Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

398 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju



Rabu , 23 September 2026



Telah dibaca :  50

Di tengah semakin masif promosi penggunaan Artificial Intellegence-AI- saat sekarang ini, ternyata negara-negara maju mulai ada rasa kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda nya. Mereka mulai takut kehilangan jati diri generasinya akibat serbuan kecerdasan buatan tersebut yang semakin hari semakin liar dan tanpa ada kontrol yang kuat terhadap dampak negatif dari AI. Selain keterlambatan regulasi terhadap perlindungan hak-hak manusia secara luas seperti perlindungan akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh AI belum ada regulasi yang kuat sebagai tempat mengadu. siapa yang mau mengadu. dampak negatif  media sosial saja jebol, kini ditambah lagi dampak dari AI. Ngeri !!

AI seperti gelombang tsunami peradaban. Semua ingin cepat bergerak secara instan. Dari dunia atas nama memajukan pendidikan dan sekaligus dari dunia ingin menghancurkan nilai-nilai pendidikan. Tabrakan tanpa aturan yang jelas. Seperti air bandang yang sangat cepat menghantam kita. Siapa yang bisa menyalahkan jika di jalan ada mobil, motor, atau apalah tiba-tiba melaju begitu cepat karena takut terhadap banjir. Tanpa kontrol dan menabrak orang-orang yang sama-sama bingung di tengah jalan. Itulah kondisi gelombang AI saat sekarang ini. Pelan tapi pasti. Tenang tapi bukan hanya menghanyutkan, tapi menghancurkan sistem kehidupan dan peradaban manusia itu sendiri.

Pemerintah negara-negara modern mulai ketar-ketir memikirkan dampak kerusakan dari AI yang tiada lain adalah dampak dari karya mereka sendiri. Kemajuan saint dan teknologi yang awal-awal nya bertujuan untuk membantu beban kehidupan manusia dan agar manusia menemukan suatu kehidupan yang aman, nyaman dan bahagia. Namun mereka tidak menyadarinya tentang bagaimana membuat vaksin agar AI ini bisa jinak dan ramah terhadap lingkungan, pendidikan, kehidupan keluarga dan aspek kehidupan lainnya. AI diprogram untuk senan-senang. Sedangkan hal-hal yang negatif terlalu terlambat dipikirkan. Sesal kemudian tiada berguna.

Negara seperti Singapura, China, Amerika Serikat, Selandia Baru dan negara-negara maju lainnya mulai membuka kembali kenangan sejarah masa lalu yang indah. Mereka rindu tentang kehidupan yang normal dan bisa menikmati keindahan alam, bisa menikmati matahari terbit dari timur, gemercik air di kaki gunung dan keindahan air laut saat matahari terbenam. Proses kehidupan yang normal, apa adanya adanya selaras dengan jiwa manusia yang natural.

Negara-negara maju mulai lagi kembali memperkenalkan sistem kehidupan masa dulu bagaimana anak-anak membaca buku, menulis dengan pensil dan bermain-main dengan segala fasilitas alam yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta. 

Berikut saya kutip tulisan dari media online. Tapi lupa nama media nya. tidak mengapa sebagai pembelajaran, bahwa tidak selama nya pola lama itu tidak baik. Kadang justru pola lama lebih menyuguhkan ketulusan nilai-nilai asli kehidupan manusia yang sebenar-benarnya tanpa kepalsuan dan drama kehidupan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Selamat menikmati.

Di tengah kebiasaan membuka ponsel sebentar lalu tanpa sadar menghabiskan puluhan menit untuk scrolling, Singapura mencoba cara yang cukup unik. Bukan dengan melarang media sosial atau meminta warganya menjauhi layar, tetapi dengan memberi dorongan kecil agar masyarakat menyisihkan waktu untuk membaca. Cukup 15 menit sehari, aktivitas tersebut bisa dicatat dan mendapat penghargaan digital.

