Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Toleransi Beragama Perspektif Abdurrahman Wahid



Jumat , 02 Mei 2025



Telah dibaca :  354

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang lahir dari keberagaman masyarakatnya baik keberagaman agama, keyakinan, budaya, etnis dan suku. Semua tumbuh di tengah-tengah masyarakat dengan harmonis. Perbedaan yang tumbuh secara alamiah telah terbentuk secara sebelum kemerdekaan, bahkan lebih jauh lagi saat penjajah barat masuk ke wilayah nusantara. Hal ini terlihat pada catatan buku sutasoma berbunyi sebagai berikut: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( Buddha dan Siwa sebagai dua zat yang berbeda namun bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa yang tunggal Berpecah belah lah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran) (https://www.gramedia.com, n.d.).

Ajaran Islam juga telah memberikan testimoni yang sangat jelas bahwa hakikat manusia diciptakan dalam keberagaman sebagaimana Q.S. Al-Hujurat ([49]: 13) sebagai berikut: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. Q.S. Al-Kafirun ([109]:6) sebagai berikut: “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Dasar-dasar nilai-nilai agama tersebut di atas telah mempertemukan kesamaan sebagai pengikat yang kuat dalam membangun kesadaran beragama (Madjid N. , 2010). Kesadaran beragama tersebut dinaikan lebih tinggi sebagai pengikat kesadaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga memungkinkan setiap penganut agama yang beragam bisa melaksanakan ajaran agama masing-masing di negara Indonesia.

PEMBAHASAN

Abdurrahman Wahid atau sering disebut Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1945 dan wafat pada 30 Desember 2009. Ia merupakan putra pertama dari KH. Wahid Hasyim, cucu dari Pendiri Ormas Nahdlatul Ulama (NU) Agama Islam terbesar yaitu Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari. Selama 15 tahun, Gus Dur memimpin NU dari 1984-1999. Ia juga pernah menjabat menjadi presiden RI pada 1999-2001 (Ikeda, 2010).

Pengaruh ketokohan Gus Dur di NU sangat besar sekali. Hal ini ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu: pertama, keturunan dari darah biru dan pendiri NU. Ia merupakan keturunan Brawidjaja IV dan salah satu cucu dari pendiri NU yaitu Hadrastusyeikh KH Hasyim Asy’ari. Kedua, kemampuan menerima semua kalangan. Ia merupakan tokoh agama yang bisa diterima oleh seluruh kalangan baik Islam maupun non-muslim. Selain itu ia merupakan tokoh moderat yang sangat konsisten melindungi kelompok-kelompok minoritas.  Selain itu luasnya ilmu agama dan ilmu pengetahuan menyebabkan ia juga menjadi Dewan Kesenian Jakarta (Dkj) yang menuai kontroversi di kalangan internal NU dan kelompok-kelompok Islam garis kanan (Soon, 2008).

Dari gambaran sekilas latarbelakang Gus Dur bisa memahami pandangan ajaran Islam sangat memberikan toleransi terhadap keberagaman yang tumbuh di masyarakat indonesia. Menurutnya, peran agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya merupakan bagian dai anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta. Dalam ajaran Islam tidak boleh membeda-bedakan pemeluk agama yang telah diterangkan banyak ayat dalam Al-Qur’an (Ikeda, 2010). Namun bukan berarti Islam membenarkan adanya percampuran ajaran agama yang ada. Itu tidak mungkin sebab secara syariat dan pandangan tauhid itu berbeda-beda. Kemurnian setiap agama harus dijaga, dan mencari titik temu sebagai jalan dalam membentuk ikatan sosial menjadi suatu keharusan seperti dalam kontek berbangsa dan bernegara.

Umat beragama dalam masyarakat Indonesia harus melihat politik sebagai suatu inklusif. Ia berarti bahwa pandangan politik yang bisa menerima seluruh pandangan universal agama yaitu Ideologi Pancasila. Ia merupakan pandangan hidup digunakan sebagai penunjuk arah semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan di dalam segala bidang. Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepas atau dipisahkan satu dengan yang lain (Siregar, 2017).

