Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

8 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bisa Jalan Beberapa Bulan, Langsung Sekolah MI



Kamis , 22 Januari 2026



Telah dibaca :  330

Bisa berjalan kaki di usia 6 atau 7 tahun tentu hal yang tidak lazim bagi kebanyakan anak-anak. Rata-rata anak berumur 1 tahun sudah bisa berjalan. Ada juga yang satu setengah tahun-18 bulan. Semakin kesini, asupan makanan untuk ibu hamil semakin baik. Penuh dengan gizi, vitamin dan protein. Begitu juga saat telah melahirkan, ibu dan bayinya sudah mendapatkan asupan makanan spesial mengandung unsur empat sehat lima sempurna. Wajar jika anak-anak sekarang sudah bisa berjalan di bawah umur dua tahun.

Saya termasuk anak yang terlambat berjalan. Banyak penyebabnya. Dari faktor kelahiran, saya lahir dalam keadaan kondisi kurang normal. Seluruh badan kondisi sangat lemah. Ini berlangsung hingga beberapa bulan. Semakin bertambah bulan, kondisi semakin lemah dan kurus. Hanya kepala ku yang terlihat besar. Tidak ada tawa. Hanya ada tetesan air mata yang sering membasaih pipi yang cekung dan sekujur tubuh sangat kurus. Terlihat hanya tulang dalam balutan kulit. Kedua, bisa jadi orang tua dulu-ibu ku- belum memahami ilmu tentang kesehatan bagi ibu-ibu hamil. Dulu belum ada bidan, belum ada penyuluh kesehatan, tidak ada posyandu dan tidak ada makanan yang mengandung gizi untuk pertumbuhan kesehatan janin dalam kandungan dan bayi saat melahirkan. Tidak ada Makanan Bergizi Gratis-MBG. Orang tua dulu benar-benar selalu menyandarkan keyakinan kepada kemurahan Allah SWT. Mereka percaya bahwa Allah selalu memberi pertolongan dalam segala keterbatasan yang ada. Kondisi serba kekurangan kala itu menyebabkan orang tua ku selalu berfikir positif kepada keputusan terbaik dari-Nya.

Saat saya masih bayi dalam hitungan bulan, ibu ku mengandung kembali. Kondisi semakin memprihatinkan. Asupan gizi makanan terbatas, ibu bertambah beban hidup. Harus merawat tiga nyawa sekaligus: saya, adiku yang ada dalam kandungan, dan ibu ku sendiri. Ibuku akhirnya tidak fokus merawat ku serratus persen. Pikiran telah terbagi. Saya pun semakin kurang mendapatkan air susu ibu-asi. Ditambah lagi saat itu kondisi fisiku memang sangat sulit menerima makanan. Kondisi badanku semakin kurus. Sampai-sampai saya membayangkan diri ku saat itu seperti bayi-bayi atau anak-anak kecil di daerah Ethopia atau Somalia. Kurus, hitam kulit dan terkena gizi buruk.

Pada suatu hari mbok de ku-kakak ayah ku-datang ke rumah ku-ini cerita dari mbok de ku. kedatangan nya selain silaturahim juga karena ingin merawat diriku. Salah satu penyebab mbok de ingin merawatku karena anak-anak mbok de ingin punya adik lagi. Karena umur sudah tidak memungkinkan lagi dari segi fisik-waktu itu mbok de sekitar berumur 40 tahun-, maka saya pun dirumat atau dirawat oleh nya. sejak kecil. Mungkin sekitar berumur 6 atau 7 bulan saya sudah menjadi bagian dari keluarga mbok de.

Mbak Yu Hikmah-anak perempuan mbok de – pernah menceritakan kondisi saat saya pertama dibawa ke rumah mbok de. Kondisinya lemas, kulit layu dan urat-urat nya kelihatan berwana hijau kebiru-biruan. Waktu itu hujan lebat, seluruh tubuh ku ditutupi daun pisang. Saat pertama di rumah mbok de, rata-rata menangis melihat kondisi fisik ku. Bahkan di antara anak-anak mbok de ada yang bilang bahwa umur ku tidak mungkin bertahan lama. Di antara mereka bahkan menyarankan kepada mbok de agar dikembalikan lagi. Di antara mereka juga ada yang tidak mau mendekati ku.

