Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

10 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hikmah di Balik Kisah Asmara



Sabtu , 15 Agustus 2026



Telah dibaca :  45

Saya termasuk dari anak-anak ayah yang mungkin jarang bertemu dengan nya, termasuk dengan ibuku. Putra-putri ayah dari empat ibu yang sejak kecil sudah berpisah dari mereka hanyalah aku. Sejak kecil sekitar 6 bulan, saya sudah diasuh oleh Pak De Asy’ari di Sirau. Sebagaimana ayah ku, Pak Asy’ari juga tokoh agama. Putra-putranya hampir semua ngaji di Pesantren Banyuwangi Jawa Timur. Ada satu anak laki-laki dan dua anak perempuan yang tidak mondok. Di antara keduanya menjadi guru PNS. Dan satu perempuan wiraswasta.

Pertermuan ku dengan ayah cukup intens setelah saya belajar di pesantren. Ketika masa liburan atau saat saya pulang dari pesantren -karena liburan- saya pulang ke rumah orang tua ku. Biasanya saya sering diajak jalan-jalan menemui para tamu atau santri-santrinya di berbagai daerah.

Ketika saya berada di daerah Sumatera, teman-teman dan santri-santri ayah cukup banyak. Ketika berkumpul, biasanya melakukan kajian kitab dan cerita tentang kehidupan.

Di antara cerita kehidupan yang sangat menarik saat ayah ku masih menjadi santri di Pesantren Kadilangu Kebumen. Kisah yang cukup romantis. Kisah asmara nya dengan seorang santri kampung yang sangat cantik. Bunga desa. Saya tersenyum mendengarnya. Tersenyum ternyata ayah ku juga mengalami apa yang saya alami saat masih muda: sama-sama pernah jatuh cinta seorang gadis pujaannya.

Saya mencoba merangkum cerita ayah ku pada sesi pengajian non-formal dengan santri-santri senior. Berikut rangkumannya:

“Saat saya masih belajar agama di pesantren, saya sering keluar dari pesantren untuk bekerja di sawah memenuhi kebutuhan hidup. Orang tua ku yang jarang ngantar kiriman, terpaksa aku harus bekerja di sawah milik orang kampung. Ketika sore hari, saya pulang ke pesantren dengan membawa makanan. Kadang nasi dicampur ubi rebus dan sayur jantung santan.”

“Karena sering keluar pesantren, saya akhirnya sering bertemu dengan anak-anak santri putri yang setiap sore belajar di pesantren. Di antara mereka lah saya jatuh cinta. Sebut saja namanya Nafi. Seorang santri putri yang paling cantik di antara teman-temanya. Senyumnya sangat lembut, pemalu dan selalu jalan terburu-buru saat melintas di depan ku.”

“Hati ku deg-degan. Kejadian berkali-kali seperti itu membuat ku tidak fokus belajar agama. saat malam hari, saya tidak bisa memejamkan mata. Terbayang senyumanya dan paras mukanya yang sangat manis dan Anggun. Ingin rasanya bertemu setiap saat. Namun saat bertemu, saya seperti patung. Mata berkedip, tapi mulut tidak bisa berbicara. Kami berdua seperti patung hidup yang hanya bisa tersenyum dan kemudian sama-sama pergi penuh dengan kebahagiaan”.

“Suatu hari Ketika saya keluar dari pesantren, saya tidak menemukan gadis idolaku. Pikiran ku mungkin dia lagi sakit. Namun sudah beberapa hari ini tidak juga pernah ketemu. Saya bingung sendiri. Gelisah tiada menentu. Saya mencoba bertanya teman-teman nya, juga tidak tahu. Sungguh hari-hari ku saat itu dipenuhi dengan kegelisahan dan kesedihan. Terasa seperti kehilangan belahan jiwa. Makan dan minum tidak seleras, hidup terasa tidak semangat”.

“Hari berikutnya, ada seorang santri laki-laki kalong -santri yang tidak tinggal di asrama-menemuiku. Dia menceritakan bahwa gadis pujaan hatiku telah menikah. deg….!!!. terasa seperti tersambar petir. Remuk hatiku berkeping-keping. Hidupku semakin bertambah tidak menentu”.

“Hari berganti hari, bulan berganti bulan, saya pun pulang dari pesantren. Saya kemudian diperkenalkan dengan seorang janda. Cantik. Keluarga orang kaya. Kami pun menikah.”

“Selang beberapa tahun kemudian, teman ku yang dulu sama-sama nyantri di pesantren menceritakan kepada ku tentang nasib gadis yang dulu saya jatuh cinta kepadanya. Dia menceritakan bahwa gadis yang dulu dicintai ku telah meninggal dunia. Setelah menikah, satu tahun kemudian ia mempunyai seorang anak. Namun malang sekali, anak nya selamat sedangkan ibu nya meninggal dunia. Kini anak nya dirawat oleh suaminya”.

Ayah ku terdiam sejenak. Kami yang berada di samping nya ingin mendengar kisah lanjutannya. Lalu ayah ku bercerita lagi:

“Untung saya dapat janda, cantik, manis, dan sholehah serta anak orang kaya. Jika mungkin dulu saya menikah dengan gadis pujaan ku, mungkin saya pun sudah jadi duda dan punya anak satu. Dan karena istriku itu, saya pun kemudian bisa menikah lagi dan mempunyai empat istri”.

Lalu ia membaca sebuah ayat yang artinya kurang lebih begini:

“Bisa jadi apa yang menurut mu jelek, baik bagi Allah dan menurut mu baik jelek bagi Allah. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak mengetahuinya”.

Kami pun tersenyum lega. Malam itu ayah berbicara tentang kisah asmaranya. Malam itu juga kami mendapatkan pelajaran hidup bahwa Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Hanya saja apakah hamba-hamba-Nya bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian tersebut tentu dikembalikan kepada masing-masing.



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   47

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1143

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   719

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   893

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14218


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5648


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5217


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4102