
Setelah saya sering berjumpa dengan ayah ku
pada usia sekitar 26 tahun, saya mulai bisa belajar tentang arti sebuah jodoh.
Saya -juga anda mungkin- akan sering menemukan seseorang yang menggetar hati
kita dan membuat malam-malam harinya sulit untuk tidur karena selalu teringat
sang kekasih.
Itu adalah gejala normal. Sebagaimana
normalnya kisah Nabi Adam di dalam Surga. Anda bisa membayangkan, Surga adalah
tempat terindah dan tujuan seluruh umat manusia. Betapa keindahan Surga menjadi
tidak berharga sama sekali saat Nabi Adam seorang diri. Ada yang kurang
rasanya. Terasa sepi. Hidup terasa hampa tanpa kehadiran seorang perempuan.
Lalu Tuhan menciptakan Hawa. Seorang
perempuan cantik jelita dan sempurna bentuk nya. Nabi Adam melihatnya. Surga
terasa sangat indah. Kenikmatan Surga yang begitu paripurna terkalahkan oleh
keindahan Hawa seorang perempuan. Hawa benar-benar menjadi surga terindah bagi Nabi
Adam.
Saya pada moment-moment tertentu juga
mengalami hal-hal serupa. Ingin ada kehadiran seseorang yang bisa
menyempurnakan hidupku. Seseorang yang sangat kucintai dan ia pun mencintaiku.
Namun episode pencarian dari waktu ke waktu tidak sesederhana apa yang saya
rencanakan. Ketika ada kehadiran seorang perempuan yang dianggap sudah cocok,
namun pada beberapa waktu kedepan ia harus berpisah dari ku. Padahal, rasa
cinta sudah tumbuh begitu lebat. Akar telah menghujam menyebar ke seluruh lubuk
hatiku. Saya menangis tak tertahan lagi. Sakit rasa nya, seperti sakitnya
mencabut sebuah anak panah yang berada tubuh. Dibiarkan terasa perih, dicabut
terasa tidak kuat menahan sakitnya.
Kadang saya sering berfikir pendek atau
memang pikiran manusia pendek. Bahwa ketika Tuhan menghadirkan seseorang yang saya
cintai, maka pada saat itu Tuhan juga telah menyiapkan suatu luka yang membuat saya
menderita dan jatuh sakit.
Saya belajar menyadari hal tersebut. Sering
jatuh bangun dalam hal percintaan, tapi selalu saja nekat mendaki bukit yang
curam atau menerjang ranjau-ranjau berbahaya dan selalu ingin saya taklukan.
Padahal ending-nya saya tahu, bahwa saya pasti jatuh dan sakit.
Lagi-lagi, sifat bandel ku tidak juga sembuh-sembuh.
Kisah jatuh bangun yang bisa saya tulis di
artikel ini saya bagi menjadi dua. Pertama saat saya masih di pesantren.
Saat orang tua mengirim ku untuk belajar tentang ilmu agama dan moral. Saat
orang tua ku ingin melihat ku menjadi orang yang baik dan tidak berbuat
maksiat. Pendek kata menjadi orang yang sesuai dengan ajaran-ajaran agama.
Namun orang tua ku mungkin lupa bahwa pada
diri ku dan ribuan santri yang berada di pesantren saat itu adalah manusia
normal. Seorang santri yang berumur 19 tahun yang pada dirinya sudah mulai
tumbuh kumis tipis, jenggot dan juga sudah mulai mengerti lawan jenis. Gejolak
rasa cinta benar-benar tidak terbendungkan. Saat berjalan di sekitar pondok
untuk belanja sayur, atau mencuci baju di pancuran, saat itu sering melihat
para santri putri bagai bidadari yang terlihat sangat mempesona sekali. Apalagi
jika di antara mereka sudah ada yang mengenal ku dan terasa ada rasa cinta pada
ku, maka hari-hari yang saya lalui terasa seperti orang yang sedang minum
sabu-sabu. Berhayal menembus langit tujuh tentang makna keindahan yang batas.
