Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

11 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Belajar Menyadari: Kekasih Mu, Belum Tentu Jodoh Mu



Senin , 24 Agustus 2026



Telah dibaca :  76

Setelah saya sering berjumpa dengan ayah ku pada usia sekitar 26 tahun, saya mulai bisa belajar tentang arti sebuah jodoh. Saya -juga anda mungkin- akan sering menemukan seseorang yang menggetar hati kita dan membuat malam-malam harinya sulit untuk tidur karena selalu teringat sang kekasih.

Itu adalah gejala normal. Sebagaimana normalnya kisah Nabi Adam di dalam Surga. Anda bisa membayangkan, Surga adalah tempat terindah dan tujuan seluruh umat manusia. Betapa keindahan Surga menjadi tidak berharga sama sekali saat Nabi Adam seorang diri. Ada yang kurang rasanya. Terasa sepi. Hidup terasa hampa tanpa kehadiran seorang perempuan.

Lalu Tuhan menciptakan Hawa. Seorang perempuan cantik jelita dan sempurna bentuk nya. Nabi Adam melihatnya. Surga terasa sangat indah. Kenikmatan Surga yang begitu paripurna terkalahkan oleh keindahan Hawa seorang perempuan. Hawa benar-benar menjadi surga terindah bagi Nabi Adam.

Saya pada moment-moment tertentu juga mengalami hal-hal serupa. Ingin ada kehadiran seseorang yang bisa menyempurnakan hidupku. Seseorang yang sangat kucintai dan ia pun mencintaiku. Namun episode pencarian dari waktu ke waktu tidak sesederhana apa yang saya rencanakan. Ketika ada kehadiran seorang perempuan yang dianggap sudah cocok, namun pada beberapa waktu kedepan ia harus berpisah dari ku. Padahal, rasa cinta sudah tumbuh begitu lebat. Akar telah menghujam menyebar ke seluruh lubuk hatiku. Saya menangis tak tertahan lagi. Sakit rasa nya, seperti sakitnya mencabut sebuah anak panah yang berada tubuh. Dibiarkan terasa perih, dicabut terasa tidak kuat menahan sakitnya.

Kadang saya sering berfikir pendek atau memang pikiran manusia pendek. Bahwa ketika Tuhan menghadirkan seseorang yang saya cintai, maka pada saat itu Tuhan juga telah menyiapkan suatu luka yang membuat saya menderita dan jatuh sakit.

Saya belajar menyadari hal tersebut. Sering jatuh bangun dalam hal percintaan, tapi selalu saja nekat mendaki bukit yang curam atau menerjang ranjau-ranjau berbahaya dan selalu ingin saya taklukan. Padahal ending-nya saya tahu, bahwa saya pasti jatuh dan sakit. Lagi-lagi, sifat bandel ku tidak juga sembuh-sembuh.

Kisah jatuh bangun yang bisa saya tulis di artikel ini saya bagi menjadi dua. Pertama saat saya masih di pesantren. Saat orang tua mengirim ku untuk belajar tentang ilmu agama dan moral. Saat orang tua ku ingin melihat ku menjadi orang yang baik dan tidak berbuat maksiat. Pendek kata menjadi orang yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama.

Namun orang tua ku mungkin lupa bahwa pada diri ku dan ribuan santri yang berada di pesantren saat itu adalah manusia normal. Seorang santri yang berumur 19 tahun yang pada dirinya sudah mulai tumbuh kumis tipis, jenggot dan juga sudah mulai mengerti lawan jenis. Gejolak rasa cinta benar-benar tidak terbendungkan. Saat berjalan di sekitar pondok untuk belanja sayur, atau mencuci baju di pancuran, saat itu sering melihat para santri putri bagai bidadari yang terlihat sangat mempesona sekali. Apalagi jika di antara mereka sudah ada yang mengenal ku dan terasa ada rasa cinta pada ku, maka hari-hari yang saya lalui terasa seperti orang yang sedang minum sabu-sabu. Berhayal menembus langit tujuh tentang makna keindahan yang batas.

