
Bisa berjalan kaki di usia 6 atau 7 tahun
tentu hal yang tidak lazim bagi kebanyakan anak-anak. Rata-rata anak berumur 1
tahun sudah bisa berjalan. Ada juga yang satu setengah tahun-18 bulan. Semakin
kesini, asupan makanan untuk ibu hamil semakin baik. Penuh dengan gizi, vitamin
dan protein. Begitu juga saat telah melahirkan, ibu dan bayinya sudah
mendapatkan asupan makanan spesial mengandung unsur empat sehat lima sempurna. Wajar
jika anak-anak sekarang sudah bisa berjalan di bawah umur dua tahun.
Saya termasuk anak yang terlambat berjalan.
Banyak penyebabnya. Dari faktor kelahiran, saya lahir dalam keadaan kondisi
kurang normal. Seluruh badan kondisi sangat lemah. Ini berlangsung hingga
beberapa bulan. Semakin bertambah bulan, kondisi semakin lemah dan kurus. Hanya
kepala ku yang terlihat besar. Tidak ada tawa. Hanya ada tetesan air mata yang
sering membasaih pipi yang cekung dan sekujur tubuh sangat kurus. Terlihat hanya
tulang dalam balutan kulit. Kedua, bisa jadi orang tua dulu-ibu ku- belum
memahami ilmu tentang kesehatan bagi ibu-ibu hamil. Dulu belum ada bidan, belum
ada penyuluh kesehatan, tidak ada posyandu dan tidak ada makanan yang
mengandung gizi untuk pertumbuhan kesehatan janin dalam kandungan dan bayi saat
melahirkan. Tidak ada Makanan Bergizi Gratis-MBG. Orang tua dulu benar-benar
selalu menyandarkan keyakinan kepada kemurahan Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah
selalu memberi pertolongan dalam segala keterbatasan yang ada. Kondisi serba
kekurangan kala itu menyebabkan orang tua ku selalu berfikir positif kepada keputusan
terbaik dari-Nya.
Saat saya masih bayi dalam hitungan bulan, ibu ku mengandung kembali. Kondisi
semakin memprihatinkan. Asupan gizi makanan terbatas, ibu bertambah beban
hidup. Harus merawat tiga nyawa sekaligus: saya, adiku yang ada dalam
kandungan, dan ibu ku sendiri. Ibuku akhirnya tidak fokus merawat ku serratus persen.
Pikiran telah terbagi. Saya pun semakin kurang mendapatkan air susu ibu-asi. Ditambah
lagi saat itu kondisi fisiku memang sangat sulit menerima makanan. Kondisi badanku
semakin kurus. Sampai-sampai saya membayangkan diri ku saat itu seperti bayi-bayi
atau anak-anak kecil di daerah Ethopia atau Somalia. Kurus, hitam kulit dan terkena
gizi buruk.
Pada suatu hari mbok de ku-kakak ayah ku-datang ke rumah ku-ini cerita
dari mbok de ku. kedatangan nya selain silaturahim juga karena ingin merawat diriku.
Salah satu penyebab mbok de ingin merawatku karena anak-anak mbok de ingin
punya adik lagi. Karena umur sudah tidak memungkinkan lagi dari segi
fisik-waktu itu mbok de sekitar berumur 40 tahun-, maka saya pun dirumat atau
dirawat oleh nya. sejak kecil. Mungkin sekitar berumur 6 atau 7 bulan saya
sudah menjadi bagian dari keluarga mbok de.
Mbak Yu Hikmah-anak perempuan mbok de – pernah menceritakan kondisi saat
saya pertama dibawa ke rumah mbok de. Kondisinya lemas, kulit layu dan
urat-urat nya kelihatan berwana hijau kebiru-biruan. Waktu itu hujan lebat, seluruh
tubuh ku ditutupi daun pisang. Saat pertama di rumah mbok de, rata-rata
menangis melihat kondisi fisik ku. Bahkan di antara anak-anak mbok de ada yang
bilang bahwa umur ku tidak mungkin bertahan lama. Di antara mereka bahkan menyarankan
kepada mbok de agar dikembalikan lagi. Di antara mereka juga ada yang tidak mau
mendekati ku.
