Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

404 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Guru, Ulama dan Santri



Minggu , 04 Oktober 2026



Telah dibaca :  44

Pagi ini -Minggu, 04 Oktober 2026- jalan kaki melihat keindahan kota Pekanbaru. Sekaligus olah raga. Kata dokter, jalan kaki olah raga yang paling baik. Selain menyehatkan badan: keringat keluar, badan menjadi lincah bergerak juga memperminim biaya pengeluaran. Coba kalau olah raga seperti fitness atau apalah namanya yang mengharuskan di Gedung ber-AC, cukup besar juga budget nya.

Yang jelas olah raga jalan kaki membuat badan semakin langsing -kata orang sih…!- tapi berbeda dengan ku. Semakin sering jalan kaki semakin bertambah berat badan. Ma’lum lah semakin enak makan.

Saya menyempatkan mampir di Pasca UIN Suska Jl. Ahmad Dahlan. Lagi duduk-duduk bersama Mas Fuad, Saya bertemu Prof Sudirman Johan. Saya segera berdiri menemuinya dan mencium tangan nya. Saya memulai percakapan, mungkin dia lupa. Ma’lum lah, sejak saya selesai program doktor tahun 2015, kami tidak pernah bertemu lagi.

“Masih ingat saya prof, saya Imam Ghozali. Dulu prof yang membimbing disertasi ku” saya mencoba menjelaskan.

Diam sejenak. Ia mulai ingat. Ma’lum, saya termasuk mahasiswa yang cukup disayang sama Prof Sudirman Johan. Saya pun tidak tahu. Mungkin karena waktu itu saya mahasiswa yang paling kurus, badan lusuh, dan jalan seperti mau jatuh. Komentar seperti ini juga yang sering dibilangin sama ketua prodi HKI progam doktor: Prof. Jumni Neli.

Selain alasan tersebut, mungkin karena saya sering menulis di Koran Riau Pos. Saya ingat saat selesai sholat dhuhur dan kebetulan saat itu tulisan ku keluar di kolom Opini Riau Pos. Saya lagi duduk di teras, tiba-tiba Prof Sudirman menyapa aku.

Saya kaget. Seperti biasa, saya mencium tangannya.

“Tulisan Imam hari ini di Riau Pos mantap sekali, teruskan menulis mam” katanya memuji sekaligus memberi semangat kepada ku.

Saya ingat era tahun 2011-2015 adalah era penulis hebat-hebat di kolom opini Riau Pos yang sering muncul yaitu prof Alaidin Koto, Prof Samsul Nizar dan Samsuddin Muir. Mereka penulis produktif. Pemikiran sangat bernas mengangkat tema-tema sosial yang sangat komplek pada masa nya.

Berbeda dengan ku, saya menulis selain karena ingin menulis juga karena ingin hidup dari tulisan. Dulu lumayan. Sekali terbit -kalau tidak salah- mendapat honorium sebesar Rp. 150.000 untuk penulis pemula. Berbeda bagi yang sudah level guru besar.

Kadang saya kumpulkan. Kalau sudah ada 3 atau 4 tulisan baru saya ambil dan bisa untuk biaya hidup di Pekanbaru. Itung-itung nyambung biaya hidup yang memang waktu itu sangat perlu sekali hidupku disambung dengan biaya-biaya tambahan. Ma’lum, masih golongan “delapan asnaf”.

Prof Sudirman tertarik pada ku kemungkinan karena saya menulis tentang “titik temu” ormas NU dan Muhamadiyah. Secara geneologis saya lahir dari keluarga nahdiyin, sedangkan prof Sudirman kala itu menjadi pengurus Muhamadiyah Provinsi Riau. Seingat ku dulu.

Saya menjelaskan bahwa betapa indah sekali hubungan antara Muhamadiyah dengan NU. Dulu saat era Soekarno, K.H. Wahid Hasyim dari NU biasanya pijet-pijetan dengan Kahar Muzakir yang Muhamadiyah di Masjid Kauman Yogyakarta.

Begitu juga ketika Gus Dur belajar di Yogyakarta, tempat nginap nya juga di rumah Pengurus Muhamadiyah. Ngaji di Pesantren Krapyak, tidur di rumah pengurus Muhamadiyah.

