Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

8 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guru dan Rotan Panjang di Meja



Minggu , 08 Februari 2026



Telah dibaca :  245

Diantara yang masih saya ingat tentang metode pembelajaran dulu yaitu metode rotan, yaitu guru mengajar dengan membawa sepotong rotan. Panjangnya sekitar 60 centimeter. Rotan ini diletakan di meja guru. Sang guru duduk.Tidak ada senyum, tidak juga marah. Wajah terlihat dingin. Tidak banyak bicara. Jika toh bicara, hanya pada kata atau kalimat yang penting dan bersifat fi’il amar-kalimat perintah seperti : “duduk !”,”diam!”, “dengarkan!”, “baca !”, “perhatikan!”, “lihat papan tulis!”.

Tidak ada satupun yang berani membantah ucapannya. Meskipun ia menjadi preman di lokal. Guru saat itu benar-benar menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Apa yang diucapkan oleh guru dan pola mengajar seperti apa yang dilakukan oleh nya hampir bisa dipastikan semua murid hapal. Ini yang kemudian menjadi kenangan terindah saat mengingat masa-masa belajar dulu.

Dulu guru sangat disiplin. Terutama guru-guru yang menggunakan metode rotan. Guru-guru ini datang sebelum murid-muridnya datang. Dengan penuh wibawa guru tadi sudah duduk di kursi dan sudah memegang rotan. Murid-murid masuk satu-satu. Setiap masuk, yang diperiksa Adalah kuku dan rambut. Jika kuku hitam dan belum dipotong, maka jari-jari kena pukul rotan. Begitu juga jika rambut Panjang, maka tangan menjadi sasaran guru memukul jari-jarinya. Ini selalu dilakukan hampir setiap hari senin. Itu sebabnya semakin hari, anak-anak semakin paham dan selalu pendek kuku jari tangannya. Kecuali benar-benar sudah menjadi preman sungguhan. Jenis murid seperti ini sudah “ndableg” atau “mbeling”-tidak peduli hukuman guru. ia siap menerima hukuman berdiri di depan kelas meskipun sampai habis pelajaran. Lama-lama kadang gurunya malah bosan menghukumnya.

Pendek bukan berarti bersih untuk anak-anak murid dulu. Pendek tetapi tetap terlihat warna hitam ujung kuku nya. sebab memang anak-anak dulu suka main di sawah dan Sungai atau parit. Anak-anak dulu memang kegiatan atau bermainnya setelah pulang sekolah yaitu bermain bersama-sama baik di ladang maupun di sawah. Jika musim kemarau, mereka main layang-layang atau mencari binatang jangkrik kalung. Mereka juga mencari ikan-ikan di sungai atau parit dekat sawah dengan cara membendung depan belakang dengan tanah. Setelah itu, lalu dikuras airnya dengan timba. Setelah benar-benar terkuras, maka akan terlihat ikan-ikannya dan kemudian diambil dan dimasukan dalam timba atau kepis-wadah khusus ikan terbuat dari bambu.

Musim kemarau di malam hari sama seperti siang hari. Anak-anak desa yang hidup di daerah pesawahan selalu bermain di sawah. Kami bermain setelah sholat isya’. Sekitar jam 21.00 kami pergi ke sawah ramai-ramai. Alat yang dibawa yaitu kayu-sebesar lengan-, obor dari bambu-berisi minyak tanah, dan bumbung-potongan bambu ukuran 20 cm yang kanan-kirinya dibuat tutup sedangkan tengahnya dibuat kecil memanjang. Bumbung ini tempat atau kandang jangkrik kalung.

Jangkrik kalung menjadi binatang yang sangat disukai oleh anak-anak pada masa dulu. Suaranya sangat nyaring dan indah. Bunyi nya di malam hari. Jumlah nya sangat sedikit. Setiap malam mencari nya, kadang hanya mendengar 2-3 jangkrik. Biasanya berada di antara tanah yang pecah-pecah karena musim kemarau. Untuk mencarinya harus ndongkel tanah-tanah tersebut.

