Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

389 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Adakah Manusia Merdeka?



Senin , 17 Agustus 2026



Telah dibaca :  27

Sejak kecil saya selalu saja menyaksikan peringatan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus tahun 1945. Peringatan ini selain sebagai wujud rasa syukur kepada Allah juga sebagai bentuk nasionalisme. Tanpa negara maka agama tidak bisa direalisasikan secara efektif. Tanpa agama juga, meskipun negara bisa berjalan tapi hanya satu sayap. Agama dan negara -idealnya- seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Negara dan agama -idealnya-seperti sepasang suami istri yang saling melengkapi dan melahirkan peradaban manusia yang agung.

Saya-dan mungkin anda-yang produk pendidikan tahun 80-an atau 90-an sangat fasih terhadap lagu-lagu wajib nasional. Anda pasti sangat kenal dan hafal lagu-lagu seperti: Indonesia Raya, Garuda Pancasila, Bagimu Negeri, Hari Merdeka dan lain-lain. Itu deretan lagu nasional sekaligus lagu wajib. Maksudnya setiap siswa wajib hafal.

Siswa era 80-,90, dan 20-an masih wajib menghapal lagu-lagu nasional. Saya tidak tahu, entah sekarang. Kayak-kayak nya anak-anak sekarang lebih hafal lagu MBG-Mas Bahlil Ganteng-daripada lagu Hari Merdeka. Nampak-nampak nya era sekarang, ‘ganteng’ lebih utama daripada ‘merdeka’. Rasa-rasa nya gitu. Lebih tinggi rasa cemburu daripada nasionalisme. Lebih suka yang instan darpada proses.

Ada lagu biasa tapi seperti lagu nasional yaitu kebyar-kebyar ciptaan Gombloh pada tahun 1979. Bagi sebagian orang tidak paham kalau itu bukan lagu nasional, tapi dianggap sebagai lagu nasional. Bahkan semangat lagu tersebut seolah-olah melebihi lagu nasional. Berikut ini potongan lirik lagu nya:

 

Indonesia,

Merah darahku,

Putih tulangku,

Bersatu dalam semangatmu,

Indonesia,

Debar janjungku,

Getar nadiku,

Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar Pelangi jingga (ah-ah-ah)

Indonesia,

Nada laguku,

Simfoni perteguh,

Selaras dengan simfonimu,

Kebyar-kebyar Pelangi jingga,

 

Biarpun bumi berguncang,

Kau tetap indonesiaku,

Andaikan matahari terbit dari barat,

Kau pun indonesiaku,

Tak sebilah pedang yang tajam,

Dapat palingkan daku darimu,

 

Kusingsingkan lengan,

Rawe-rawe rantas,

Malang-malang tuntas,

Dengan mu, wo!

 

Kini usia kemerdekaan sudah memasuki tahun ke-81. Usia yang tidak muda dan juga tidak terlalu udzur bagi sebuah negara. Usia negara tidak sama dengan usia manusia. Usia negara ukuran nya relatif. Umur 81 bisa jadi sudah dewasa, bisa jadi remaja, bisa jadi anak-anak. Tentu saja bukan ukuran dari segi kuantitasnya, tapi dari segi kualitasnya.

Ada negara yang masih muda usianya, tapi sudah dewasa karya nya, masyarakat nya makmur dan sejahtera. Ada negara yang usia nya lebih dari satu abad, tapi kehidupan masyarakatnya masih obat-abit tidak karuan, kemiskinan merajalela, pendidikan stagnan, dan administrasi kacau balau, gampang bongkar pasang persis seperti bongkar pasang kabel listrik dan telpon di pinggir jalan.

Perbedaan indikator tersebut sebenarnya sebagai wujud kontrak sosial bahwa mereka bersatu ada keinginan bersama yaitu merdeka, adil,makmur dan sejahtera. sebab untuk mencapai tujuan itu, tidak bisa hidup sendiri. Susah. Sebab jika anda sebagai saudagar, tapi tidak ada aturan yang melindunginya, maka kondisi anda akan mudah diancam keselamatannya oleh para begal. Maka perlu membuat kesepakatan bersama yaitu membentuk suatu negara dan bangsa.

Persoalannya setelah terbentuk negara dan bangsa, tapi selalu saja ada begal. Pertanyaannya dimana sih kehadiran suatu negara?.

Ini yang sering terjadi saat sekarang ini. Kita bisa melihat bersama-sama problematika kehidupan di sekitar kita. Ada beragam kasus dari beragam aspek kehidupan. Ada tangisan dan penderitaan yang menghiasai media sosial dan online. Ada demonstrasi dan menuntut ketegasan pemerintah untuk memperbaiki cita-cita bangsa dan negara ini. Memperbaiki secara serius kepentingan masyarakat, bukan sebatas kepentingan kantongnya para pejabat.

Semakin banyak daftar tuntutan masyarakat, maka semakin nyata bahwa kemerdekaan yang dicita-citakan masih pada tataran retorika. Dan hidup memang sering suka pada hal-hal yang berbau ‘retorika’ antara para pejabat dan para pemuka. Semua saling klaim tentang keberhasilan dari kemerdekaan, tapi satu sisi masih merasa tersandera dalam aturan kemerdekaan. Adanya definisi yang tidak jelas dari makna kemerdekaan itu sendiri yang menyebabkan semua saling lempar sembunyi tangan pada saat ada persoalan, dan akan sama-sama mengklaim ketika ada kesuksesan. Sungguh lucu bukan makna kemerdekaan hari ini?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   170

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   293

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14225


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5685


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5229


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4115