
Di tengah semakin masif promosi penggunaan Artificial
Intellegence-AI- saat sekarang ini, ternyata negara-negara maju mulai ada rasa
kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda nya. Mereka mulai takut
kehilangan jati diri generasinya akibat serbuan kecerdasan buatan tersebut yang
semakin hari semakin liar dan tanpa ada kontrol yang kuat terhadap dampak negatif
dari AI. Selain keterlambatan regulasi terhadap perlindungan hak-hak manusia
secara luas seperti perlindungan akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh AI
belum ada regulasi yang kuat sebagai tempat mengadu. siapa yang mau mengadu. dampak negatif media sosial saja jebol, kini ditambah lagi dampak dari AI. Ngeri !!
AI seperti gelombang tsunami peradaban. Semua
ingin cepat bergerak secara instan. Dari dunia atas nama memajukan pendidikan dan sekaligus dari
dunia ingin menghancurkan nilai-nilai pendidikan. Tabrakan tanpa aturan yang jelas. Seperti air
bandang yang sangat cepat menghantam kita. Siapa yang bisa menyalahkan jika di
jalan ada mobil, motor, atau apalah tiba-tiba melaju begitu cepat karena takut
terhadap banjir. Tanpa kontrol dan menabrak orang-orang yang sama-sama bingung
di tengah jalan. Itulah kondisi gelombang AI saat sekarang ini. Pelan tapi
pasti. Tenang tapi bukan hanya menghanyutkan, tapi menghancurkan sistem
kehidupan dan peradaban manusia itu sendiri.
Pemerintah negara-negara modern mulai
ketar-ketir memikirkan dampak kerusakan dari AI yang tiada lain adalah dampak
dari karya mereka sendiri. Kemajuan saint dan teknologi yang awal-awal nya
bertujuan untuk membantu beban kehidupan manusia dan agar manusia menemukan
suatu kehidupan yang aman, nyaman dan bahagia. Namun mereka tidak menyadarinya
tentang bagaimana membuat vaksin agar AI ini bisa jinak dan ramah terhadap lingkungan,
pendidikan, kehidupan keluarga dan aspek kehidupan lainnya. AI diprogram untuk
senan-senang. Sedangkan hal-hal yang negatif terlalu terlambat dipikirkan. Sesal
kemudian tiada berguna.
Negara seperti Singapura, China, Amerika
Serikat, Selandia Baru dan negara-negara maju lainnya mulai membuka kembali
kenangan sejarah masa lalu yang indah. Mereka rindu tentang kehidupan yang normal
dan bisa menikmati keindahan alam, bisa menikmati matahari terbit dari timur,
gemercik air di kaki gunung dan keindahan air laut saat matahari terbenam. Proses
kehidupan yang normal, apa adanya adanya selaras dengan jiwa manusia yang
natural.
Negara-negara maju mulai lagi kembali
memperkenalkan sistem kehidupan masa dulu bagaimana anak-anak membaca buku,
menulis dengan pensil dan bermain-main dengan segala fasilitas alam yang sudah
disediakan oleh Sang Pencipta.
Berikut saya kutip tulisan dari media
online. Tapi lupa nama media nya. tidak mengapa sebagai pembelajaran, bahwa
tidak selama nya pola lama itu tidak baik. Kadang justru pola lama lebih menyuguhkan
ketulusan nilai-nilai asli kehidupan manusia yang sebenar-benarnya tanpa
kepalsuan dan drama kehidupan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Selamat
menikmati.
Di tengah kebiasaan membuka ponsel sebentar
lalu tanpa sadar menghabiskan puluhan menit untuk scrolling, Singapura mencoba
cara yang cukup unik. Bukan dengan melarang media sosial atau meminta warganya
menjauhi layar, tetapi dengan memberi dorongan kecil agar masyarakat
menyisihkan waktu untuk membaca. Cukup 15 menit sehari, aktivitas tersebut bisa
dicatat dan mendapat penghargaan digital.
Program itu bernama ReadSG, gerakan membaca
nasional yang diluncurkan National Library Board atau NLB pada 6 September
2026. Peluncurannya bertepatan dengan National Reading Month pertama di
Singapura dan menjadi bagian dari gerakan lima tahun untuk mendorong membaca
menjadi kebiasaan sehari-hari. Targetnya bukan membuat semua orang langsung
rajin membaca buku tebal, tetapi membangun rutinitas sederhana yang bisa
dilakukan terus-menerus.