Kami para santri putra selalu membicarakan
santri putri. Dimana rumah nya dan siapa orang tua nya. saat liburan, kami
kadang datang ke rumahnya. Meskipun jauh tempat nya, tidak punya kendaraan
tidak mengapa. Jalan kaki pun menjadi pilihannya. Jam 6.00 pagi jalan kaki,
sampai ke rumah nya kadang jam 12.00 siang hari. Itulah kehebatan cinta. Semua bisa
membalikan fakta. Penderitaan bisa berubah kebahagiaan. Jauh menjadi dekat, dan
kesederhanaan menjadi terlihat sempurna. Cinta telah merubah segala tentang
pikiran-pikiran normal manusia yang sering berjalan tidak sesuai dengan
aturan-aturan ilmiah. Ia bermain dalam perasaan hati ketika mengekspresikan
suatu keindahan kepada seseorang yang dicintainya. Hal yang sama juga saat
semua keindahan berubah 180 derajat. Keindahan berubah seperti lautan
penderitaan yang tiada bertepi. Sakit tidak kunjung sembuh. Hidup terasa tidak
berguna.
Ketika saya berada di pesantren ada suatu
peraturan-peraturan yang sangat ketat. Santri putra tidak boleh bertemu dengan
santri putri. Kecuali masih ada hubungan muhrim atau pengurus pesantren. Itupun
pada batas-batas yang telah diatur oleh qanun atau tata tertib pesantren. Kami para
santri tidak boleh sembarangan bertemu dengan santri putri. Ketika ketahuan
bertemu, apalagi sampai ketahuan ada ikatan hubungan seperti pacaran dan
sejenisnya, maka pihak keamanan pesantren akan memberi sanksi berupa hukuman
sesuai dengan kualitas kesalahan yang kami lakukan.
Saya waktu itu sangat takut sekali terhadap
hukuman-hukuman pesantren. Saya mencoba menghindari hal-hal yang dilarang. Salah
satu hukuman yang sangat mengerikan yaitu ketika kita ketahuan berpacaran
dengan santriwati, biasanya di keluarkan dari pesantren. Itu sebabnya mayoritas
santri tidak ada yang berani berpacaran, baik di dalam pesantren maupun saat
liburan.
Ada kisah menarik. Ketika ada suatu moment,
kami ditunjuk panitia pembangunan. Tugasnya mencari bambu. Anggota sekitar 6
orang. Semua santri putra. Karena tempat mencari bambu cukup jauh, maka kami diantar
menggunakan Mobil Pick Up Toyota lama. Kami tinggal selama 5 hari di rumah salah
satu wali santri. Selama tinggal disini, tuan rumah sudah menyediakan makan dan
tempat tidur.
Setiap pagi setelah sholat subuh, biasa nya
sebagian kawan-kawan ku masih tidur menunggu sarapan dan jam 08.00 baru
berangkat kerja mencari bambu. Sebagian lagi ngobrol.
Saya tidak terbiasa tidur setelah sholat
subuh. Sejak saya masih di rumah mbok de, tidur setelah sholat subuh sangat
dilarang. Meskipun tidak sampai pada marah-marah. Mbok punya trik sangat jitu. Ketika
saya terlihat ngantuk, mbok de selalu membuat teh atau kopi. Lalu ia mengajak ku ngobrol dan biasanya
sekaligus memerintahkan beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Akhirnya saya
pun tidak tidur.
Di rumah wali santri tersebut pun saya
tidak bisa tidur. Saat teman-teman santai-santai di pagi hari, saya menggunakan
waktu untuk bersih-bersih ruang tamu dan pelataran atau halaman rumah bagian
depan. Saya sudah terbiasa nyapu dengan sapu lidi di rumah mbok de. Jadi saat ‘mertamu’
pun kebiasaan bersih-bersih pelataran secara reflek dilakukan.
Tuan rumah, terutama ibu sebenarnya
melarang. Apalagi, ibu ini mempunyai tiga anak. Semua nya perempuan. Masih gadis.
Semua masih belajar di pesantren. Saya tahu, setelah teman-teman ku menceritakan
hal tersebut kepada ku.