Bagaimana pun prof Sudirman sebagai pengurus Muhamadiyah memahami geneologis intelektual pendiri NU dan Muhamadiyah yang sebenarnya mempunyai guru sama: Kyai Sholeh Darat dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Kesamaan landasan ideologi berfikir tentang agama dan kemanusiaan, agama dan pandangan politiknya yang inklusif  dan moderat. Keduanya hanya berbeda metode nya dalam menterjemahkan pemikiran guru-guru nya. NU merawat kaum tradisionalis dengan membuka pesantren di pedesaaan, sedangkan Muhamadiyah merawat kaum modern di perkotaan.

Pada kesempat di pagi ini, saya pun sempat dipanggil lagi oleh prof Sudirman untuk duduk bareng bersamanya. Saya duduk di ruangan pasca. Kami kembali lagi berdiskusi. Mungkin karena pengaruh umur, format diskusinya tidak lagi seperti dulu: keras dan jadas. Kini diskusi nya sudah mulai masuk kajian sufi. Tentang makna “sangkan paraning dumadi”.

Dalam filsafat Jawa harus memahami huruf HO NO CO RO KO– adanya utusan Tuhan- maka harus memahami hakikat dari DO TO SO WO LO – semua kehidupan sudah diatur oleh Tuhan-, bahwa sistem hidup mengikut huruf PO DHO JO YO NYO – Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala perhitungan-Nya dan berpasang-pasangan -, MO GO BO THO NGO -setiap manusia mempunyai kelemahan, kesalahan dan dosa, serta akhir kehidupan. Ini makna dari sangkan paraning dumadi tersebut.

Kenapa demikian? Sebab hubungan guru dan murid sangat unik. Ketika guru memberi suatu ajaran kehidupan, maka konskuensi dari murid harus mampu segala sisi ajaran tersebut dalam kontek kebaikan dan berfikir positif. Mekipun kadang wujudnya sebaliknya.

Dalam kontek tersebut, dalam dunia Seni Pewayangan ada kisah menarik tentang hubungan guru dan murid yang sangat fenomenal adalah ketika sang Durna memerintah kepada Bima untuk mencari banyu perwitasari di dasar laut. Banyu: air, perwita: suci, sari: inti atau yang paling utama. Artinya mencari inti air yang paling utama. Air sebagai simbol kebahagiaan, kehidupan dan kedamaian dan kekekalan adalah kalimat tauhid yaitu : Laa Ilaha Illa Allah.

Ketika Bima mendapat perintah dari guru nya untuk mengambil nya dengan penuh resiko di dasar laut, ia pun tetap melaksanakan perintahnya tanpa ada keraguan sedikit pun. Dengan segala perjuangan, akhirnya bima mendapatkan banyu perwitasari. Ia menjadi pahlawan terkuat dan terhebat sepanjang sejarah pewayangan.

Sebentar lagi kita akan memperingati hari santri. Kata guru, ulama dan santri akan tetap ada di Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia. Makna nya mungkin saja belum mengalami perubahan.

Sejalan perkembangan zaman, perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat tiga terminologi tersebut di atas harus senantiasa mampu menjaga nama besar nya sebagaimana pada era masa lalu. Guru, ulama dan santri harus bisa membawa panji keilmuan, keulamaan dan keintelektualan serta sekaligus harus responsif terhadap perkembangan saint dan teknologi yang sangat dinamis dan masif.

Sangat berat tantangan tersebut. tapi harus dilaksanakan. Karena memang seperti itulah tugas guru, ulama dan santri sebagai pembawa obor peradaban. Di tengah keterbatasan, obor peradaban harus dipegang kuat-kuat meskipun panas dan kadang membakar kulit. Karena memang tugas pembawa obor tidak ada nikmat, ia harus siap mendapatkan resiko, tidak ada tepuk tangan dan bahkan bisa jadi dilupakan di dalam keheningan sejarah.

Dan hakikat dari guru, ulama dan santri memang demikian. Mereka menoreh sejarah peradaban tanpa mengharapkan sanjungan dari manusia sebagai matahari yang terus menyinari bumi dan mata air yang selalu memberi kesejukan kepada orang-orang yang membutuhkan serta laksana oksigen yang menghidupi setiap orang dan semua orang pun melupakan jasa oksigin. Disini sebenarnya makna kehidupan sejati, kehidupan tanpa sandaran kepada sesuatu yang fana.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   168

Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   238

Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   188

Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15037


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6713


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6078


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4992