
Pagi ini -Minggu, 04 Oktober 2026- jalan
kaki melihat keindahan kota Pekanbaru. Sekaligus olah raga. Kata dokter, jalan kaki
olah raga yang paling baik. Selain menyehatkan badan: keringat keluar, badan
menjadi lincah bergerak juga memperminim biaya pengeluaran. Coba kalau olah
raga seperti fitness atau apalah namanya yang mengharuskan di Gedung ber-AC, cukup
besar juga budget nya.
Yang jelas olah raga jalan kaki membuat badan
semakin langsing -kata orang sih…!- tapi berbeda dengan ku. Semakin sering
jalan kaki semakin bertambah berat badan. Ma’lum lah semakin enak makan.
Saya menyempatkan mampir di Pasca UIN Suska
Jl. Ahmad Dahlan. Lagi duduk-duduk bersama Mas Fuad, Saya bertemu Prof Sudirman
Johan. Saya segera berdiri menemuinya dan mencium tangan nya. Saya memulai
percakapan, mungkin dia lupa. Ma’lum lah, sejak saya selesai program doktor
tahun 2015, kami tidak pernah bertemu lagi.
“Masih ingat saya prof, saya Imam Ghozali. Dulu
prof yang membimbing disertasi ku” saya mencoba menjelaskan.
Diam sejenak. Ia mulai ingat. Ma’lum, saya
termasuk mahasiswa yang cukup disayang sama Prof Sudirman Johan. Saya pun tidak
tahu. Mungkin karena waktu itu saya mahasiswa yang paling kurus, badan lusuh,
dan jalan seperti mau jatuh. Komentar seperti ini juga yang sering dibilangin
sama ketua prodi HKI progam doktor: Prof. Jumni Neli.
Selain alasan tersebut, mungkin karena saya
sering menulis di Koran Riau Pos. Saya ingat saat selesai sholat dhuhur dan
kebetulan saat itu tulisan ku keluar di kolom Opini Riau Pos. Saya lagi duduk
di teras, tiba-tiba Prof Sudirman menyapa aku.
Saya kaget. Seperti biasa, saya mencium
tangannya.
“Tulisan Imam hari ini di Riau Pos mantap
sekali, teruskan menulis mam” katanya memuji sekaligus memberi semangat kepada ku.
Saya ingat era tahun 2011-2015 adalah era
penulis hebat-hebat di kolom opini Riau Pos yang sering muncul yaitu prof
Alaidin Koto, Prof Samsul Nizar dan Samsuddin Muir. Mereka penulis produktif. Pemikiran
sangat bernas mengangkat tema-tema sosial yang sangat komplek pada masa nya.
Berbeda dengan ku, saya menulis selain
karena ingin menulis juga karena ingin hidup dari tulisan. Dulu lumayan. Sekali
terbit -kalau tidak salah- mendapat honorium sebesar Rp. 150.000 untuk penulis
pemula. Berbeda bagi yang sudah level guru besar.
Kadang saya kumpulkan. Kalau sudah ada 3
atau 4 tulisan baru saya ambil dan bisa untuk biaya hidup di Pekanbaru. Itung-itung
nyambung biaya hidup yang memang waktu itu sangat perlu sekali hidupku
disambung dengan biaya-biaya tambahan. Ma’lum, masih golongan “delapan asnaf”.
Prof Sudirman tertarik pada ku kemungkinan karena
saya menulis tentang “titik temu” ormas NU dan Muhamadiyah. Secara geneologis
saya lahir dari keluarga nahdiyin, sedangkan prof Sudirman kala itu menjadi
pengurus Muhamadiyah Provinsi Riau. Seingat ku dulu.
Saya menjelaskan bahwa betapa indah sekali
hubungan antara Muhamadiyah dengan NU. Dulu saat era Soekarno, K.H. Wahid Hasyim
dari NU biasanya pijet-pijetan dengan Kahar Muzakir yang Muhamadiyah di
Masjid Kauman Yogyakarta.
Begitu juga ketika Gus Dur belajar di Yogyakarta,
tempat nginap nya juga di rumah Pengurus Muhamadiyah. Ngaji di Pesantren
Krapyak, tidur di rumah pengurus Muhamadiyah.