Program itu bernama ReadSG, gerakan membaca nasional yang diluncurkan National Library Board atau NLB pada 6 September 2026. Peluncurannya bertepatan dengan National Reading Month pertama di Singapura dan menjadi bagian dari gerakan lima tahun untuk mendorong membaca menjadi kebiasaan sehari-hari. Targetnya bukan membuat semua orang langsung rajin membaca buku tebal, tetapi membangun rutinitas sederhana yang bisa dilakukan terus-menerus.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah ReadSG Challenge yang tersedia melalui CrowdTaskSG, platform digital milik pemerintah Singapura. Peserta cukup membaca minimal 15 menit dalam sehari kemudian mencatat sesi tersebut melalui platform. Setiap sesi yang memenuhi ketentuan menghasilkan 20 virtual coins, dengan maksimal satu sesi yang dapat dihitung setiap hari.

Koin itu memang mempunyai nilai yang bisa ditukarkan, tetapi jumlahnya sangat kecil. Sebanyak 1.000 coins bernilai S$1, sehingga seseorang membutuhkan 50 sesi membaca untuk mengumpulkan nilai satu dolar Singapura. Artinya, nilai satu sesi membaca 15 menit hanya sekitar dua sen Singapura.

Dari sini terlihat bahwa ReadSG sebenarnya bukan program untuk memberikan penghasilan kepada warga yang mau membaca. Kalau tujuannya benar-benar membayar waktu seseorang, nominal tersebut tentu terlalu kecil untuk menjadi daya tarik utama. Uang lebih berfungsi sebagai pemicu awal agar aktivitas membaca terasa memiliki pencapaian yang bisa dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Selain koin, ReadSG Challenge menggunakan sistem lain yang sudah sangat familiar di dunia aplikasi digital. Ada reading streak untuk mencatat berapa hari seseorang konsisten membaca, target pribadi, serta experience points yang terus bertambah seiring aktivitas. Membaca yang biasanya tidak meninggalkan jejak pencapaian kemudian dibuat seperti sebuah tantangan dengan perkembangan yang bisa terlihat.

Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal asing. Aplikasi olahraga menggunakan jumlah langkah untuk mendorong orang bergerak, sementara aplikasi belajar bahasa menggunakan streak agar pengguna kembali berlatih setiap hari. Singapura membawa logika serupa ke kegiatan membaca, sehingga kebiasaan yang sederhana dibuat terasa lebih interaktif tanpa mengubah inti kegiatannya.

Menariknya, program ini bukan muncul karena masyarakat Singapura sama sekali berhenti membaca. National Reading Habits Study 2024 yang dilakukan NLB menunjukkan sekitar 89 persen orang dewasa membaca lebih dari sekali dalam seminggu jika kategori membaca mencakup buku, berita, majalah, artikel digital, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas membaca sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Perbedaannya mulai terlihat ketika yang dihitung khusus adalah membaca buku. Hanya sekitar 28 persen orang dewasa yang membaca buku lebih dari sekali dalam seminggu, sementara sekitar 76 persen rutin membaca berita dan 65 persen membaca artikel di media sosial atau situs web. Artinya, masyarakat masih membaca banyak hal, tetapi bentuk bacaannya semakin bergeser ke informasi yang relatif pendek dan cepat dikonsumsi.

Perubahan inilah yang menjadi konteks penting ReadSG. Di era digital, seseorang bisa membaca puluhan caption, headline, komentar, atau artikel singkat dalam satu hari, tetapi tetap jarang bertahan cukup lama pada satu bacaan. Informasi semakin mudah ditemukan, sementara kemampuan untuk memberikan perhatian panjang pada satu hal menghadapi persaingan yang semakin besar.

Kajian NLB juga menemukan sekitar 62 persen responden merasa mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk aktivitas lain dibanding membaca. Sekitar 38 persen mengaku mulai merasa bosan setelah membaca dalam jangka waktu tertentu. Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya bukan hanya soal ketersediaan buku, tetapi juga bagaimana membaca harus bersaing dengan banyak aktivitas lain yang terasa lebih cepat memberikan hiburan.

Itulah potongan program pemerintah singapuran untuk membangkitkan lagi minat baca generasi muda nya. lalu bagaimana dengan kita? Apakah ada upaya secara masif dari pemerintah atau anda -yang bergerak di dunia pendidikan- agar generasi muda kita lebih suka membaca buku daripada sebatas nonton drama china yang hanya menghabiskan paket, batere dan waktu muda?.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154

Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   138

Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   155

Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135

Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14858


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6487


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5940


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4737