
Diantara yang masih saya ingat tentang metode
pembelajaran dulu yaitu metode rotan, yaitu guru mengajar dengan membawa
sepotong rotan. Panjangnya sekitar 60 centimeter. Rotan ini diletakan di meja
guru. Sang guru duduk.Tidak ada senyum, tidak juga marah. Wajah terlihat
dingin. Tidak banyak bicara. Jika toh bicara, hanya pada kata atau kalimat yang
penting dan bersifat fi’il amar-kalimat perintah seperti : “duduk !”,”diam!”,
“dengarkan!”, “baca !”, “perhatikan!”, “lihat papan tulis!”.
Tidak ada satupun yang berani membantah
ucapannya. Meskipun ia menjadi preman di lokal. Guru saat itu benar-benar
menjadi pusat perhatian selama proses pembelajaran berlangsung. Apa yang
diucapkan oleh guru dan pola mengajar seperti apa yang dilakukan oleh nya hampir
bisa dipastikan semua murid hapal. Ini yang kemudian menjadi kenangan terindah
saat mengingat masa-masa belajar dulu.
Dulu guru sangat disiplin. Terutama
guru-guru yang menggunakan metode rotan. Guru-guru ini datang sebelum
murid-muridnya datang. Dengan penuh wibawa guru tadi sudah duduk di kursi dan
sudah memegang rotan. Murid-murid masuk satu-satu. Setiap masuk, yang diperiksa
Adalah kuku dan rambut. Jika kuku hitam dan belum dipotong, maka jari-jari kena
pukul rotan. Begitu juga jika rambut Panjang, maka tangan menjadi sasaran guru
memukul jari-jarinya. Ini selalu dilakukan hampir setiap hari senin. Itu
sebabnya semakin hari, anak-anak semakin paham dan selalu pendek kuku jari
tangannya. Kecuali benar-benar sudah menjadi preman sungguhan. Jenis murid
seperti ini sudah “ndableg” atau “mbeling”-tidak peduli hukuman guru. ia siap
menerima hukuman berdiri di depan kelas meskipun sampai habis pelajaran.
Lama-lama kadang gurunya malah bosan menghukumnya.
Pendek bukan berarti bersih untuk anak-anak
murid dulu. Pendek tetapi tetap terlihat warna hitam ujung kuku nya. sebab
memang anak-anak dulu suka main di sawah dan Sungai atau parit. Anak-anak dulu
memang kegiatan atau bermainnya setelah pulang sekolah yaitu bermain
bersama-sama baik di ladang maupun di sawah. Jika musim kemarau, mereka main
layang-layang atau mencari binatang jangkrik kalung. Mereka juga mencari
ikan-ikan di sungai atau parit dekat sawah dengan cara membendung depan
belakang dengan tanah. Setelah itu, lalu dikuras airnya dengan timba. Setelah
benar-benar terkuras, maka akan terlihat ikan-ikannya dan kemudian diambil dan
dimasukan dalam timba atau kepis-wadah khusus ikan terbuat dari bambu.
Musim kemarau di malam hari sama seperti
siang hari. Anak-anak desa yang hidup di daerah pesawahan selalu bermain di
sawah. Kami bermain setelah sholat isya’. Sekitar jam 21.00 kami pergi ke sawah
ramai-ramai. Alat yang dibawa yaitu kayu-sebesar lengan-, obor dari
bambu-berisi minyak tanah, dan bumbung-potongan bambu ukuran 20 cm yang
kanan-kirinya dibuat tutup sedangkan tengahnya dibuat kecil memanjang. Bumbung
ini tempat atau kandang jangkrik kalung.
Jangkrik kalung menjadi binatang yang
sangat disukai oleh anak-anak pada masa dulu. Suaranya sangat nyaring dan
indah. Bunyi nya di malam hari. Jumlah nya sangat sedikit. Setiap malam mencari
nya, kadang hanya mendengar 2-3 jangkrik. Biasanya berada di antara
tanah yang pecah-pecah karena musim kemarau. Untuk mencarinya harus ndongkel
tanah-tanah tersebut.
