Avatar

autobiografi

Penulis Kolom

9 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Ayah Berpoligami



Kamis , 13 Agustus 2026



Telah dibaca :  40

Tulisan sebelumnya menceritakan tentang seorang perempuan bernama Hindun. Seorang gadis cantik bermata sipit. Secara spintas orang akan mengatakan peranakan Tionghoa. Tapi sebenarnya asli Jawa ‘ngapak’ Banyumas. Kecantikan nya semakin mempesona dengan balutan jilbab. Terlihat anggun dan menarik hati siapa laki-laki yang melihatnya.

Hindun sebenarnya secuil dari kisah panjang tentang gadis-gadis cantik yang pernah aku lihat dalam lembaran sejarah hidupku. Hindun bagian dari perempuan yang telah memberikan catatan kaki tentang arti cinta dan kasih sayang. Suatu perasaan yang belum pernah terjadi. Ia mengisi ruang kosong di jiwa ku dengan lukisan-lukisan keindahan yang sangat sulit dijelaskan. Seperti oksigen yang tidak terlihat, tapi sangat terasa manfaatnya. Ia menyatu dalam jiwa ku.

Mungkin saya terlalu baper. Mungkin juga ia tidak punya perasaan sebagaimana yang aku rasakan saat itu. Sebagai seorang remaja yang kurus dan berambut acak-acakan bukanlah tipe seorang idola. Jauh sekali dari kriteria seorang cowok idaman pada masa itu. Tapi dorongan jiwa ku terlalu berani menerobos batas-batas penghalang dogma-dogma seperti itu. Tidak peduli ganteng, tampan atau jelek. Yang penting saya harus bisa dekat dengan-nya. Itu prinsip hidup ku masa remaja. Suatu prinsip yang kini baru tahu, bahwa keberanian merupakan faktor sangat penting dalam suatu perjuangan hidup. Tanpa keberanian kita tidak akan mendapatkan apa-apa yang kita cita-citakan.

Saya tidak tahu apakah keberanian ku berkat dari gen yang diturunkan dari orang tua. Atau karena factor eksternal kehidupan sosial yang sangat keras saat itu. Saya tidak tahu. Jika jalur gen, saya melihat ayah ku seorang ayah yang pendiam, tenang dan selalu tersenyum. Jika melihat wajah ayah ku seperti telaga yang sangat dalam. Tenang sekali dalam hidupnya. Jika dari jalur ibu ku, rasa-rasa nya kok terlalu lembut dan selalu mengalah. Ini jelas jauh dari sifat seorang petarung. Jika dari jalur eksternal, saya termasuk remaja yang kalau berkelahi pasti kalah. Tubuhku terlalu kerempeng untuk menjadi petarung. Jauh dari kriteria tersebut.

Mungkin keberanian mengungkapkan rasa cinta tumbuh dari ayah ku. Ini kesimpulan ku. Ini juga gara-gara saya mendapatkan cerita dari murid-murid senior ayah ku. Pada beberapa kesempatan murid-murid senior ayah terkadang menceritakan ayah dan kakek-kakek ku sebagai seorang ahli agama yang sangat berpengaruh di daerah nya. Mereka juga menceritakan tentang kisah asmara dan kehidupan rumah tangga nya yang penuh dengan dinamika kehidupan.

Saya baru tahu dari murid-murid ayah ku dan saudara-saudara ku, dari mbok de ku bahwa dua kakeku -Mbah Ahmad dan Mbah Afandi-masing masing mempunyai empat istri. Ini menurun kepada ayah ku. Juga mempunyai empat istri.

Saya mendengar tersebut terasa asing, risih dan terkesan tidak baik. Apalagi saya yang sejak kecil kurang begitu suka belajar ilmu agama. kurang mengerti tentang persoalan perkawinan dalam ajaran islam bahwa seorang suami bisa mempunyai empat orang istri. Saya yang saat itu tumbuh remaja menuju dewasa tidak bisa menerima kenyataan ayah ku. Saya menolaknya. Tapi saya tidak berani mengatakannya. Saya menolak di dalam hati. Pikiran ku saat itu, bukan menikah lagi berarti telah menyakiti istri pertama? Bukankah ini namanya membagi cinta?. Apakah mungkin seorang suami membagi cinta bisa berlaku adil?

