
Mbak Yu Hikmah sering menceritakan masa
kecil ku. Ada kenangan sangat mendalam terhadap diriku. Hampir pada moment-moment
tertentu, ia suka menceritakan kondisi ku saat masih kecil. Saat usia belum
genap satu tahun hingga saat sebelum menjadi murid Madrasah Ibtidaiyah (MI). Mungkin karena
dia satu-satunya yang sering merawat ku. anak-anak Mbok De lainnya ada yang
sekolah dan setelah agak besar rata-rata belajar di Pesantren Darussalam Blokagung
Banyuwangi Jawa Timur.
“ Kit cilik kowe ora bisa mlaku. Lemper (
membaca huruf “e” seperti membaca kata “tempe”). Kerjaan mu tiap dina nangis,
ngising, ngusuh nang kamar. Pokoke melasi banget. Kowe mungkin ora bisa mlaku
sekitar 6 atau 7 tahunan” (sejak kecil kamu tidak bisa berjalan. Lemper (tidak
bisa jalan). Keseharianmu selalu menangis, buang air besar dan kecil di kamar. Pendek
kata, kondisimu sangat menyedihkan. Kamu tidak bisa jalan sekitar 6 atau 7
tahun).”
Saat saya mendengar kalimat ini -saat itu -belum
ada perasaan apa-apa. Biasa saja. Saya juga bertanya sejak umur berapa saya
mendapatkan perawatan dan kemudian hari menetap tinggal di Rumah Pak De
Asy’ari. Mbak Yu Hikmah menjawab kurang lebih begini:
“ Sekitar umur 6 wulanan. Waktu itu udan
deres banget. Kowe ditutupi plastic nang biyunge. Jaman semono, awak mu
empleh-empleh. Awake cilik, tangane karo sikile cilik, endase gede. Kedap-kedip.
Menang bae. Orang tau nangis. Pokoke kaya arep mati (sekitar 6 bulan. Saat itu
hujan sangat deras. Kamu dibungkus dengan plastik sama biyunge (mbok de
tinjun). Saat itu, tubuh mu sangat lemes. Badan sangat kurus, tangan dan kaki
kecil. Mata berkedip-kedip. Diam saja. Tidak pernah menangis. Pendek kata, kamu
sudah tidak ada harapan hidup)”.
Saya tidak bisa berjalan kemungkinan sampai
berumur 7 tahun. Saya masih ingat saat pagi hari, saat anak-anak mbok de
sekolah, saya seorang diri di kamar. Saat saya lapar atau buang air besar, saya
sering menangis. Mbok de ku sangat responsif. Saya layaknya seperti bayi
berumur 5 bulan yang lapar karena belum minum susu. Ia cepat-cepat menemui ku
dan merawatku.
Saya masih ingat ucapan Mbok De ku saat
membersihkan kotoran di karpet yang terbuat dari plastik. Setelah membersihkan
kotoran, dia memamdikan ku dengan air satu Timba Hitam. Tangan nya mencelupkan
air di Timba dan membersihkan badan ku dengan kain. Saat itu saya masih
menangis. Dan sering sekali menangis. Sedih sekali. Apalagi jika pas saya
ditaruh di Rumah bagian depan -Balai -, saat teman-teman ku berseragam sekolah
dan mengejek dengan kata “lemper”, saya menangis sejadi-jadi nya.
Mbok de ku selalu menghibur. Kalimat yang
sering saya dengar dan selalu diulang-ulang dari mbok de kurang lebih begini:
“Aja nangis terus. Aja kuwatir, engko kowe
bisa mlaku (jangan menangis terus. Jangan khawatir, kamu suatu saat bisa
berjalan)”.
Itu ucapan Mbok De yang mulutnya selalu
membaca sholawat yang seolah-olah tidak pernah putus membaca nya. Dimanapun
berada, di ladang atau sedang memasak dan sedang merawat ku. Membaca sholawat
dengan siri atau pelan.
Sudah beberapa ramuan obat dan sudah
beberapa orang-orang hebat mengobati ku. namun tetap belum sembuh. Saya belum
bisa jalan. Hanya bisa “ngesod” (bergerak jalan dengan menggerakan
pantat dan tangan sebagai penyangga).
Pada suatu hari, sekitar jam 12.00, Pak De baru saja dari
perjalanan. Salah satunya yaitu mencari obat untuk ku. saat itu saya mendengar Pak De Asy’ari berkata kepada istrinya agar mencari Binatang kelinci,
disembelih dan dagingnya digoreng, lalu diberikan kepada ku untuk dimakan.
Saya masih ingat. Sekitar jam 17.00, Mbok
De memberiku Nasi Putih dan gorengan Hati Kelinci. Saya makan. Rasanya tidak
gurih. Karena tidak dikasih bumbu. Mbok De menyuruh agar menghabiskan lauknya. Saya
pun menuruti perintah Mbok De.
Setelah makan, kondisi kaki ku tidak ada perubahan
sama sekali. Saya masih lemper dan berjalan pun masih ngesod. Belum
ada tanda-tanda saya bisa jalan. Seperti biasa, saya masih sedih. Bertambah sedih
ketika ada yang mengejek diriku tidak bisa berjalan. Isinya hanya menangis
setiap hari.
Pagi hari datang. Saat anak-anak Mbok De mandi
persiapan berangkat ke sekolah, saya bicara sangat keras dan berkata: “Saya
Bisa Jalan!!”. Saya benar-benar bisa jalan. Normal. Sama seperti anak-anak
lainnya. Mbok De memandangku sambil mengucapkan syukur kepada Allah. Terlihat wajah
nya sangat bahagia. Wajahnya seolah-olah bercahaya. Pengaruh dari keyakinan
tinggi terhadap pertolongan Allah dan kebiasaan membaca sholawat kepada Kanjeng
Nabi Muhammad SAW.
Anak-anak Mbok De pun sangat senang. Saya digendong
oleh anak-anak Pak De seperti Mas Madzkur dan Mas Muhaimin. Bahkan saking
senangnya, saya pun diajak ke sekolah oleh Mbak Yu Siti Huriyah yang saat itu
masih sekolah di MI. Ia memperkenalkan kepada teman-temanya dengan bangga dan
mengatakan begini: “ini adiku!”.
Hari itu benar-benar keluarga besar Pak De
Asy’ari sangat bahagia. Mereka menunggu kesembuhan diriku selama 6 tahun lebih
untuk melihatku bisa berjalan normal sebagaimana anak-anak pada usianya. Kini mereka
sangat bahagia. mereka bersyukur. Allah telah memberikan obat pada saat yang
tepat. Allah memberikan jenis obat dengan hal-hal yang mungkin secara akal
tidak mungkin. Obat tidak bisa jalan dengan hati kelinci digoreng.
Benar kata Mbok De ku, bahwa keyakinan akan
pertolongan Allah sangat penting. Allah bukan tidak mau menyembuhkan
penyakitnya, tapi Allah ingin melihat seberapa besar mahabah hamba-hamba-Nya
atas segala ujian yang diberikan kepada mereka. Semakin Ikhlas mendapatkan
ujian dari-Nya, maka semakin dekat akan pertolongan Allah SWT.
Penulis : autobiografi
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   198
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   180
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   198
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   200
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5533
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5208
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4542
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4043