Anak-anak era 80 an atau 90 an penuh kebahagiaan alami. Ia belum
terkontaminasi dengan budaya-budaya luar daerah. Ia masih terjaga dengan
tradisi kehidupan pedesaan asli dan nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan
oleh orang tua, kakek dan nenek moyang nya. nilai-nilai kebaikan yang telah
dikawinkan dengan nilai-nilai agama Islam telah membentuk sikap luhur seperti
menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
Kembali lagi pada pembahasan guru dan rotan
di permulaan tulisan ini. Bahwa anak-anak telah terbentuk sifat dan watak
dengan alam pedesaan murni. Mereka juga dibentuk oleh nilai-nilai moralitas masyarakat
yang agung. Kondisi yang sangat mempengaruhi kualitas moralitas yang cukup baik
dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Anda mungkin bisa membayangkan kondisi
anak-anak saat itu. Saat pada malam hari mereka bermain-main di sawah dan siang
hari juga hal sama, maka akan menghasilkan anak-anak yang belum bisa
membersihkan diri dengan baik. Tidak ada minyak wangi. Mereka benar-benar hadir
dengan apa adanya. Mereka datang ke sekolah atau tempat ngaji dengan baju ala
kadar nya. saat mereka melakukan kesalahan, guru-guru di sekolah atau guru-guru
ngaji akan menghukumnya dengan cara mereka. Tidak ada yang marah. Anak-anak
yang dihukum tidak dendam dengan guru-gurunya. Orang tua mereka pun tidak marah
atas Tindakan guru yang telah menghukum anak-anak mereka. Ada semacam kesadaran
tidak tertulis antara tugas guru dan orang tua. Mereka berjalan sesuai dengan
tupoksi masing-masing dan tidak mau mencampuri urusan masing-masing.
Jadi, bangsa Indonesia sudah cukup lama
dibentuk oleh tradisi yang sangat menghargai guru. fakta tersebut bukan sebuah
dongeng belaka. Tapi juga daya dukung nilai-nilai moral yang telah diwariskan
oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Baik sebelum maupun sesudah datangnya
islam.
Sebelum datangnya Islam, masyarakat
Indonesia telah mendapatkan nilai-nilai keagungan dari agama hindu dan budha.
Mereka telah diperkenalkan tentang kisah-kisah Ramayana dan Rahwana-sifat baik
dan sifat buruk. Dari agama budha juga diperkenalkan tentang moralitas yang
agung Sang Sidarta Gautama yang hidup menebarkan kedamaian.
Ketika Islam datang, masyarakat Indonesia
telah mendapatkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan dari al-qur’an, hadist
dan karya-karya para ulama yang telah tersebar di seluruh lembaga-lembaga pendidikan
agama klasik seperti pondok pesantren tradisional.
Kita merasakan hasilnya. Dari semua itu,
lahirlah generasi-generasi yang mempunyai tanggungjawab moral, jiwa kesatria,
dan semangat tinggi membela agama, bangsa dan negara. Meskipun pendidikan terkadang
tidak sampai pada level perguruan tinggi, ketika sudah berkeluarga anak-anak
muda mempunyai tanggungjawab sangat baik. Mereka menghidupi keluarganya dengan
menjadi petani di sawah saat musim tanam padi. Sambil menunggu panen-rentang
waktu sekitar 2 bulan, mereka berdagang
ke beberapa kota tetangga.
Ada juga yang merantau pergi ke kota-kota
besar kala itu seperti Bandung dan Jakarta dan sebagian pergi keluar negeri
seperti ke Arab Saudi, Korea dan Malaysia.