Kami para santri putra selalu membicarakan santri putri. Dimana rumah nya dan siapa orang tua nya. saat liburan, kami kadang datang ke rumahnya. Meskipun jauh tempat nya, tidak punya kendaraan tidak mengapa. Jalan kaki pun menjadi pilihannya. Jam 6.00 pagi jalan kaki, sampai ke rumah nya kadang jam 12.00 siang hari. Itulah kehebatan cinta. Semua bisa membalikan fakta. Penderitaan bisa berubah kebahagiaan. Jauh menjadi dekat, dan kesederhanaan menjadi terlihat sempurna. Cinta telah merubah segala tentang pikiran-pikiran normal manusia yang sering berjalan tidak sesuai dengan aturan-aturan ilmiah. Ia bermain dalam perasaan hati ketika mengekspresikan suatu keindahan kepada seseorang yang dicintainya. Hal yang sama juga saat semua keindahan berubah 180 derajat. Keindahan berubah seperti lautan penderitaan yang tiada bertepi. Sakit tidak kunjung sembuh. Hidup terasa tidak berguna.

Ketika saya berada di pesantren ada suatu peraturan-peraturan yang sangat ketat. Santri putra tidak boleh bertemu dengan santri putri. Kecuali masih ada hubungan muhrim atau pengurus pesantren. Itupun pada batas-batas yang telah diatur oleh qanun atau tata tertib pesantren. Kami para santri tidak boleh sembarangan bertemu dengan santri putri. Ketika ketahuan bertemu, apalagi sampai ketahuan ada ikatan hubungan seperti pacaran dan sejenisnya, maka pihak keamanan pesantren akan memberi sanksi berupa hukuman sesuai dengan kualitas kesalahan yang kami lakukan.

Saya waktu itu sangat takut sekali terhadap hukuman-hukuman pesantren. Saya mencoba menghindari hal-hal yang dilarang. Salah satu hukuman yang sangat mengerikan yaitu ketika kita ketahuan berpacaran dengan santriwati, biasanya di keluarkan dari pesantren. Itu sebabnya mayoritas santri tidak ada yang berani berpacaran, baik di dalam pesantren maupun saat liburan.

Ada kisah menarik. Ketika ada suatu moment, kami ditunjuk panitia pembangunan. Tugasnya mencari bambu. Anggota sekitar 6 orang. Semua santri putra. Karena tempat mencari bambu cukup jauh, maka kami diantar menggunakan Mobil Pick Up Toyota lama. Kami tinggal selama 5 hari di rumah salah satu wali santri. Selama tinggal disini, tuan rumah sudah menyediakan makan dan tempat tidur.

Setiap pagi setelah sholat subuh, biasa nya sebagian kawan-kawan ku masih tidur menunggu sarapan dan jam 08.00 baru berangkat kerja mencari bambu. Sebagian lagi ngobrol.

Saya tidak terbiasa tidur setelah sholat subuh. Sejak saya masih di rumah mbok de, tidur setelah sholat subuh sangat dilarang. Meskipun tidak sampai pada marah-marah. Mbok punya trik sangat jitu. Ketika saya terlihat ngantuk, mbok de selalu membuat teh atau kopi.  Lalu ia mengajak ku ngobrol dan biasanya sekaligus memerintahkan beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Akhirnya saya pun tidak tidur.

Di rumah wali santri tersebut pun saya tidak bisa tidur. Saat teman-teman santai-santai di pagi hari, saya menggunakan waktu untuk bersih-bersih ruang tamu dan pelataran atau halaman rumah bagian depan. Saya sudah terbiasa nyapu dengan sapu lidi di rumah mbok de. Jadi saat ‘mertamu’ pun kebiasaan bersih-bersih pelataran secara reflek dilakukan.

Tuan rumah, terutama ibu sebenarnya melarang. Apalagi, ibu ini mempunyai tiga anak. Semua nya perempuan. Masih gadis. Semua masih belajar di pesantren. Saya tahu, setelah teman-teman ku menceritakan hal tersebut kepada ku.