Meskipun demikian, setuju atau tidak setuju saya harus menerima kenyataan. Dia adalah ayah ku yang telah menjadi wasilah aku ada di dunia. Saya harus menerima nya sebagai seoranga ayah dengan segala kelebihan dan kelemahannya.

Waktu terus berjalan. Sikap menerima ku lama-kelamaan pun tumbuh sejalan semakin mengerti sedikit demi sedikit aturan agama. Ayah ku tidak melakukan kesalahan. Dia tidak menyakiti ibu-ibu ku. Tapi ia telah mengajarkan tentang makna cinta. Ketika saya beranggapan bahwa mempunyai empat istri berarti telah menyakiti perasaan istri sebelumnya, maka muncul pertanyaan: Apakah seorang suami yang mempunyai satu istri merasa bahwa istrinya sudah dimuliakan, dihormati dan ditempaatkan secara wajar sebagai seorang ibu rumah tangga?.

Kenyataan tidak demikian. Dari dulu persoalan saling menghormati kepada masing-masing pasangan selalu saja terjadi beragam dinamika. Persoalan komitmen untuk saling menyayangi dan menghargai nya dalam kehidupan ikatan perkawinan tidak diukur pada persoalan apakah monogami atau poligami. Semua selalu saja ada persoalan-persoalan yang berujung pada perceraian atau perilaku-perilaku yang menyakitii pasangannya seperti memukul, mencaci maki dan sebagainya.

Kembali lagi para persoalan poligami ayah ku. Sejak kecil memang saya sudah dirawat oleh Mbok De Ku di Sirau. Sehingga saat dewasa bertemu dengan ayah, saya mencari kekurangan ayah saat berpoligami, tidak menemukan nya. Ibu-ibu ku adalah perempuan yang luarbiasa. Satu sama saling saling memuji. Saya sering mendengarkannya. Anak-anak nya juga akur. Dari keempat ibu, mereka biasa duduk bareng, guyon dan kadang guyon nya pun cukup kebablasan. Tapi guyon yang tidak menimbulkan persoalan serius. Mungkin karena ayah dan ibu-ibu kami telah menanamkan arti cinta yang sebenarnya. Kami keluarga besar yang sangat harmonis.

Saya teringat saat pulang liburan dari pesantren. Tiap hari saya selalu mengikuti ayah ku ngaji bersama tamu-tamu yang ada. Karena ibu ku 4 orang, maka rumah pun ada empat. Jika hari ini ada tamu di rumah istri pertama, maka ayah akan kesana dan ngaji di rumah tersebut. begitu seterusnya. Rata-rata tamu yang datang dari tetangga rumah, tetangga desa atau kabupaten. Jika ada tamu datang malam hari dan nginep di rumah, malam hari setelah ngaji. Setelah ngaji biasanya ngobrol hingga larut malam.

Pernah suatu hari karena ada tamu, ayah ku pulang ke rumah ibu kedua jam 02.00 dini hari. Saya menemaninya. Sesampai di rumah, ibu membuka kan pintu. Lalu ia membuatkan kopi dan juga membuat nasi goreng.

Saya saat itu tidak berfikir terlalu mendalam. Namun setelah saya mempunyai istri, apa yang dilakukan oleh ibuku tersebut adalah suatu perbuatan yang sangat berharga sekali. Bayangkan saja, malam hari saat istirahat dan tiba-tiba ayah ku pulang. Lalu saat lapar, ibu ku langsung membuatkan nasi goreng. Tanpa adanya drama sama sekali. Tanpa adanya ngomel-ngomel, marah-marah. Tidak sama sekali. Wajah ibu ku sangat natural. Ia benar-benar tulus membuatkan nasi goreng dan kemudian duduk bareng makan bersama. Ngobrol dan guyonan yang sangat khas sekali dilakukan olah ayah dan ibu ku.

Saya membayangkan kejadian tersebut selalu saya tersenyum dan kadang juga kadang ada perasaan yang berbeda saat melihat realita kehidupan saat sekarang ini. Sungguh kenangan tersebut terekam dengan jelas dan tidak bisa ku lupakan kemesraan yang tulus ayah dan ibu ku. Ayah yang berbadan kurus mempunyai empat istri bisa membuat mereka nyaman dalam kehidupan rumah tangga. Terus terang aku iri pada keharmonisan tersebut, bukan pada poligami nya. 



Penulis : autobiografi


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1142

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   717

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   891

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   861

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   980

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14214


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5605


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5214


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4083