Bagaimana pun prof Sudirman sebagai pengurus
Muhamadiyah memahami geneologis intelektual pendiri NU dan Muhamadiyah yang
sebenarnya mempunyai guru sama: Kyai Sholeh Darat dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Kesamaan landasan ideologi berfikir tentang agama dan kemanusiaan, agama dan
pandangan politiknya yang inklusif dan
moderat. Keduanya hanya berbeda metode nya dalam menterjemahkan pemikiran
guru-guru nya. NU merawat kaum tradisionalis dengan membuka pesantren di
pedesaaan, sedangkan Muhamadiyah merawat kaum modern di perkotaan.
Pada kesempat di pagi ini, saya pun sempat
dipanggil lagi oleh prof Sudirman untuk duduk bareng bersamanya. Saya duduk di
ruangan pasca. Kami kembali lagi berdiskusi. Mungkin karena pengaruh umur,
format diskusinya tidak lagi seperti dulu: keras dan jadas. Kini diskusi nya sudah
mulai masuk kajian sufi. Tentang makna “sangkan paraning dumadi”.
Dalam filsafat Jawa harus memahami huruf HO
NO CO RO KO– adanya utusan Tuhan- maka harus memahami hakikat dari DO TO
SO WO LO – semua kehidupan sudah diatur oleh Tuhan-, bahwa sistem hidup
mengikut huruf PO DHO JO YO NYO – Tuhan menciptakan alam semesta
dengan segala perhitungan-Nya dan berpasang-pasangan -, MO GO BO THO NGO
-setiap manusia mempunyai kelemahan, kesalahan dan dosa, serta akhir kehidupan.
Ini makna dari sangkan paraning dumadi tersebut.
Kenapa demikian? Sebab hubungan guru dan
murid sangat unik. Ketika guru memberi suatu ajaran kehidupan, maka konskuensi
dari murid harus mampu segala sisi ajaran tersebut dalam kontek kebaikan dan
berfikir positif. Mekipun kadang wujudnya sebaliknya.
Dalam kontek tersebut, dalam dunia Seni
Pewayangan ada kisah menarik tentang hubungan guru dan murid yang sangat fenomenal
adalah ketika sang Durna memerintah kepada Bima untuk mencari banyu perwitasari
di dasar laut. Banyu: air, perwita: suci, sari: inti atau
yang paling utama. Artinya mencari inti air yang paling utama. Air sebagai simbol
kebahagiaan, kehidupan dan kedamaian dan kekekalan adalah kalimat tauhid yaitu
: Laa Ilaha Illa Allah.
Ketika Bima mendapat perintah dari guru nya
untuk mengambil nya dengan penuh resiko di dasar laut, ia pun tetap melaksanakan
perintahnya tanpa ada keraguan sedikit pun. Dengan segala perjuangan, akhirnya
bima mendapatkan banyu perwitasari. Ia menjadi pahlawan terkuat dan terhebat sepanjang
sejarah pewayangan.
Sebentar lagi kita akan memperingati hari
santri. Kata guru, ulama dan santri akan tetap ada di Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia.
Makna nya mungkin saja belum mengalami perubahan.
Sejalan perkembangan zaman, perubahan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah membuat tiga terminologi tersebut di atas harus
senantiasa mampu menjaga nama besar nya sebagaimana pada era masa lalu. Guru,
ulama dan santri harus bisa membawa panji keilmuan, keulamaan dan
keintelektualan serta sekaligus harus responsif terhadap perkembangan saint dan
teknologi yang sangat dinamis dan masif.
Sangat berat tantangan tersebut. tapi harus
dilaksanakan. Karena memang seperti itulah tugas guru, ulama dan santri sebagai
pembawa obor peradaban. Di tengah keterbatasan, obor peradaban harus dipegang
kuat-kuat meskipun panas dan kadang membakar kulit. Karena memang tugas pembawa
obor tidak ada nikmat, ia harus siap mendapatkan resiko, tidak ada tepuk tangan
dan bahkan bisa jadi dilupakan di dalam keheningan sejarah.
Dan hakikat dari guru, ulama dan santri
memang demikian. Mereka menoreh sejarah peradaban tanpa mengharapkan sanjungan
dari manusia sebagai matahari yang terus menyinari bumi dan mata air yang
selalu memberi kesejukan kepada orang-orang yang membutuhkan serta laksana
oksigen yang menghidupi setiap orang dan semua orang pun melupakan jasa
oksigin. Disini sebenarnya makna kehidupan sejati, kehidupan tanpa sandaran
kepada sesuatu yang fana.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   92
AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   168
Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   238
Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   188
Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15037
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6713
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6078
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4992
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4926