
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan
negara yang lahir dari keberagaman masyarakatnya baik keberagaman agama,
keyakinan, budaya, etnis dan suku. Semua tumbuh di tengah-tengah masyarakat
dengan harmonis. Perbedaan yang tumbuh secara alamiah telah terbentuk secara
sebelum kemerdekaan, bahkan lebih jauh lagi saat penjajah barat masuk ke
wilayah nusantara. Hal ini terlihat pada catatan buku sutasoma berbunyi sebagai
berikut: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena
parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika
tan hana dharma mangrwa ( Buddha dan Siwa sebagai dua zat yang berbeda namun
bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa yang tunggal
Berpecah belah lah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam
kebenaran)
Ajaran Islam
juga telah memberikan testimoni yang sangat jelas bahwa hakikat manusia diciptakan
dalam keberagaman sebagaimana Q.S. Al-Hujurat ([49]: 13) sebagai berikut: “Wahai
manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Mahateliti”. Q.S. Al-Kafirun ([109]:6) sebagai berikut: “Untukmu
agamamu dan untukku agamaku.”
Dasar-dasar
nilai-nilai agama tersebut di atas telah mempertemukan kesamaan sebagai pengikat
yang kuat dalam membangun kesadaran beragama
PEMBAHASAN
Abdurrahman Wahid
atau sering disebut Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1945 dan
wafat pada 30 Desember 2009. Ia merupakan putra pertama dari KH. Wahid Hasyim, cucu
dari Pendiri Ormas Nahdlatul Ulama (NU) Agama Islam terbesar yaitu Hadratusyeikh
Hasyim Asy’ari. Selama 15 tahun, Gus Dur memimpin NU dari 1984-1999. Ia juga
pernah menjabat menjadi presiden RI pada 1999-2001
Pengaruh ketokohan
Gus Dur di NU sangat besar sekali. Hal ini ada dua faktor yang mempengaruhi
yaitu: pertama, keturunan dari darah biru dan pendiri NU. Ia merupakan
keturunan Brawidjaja IV dan salah satu cucu dari pendiri NU yaitu Hadrastusyeikh
KH Hasyim Asy’ari. Kedua, kemampuan menerima semua kalangan. Ia merupakan tokoh
agama yang bisa diterima oleh seluruh kalangan baik Islam maupun non-muslim. Selain
itu ia merupakan tokoh moderat yang sangat konsisten melindungi
kelompok-kelompok minoritas. Selain itu luasnya
ilmu agama dan ilmu pengetahuan menyebabkan ia juga menjadi Dewan Kesenian
Jakarta (Dkj) yang menuai kontroversi di kalangan internal NU dan kelompok-kelompok
Islam garis kanan
Dari gambaran
sekilas latarbelakang Gus Dur bisa memahami pandangan ajaran Islam sangat
memberikan toleransi terhadap keberagaman yang tumbuh di masyarakat indonesia. Menurutnya,
peran agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya
merupakan bagian dai anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta. Dalam ajaran
Islam tidak boleh membeda-bedakan pemeluk agama yang telah diterangkan banyak
ayat dalam Al-Qur’an
Umat beragama
dalam masyarakat Indonesia harus melihat politik sebagai suatu inklusif. Ia berarti
bahwa pandangan politik yang bisa menerima seluruh pandangan universal agama
yaitu Ideologi Pancasila. Ia merupakan pandangan hidup digunakan sebagai
penunjuk arah semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan di dalam segala
bidang. Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepas atau
dipisahkan satu dengan yang lain
Menurut Gus Dur
toleransi beragama apabila konstitusi menjamin adanya kebebasan beragama. Perubahan
Piagam Jakarta sebagai wujud eksklusifitas pada agama tertentu telah mendapat
perubahan pada sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan tersebut
merupakan konsisten para pendiri agama untuk menempatkan agama dalam kesetaraan
dalam hak dan kewajiban. Selain itu perlindungan terhadap beragam budaya
merupakan cara untuk menjaga identitas. Agama tidak boleh membunuh budaya
sebagai jati diri bangsa. Kedua nya harus saling menguatkan dan tidak boleh
dibenturkan. Sebab agama tanpa budaya, ia tidak bisa dijalankan secara efektif.