Anak-anak era 80 an atau 90 an  penuh kebahagiaan alami. Ia belum terkontaminasi dengan budaya-budaya luar daerah. Ia masih terjaga dengan tradisi kehidupan pedesaan asli dan nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan oleh orang tua, kakek dan nenek moyang nya. nilai-nilai kebaikan yang telah dikawinkan dengan nilai-nilai agama Islam telah membentuk sikap luhur seperti menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Kembali lagi pada pembahasan guru dan rotan di permulaan tulisan ini. Bahwa anak-anak telah terbentuk sifat dan watak dengan alam pedesaan murni. Mereka juga dibentuk oleh nilai-nilai moralitas masyarakat yang agung. Kondisi yang sangat mempengaruhi kualitas moralitas yang cukup baik dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Anda mungkin bisa membayangkan kondisi anak-anak saat itu. Saat pada malam hari mereka bermain-main di sawah dan siang hari juga hal sama, maka akan menghasilkan anak-anak yang belum bisa membersihkan diri dengan baik. Tidak ada minyak wangi. Mereka benar-benar hadir dengan apa adanya. Mereka datang ke sekolah atau tempat ngaji dengan baju ala kadar nya. saat mereka melakukan kesalahan, guru-guru di sekolah atau guru-guru ngaji akan menghukumnya dengan cara mereka. Tidak ada yang marah. Anak-anak yang dihukum tidak dendam dengan guru-gurunya. Orang tua mereka pun tidak marah atas Tindakan guru yang telah menghukum anak-anak mereka. Ada semacam kesadaran tidak tertulis antara tugas guru dan orang tua. Mereka berjalan sesuai dengan tupoksi masing-masing dan tidak mau mencampuri urusan masing-masing.

Jadi, bangsa Indonesia sudah cukup lama dibentuk oleh tradisi yang sangat menghargai guru. fakta tersebut bukan sebuah dongeng belaka. Tapi juga daya dukung nilai-nilai moral yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Baik sebelum maupun sesudah datangnya islam.

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Indonesia telah mendapatkan nilai-nilai keagungan dari agama hindu dan budha. Mereka telah diperkenalkan tentang kisah-kisah Ramayana dan Rahwana-sifat baik dan sifat buruk. Dari agama budha juga diperkenalkan tentang moralitas yang agung Sang Sidarta Gautama yang hidup menebarkan kedamaian.

Ketika Islam datang, masyarakat Indonesia telah mendapatkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan dari al-qur’an, hadist dan karya-karya para ulama yang telah tersebar di seluruh lembaga-lembaga pendidikan agama klasik seperti pondok pesantren tradisional.

Kita merasakan hasilnya. Dari semua itu, lahirlah generasi-generasi yang mempunyai tanggungjawab moral, jiwa kesatria, dan semangat tinggi membela agama, bangsa dan negara. Meskipun pendidikan terkadang tidak sampai pada level perguruan tinggi, ketika sudah berkeluarga anak-anak muda mempunyai tanggungjawab sangat baik. Mereka menghidupi keluarganya dengan menjadi petani di sawah saat musim tanam padi. Sambil menunggu panen-rentang waktu sekitar 2 bulan, mereka  berdagang ke beberapa kota tetangga.

Ada juga yang merantau pergi ke kota-kota besar kala itu seperti Bandung dan Jakarta dan sebagian pergi keluar negeri seperti ke Arab Saudi, Korea dan Malaysia.

Kini sudah tidak ada lagi kisah guru membawa rotan saat mengajar di ruang kelas. Sejak era reformasi tahun 1998, ada tuntutan perubahan dari masyarakat Indonesia baik bidang politik maupun ekonomi. Akvitis masyarakat pun tumbuh seperti jamur di musim hujan. Beragam kelompok masyarakat menyambut kebebasan tersebut dengan menuntut segala hak-hak mereka sebagai manusia merdeka. Para aktivis yang telah mendapatkan pendidikan dari barat memperjuangkan isu-isu yang sangat sensitif seperti feminisme, gender dan kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.

