
Anak-anak SD pada era 80-an masih banyak
yang belum bisa membaca dan menulis. Saya tidak tahu apakah ini hanya di
kampung ku atau mungkin di sekolah-sekolah lainnya. secara teori tentu saja
kondisi kecerdasan peserta didik berbeda-beda. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya. Selain karena faktor makanan, ada faktor pendidikan dan
pengalaman guru-gurunya. Jika anak-anak di kampung, buta huruf masih hal yang
wajar. Majalah Tempo mencatat buta huruf pada tahun 1980-an masih sangat tinggi
di pedesaan dan kota yang masih berkembang.
Ketika saya masuk kelas 1 MI-Madrasah Ibtidaiyah-
sebenarnya pengalaman pertama hidup bersosialisasi dengan dunia luar. Selama
hampir 7 tahun selalu berada di kamar akibat kondisi belum bisa berjalan. Belum
ada bimbingan belajar atau permainan yang merangsang akal untuk kreatif
berimajinasi. Hanya ada kesedihan dan tangis karena kondisi tersebut. setelah
semua itu berakhir dan masuk pada dunia baru-sekolah di mi-, saya mulai
mengenal huruf dan angka.
Saya sangat lambat memahami huruf-huruf.
Lebih lambat lagi ketika huruf-huruf tersebut di rangkai menjadi satu kata.
Bagi anak-anak yang mempunyai kecerdasan lumayan bagus, membaca rangkaian huruf
“I”,”N”, “I”…”I”, “B”, “U”…”B”, “U”,”D”,”I” dengan mudah mengucapkan: “INI IBU
BUDI”.
Bagi saya waktu itu, ketika guru menyuruh
merangkai kata dan mengucapkan dalam satu kalimat mengalami kesulitan
luarbiasa. Rangsangan imajinasi pikiran dan kemampuan memahami penjelasan guru
tentang pola merangkai kata menjadi kalimat bermakna sangat sulit. Benar-benar
situasi yang sangat tidak menyenangkan. Keringat dingin keluar. Saat melihat
kiri dan kanan, seolah-olah teman-teman ku mengejek ketidakmampuan ku yang
menurut mereka hal yang sangat mudah.
Guru sering menemuiku dan memberi nasehat
agar belajar di rumah. Saya menuruti nasehatnya. Sering saya minta Mbak Yu Siti
Huriyah mengajariku. Namun lama-lama ia pun bosan mengajariku. Terlalu lambat
untuk bisa menerima pelajaran. Ia pun marah-marah dan meninggalkan ku. Akhirnya
saya pun tetap tidak bisa membaca. Meskipun setiap tahun naik kelas, isinya
banyak yang merah. Hanya pelajaran akidah akhlak yang nilainya baik. Mungkin
karena saya tidak terlalu banyak bicara sehingga terlihat sopan, dan selalu duduk diam di bangku sudah dianggap
baik akhlaknya. Padahal sebenarnya saya sedang mengalami penderitaan batin yang
sangat dalam akibat tidak bisa membaca dan menulis.
Ketika naik kelas, saya lupa kelas berapa.
Mungkin kalau tidak kelas 4, bisa jadi kelas 5 MI. ada seorang guru bernama Ibu
Roro Suharsih. Guru sejarah. Ia guru yang sangat cantik. Pakai kacamata, pakai
jilbab berbadan tinggi dan langsing. Ia guru yang sangat disiplin. Saat dia
ngajar, tidak ada yang berani berbicara. Semua diam. Model mengajarnya, ia
hanya butuh kapur yang berwarna putih. Tanpa bantuan buku, ia menulis peristiwa
sejarah nasional secara mendetail. Ia menghubungkan tahun dan kejadian dengan dihubungkan
garis-garis.
Umpanya, ia menulis Perang Diponegoro dengan
pola seperti ini. Tahun 1825 s/d 1830------------------Perang Diponegoro.
Perang terjadi………………..5 tahun. Pada tanggal 28 Maret 1830, ia di tangkap
oleh………………….Jenderal De Kock. Jadi setiap pelajaran sejarah, Ibu Roro Suharsih menerangkan
seperti ini dengan menggunakan baris panjang anak panah. Sehingga seluruh papan
tulis penuh dengan anak panah untuk menghubungkan kejadian satu dengan kejadian
lainnya.
Saya mendengarkan dengan baik. Saya tulis
seluruh apa yang ada di papan tulis sebagaimana yang ditulis oleh guru. Begitu
seterusnya. Setiap ngajar sejarah, saya selalu mencatat model apa yang ditulis
dalam papan tulis.
Suatu hari Ibu Roro Suharsih melakukan UTS-Ujian
Tengah Semester. Seluruh buku dikumpulkan. Teman-teman ku mengumpulkan semua
dan ditaruh di atas meja.
Saya duduk paling belakang. Buku tidak
ditaruh di atas meja. saya simpan di laci meja. sebab saya sudah berfikir jika
dikumpulkan, saya tidak bisa menjawab. Sedangkan teman-teman ku tentu saja bisa
menjawab. Mereka sudah bisa membaca dan menulis dengan baik.
Ketika UTS rata-rata isinya tentang perang
diponegoro, saya pun menjawab dengan memindahkan catatan ku persis seperti
catatan ibu guru di papan tulis. Ada garis-garis panjang menghubungkan satu
peristiwa dengan peristiwa lain. Saya tidak paham soal. Tapi saya hanya
memindahkan catatan ku dalam lembar jawaban.
