
Sejak kecil saya selalu saja menyaksikan
peringatan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus tahun 1945. Peringatan ini
selain sebagai wujud rasa syukur kepada Allah juga sebagai bentuk nasionalisme.
Tanpa negara maka agama tidak bisa direalisasikan secara efektif. Tanpa agama
juga, meskipun negara bisa berjalan tapi hanya satu sayap. Agama dan negara
-idealnya- seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Negara dan agama -idealnya-seperti
sepasang suami istri yang saling melengkapi dan melahirkan peradaban manusia
yang agung.
Saya-dan mungkin anda-yang produk pendidikan
tahun 80-an atau 90-an sangat fasih terhadap lagu-lagu wajib nasional. Anda pasti
sangat kenal dan hafal lagu-lagu seperti: Indonesia Raya, Garuda Pancasila,
Bagimu Negeri, Hari Merdeka dan lain-lain. Itu deretan lagu nasional sekaligus
lagu wajib. Maksudnya setiap siswa wajib hafal.
Siswa era 80-,90, dan 20-an masih wajib menghapal
lagu-lagu nasional. Saya tidak tahu, entah sekarang. Kayak-kayak nya anak-anak
sekarang lebih hafal lagu MBG-Mas Bahlil Ganteng-daripada lagu Hari Merdeka.
Nampak-nampak nya era sekarang, ‘ganteng’ lebih utama daripada ‘merdeka’.
Rasa-rasa nya gitu. Lebih tinggi rasa cemburu daripada nasionalisme. Lebih suka
yang instan darpada proses.
Ada lagu biasa tapi seperti lagu nasional
yaitu kebyar-kebyar ciptaan Gombloh pada tahun 1979. Bagi sebagian orang
tidak paham kalau itu bukan lagu nasional, tapi dianggap sebagai lagu nasional.
Bahkan semangat lagu tersebut seolah-olah melebihi lagu nasional. Berikut ini potongan
lirik lagu nya:
Indonesia,
Merah darahku,
Putih tulangku,
Bersatu dalam semangatmu,
Indonesia,
Debar janjungku,
Getar nadiku,
Berbaur dalam angan-anganmu
Kebyar-kebyar Pelangi jingga (ah-ah-ah)
Indonesia,
Nada laguku,
Simfoni perteguh,
Selaras dengan simfonimu,
Kebyar-kebyar Pelangi jingga,
Biarpun bumi berguncang,
Kau tetap indonesiaku,
Andaikan matahari terbit dari barat,
Kau pun indonesiaku,
Tak sebilah pedang yang tajam,
Dapat palingkan daku darimu,
Kusingsingkan lengan,
Rawe-rawe rantas,
Malang-malang tuntas,
Dengan mu, wo!
Kini usia kemerdekaan sudah memasuki tahun
ke-81. Usia yang tidak muda dan juga tidak terlalu udzur bagi sebuah negara. Usia
negara tidak sama dengan usia manusia. Usia negara ukuran nya relatif. Umur 81
bisa jadi sudah dewasa, bisa jadi remaja, bisa jadi anak-anak. Tentu saja bukan
ukuran dari segi kuantitasnya, tapi dari segi kualitasnya.
Ada negara yang masih muda usianya, tapi
sudah dewasa karya nya, masyarakat nya makmur dan sejahtera. Ada negara yang
usia nya lebih dari satu abad, tapi kehidupan masyarakatnya masih obat-abit
tidak karuan, kemiskinan merajalela, pendidikan stagnan, dan administrasi kacau
balau, gampang bongkar pasang persis seperti bongkar pasang kabel listrik dan
telpon di pinggir jalan.
Perbedaan indikator tersebut sebenarnya
sebagai wujud kontrak sosial bahwa mereka bersatu ada keinginan bersama yaitu merdeka,
adil,makmur dan sejahtera. sebab untuk mencapai tujuan itu, tidak bisa hidup
sendiri. Susah. Sebab jika anda sebagai saudagar, tapi tidak ada aturan yang
melindunginya, maka kondisi anda akan mudah diancam keselamatannya oleh para
begal. Maka perlu membuat kesepakatan bersama yaitu membentuk suatu negara dan
bangsa.
Persoalannya setelah terbentuk negara dan
bangsa, tapi selalu saja ada begal. Pertanyaannya dimana sih kehadiran suatu
negara?.
Ini yang sering terjadi saat sekarang ini. Kita
bisa melihat bersama-sama problematika kehidupan di sekitar kita. Ada beragam
kasus dari beragam aspek kehidupan. Ada tangisan dan penderitaan yang
menghiasai media sosial dan online. Ada demonstrasi dan menuntut ketegasan pemerintah
untuk memperbaiki cita-cita bangsa dan negara ini. Memperbaiki secara serius
kepentingan masyarakat, bukan sebatas kepentingan kantongnya para pejabat.
Semakin banyak daftar tuntutan masyarakat,
maka semakin nyata bahwa kemerdekaan yang dicita-citakan masih pada tataran
retorika. Dan hidup memang sering suka pada hal-hal yang berbau ‘retorika’
antara para pejabat dan para pemuka. Semua saling klaim tentang keberhasilan
dari kemerdekaan, tapi satu sisi masih merasa tersandera dalam aturan
kemerdekaan. Adanya definisi yang tidak jelas dari makna kemerdekaan itu
sendiri yang menyebabkan semua saling lempar sembunyi tangan pada saat ada
persoalan, dan akan sama-sama mengklaim ketika ada kesuksesan. Sungguh lucu
bukan makna kemerdekaan hari ini?
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   170
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   293
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14225
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5685
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5229
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4582
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4115