Di bidang pendidikan mereka menuntut reformasi secara menyeluruh terhadap pendidikan yang dianggap kurang modern. Para ilmuwan mulai mengadopsi sistem pendidikan model barat. Berbagai kurikulum mulai diperkenalkan. Ganti menteri ganti kurikulum. Hingga lama-lama terkesan pendidikan hanya sebatas uji coba hingga kini. Benar-benar belum bisa mapan dan baku sistem pendidikan nasional. Lebih terkesan menjadi proyek daripada memperbaiki sistem pendidikan.

Dalam bidang Hak Asasi Manusia-HAM-ingin menerapkan gambaran-gambaran sistem perlindungan HAM yang ada di luar negeri. Sayangnya, Sebagian mereka lupa bahwa masyarakat Indonesia telah menganut nilai-nilai yang hidup di masyarakat yang sudah baik dan efektif dalam memberi pembelajaran perilaku kehidupan tiba-tiba dianggap bertentangan dengan HAM. Aturan menjadi tumpeng tindih dan sering bertentangan ketika diterapkan dalam realita kehidupan.

Contoh kecil, jika dulu seorang guru memukul tangan karena anak muridnya mempunyai kuku-kuku hitam dan panjang, atau guru memotong rambut yang panjang tidak ada persoalan sama sekali.

Kini ada seorang guru melarang anak murid merokok di lokasi sekolah dengan sedikit memberi hukuman justru malah dianggap telah melakukan kekerasan kepada anak murid. Tujuan guru mendidik, tapi berujung pada urusan hukum. Dan banyak lagi pola pendidikan masa lalu diterapkan oleh para guru, tapi lagi-lagi justru membuat guru menderita akibat aturan-aturan hukum yang sangat membingungkan.

Tentu saja bukan hanya pada lingkungan pendidikan, pun di lingkungan keluarga dan system pemerintahan. Ada aturan-aturan yang mempunyai potensi merusak tatanan kehidupan keluarga. Atas nama HAM, seorang istri bisa melaporkan suaminya dengan alasan kejahatan dan sejenisnya. atas nama ham, Pendidikan orang tua yang diterapkan pada anak bisa berubah menjadi persoalan hukum yang serius. Ironisnya lagi, terkadang institusi penegak hukum satu dan lainnya berbeda-beda dalam menyikapi. Seolah-olah hukum hanya sebatas menuruti gelombang kritik Masyarakat. Semakin besar kritik Masyarakat, maka semakin besar peluang untuk menang. Saya kira kondisi sosial seperti ini menjadi sangat mengerikan. Aturan menjadi bias dan susah untuk ditaati sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Walhasil, kisah guru dan rotan hanya tinggal kenangan. Mungkin ada sistem pembelajaran atau sistem pendidikan masa lalu yang kurang baik, tapi bukan berarti tidak ada kebaikan sama sekali. Para pendiri bangsa dan orang tua kita dulu merupakan produk pendidikan yang dianggap kolot tersebut. Tapi output nya sungguh sangat baik. Justru sistem yang saat sekarang ini-katanya modern-sering melahirkan produk pendidikan yang sangat menyedihkan dan kita rasakan sama-sama. Dari sini saya bisa memahami, bahwa belum tentu sistem pendidikan bangsa lain suskes di negerinya, bisa sukses di laksanakan di masyarakat Indonesia. Sebab masyarakat nya mempunyai karakter dan nilai-nilai yang dianut berbeda. Perlu ada kolaborasi nilai-nilai moralitas bangsa Indonesia dan nilai-nilai barat yang baik dalam sistem aturan hukum dalam berbagai aspek kehidupan agar supaya tidak terjadi tumpang tindih-atau paling tidak mengurangi keruwetan aturan-seperti saat sekarang ini.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   181

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   198

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   200

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5540


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4045