
Saya menulis di sela-sela perjalanan di Kapal
Dumai Line. Gelombang laut sangat kuat. Menulis pun terganggu. Namun daripada
berfikir gelombang laut terus, saya membuka Laptop. Tidak bisa konsentrasi
menulis. Apalagi jarang menulis, semoga saja bisa selesai. Harapan saya, tullisan ini memberi manfaat dan
bagian dari amal sholeh. Sebab kata Nabi, jika ijtihad benar mendapatkan dua
pahala, jika salah mendapat satu pahala, yaitu pahala mencurahkan kemampuan
berfikir dan menuangkan ide-idenya.
Saya menulis menyesuaikan nama grup WA yang
berisi seputar ilmu politik, ilmu negara, pemerintahan dan hukum yang mengitari
persolan tersebut. Karena ini bagian dari ilmu sosial, maka wajar jika
diskusinya tidak sampai pada tanda titik, pasti selalu memakai tanda koma.
Kenapa demikian, karena sifat ilmu sosial, selalu saja ada hal-hal baru yang
punya peluang berbedaan prespektif seperti persoalan oligarki dan nasionalisme
dalam diskusi ringan ini.
Memasuki pesta demokrasi 2024, Dunia Maya
entah itu Internet, FB, WA, IG, Twitter sudah memanaskan oven politik. Seperti biasa
mengulang lagu lama; oligarki dan nasionalisme. Seolah-olah ketika berbicara
oligarki sudah menunjukan dirinya nasionalisme dan akan tampil sebagai pahlawan
untuk melawan nya. itulah nasionalisme. Mungkin itu yang ada dalam benak para
ahli diskusi di berbagai media online. Apakah benar demikian? Belum tentu. Saya
kira, orang yang benar-benar menerapkan anti oligarki hanya anak-anak yang
masih sekolah di tingkat SLTP, yaitu saat pemilihan ketua kelas. Biasanya anak
yang duduk di depan yang menjadi ketua kelas. Semua serentak memilihnya tanpa
mengeluarkan uang dan tanpa berbicara untung-rugi. Kedua yang benar-benar
terbebas dari oligarki adalah penunjukan Imam tahlil ketika ada tetangganya
meninggal. Lalu tuan rumah main tunjuk orang yang memimpin doa. Dia tidak mau,
yang lain tidak mau. Akhirnya keputusan bersama, semacam ahlu hal wal ‘aqdhi
kecil-kecilan. Disepakati, dan kemudian terpilihlah jadi Imam pemimpin doa.
Tapi ketika berbicara pemiliha Kepala
Daerah, lalu ada orang berbicara calon nya bersih, tidak terjebak oligarki
terus terang saya ingin tertawa. Jangankan sekelas Kepala Daerah, calon anggota
Dewan Tingkat Kabupaten harus merogoh koceknya dalam-dalam. Ada suatu kejadian,
seorang calon anggota dewan harus mengeluarkan duit sebesar Rp. 500.000,00 satu
suara. Jika satu keluarga ada tiga suara maka mendapat Rp.1500.000,00. Ironisnya
lagi, ini dari partai yang dilahirkan dari Rahim ormas Islam. Anda mungkin bisa
bertanya kepada para anggota dewan yang jujur, kira-kira berapa ratus juta atau
berapa milyar untuk mendapatkan kursi di tempat anda. Memang ada yang mengeluarkan
sedikit biaya. Mungkin dulunya guru ngaji, jadi kampanye nya melalui door to
door. Tapi lagi-lagi kata orang bijak yang ada di pinggir jalan, “tidak ada
makan gratis”. Sebab makan gratis hanya untuk orang-orang fuqoro masakin,
bukan untuk para calon pejabat. Orang miskin yang berhak mendapatkan zakat,
bukan ditariki untuk membayar calon pejabat. Itu etika politik dalam Islam.
Jika itu gambaran calon anggota dewan,
bagaimana calon Kepala Daerah baik kabupaten/kota atau gubernur? Siapa yang
membiayai mereka keliling, makan bareng di rumah makan, membagi sembako,
dorprise dan membeli kuris Partai Politik? Jika saya tidak punya duit,
integritas bagus, track recordnya tidak perlu diragukan lagi, lalu saya ingin
maju dan membutuhkan biaya milyaran rupiah. Pertanyaan yang muncul, siapa yang
membiayai operasional logistic?
Saya sudah bertemu para calon kepala daerah
baik kabupaten atau provinsi. Semua mengatakan bahwa suksesor selalu ada
dibalik belakang layar. Mereka tidak terlihat, tapi ada dan menentukan sekali. Tanpa
ada mereka, semua tidak ada apa-apanya. Sebab bahasa integritas dan sejenisnya
adalah bahasa yang mudah sekali didesain oleh para pemilik modal melalui media
massa, penampilan yang didesain dan visi-misi yang disusun oleh tim. Lagi-lagi,
tidak ada makan gratis di siang bolong.