Mbok de tersenyum. ia memberi nasehat kepada anak-anak nya bahwa hidup
harus senantiasa optimis terhadap pertolongan Allah. Menurutnya di dunia ini
tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Mungkin hari ini sang bayi yang mungkin
tidak ada harapan hidup, Tapi jika Allah berkehendak maka tidak ada yang tidak
mungkin. Semua sudah diatur oleh-Nya. Hanya kita sering tidak sabar atas
datangnya waktu pertolongan Allah tiba.
Anak-anak mbok de mendengar nasehat tersebut. tapi belum memahami
sepenuhnya. Saat itu anak-anak mbok de masih berumur belasan tahun. Belum semua
memahami hakikat tentang ajaran kehidupan.
Waktu terus berjalan. Kulit sudah tidak layu. Badan mulai membentuk. Tapi
masih juga terlihat kurus. Saya sudah bisa menangis dan tertawa. Sudah ada
kemajuan reaksi motorik tubuhku. Meskipun belum bisa maksimal. Tapi ketakutan-ketakutan
anak-anak mbok de akan kematian ku saat masih bayi tidak terjadi. Satu tahun
dan dua tahun telah dilalui. Saya masih hidup. Meskipun kurus, tapi fisik
sehat.
Tahun berganti tahun. Pada saat teman-teman seusiaku sudah bisa berjalan
dan berlari-lari, saya belum bisa sama sama sekali berjalan. Saya berjalan
menggunakan pantat-orang jawa menyebutnya “ngesot”, untuk bisa berpindah. Tentu
saja sebatas berada di dalam rumah. Berbeda dengan teman-teman ku yang telah
bisa berlari-lari dan bermain-main.
Saya sering menangis saat itu. Saya sering bertanya kepada mbok de
kenapa saya belum bisa berjalan sedangkan teman-temanku sudah bisa berjalan. Mbok
de dengan santai menjawab “nek wes wayaeh engko bisa mlaku”-jika sudah
saatnya nanti bisa jalan.
Saya saat itu yang masih berumur 5 atau 6 tahun belum bisa memahami
jawaban nya. Yang saya rasakan adalah betapa menderitanya saat melihat teman-teman
bermain di depan rumah mbok de ku. lebih menderita lagi saat mereka mengejek
diriku dengan ucapan “lemper”- membaca huruf “e” seperti membaca kata “tempe”.
Ejekan lemper adalah suatu ejekan untuk anak-anak yang berjalan
menggunakan pantat nya. Ada rasa traumatic yang mendalam. Jika mereka bermain
di depan rumah mbok de, saya selalu menyuruh mbok de untuk mengusir mereka. Ia pun
dengan sabar menuruti keinginanku dan menyuruh anak-anak tidak bermain di
tempat tersebut.
Keluarga pak de ku sangat rajin mencarikan obat untuk ku agar bisa
berjalan. Mbok de ku mulutnya selalu mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketika memandikan ku dan membersihkan badan ku, saya sering mendengar bacaan
sholawat dengan suara pelan tapi mempunyai aura yang mendalam. Pelan dan penuh
aura. Ada semacam doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan agar saya bisa
berjalan normal.
Tuhan pun mengabulkan doa mereka. Sebagaimana yang telah saya tulis
sebelumnya, saya akhirnya bisa berjalan dalam usia sekitar 7 tahun. Suatu usia
yang sudah sangat terlambat bagi umum nya anak-anak. Tidak mengapa, Tuhan
selalu saja memberi kebaikan pada waktu dan kondisi yang tepat.
Tentu keluarga mbok de sangat senang. Anak-anak mbok de yang sebelumnya
kurang menyukaiku menjadi sangat suka. Kemana-mana selalu diajak baik saat mereka bermain maupun ke sekolah. Apalagi
Mbak Yu Siti Huriyah. Ia sangat sayang kepada ku. saat ia sekolah, saya selalu
diajak. Biasanya saya berdiri di depan pintu kelasnya menunggu ia pulang
sekolah.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   183
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   201
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   201
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14212
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5569
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5211
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4548
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4058