
Tulisan sebelumnya menceritakan tentang
seorang perempuan bernama Hindun. Seorang gadis cantik bermata sipit. Secara
spintas orang akan mengatakan peranakan Tionghoa. Tapi sebenarnya asli Jawa ‘ngapak’
Banyumas. Kecantikan nya semakin mempesona dengan balutan jilbab. Terlihat
anggun dan menarik hati siapa laki-laki yang melihatnya.
Hindun sebenarnya secuil dari kisah panjang
tentang gadis-gadis cantik yang pernah aku lihat dalam lembaran sejarah
hidupku. Hindun bagian dari perempuan yang telah memberikan catatan kaki
tentang arti cinta dan kasih sayang. Suatu perasaan yang belum pernah terjadi. Ia
mengisi ruang kosong di jiwa ku dengan lukisan-lukisan keindahan yang sangat
sulit dijelaskan. Seperti oksigen yang tidak terlihat, tapi sangat terasa
manfaatnya. Ia menyatu dalam jiwa ku.
Mungkin saya terlalu baper. Mungkin
juga ia tidak punya perasaan sebagaimana yang aku rasakan saat itu. Sebagai
seorang remaja yang kurus dan berambut acak-acakan bukanlah tipe seorang idola.
Jauh sekali dari kriteria seorang cowok idaman pada masa itu. Tapi dorongan
jiwa ku terlalu berani menerobos batas-batas penghalang dogma-dogma seperti
itu. Tidak peduli ganteng, tampan atau jelek. Yang penting saya harus bisa
dekat dengan-nya. Itu prinsip hidup ku masa remaja. Suatu prinsip yang kini
baru tahu, bahwa keberanian merupakan faktor sangat penting dalam suatu
perjuangan hidup. Tanpa keberanian kita tidak akan mendapatkan apa-apa yang
kita cita-citakan.
Saya tidak tahu apakah keberanian ku berkat
dari gen yang diturunkan dari orang tua. Atau karena factor eksternal kehidupan
sosial yang sangat keras saat itu. Saya tidak tahu. Jika jalur gen, saya
melihat ayah ku seorang ayah yang pendiam, tenang dan selalu tersenyum. Jika
melihat wajah ayah ku seperti telaga yang sangat dalam. Tenang sekali dalam
hidupnya. Jika dari jalur ibu ku, rasa-rasa nya kok terlalu lembut dan selalu
mengalah. Ini jelas jauh dari sifat seorang petarung. Jika dari jalur
eksternal, saya termasuk remaja yang kalau berkelahi pasti kalah. Tubuhku
terlalu kerempeng untuk menjadi petarung. Jauh dari kriteria tersebut.
Mungkin keberanian mengungkapkan rasa cinta
tumbuh dari ayah ku. Ini kesimpulan ku. Ini juga gara-gara saya mendapatkan
cerita dari murid-murid senior ayah ku. Pada beberapa kesempatan murid-murid
senior ayah terkadang menceritakan ayah dan kakek-kakek ku sebagai seorang ahli
agama yang sangat berpengaruh di daerah nya. Mereka juga menceritakan tentang
kisah asmara dan kehidupan rumah tangga nya yang penuh dengan dinamika
kehidupan.
Saya baru tahu dari murid-murid ayah ku dan
saudara-saudara ku, dari mbok de ku bahwa dua kakeku -Mbah Ahmad dan Mbah
Afandi-masing masing mempunyai empat istri. Ini menurun kepada ayah ku. Juga mempunyai
empat istri.
Saya mendengar tersebut terasa asing, risih
dan terkesan tidak baik. Apalagi saya yang sejak kecil kurang begitu suka
belajar ilmu agama. kurang mengerti tentang persoalan perkawinan dalam ajaran
islam bahwa seorang suami bisa mempunyai empat orang istri. Saya yang saat itu
tumbuh remaja menuju dewasa tidak bisa menerima kenyataan ayah ku. Saya
menolaknya. Tapi saya tidak berani mengatakannya. Saya menolak di dalam hati.
Pikiran ku saat itu, bukan menikah lagi berarti telah menyakiti istri pertama?
Bukankah ini namanya membagi cinta?. Apakah mungkin seorang suami membagi cinta
bisa berlaku adil?
Meskipun demikian, setuju atau tidak setuju
saya harus menerima kenyataan. Dia adalah ayah ku yang telah menjadi wasilah
aku ada di dunia. Saya harus menerima nya sebagai seoranga ayah dengan segala
kelebihan dan kelemahannya.