Menurut Gus Dur toleransi beragama apabila konstitusi menjamin adanya kebebasan beragama. Perubahan Piagam Jakarta sebagai wujud eksklusifitas pada agama tertentu telah mendapat perubahan pada sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan tersebut merupakan konsisten para pendiri agama untuk menempatkan agama dalam kesetaraan dalam hak dan kewajiban. Selain itu perlindungan terhadap beragam budaya merupakan cara untuk menjaga identitas. Agama tidak boleh membunuh budaya sebagai jati diri bangsa. Kedua nya harus saling menguatkan dan tidak boleh dibenturkan. Sebab agama tanpa budaya, ia tidak bisa dijalankan secara efektif. Begitu juga budaya tanpa agama juga mempunyai potensi tumbuh budaya-budaya yang tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa indonesia (Ikeda, 2010).

Setiap manusia menyakini bahwa perbuatan baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupn berbangsa dan bernegara adalah bagian dari ajaran Agama Islam. Sebaliknya perbuatan-perbuatan tidak baik atau jahat merupakan ajaran yang bertentangan dengan ajaran agama. Itu sebabnya, budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran agama sebenarnya bertentangan juga dengan identitas masyarakat Indonesia.

KESIMPULAN

Berdasarkan paparan di atas, ajaran Gus Dur tentang toleransi beragama di indonesia merupakan suatu keharusan. Pemerintah tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap kelompok minoritas dan terlalu memberi keistimewaan terhadap mayoritas. Kebencian terhadap suatu kaum jangan sampai kehilangan nilai-nilai keadilannya.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tumbuh dari keberagaman merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang sangat besar. Namun disisi lain juga merupakan ancaman yang sangat serius. Jika keberagaman tersebut tidak dikelola dengan baik, maka ia berpotensi terjadi perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Itu sebabnya, alat pemersatu yang paling efektif yaitu Ideologi Pancasila. Ia mampu merekat seluruh komponen yang berbeda dalam kesatuan dan persatuan.

RUANG DISKUSI

Bagaimana pandangan kamu tentang ajaran toleransi abdurrahman wahid di atas. Jelaskan pendapat mu!

DAFTAR PUSTAKA

Engineer, A. A. (2000). Islam dan Teologi Pembebasan,. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

https://www.gramedia.com. (n.d.). Retrieved from https://www.gramedia.com/literasi/bhinneka-tunggal ika/?srsltid=AfmBOordYyrAlWzXejtH_iMr86pGRhZ5nYaQLEL8eYopKtlerRmhhvQz

Ikeda, A. W. (2010). Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian . Jakarta : Kompas .

Madjid, N. (2008). Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung : Mizan Media Utama .

Madjid, N. (2010). Islam Agama Kemanusiaan . Jakarta : Paramadina .

Siregar, C. (2017). Pancasila, Keadilan Sosial, Dan Persatuan Indonesia. Humaniora 5, No. 1 , 107.

Sjadzali, M. (2011). Islam dan Tata Negara . Jakarta : UI-Press.

Soon, K. Y. (2008). Antara Tradisi dan Konflik: Kepolitikan Nahdlatul Ulama . Jakarta : UI-Press.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Nur Azla

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memandang toleransi beragama sebagai kunci harmoni di Indonesia yang multikultural. Ia menekankan pentingnya moderasi, pluralisme, dan dialog antaragama untuk membangun pemahaman dan kerukunan. Gus Dur percaya bahwa toleransi beragama dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan pendekatannya yang moderat dan inklusif, ia menjadi simbol penting dalam upaya mempromosikan toleransi dan perdamaian antarumat beragama di Indonesia.

Avatar

Sri suryati

saya melihat ajaran toleransi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai konsep yang mendalam dan komprehensif. Menurut pandangan saya: Ajaran toleransi Gus Dur bukan sekadar sikap pasif "membiarkan" perbedaan, tetapi merupakan sikap aktif yang menuntut pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan rasa saling memiliki (sense of belonging) dalam kehidupan sebagai "ukhuwah basyariyah" (persaudaraan kemanusiaan)

Avatar

ASTI NOVRIANTI

Ajaran toleransi Gus Dur merupakan warisan berharga bagi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan dan membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Ajarannya masih relevan hingga saat ini dan terus menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk membangun Indonesia yang lebih toleran dan damai.

   Berita Terkait

Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85

Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157

Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344

Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872