Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

8 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hati Kelinci Goreng, Untuk Obat Tidak Bisa Jalan



Sabtu , 19 Juli 2025



Telah dibaca :  411

Mbak Yu Hikmah sering menceritakan masa kecil ku. Ada kenangan sangat mendalam terhadap diriku. Hampir pada moment-moment tertentu, ia suka menceritakan kondisi ku saat masih kecil. Saat usia belum genap satu tahun hingga saat sebelum menjadi murid Madrasah Ibtidaiyah (MI). Mungkin karena dia satu-satunya yang sering merawat ku. anak-anak Mbok De lainnya ada yang sekolah dan setelah agak besar rata-rata belajar di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.

“ Kit cilik kowe ora bisa mlaku. Lemper ( membaca huruf “e” seperti membaca kata “tempe”). Kerjaan mu tiap dina nangis, ngising, ngusuh nang kamar. Pokoke melasi banget. Kowe mungkin ora bisa mlaku sekitar 6 atau 7 tahunan” (sejak kecil kamu tidak bisa berjalan. Lemper (tidak bisa jalan). Keseharianmu selalu menangis, buang air besar dan kecil di kamar. Pendek kata, kondisimu sangat menyedihkan. Kamu tidak bisa jalan sekitar 6 atau 7 tahun).”

Saat saya mendengar kalimat ini -saat itu -belum ada perasaan apa-apa. Biasa saja. Saya juga bertanya sejak umur berapa saya mendapatkan perawatan dan kemudian hari menetap tinggal di Rumah Pak De Asy’ari. Mbak Yu Hikmah menjawab kurang lebih begini:

“ Sekitar umur 6 wulanan. Waktu itu udan deres banget. Kowe ditutupi plastic nang biyunge. Jaman semono, awak mu empleh-empleh. Awake cilik, tangane karo sikile cilik, endase gede. Kedap-kedip. Menang bae. Orang tau nangis. Pokoke kaya arep mati (sekitar 6 bulan. Saat itu hujan sangat deras. Kamu dibungkus dengan plastik sama biyunge (mbok de tinjun). Saat itu, tubuh mu sangat lemes. Badan sangat kurus, tangan dan kaki kecil. Mata berkedip-kedip. Diam saja. Tidak pernah menangis. Pendek kata, kamu sudah tidak ada harapan hidup)”.

Saya tidak bisa berjalan kemungkinan sampai berumur 7 tahun. Saya masih ingat saat pagi hari, saat anak-anak mbok de sekolah, saya seorang diri di kamar. Saat saya lapar atau buang air besar, saya sering menangis. Mbok de ku sangat responsif. Saya layaknya seperti bayi berumur 5 bulan yang lapar karena belum minum susu. Ia cepat-cepat menemui ku dan merawatku.

Saya masih ingat ucapan Mbok De ku saat membersihkan kotoran di karpet yang terbuat dari plastik. Setelah membersihkan kotoran, dia memamdikan ku dengan air satu Timba Hitam. Tangan nya mencelupkan air di Timba dan membersihkan badan ku dengan kain. Saat itu saya masih menangis. Dan sering sekali menangis. Sedih sekali. Apalagi jika pas saya ditaruh di Rumah bagian depan -Balai -, saat teman-teman ku berseragam sekolah dan mengejek dengan kata “lemper”, saya menangis sejadi-jadi nya.

Mbok de ku selalu menghibur. Kalimat yang sering saya dengar dan selalu diulang-ulang dari mbok de kurang lebih begini:

“Aja nangis terus. Aja kuwatir, engko kowe bisa mlaku (jangan menangis terus. Jangan khawatir, kamu suatu saat bisa berjalan)”.

Itu ucapan Mbok De yang mulutnya selalu membaca sholawat yang seolah-olah tidak pernah putus membaca nya. Dimanapun berada, di ladang atau sedang memasak dan sedang merawat ku. Membaca sholawat dengan siri atau pelan.

Sudah beberapa ramuan obat dan sudah beberapa orang-orang hebat mengobati ku. namun tetap belum sembuh. Saya belum bisa jalan. Hanya bisa “ngesod” (bergerak jalan dengan menggerakan pantat dan tangan sebagai penyangga).

Pada suatu hari, sekitar jam 12.00, Pak De baru saja dari perjalanan. Salah satunya yaitu mencari obat untuk ku. saat itu saya mendengar Pak De Asy’ari berkata kepada istrinya agar mencari Binatang kelinci, disembelih dan dagingnya digoreng, lalu diberikan kepada ku untuk dimakan.

Saya masih ingat. Sekitar jam 17.00, Mbok De memberiku Nasi Putih dan gorengan Hati Kelinci. Saya makan. Rasanya tidak gurih. Karena tidak dikasih bumbu. Mbok De menyuruh agar menghabiskan lauknya. Saya pun menuruti perintah Mbok De.

Setelah makan, kondisi kaki ku tidak ada perubahan sama sekali. Saya masih lemper dan berjalan pun masih ngesod. Belum ada tanda-tanda saya bisa jalan. Seperti biasa, saya masih sedih. Bertambah sedih ketika ada yang mengejek diriku tidak bisa berjalan. Isinya hanya menangis setiap hari.

Pagi hari datang. Saat anak-anak Mbok De mandi persiapan berangkat ke sekolah, saya bicara sangat keras dan berkata: “Saya Bisa Jalan!!”. Saya benar-benar bisa jalan. Normal. Sama seperti anak-anak lainnya. Mbok De memandangku sambil mengucapkan syukur kepada Allah. Terlihat wajah nya sangat bahagia. Wajahnya seolah-olah bercahaya. Pengaruh dari keyakinan tinggi terhadap pertolongan Allah dan kebiasaan membaca sholawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Anak-anak Mbok De pun sangat senang. Saya digendong oleh anak-anak Pak De seperti Mas Madzkur dan Mas Muhaimin. Bahkan saking senangnya, saya pun diajak ke sekolah oleh Mbak Yu Siti Huriyah yang saat itu masih sekolah di MI. Ia memperkenalkan kepada teman-temanya dengan bangga dan mengatakan begini: “ini adiku!”.

Hari itu benar-benar keluarga besar Pak De Asy’ari sangat bahagia. Mereka menunggu kesembuhan diriku selama 6 tahun lebih untuk melihatku bisa berjalan normal sebagaimana anak-anak pada usianya. Kini mereka sangat bahagia. mereka bersyukur. Allah telah memberikan obat pada saat yang tepat. Allah memberikan jenis obat dengan hal-hal yang mungkin secara akal tidak mungkin. Obat tidak bisa jalan dengan hati kelinci digoreng.

Benar kata Mbok De ku, bahwa keyakinan akan pertolongan Allah sangat penting. Allah bukan tidak mau menyembuhkan penyakitnya, tapi Allah ingin melihat seberapa besar mahabah hamba-hamba-Nya atas segala ujian yang diberikan kepada mereka. Semakin Ikhlas mendapatkan ujian dari-Nya, maka semakin dekat akan pertolongan Allah SWT. 



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   214

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   180

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   198

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   200

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5533


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5208


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4043