Waktu terus berjalan. Sikap menerima ku
lama-kelamaan pun tumbuh sejalan semakin mengerti sedikit demi sedikit aturan
agama. Ayah ku tidak melakukan kesalahan. Dia tidak menyakiti ibu-ibu ku. Tapi
ia telah mengajarkan tentang makna cinta. Ketika saya beranggapan bahwa
mempunyai empat istri berarti telah menyakiti perasaan istri sebelumnya, maka
muncul pertanyaan: Apakah seorang suami yang mempunyai satu istri merasa bahwa
istrinya sudah dimuliakan, dihormati dan ditempaatkan secara wajar sebagai
seorang ibu rumah tangga?.
Kenyataan tidak demikian. Dari dulu
persoalan saling menghormati kepada masing-masing pasangan selalu saja terjadi
beragam dinamika. Persoalan komitmen untuk saling menyayangi dan menghargai nya
dalam kehidupan ikatan perkawinan tidak diukur pada persoalan apakah monogami
atau poligami. Semua selalu saja ada persoalan-persoalan yang berujung pada
perceraian atau perilaku-perilaku yang menyakitii pasangannya seperti memukul,
mencaci maki dan sebagainya.
Kembali lagi para persoalan poligami ayah
ku. Sejak kecil memang saya sudah dirawat oleh Mbok De Ku di Sirau. Sehingga
saat dewasa bertemu dengan ayah, saya mencari kekurangan ayah saat berpoligami,
tidak menemukan nya. Ibu-ibu ku adalah perempuan yang luarbiasa. Satu sama
saling saling memuji. Saya sering mendengarkannya. Anak-anak nya juga akur.
Dari keempat ibu, mereka biasa duduk bareng, guyon dan kadang guyon nya pun
cukup kebablasan. Tapi guyon yang tidak menimbulkan persoalan serius. Mungkin karena
ayah dan ibu-ibu kami telah menanamkan arti cinta yang sebenarnya. Kami keluarga
besar yang sangat harmonis.
Saya teringat saat pulang liburan dari pesantren.
Tiap hari saya selalu mengikuti ayah ku ngaji bersama tamu-tamu yang ada. Karena
ibu ku 4 orang, maka rumah pun ada empat. Jika hari ini ada tamu di rumah istri
pertama, maka ayah akan kesana dan ngaji di rumah tersebut. begitu seterusnya. Rata-rata
tamu yang datang dari tetangga rumah, tetangga desa atau kabupaten. Jika ada
tamu datang malam hari dan nginep di rumah, malam hari setelah ngaji. Setelah ngaji
biasanya ngobrol hingga larut malam.
Pernah suatu hari karena ada tamu, ayah ku
pulang ke rumah ibu kedua jam 02.00 dini hari. Saya menemaninya. Sesampai di
rumah, ibu membuka kan pintu. Lalu ia membuatkan kopi dan juga membuat nasi
goreng.
Saya saat itu tidak berfikir terlalu mendalam.
Namun setelah saya mempunyai istri, apa yang dilakukan oleh ibuku tersebut adalah
suatu perbuatan yang sangat berharga sekali. Bayangkan saja, malam hari saat istirahat
dan tiba-tiba ayah ku pulang. Lalu saat lapar, ibu ku langsung membuatkan nasi
goreng. Tanpa adanya drama sama sekali. Tanpa adanya ngomel-ngomel,
marah-marah. Tidak sama sekali. Wajah ibu ku sangat natural. Ia benar-benar
tulus membuatkan nasi goreng dan kemudian duduk bareng makan bersama. Ngobrol dan
guyonan yang sangat khas sekali dilakukan olah ayah dan ibu ku.
Saya membayangkan kejadian tersebut selalu
saya tersenyum dan kadang juga kadang ada perasaan yang berbeda saat melihat
realita kehidupan saat sekarang ini. Sungguh kenangan tersebut terekam dengan
jelas dan tidak bisa ku lupakan kemesraan yang tulus ayah dan ibu ku. Ayah yang
berbadan kurus mempunyai empat istri bisa membuat mereka nyaman dalam kehidupan
rumah tangga. Terus terang aku iri pada keharmonisan tersebut, bukan pada
poligami nya.
Penulis : autobiografi
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1142
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   717
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   891
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   980
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14214
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5605
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5214
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4553
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4083