak percaya. Tapi itu fakta. Saat hasil UTS dibagi, nilai ku tertinggi. Sungguh sangat senang. Nilai UTS dan ucapan motivasi dari guru benar-benar membuatku semangat untuk terus belajar. Seperti tiada hari tanpa belajar. Kapan dan dimanapun selalu belajar di tengah keterbatasan pada diriku. Ibu Roro Suharsih telah membuka pintu semangat belajar yang sangat luarbiasa.

Saya jadi teringat kisah dari seorang Professor Yohanes Surya, fisikawan Indonesia. filosofis mengajarnya, “tidak ada anak bodoh”. Dengan menggunakan metode GASING-Gampang, Asyik, Menyenangkan-Ia telah berhasil melatih anak-anak papua di pedalaman yang tidak mengerti apa-apa menjadi ratusan anak-anak yang sangat jago menguasi matematika dan saint. Mereka yang dulu bukan siapa-siapa telah berubah menjadi anak-anak yang berhasil menjuari olimpiadi bidang saint dan matematika.

Kini sudah banyak ditemukan metode-metode jenius menciptakan anak-anak cerdas sejak dini. Kita juga bisa melihat anak-anak yang masih suka bermain-main sudah hafal Al-Qur’an 30 juz, membaca Kitab Turost dengan lancar, lancar bahasa asing, atau mempunyai kemampuan hitung-hitungan logaritma yang sebenarnya hanya bisa diraih oleh anak-anak atau orang-orang berusia 19 tahunan atau sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Kita bersyukur atas semua kenikmatan ini.

Dibalik kemajuan metode pendidikan dan pembelajaran yang semakin maju, ada yang mungkin kurang diperhatikan oleh sebagian dari para praktisi pendidikan, yaitu metode tentang penanaman etika, moral dan akhlak al-karimah kepada peserta didik, murid dan generasi penerus.

Saya sedih saat mendengar seorang guru masuk penjara hanya gara-gara memotong rambut peserta didik yang berbentuk jambul dan dicat berwarna. Saya sedih mendengar ada seorang guru dikeroyok ramai-ramai oleh peserta didiknya. Sedih luarbiasa. Bukan karena mereka-peserta didik- tidak bisa membaca dan menulis. Sedih bukan karena mereka tidak pernah naik kelas. Sedih karena mereka tidak bisa melihat seorang guru sebagai pembawa cahaya kebaikan dan kebenaran. Sedih karena perasaan peserta didik sangat rapuh melihat jerih payah seorang guru untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran, moral dan membuka kunci kepahaman terhadap mata pelajaran. Berkah guru, mereka bisa mengenal ilmu pengetahuan. Tapi sungguh sangat disayangkan, ilmu pengetahuan berjalan sendiri tanpa diikuti oleh etika dan moral. Akhirnya peserta didik menjadi barbar. Pikiran penuh dengan ilmu pengetahuan, hati kosong dari ruh etika, moral dan akhlak al-karimah. Pada akhirnya, kita menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sungguh sangat menyedihkan dalam dunia pendidikan saat sekarang ini.

Ternyata membuka kunci ilmu pengetahuan kepada peserta didik lebih mudah ketimbang membuka kunci moralitas kepada mereka. Perlu ada kolaborasi perbaikan bersama membangun nilai-nilai moral hidup kembali, bukan hanya di dunia pendidikan, juga di keluarga, masyarakat dan pelaku pengambil kebijakan serta seluruh sektor kehidupan dalam seluruh tingkatan yang ada di negeri tercinta.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836