Ketika UTS sudah selesai, kami pun
istirahat. Semua keluar. Beberapa waktu kemudian, saya disuruh datang ke dalam
kantor. Perasaanku sangat tidak karuan. Ada rasa berdosa. Pikiranku
berkata,”jangan-jangan ibu guru mengetahui kalau saya mencontek jawaban dari
buku”.
Ketika saya duduk berhadapan dengan Ibu
Guru Roro Suharsih benar-benar seperti dihadapan seorang hakim. Ada perasaan
yang tidak karuan campur baur antara perasaan bersalah dan takut mendapatkan
hukuman. Saya hanya diam siap-siap mendengar apa yang akan disampaikan oleh ibu
guru.
“Imam, setelah ibu memeriksa hasil UTS,
nilai mu tertinggi dalam satu lokal. Nilai mu 85, sedangkan nilai teman-teman
mu rata-rata hanya 60. Selamat ya, dan tingkatkan lagi belajar mu”.
Kaget. Sungguh kaget luarbiasa. hil yang
mustahal. Tapi itu nyata. Waktu itu memang ucapan Ibu Roro Suharsih seperti
sebuah motivasi yang sangat spektakuler. Sekaran saya membayangkan diri
kejadian saat itu, seorang anak yang belum bisa merangkai kata tiba-tiba
mendapatkan kejutan berupa nilai tertinggi mengalahkan teman-teman ku yang
hebat-hebat. sampai-sampai teman ku tidak percaya. Tapi itu fakta. Saat hasil
UTS dibagi, nilai ku tertinggi. Sungguh sangat senang. Nilai UTS dan ucapan
motivasi dari guru benar-benar membuatku semangat untuk terus belajar. Seperti
tiada hari tanpa belajar. Kapan dan dimanapun selalu belajar di tengah
keterbatasan pada diriku. Ibu Roro Suharsih telah membuka pintu semangat
belajar yang sangat luarbiasa.
Saya jadi teringat kisah dari seorang Professor
Yohanes Surya, fisikawan Indonesia. filosofis mengajarnya, “tidak ada anak
bodoh”. Dengan menggunakan metode GASING-Gampang, Asyik, Menyenangkan-Ia
telah berhasil melatih anak-anak papua di pedalaman yang tidak mengerti apa-apa
menjadi ratusan anak-anak yang sangat jago menguasi matematika dan saint.
Mereka yang dulu bukan siapa-siapa telah berubah menjadi anak-anak yang
berhasil menjuari olimpiadi bidang saint dan matematika.
Kini sudah banyak ditemukan metode-metode jenius
menciptakan anak-anak cerdas sejak dini. Kita juga bisa melihat anak-anak yang
masih suka bermain-main sudah hafal Al-Qur’an 30 juz, membaca Kitab Turost dengan
lancar, lancar bahasa asing, atau mempunyai kemampuan hitung-hitungan logaritma
yang sebenarnya hanya bisa diraih oleh anak-anak atau orang-orang berusia 19
tahunan atau sudah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Kita bersyukur atas
semua kenikmatan ini.
Dibalik kemajuan metode pendidikan dan
pembelajaran yang semakin maju, ada yang mungkin kurang diperhatikan oleh
sebagian dari para praktisi pendidikan, yaitu metode tentang penanaman etika,
moral dan akhlak al-karimah kepada peserta didik, murid dan generasi
penerus.
Saya sedih saat mendengar seorang guru
masuk penjara hanya gara-gara memotong rambut peserta didik yang berbentuk
jambul dan dicat berwarna. Saya sedih mendengar ada seorang guru dikeroyok
ramai-ramai oleh peserta didiknya. Sedih luarbiasa. Bukan karena mereka-peserta
didik- tidak bisa membaca dan menulis. Sedih bukan karena mereka tidak pernah
naik kelas. Sedih karena mereka tidak bisa melihat seorang guru sebagai pembawa
cahaya kebaikan dan kebenaran. Sedih karena perasaan peserta didik sangat rapuh
melihat jerih payah seorang guru untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran, moral
dan membuka kunci kepahaman terhadap mata pelajaran. Berkah guru, mereka bisa mengenal
ilmu pengetahuan. Tapi sungguh sangat disayangkan, ilmu pengetahuan berjalan
sendiri tanpa diikuti oleh etika dan moral. Akhirnya peserta didik menjadi
barbar. Pikiran penuh dengan ilmu pengetahuan, hati kosong dari ruh etika,
moral dan akhlak al-karimah. Pada akhirnya, kita menyaksikan
peristiwa-peristiwa yang sungguh sangat menyedihkan dalam dunia pendidikan saat
sekarang ini.
Ternyata membuka kunci ilmu pengetahuan kepada
peserta didik lebih mudah ketimbang membuka kunci moralitas kepada mereka. Perlu
ada kolaborasi perbaikan bersama membangun nilai-nilai moral hidup kembali,
bukan hanya di dunia pendidikan, juga di keluarga, masyarakat dan pelaku
pengambil kebijakan serta seluruh sektor kehidupan dalam seluruh tingkatan yang
ada di negeri tercinta.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   237
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   238
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   211
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   235
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   232
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6598
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4853
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4836