Saya tentu saja tidak memperdulikan hal tersebut. Selain tidak mengenal mereka, saya hanya fokus menjalankan tugas dari panitia pesantren mencari bambu. Tidak ada niatan yang lainnya. Apalagi, saya seorang santri yang -saat itu-tidak punya apa-apa. Baju saja hanya beberapa helai. Orang tua pun jarang mengirim uang untuk kebutuhan pesantren. Sering pinjam untuk kebutuhan hidup di pesantren. Saya harus belajar menerima apa adanya.

Hampir setiap pagi saat saya lagi menyapu halaman rumah, ibu tuan rumah selalu menemuiku dan menanyakan tentang kesukaan ku berkaitan dengan sayur atau lauk.

Saya bingung menjawabnya. Dulu saat masih tinggal dengan mbok de, makan apa adanya. Pagi makan kadang hanya dengan jelantah dan garam. Apalagi di pesantren, bahkan pernah satu minggu tidak kemasukan nasi. Setiap hari hanya minum air putih. Hingga akhirnya jatuh sakit. Terkena sakit tipes selama 6 bulan.

Ibu tuan rumah setengah memaksa kepada ku untuk mengatakan kesukaan makanan yang saya suka. Karena tidak terbiasa, saya pun mengatakan kepada nya bahwa apapun saya suka.

Hari berikutnya juga begitu. Kadang bapak dan ibu ku sama-sama menemuiku. Ingin sekali mereka membuatkan lauk dan sayur Istimewa kepada ku. Karena sering, lama kelamaan saya pun berfikir: “Kenapa tuan rumah begitu baik kepadaku, kenapa kepada kawan-kawanku biasa-biasa saja?”.

Menjelang satu hari kepulangan kami ke pesantren, saat kami mengumpulkan bambu, ada seorang bapak-bapak menatapku dan menemuiku. Katanya, wajah ku sama dengan wajah anak laki-laki tuan rumah yang tempat tinggal kami. Akhirnya, saya baru bisa paham, bahwa bapak dan ibu tuan rumah sangat merindukan anak laki-laki yang telah meninggal dunia.

Saya pun baru sadar, kenapa hampir setiap hari anak-anak  perempuan yang sudah gadis-gadis -ada yang sekolah SLTA dan ada yang sudah selesai- selalu melihatku kemanapun aku pergi. Mereka selalu memandangku penuh dengan pandangan kasih sayang. Senyum penuh dengan rasa cinta. Mereka merasakan bahwa saya bagian dari keluarga mereka. Bapak, ibu dan anak-anak nya tidak mau berpisah dengan ku. Bahkan kadang di antara mereka berani mendekat dan memanggilku ‘cak’-panggilan Jawa Timur artinya mas atau abang.

Hari terakhir tinggal di rumah tersebut pun tiba. Kami pamitan. Ada sambutan dari perwakilan rombongan kami. Biasa dengan penuh basa-basi yang isinya minta maaf dan terima kasih.

Dari pihak keluarga juga mengucapkan permohonan maaf. Saat bapak tuan rumah memberi kata sambutan, ibu dan anak-anak nya menangis sambil menatapku terus. Mungkin karena tidak tahan, sang ibu pun mengatakan kepada ku agar saya tidak keburu pulang ke Pesantren. Anak-anak nya pun demikian. Ingin tinggal lebih lama lagi di rumah nya. Saya kaget dan bingung. Malam maghrib menjelang isa yang seharusnya kami pulang dengan rasa gembira, malah menjadi hujan tangis penuh haru.

“Jika liburan di pesantren, datang saja kesini kang Imam” kata ibu tuan rumah.

Saya mengangguk. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Bingung menghadapi suasana yang tidak terduga tersebut. malam itu, kami kembali ke pesantren. Teman-teman ku terus meledek ku dengan beragam kata-kata.

Diantara mereka ada yang berkelakar dan berkata kepadaku: “Cak mad, siap-siap jadi menantu nya bapak tadi lhoo”. Semua pun mengiyakan dengan candaan ala santri. Lagi-lagi, saya hanya bisa diam tidak bisa berkata apa-apa. Suasan tangis keluarga mereka benar-benar membuat perasaan ku menjadi tidak menentu. 



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   164

Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   138

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1147

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   729

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   906

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14253


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5888


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5297


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4215