Mbok de tersenyum. ia memberi nasehat kepada anak-anak nya bahwa hidup harus senantiasa optimis terhadap pertolongan Allah. Menurutnya di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Mungkin hari ini sang bayi yang mungkin tidak ada harapan hidup, Tapi jika Allah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin. Semua sudah diatur oleh-Nya. Hanya kita sering tidak sabar atas datangnya waktu pertolongan Allah tiba.

Anak-anak mbok de mendengar nasehat tersebut. tapi belum memahami sepenuhnya. Saat itu anak-anak mbok de masih berumur belasan tahun. Belum semua memahami hakikat tentang ajaran kehidupan.

Waktu terus berjalan. Kulit sudah tidak layu. Badan mulai membentuk. Tapi masih juga terlihat kurus. Saya sudah bisa menangis dan tertawa. Sudah ada kemajuan reaksi motorik tubuhku. Meskipun belum bisa maksimal. Tapi ketakutan-ketakutan anak-anak mbok de akan kematian ku saat masih bayi tidak terjadi. Satu tahun dan dua tahun telah dilalui. Saya masih hidup. Meskipun kurus, tapi fisik sehat.

Tahun berganti tahun. Pada saat teman-teman seusiaku sudah bisa berjalan dan berlari-lari, saya belum bisa sama sama sekali berjalan. Saya berjalan menggunakan pantat-orang jawa menyebutnya “ngesot”, untuk bisa berpindah. Tentu saja sebatas berada di dalam rumah. Berbeda dengan teman-teman ku yang telah bisa berlari-lari dan bermain-main.

Saya sering menangis saat itu. Saya sering bertanya kepada mbok de kenapa saya belum bisa berjalan sedangkan teman-temanku sudah bisa berjalan. Mbok de dengan santai menjawab “nek wes wayaeh engko bisa mlaku”-jika sudah saatnya nanti bisa jalan.

Saya saat itu yang masih berumur 5 atau 6 tahun belum bisa memahami jawaban nya. Yang saya rasakan adalah betapa menderitanya saat melihat teman-teman bermain di depan rumah mbok de ku. lebih menderita lagi saat mereka mengejek diriku dengan ucapan “lemper”- membaca huruf “e” seperti membaca kata “tempe”. Ejekan lemper adalah suatu ejekan untuk anak-anak yang berjalan menggunakan pantat nya. Ada rasa traumatic yang mendalam. Jika mereka bermain di depan rumah mbok de, saya selalu menyuruh mbok de untuk mengusir mereka. Ia pun dengan sabar menuruti keinginanku dan menyuruh anak-anak tidak bermain di tempat tersebut.

Keluarga pak de ku sangat rajin mencarikan obat untuk ku agar bisa berjalan. Mbok de ku mulutnya selalu mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika memandikan ku dan membersihkan badan ku, saya sering mendengar bacaan sholawat dengan suara pelan tapi mempunyai aura yang mendalam. Pelan dan penuh aura. Ada semacam doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan agar saya bisa berjalan normal.

Tuhan pun mengabulkan doa mereka. Sebagaimana yang telah saya tulis sebelumnya, saya akhirnya bisa berjalan dalam usia sekitar 7 tahun. Suatu usia yang sudah sangat terlambat bagi umum nya anak-anak. Tidak mengapa, Tuhan selalu saja memberi kebaikan pada waktu dan kondisi yang tepat.

Tentu keluarga mbok de sangat senang. Anak-anak mbok de yang sebelumnya kurang menyukaiku menjadi sangat suka. Kemana-mana selalu diajak  baik saat mereka bermain maupun ke sekolah. Apalagi Mbak Yu Siti Huriyah. Ia sangat sayang kepada ku. saat ia sekolah, saya selalu diajak. Biasanya saya berdiri di depan pintu kelasnya menunggu ia pulang sekolah.

Karena terlalu sering ikut sekolah bersama Mbak Yu Siti, akhirnya guru-gurunya pun menyuruh saya masuk sekolah. Akhirnya saya masuk kelas satu Madrasah Ibtidaiyah-MI-setingkat dengan SD. Baru beberapa bulan bisa berjalan, akhirnya saya pun langsung bisa menjadi murid MI Fathul Ulum Sirau. Sebuah rahasia tuhan yang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Semua bisa terjadi atas firman-Nya “kun fayakun”.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   183

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   201

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   201

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14212


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5569


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5211


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4058