
Saya termasuk dari anak-anak ayah yang
mungkin jarang bertemu dengan nya, termasuk dengan ibuku. Putra-putri ayah dari
empat ibu yang sejak kecil sudah berpisah dari mereka hanyalah aku. Sejak kecil
sekitar 6 bulan, saya sudah diasuh oleh Pak De Asy’ari di Sirau. Sebagaimana ayah
ku, Pak Asy’ari juga tokoh agama. Putra-putranya hampir semua ngaji di Pesantren
Banyuwangi Jawa Timur. Ada satu anak laki-laki dan dua anak perempuan yang
tidak mondok. Di antara keduanya menjadi guru PNS. Dan satu perempuan wiraswasta.
Pertermuan ku dengan ayah cukup intens
setelah saya belajar di pesantren. Ketika masa liburan atau saat saya pulang
dari pesantren -karena liburan- saya pulang ke rumah orang tua ku. Biasanya saya
sering diajak jalan-jalan menemui para tamu atau santri-santrinya di berbagai
daerah.
Ketika saya berada di daerah Sumatera,
teman-teman dan santri-santri ayah cukup banyak. Ketika berkumpul, biasanya melakukan
kajian kitab dan cerita tentang kehidupan.
Di antara cerita kehidupan yang sangat
menarik saat ayah ku masih menjadi santri di Pesantren Kadilangu Kebumen. Kisah
yang cukup romantis. Kisah asmara nya dengan seorang santri kampung yang sangat
cantik. Bunga desa. Saya tersenyum mendengarnya. Tersenyum ternyata ayah ku
juga mengalami apa yang saya alami saat masih muda: sama-sama pernah jatuh
cinta seorang gadis pujaannya.
Saya mencoba merangkum cerita ayah ku pada
sesi pengajian non-formal dengan santri-santri senior. Berikut rangkumannya:
“Saat saya masih belajar agama di
pesantren, saya sering keluar dari pesantren untuk bekerja di sawah memenuhi
kebutuhan hidup. Orang tua ku yang jarang ngantar kiriman, terpaksa aku harus
bekerja di sawah milik orang kampung. Ketika sore hari, saya pulang ke
pesantren dengan membawa makanan. Kadang nasi dicampur ubi rebus dan sayur
jantung santan.”
“Karena sering keluar pesantren, saya
akhirnya sering bertemu dengan anak-anak santri putri yang setiap sore belajar
di pesantren. Di antara mereka lah saya jatuh cinta. Sebut saja namanya Nafi. Seorang
santri putri yang paling cantik di antara teman-temanya. Senyumnya sangat
lembut, pemalu dan selalu jalan terburu-buru saat melintas di depan ku.”
“Hati ku deg-degan. Kejadian berkali-kali
seperti itu membuat ku tidak fokus belajar agama. saat malam hari, saya tidak bisa
memejamkan mata. Terbayang senyumanya dan paras mukanya yang sangat manis dan Anggun.
Ingin rasanya bertemu setiap saat. Namun saat bertemu, saya seperti patung. Mata
berkedip, tapi mulut tidak bisa berbicara. Kami berdua seperti patung hidup
yang hanya bisa tersenyum dan kemudian sama-sama pergi penuh dengan kebahagiaan”.
“Suatu hari Ketika saya keluar dari pesantren,
saya tidak menemukan gadis idolaku. Pikiran ku mungkin dia lagi sakit. Namun sudah
beberapa hari ini tidak juga pernah ketemu. Saya bingung sendiri. Gelisah tiada
menentu. Saya mencoba bertanya teman-teman nya, juga tidak tahu. Sungguh hari-hari
ku saat itu dipenuhi dengan kegelisahan dan kesedihan. Terasa seperti
kehilangan belahan jiwa. Makan dan minum tidak seleras, hidup terasa tidak
semangat”.
“Hari berikutnya, ada seorang santri
laki-laki kalong -santri yang tidak tinggal di asrama-menemuiku. Dia menceritakan
bahwa gadis pujaan hatiku telah menikah. deg….!!!. terasa seperti tersambar
petir. Remuk hatiku berkeping-keping. Hidupku semakin bertambah tidak menentu”.
“Hari berganti hari, bulan berganti bulan,
saya pun pulang dari pesantren. Saya kemudian diperkenalkan dengan seorang
janda. Cantik. Keluarga orang kaya. Kami pun menikah.”
“Selang beberapa tahun kemudian, teman ku
yang dulu sama-sama nyantri di pesantren menceritakan kepada ku tentang nasib gadis
yang dulu saya jatuh cinta kepadanya. Dia menceritakan bahwa gadis yang dulu
dicintai ku telah meninggal dunia. Setelah menikah, satu tahun kemudian ia
mempunyai seorang anak. Namun malang sekali, anak nya selamat sedangkan ibu nya
meninggal dunia. Kini anak nya dirawat oleh suaminya”.
Ayah ku terdiam sejenak. Kami yang berada
di samping nya ingin mendengar kisah lanjutannya. Lalu ayah ku bercerita lagi:
“Untung saya dapat janda, cantik, manis,
dan sholehah serta anak orang kaya. Jika mungkin dulu saya menikah dengan gadis
pujaan ku, mungkin saya pun sudah jadi duda dan punya anak satu. Dan karena
istriku itu, saya pun kemudian bisa menikah lagi dan mempunyai empat istri”.
Lalu ia membaca sebuah ayat yang artinya
kurang lebih begini:
“Bisa jadi apa yang menurut mu jelek, baik
bagi Allah dan menurut mu baik jelek bagi Allah. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan
kita tidak mengetahuinya”.
Kami pun tersenyum lega. Malam itu ayah
berbicara tentang kisah asmaranya. Malam itu juga kami mendapatkan pelajaran
hidup bahwa Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Hanya
saja apakah hamba-hamba-Nya bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian
tersebut tentu dikembalikan kepada masing-masing.
Penulis : autobiografi
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   47
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1143
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   719
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   893
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14218
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5648
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5217
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4565
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4102