Apakah para suksesor kelebihan duit
sehingga dengan ikhlas beramal menyerahkan duit milyaran atau trilyunan untuk
sebuah pesta yang belum jelas hasilnya? Ada, tapi sangat sedikit. Watak manusia
selalu membutuhkan duit. Seperti orang minum air laut, semakin minum semakin
haus. Watak manusia tidak pernah puas. Karena persoalan tidak puas ini, maka Umar
bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Husein bin Ali terbunuh
karena masing-masing pihak berbicara atas nama, “integritas”, “track record”,
menegakan keadilan dan sejenisnya. Anda pasti bingung ketika dihadapkan suatu
makna kebenaran ketika melihat peperangan sesama saudara Islam antara Ali Bin
Abi Thalib, Aisyah dan Muawiyah dalam Peranag Shiffin dan Jamal. Siapa yang
benar, siapa yang salah, siapa berintegritas? Jawaban pasti akan berbeda dari
setiap pendukungnya. Itulah politik.
Karena watak manusia itu selalu
menginginkan kekayaan dan kekuasaan, maka selalu saja melakukan kolaborasi. Ini
yang kemudian dalam ilmu sosial disebut zoon politicon. Bahwa manusia
senantiasa membutuhkan orang lain dalam mencapai sebuah tujuan. Jika anda sholeh,
professional tidak punya duit, maka anda sangat sulit untuk mendapatkan
kekuasaan. Jika anda mendapatkan donator duit, maka watak zoon politicon ini
pun lahir, bahwa anda harus pengertian kepada orang yang membantu anda. Mungkin
tidak melalui jabatan, cukup dengan kemudahan dalam bentuk fasilitas perizinan,
pendirian perusahaan dan penguasaan terhadap asset-aset Negara. Dan sejarah
selama ini seperti itu.
Plato memang mempunyai cita-cita yang
sangat bagus, yaitu pemimpin sebaiknya diisi oleh orang-orang filosofis. Mereka
yang tahu segala ilmu, termasuk hukum dan politik. Pakar politik Islam seperti Almawardi
dalam Ahkam Sulthoniyah dan Al-Ghozali dalam Ihya Ulumudin juga sama, dan ada
tambahan yaitu mutaqin. Namun saya lebih setuju dengan pendapat Ibnu Khaldun dalam
Al-Muqadimah bahwa kekuasan adalah kekuatan. Siapa yang kuat dalam segala hal
dia yang berkuasa. Maka saya lebih sependapat pendapat Mahfud MD bahwa malaikat
pun saat masuk politik menjadi setan. Kalau manusia masuk politik, kadang
malaikat kadang setan, kadang berpenampilan malaikat tapi berhati setan, atau
juga sebaliknya. Tergantung situasinya. Jika di Masjid khusu Sholat, jika
merembug proyek khusu’ kalkulatornya. Itu lah naluriyah manusia.
Dari paparan di atas, maka jelas bahwa
oligarki tidak bisa dihindari. Dalam tataran teori, pidato di forum ilmiah, dan
diskusi-diskusi pasti bisa. Tapi lagi-lagi, itupun semu. Sebab yang membayar
hotel itu siapa?
Apakah oligarki antithesis dari nasionalisme?
Belum tentu. Nasionalisme bukan tidak membutuhkan negara lain dan juga bukan
tidak punya utang. Karena memang kenyataanya tidak ada Negara yang tidak punya
utang. Nasionalis tetap mengacu kepada firman Allah yang menciptakan manusia
itu berbangsa-bangsa untuk ta’aruf atau studi banding dan kerjasama. Jika kita
tidak punya duit, dan ada 10 anak, maka nasionalisme kita bisa diwujudkan
pinjam duit kepada tetangga atau kerja di kebon tetangga. Sebab jika tidak,
anak-anak kecil bisa mati, dan mereka membutuhkan
makanan. Padahal dalam hukum Islam menyelematkan jiwa itu bagian dari inti
dasar syariat diturunkan ke bumi ini. Artinya nasionalisme pada satu sisi juga
universalisme dan internasionalisme, namun tetap punya identitas diri. Jika punya
hutang, tentu kita bekerja untuk membayar hutang. Itu gambaran nasionalisme. Ketika
negara lain mengganggu kedaulatan kita, maka kita pun siap membelanya.
Memang nasib negara berkembang selalu saja
jadi korban segala isu-isu yang dibuat oleh para pemegang saham ideologi
kapitalisme dan sosialisme. Jika dilihat dari angkasa, sejak zaman Soeharto
sampai saat sekarang ini Indonesia mayoritas di kuasai oleh bendera AS dan
kedua Cina. Saat kita kuliah, nonton TV dan makan, semua produk buatan negara-negara
tersebut. maka wajar jika kita mudah terjebak pada isu-isu politik yang
ujung-ujung nya saling membenci sesama saudara kita baik sesama agama ataupun sesama
bangsa. Semoga ini tidak terjadi lagi. Semua kita adalah saudara, satu bangsa,
bahasa dan tanah air Indonesia.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1139
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   712
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   890
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   978
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5540
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4542
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4045