Kini sudah tidak ada lagi kisah guru
membawa rotan saat mengajar di ruang kelas. Sejak era reformasi tahun 1998, ada
tuntutan perubahan dari masyarakat Indonesia baik bidang politik maupun
ekonomi. Akvitis masyarakat pun tumbuh seperti jamur di musim hujan. Beragam kelompok
masyarakat menyambut kebebasan tersebut dengan menuntut segala hak-hak mereka
sebagai manusia merdeka. Para aktivis yang telah mendapatkan pendidikan dari barat
memperjuangkan isu-isu yang sangat sensitif seperti feminisme, gender dan
kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Di bidang pendidikan mereka menuntut
reformasi secara menyeluruh terhadap pendidikan yang dianggap kurang modern. Para
ilmuwan mulai mengadopsi sistem pendidikan model barat. Berbagai kurikulum
mulai diperkenalkan. Ganti menteri ganti kurikulum. Hingga lama-lama terkesan pendidikan
hanya sebatas uji coba hingga kini. Benar-benar belum bisa mapan dan baku sistem
pendidikan nasional. Lebih terkesan menjadi proyek daripada memperbaiki sistem pendidikan.
Dalam bidang Hak Asasi Manusia-HAM-ingin
menerapkan gambaran-gambaran sistem perlindungan HAM yang ada di luar negeri. Sayangnya,
Sebagian mereka lupa bahwa masyarakat Indonesia telah menganut nilai-nilai yang
hidup di masyarakat yang sudah baik dan efektif dalam memberi pembelajaran
perilaku kehidupan tiba-tiba dianggap bertentangan dengan HAM. Aturan menjadi tumpeng
tindih dan sering bertentangan ketika diterapkan dalam realita kehidupan.
Contoh kecil, jika dulu seorang guru
memukul tangan karena anak muridnya mempunyai kuku-kuku hitam dan panjang, atau
guru memotong rambut yang panjang tidak ada persoalan sama sekali.
Kini ada seorang guru melarang anak murid merokok
di lokasi sekolah dengan sedikit memberi hukuman justru malah dianggap telah
melakukan kekerasan kepada anak murid. Tujuan guru mendidik, tapi berujung pada
urusan hukum. Dan banyak lagi pola pendidikan masa lalu diterapkan oleh para
guru, tapi lagi-lagi justru membuat guru menderita akibat aturan-aturan hukum
yang sangat membingungkan.
Tentu saja bukan hanya pada lingkungan pendidikan,
pun di lingkungan keluarga dan system pemerintahan. Ada aturan-aturan yang
mempunyai potensi merusak tatanan kehidupan keluarga. Atas nama HAM, seorang
istri bisa melaporkan suaminya dengan alasan kejahatan dan sejenisnya. atas
nama ham, Pendidikan orang tua yang diterapkan pada anak bisa berubah menjadi
persoalan hukum yang serius. Ironisnya lagi, terkadang institusi penegak hukum
satu dan lainnya berbeda-beda dalam menyikapi. Seolah-olah hukum hanya sebatas
menuruti gelombang kritik Masyarakat. Semakin besar kritik Masyarakat, maka
semakin besar peluang untuk menang. Saya kira kondisi sosial seperti ini
menjadi sangat mengerikan. Aturan menjadi bias dan susah untuk ditaati sebagai
pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Walhasil, kisah guru dan rotan hanya
tinggal kenangan. Mungkin ada sistem pembelajaran atau sistem pendidikan masa
lalu yang kurang baik, tapi bukan berarti tidak ada kebaikan sama sekali. Para pendiri
bangsa dan orang tua kita dulu merupakan produk pendidikan yang dianggap kolot
tersebut. Tapi output nya sungguh sangat baik. Justru sistem yang saat
sekarang ini-katanya modern-sering melahirkan produk pendidikan yang sangat
menyedihkan dan kita rasakan sama-sama. Dari sini saya bisa memahami, bahwa belum
tentu sistem pendidikan bangsa lain suskes di negerinya, bisa sukses di
laksanakan di masyarakat Indonesia. Sebab masyarakat nya mempunyai karakter dan
nilai-nilai yang dianut berbeda. Perlu ada kolaborasi nilai-nilai moralitas bangsa
Indonesia dan nilai-nilai barat yang baik dalam sistem aturan hukum dalam
berbagai aspek kehidupan agar supaya tidak terjadi tumpang tindih-atau paling
tidak mengurangi keruwetan aturan-seperti saat sekarang ini.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   181
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   198
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   200
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5540
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4542
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4045