Begitu juga budaya tanpa agama juga mempunyai potensi tumbuh budaya-budaya yang
tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa indonesia
Setiap manusia
menyakini bahwa perbuatan baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupn
berbangsa dan bernegara adalah bagian dari ajaran Agama Islam. Sebaliknya perbuatan-perbuatan
tidak baik atau jahat merupakan ajaran yang bertentangan dengan ajaran agama. Itu
sebabnya, budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran agama sebenarnya
bertentangan juga dengan identitas masyarakat Indonesia.
KESIMPULAN
Berdasarkan paparan
di atas, ajaran Gus Dur tentang toleransi beragama di indonesia merupakan suatu
keharusan. Pemerintah tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap kelompok
minoritas dan terlalu memberi keistimewaan terhadap mayoritas. Kebencian terhadap
suatu kaum jangan sampai kehilangan nilai-nilai keadilannya.
Bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang tumbuh dari keberagaman merupakan suatu anugerah dari Tuhan
yang sangat besar. Namun disisi lain juga merupakan ancaman yang sangat serius.
Jika keberagaman tersebut tidak dikelola dengan baik, maka ia berpotensi
terjadi perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Itu sebabnya, alat pemersatu
yang paling efektif yaitu Ideologi Pancasila. Ia mampu merekat seluruh komponen
yang berbeda dalam kesatuan dan persatuan.
RUANG DISKUSI
Bagaimana pandangan
kamu tentang ajaran toleransi abdurrahman wahid di atas. Jelaskan pendapat mu!
DAFTAR PUSTAKA
Engineer, A. A. (2000). Islam dan
Teologi Pembebasan,. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
https://www.gramedia.com. (n.d.).
Retrieved from https://www.gramedia.com/literasi/bhinneka-tunggal
ika/?srsltid=AfmBOordYyrAlWzXejtH_iMr86pGRhZ5nYaQLEL8eYopKtlerRmhhvQz
Ikeda, A. W. (2010). Dialog
Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian . Jakarta : Kompas .
Madjid, N. (2008). Islam Kemodernan
dan Keindonesiaan. Bandung : Mizan Media Utama .
Madjid, N. (2010). Islam Agama
Kemanusiaan . Jakarta : Paramadina .
Siregar, C. (2017). Pancasila,
Keadilan Sosial, Dan Persatuan Indonesia. Humaniora 5, No. 1 , 107.
Sjadzali, M. (2011). Islam dan Tata
Negara . Jakarta : UI-Press.
Soon, K. Y. (2008). Antara Tradisi
dan Konflik: Kepolitikan Nahdlatul Ulama . Jakarta : UI-Press.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Nur Azla
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memandang toleransi beragama sebagai kunci harmoni di Indonesia yang multikultural. Ia menekankan pentingnya moderasi, pluralisme, dan dialog antaragama untuk membangun pemahaman dan kerukunan. Gus Dur percaya bahwa toleransi beragama dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan pendekatannya yang moderat dan inklusif, ia menjadi simbol penting dalam upaya mempromosikan toleransi dan perdamaian antarumat beragama di Indonesia.
Sri suryati
saya melihat ajaran toleransi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai konsep yang mendalam dan komprehensif. Menurut pandangan saya: Ajaran toleransi Gus Dur bukan sekadar sikap pasif "membiarkan" perbedaan, tetapi merupakan sikap aktif yang menuntut pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan rasa saling memiliki (sense of belonging) dalam kehidupan sebagai "ukhuwah basyariyah" (persaudaraan kemanusiaan)
ASTI NOVRIANTI
Ajaran toleransi Gus Dur merupakan warisan berharga bagi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan dan membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Ajarannya masih relevan hingga saat ini dan terus menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk membangun Indonesia yang lebih toleran dan damai.
Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   85
Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   157
Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   344
Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   385
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872