Salah satu bagian yang paling menarik
perhatian adalah ReadSG Challenge yang tersedia melalui CrowdTaskSG, platform
digital milik pemerintah Singapura. Peserta cukup membaca minimal 15 menit
dalam sehari kemudian mencatat sesi tersebut melalui platform. Setiap sesi yang
memenuhi ketentuan menghasilkan 20 virtual coins, dengan maksimal satu sesi
yang dapat dihitung setiap hari.
Koin itu memang mempunyai nilai yang bisa
ditukarkan, tetapi jumlahnya sangat kecil. Sebanyak 1.000 coins bernilai S$1,
sehingga seseorang membutuhkan 50 sesi membaca untuk mengumpulkan nilai satu
dolar Singapura. Artinya, nilai satu sesi membaca 15 menit hanya sekitar dua
sen Singapura.
Dari sini terlihat bahwa ReadSG sebenarnya
bukan program untuk memberikan penghasilan kepada warga yang mau membaca. Kalau
tujuannya benar-benar membayar waktu seseorang, nominal tersebut tentu terlalu
kecil untuk menjadi daya tarik utama. Uang lebih berfungsi sebagai pemicu awal
agar aktivitas membaca terasa memiliki pencapaian yang bisa dikumpulkan sedikit
demi sedikit.
Selain koin, ReadSG Challenge menggunakan
sistem lain yang sudah sangat familiar di dunia aplikasi digital. Ada reading
streak untuk mencatat berapa hari seseorang konsisten membaca, target pribadi,
serta experience points yang terus bertambah seiring aktivitas. Membaca yang
biasanya tidak meninggalkan jejak pencapaian kemudian dibuat seperti sebuah
tantangan dengan perkembangan yang bisa terlihat.
Pendekatan seperti ini sebenarnya bukan hal
asing. Aplikasi olahraga menggunakan jumlah langkah untuk mendorong orang
bergerak, sementara aplikasi belajar bahasa menggunakan streak agar pengguna
kembali berlatih setiap hari. Singapura membawa logika serupa ke kegiatan
membaca, sehingga kebiasaan yang sederhana dibuat terasa lebih interaktif tanpa
mengubah inti kegiatannya.
Menariknya, program ini bukan muncul karena
masyarakat Singapura sama sekali berhenti membaca. National Reading Habits
Study 2024 yang dilakukan NLB menunjukkan sekitar 89 persen orang dewasa
membaca lebih dari sekali dalam seminggu jika kategori membaca mencakup buku,
berita, majalah, artikel digital, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Angka
tersebut menunjukkan bahwa aktivitas membaca sebenarnya masih sangat dekat
dengan kehidupan masyarakat.
Perbedaannya mulai terlihat ketika yang
dihitung khusus adalah membaca buku. Hanya sekitar 28 persen orang dewasa yang
membaca buku lebih dari sekali dalam seminggu, sementara sekitar 76 persen
rutin membaca berita dan 65 persen membaca artikel di media sosial atau situs
web. Artinya, masyarakat masih membaca banyak hal, tetapi bentuk bacaannya
semakin bergeser ke informasi yang relatif pendek dan cepat dikonsumsi.
Perubahan inilah yang menjadi konteks
penting ReadSG. Di era digital, seseorang bisa membaca puluhan caption,
headline, komentar, atau artikel singkat dalam satu hari, tetapi tetap jarang
bertahan cukup lama pada satu bacaan. Informasi semakin mudah ditemukan,
sementara kemampuan untuk memberikan perhatian panjang pada satu hal menghadapi
persaingan yang semakin besar.
Kajian NLB juga menemukan sekitar 62 persen
responden merasa mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk aktivitas lain
dibanding membaca. Sekitar 38 persen mengaku mulai merasa bosan setelah membaca
dalam jangka waktu tertentu. Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya
bukan hanya soal ketersediaan buku, tetapi juga bagaimana membaca harus
bersaing dengan banyak aktivitas lain yang terasa lebih cepat memberikan
hiburan.
Itulah potongan program pemerintah
singapuran untuk membangkitkan lagi minat baca generasi muda nya. lalu
bagaimana dengan kita? Apakah ada upaya secara masif dari pemerintah atau anda
-yang bergerak di dunia pendidikan- agar generasi muda kita lebih suka membaca
buku daripada sebatas nonton drama china yang hanya menghabiskan paket, batere
dan waktu muda?.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154
Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   138
Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   155
Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135
Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14858
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6487
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5940
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4816
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4737