Saya tentu saja tidak memperdulikan hal
tersebut. Selain tidak mengenal mereka, saya hanya fokus menjalankan tugas dari
panitia pesantren mencari bambu. Tidak ada niatan yang lainnya. Apalagi, saya
seorang santri yang -saat itu-tidak punya apa-apa. Baju saja hanya beberapa
helai. Orang tua pun jarang mengirim uang untuk kebutuhan pesantren. Sering pinjam
untuk kebutuhan hidup di pesantren. Saya harus belajar menerima apa adanya.
Hampir setiap pagi saat saya lagi menyapu
halaman rumah, ibu tuan rumah selalu menemuiku dan menanyakan tentang kesukaan
ku berkaitan dengan sayur atau lauk.
Saya bingung menjawabnya. Dulu saat masih tinggal
dengan mbok de, makan apa adanya. Pagi makan kadang hanya dengan jelantah
dan garam. Apalagi di pesantren, bahkan pernah satu minggu tidak
kemasukan nasi. Setiap hari hanya minum air putih. Hingga akhirnya jatuh sakit.
Terkena sakit tipes selama 6 bulan.
Ibu tuan rumah setengah memaksa kepada ku
untuk mengatakan kesukaan makanan yang saya suka. Karena tidak terbiasa, saya
pun mengatakan kepada nya bahwa apapun saya suka.
Hari berikutnya juga begitu. Kadang bapak
dan ibu ku sama-sama menemuiku. Ingin sekali mereka membuatkan lauk dan sayur Istimewa
kepada ku. Karena sering, lama kelamaan saya pun berfikir: “Kenapa tuan
rumah begitu baik kepadaku, kenapa kepada kawan-kawanku biasa-biasa saja?”.
Menjelang satu hari kepulangan kami ke
pesantren, saat kami mengumpulkan bambu, ada seorang bapak-bapak menatapku dan
menemuiku. Katanya, wajah ku sama dengan wajah anak laki-laki tuan rumah yang
tempat tinggal kami. Akhirnya, saya baru bisa paham, bahwa bapak dan ibu tuan
rumah sangat merindukan anak laki-laki yang telah meninggal dunia.
Saya pun baru sadar, kenapa hampir setiap
hari anak-anak perempuan yang sudah
gadis-gadis -ada yang sekolah SLTA dan ada yang sudah selesai- selalu melihatku
kemanapun aku pergi. Mereka selalu memandangku penuh dengan pandangan kasih sayang.
Senyum penuh dengan rasa cinta. Mereka merasakan bahwa saya bagian dari
keluarga mereka. Bapak, ibu dan anak-anak nya tidak mau berpisah dengan ku. Bahkan
kadang di antara mereka berani mendekat dan memanggilku ‘cak’-panggilan Jawa
Timur artinya mas atau abang.
Hari terakhir tinggal di rumah tersebut pun
tiba. Kami pamitan. Ada sambutan dari perwakilan rombongan kami. Biasa dengan
penuh basa-basi yang isinya minta maaf dan terima kasih.
Dari pihak keluarga juga mengucapkan
permohonan maaf. Saat bapak tuan rumah memberi kata sambutan, ibu dan anak-anak
nya menangis sambil menatapku terus. Mungkin karena tidak tahan, sang ibu pun
mengatakan kepada ku agar saya tidak keburu pulang ke Pesantren. Anak-anak nya
pun demikian. Ingin tinggal lebih lama lagi di rumah nya. Saya kaget dan
bingung. Malam maghrib menjelang isa yang seharusnya kami pulang dengan rasa
gembira, malah menjadi hujan tangis penuh haru.
“Jika liburan di pesantren, datang saja kesini
kang Imam” kata ibu tuan rumah.
Saya mengangguk. Tidak ada satu katapun
yang keluar dari mulutku. Bingung menghadapi suasana yang tidak terduga
tersebut. malam itu, kami kembali ke pesantren. Teman-teman ku terus meledek ku
dengan beragam kata-kata.
Penulis : autobiografi
Hikmah di Balik Kisah Asmara
15 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   164
Ketika Ayah Berpoligami
13 Agustus 2026   Oleh : autobiografi   138
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1147
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   729
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   906
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14253
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5888
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5297
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4618
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4215