Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

386 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pak, Pakai Helm !



Rabu , 12 Agustus 2026



Telah dibaca :  59

Viki, anak ku yang pertama mengirim pesan lewat WA. Isinya: “Ayah, besok kalau ngirim duit ditambah ya?”.

Saya balas singkat: “Untuk apa?”

Anak ku menjawab: “Soal nya Viki mau kkn, jadi butuh helm. Malu pinjam helm terus, jadi rencana viki mau beli helm”.

Saya tersenyum dan menjawab: “Iya, sayang…nanti ayah kirim untuk beli helm”.

Persoalan helm, memang kadang bikin gemes, kadang juga bikin dengkol. Itu saya. Bukan karena polisi, tapi karena ibu-ibu. Baik di Bengkalis atau Selatpanjang sama saja. Kadang bikin gemes, bikin dengkol. Tapi dipikir-pikir benar juga. Untuk keselamatan. Jadi kalau ada ibu-ibu menasehati ku, saya langsung diam. Nurut saja. Selesai masalah.

Istri ku paling fanatik memakai helm. Kemana-mana pasti pakai helm. Dia merasa sudah nyaman dan aman. Apalagi di daerah kepulauan yang para pengendara roda dua sudah tidak bisa mengartikan mana jalan utama, mana jalan gang, dan mana jalan tikus. Pokok nya kalau sudah “njebul” di jalan utama, langsung gasssss.

Peristiwa ini yang menyebabkan sering terjadi kecelakaan. Peristiwa ini juga yang menyebabkan istriku kemana-mana memakai helm. Itu gara-gara tetangga sebelah tidak memakai helm, kecelakaan langsung meninggal dunia di tempat kejadian.

Itu sebabnya, kalau saya keluar rumah mengendarai honda tidak memakai helm langsung kena semprot. Apalagi pagi hari dan pas jadwal operasi zebra. Itu hukum nya fardhu ‘ain. Pokok nya kalau tidak pakai helm, saya kena rujak lah. Anda sudah tahukan kalau perempuan lagi ngomel? Bukan hanya suaminya yang kena sasaran, ayam lewat pun disalahkan.”Dasar ayam, pagi-pagi sudah bising!!”: katanya. Hatiku jadi ingin tertawa, padahal dia sendiri yang bising, ayam jadi sasaran.

Fenomena helm memang tidak serta merta persoalan keselamatan semata saat mengendari kendaraan. Apalagi jika kita sedang melakukan perjalanan jauh yang mengharuskan menggunakan kecepatan tinggi. Helm menjadi suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, selain bensin, dan ATM tentunya. Helm menjadi suatu kebutuhan primer. Wajib. Titik.


Artinya tidak boleh ada alasan darurat dalam berkendaraan. Tidak boleh karena darurat melakukan perjalanan jauh. Lupa tidak pakai helm, lalu memakai Pot Bunga tetangga sebagai pengganti helm atau plastik kresek wadah gorengan pisang. Ini persoalan keselamatan kepala looeee !!!. Bukan membahas tentang bab sholat, yang kalau tidak ada air bisa tayamum !!!.

Salah satu fenomena helm yang tidak lazim tapi masuk akal yaitu seorang anak kost tinggal di Rumah Petak. Berangkat ke Kampus tidak pakai helm. Tapi di rumah, terutama malam hari dia selalu memakai helm kalau mau tidur. Ketika ditanya alasanya, ia menjawab: “Tetanggaku eror, setiap malam selalu membunyikan sound horeg!!”.

Memakai helm selain kewajiban juga untuk kebaikan para pengendara. Itu standar tujuan dan kemanfaatanya. Mungkin kadang kita juga memaknai berbeda karena kondisi dan situasi yang menyebabkan kita kadang tidak memakai helm.


Bisa jadi karena pola aturan lalu lintas yang “anget-anget tahi ayam”, kadang ditegakan, kadang dibiarkan. Kadang dihukum sesuai prosedur, kadang tanpa prosedur.

Disisi lain kadang ada ‘oknum” keamanan justu menyebabkan suasana menjadi tidak aman. Kondisi yang kemudian menjadi rahasia umum. Lalu muncul sumpah serapah dari masyarakat. Pada titik ini kemudian muncul adanya ketidakpercayaan

Publik terhadap aturan-aturan. Itu yang saya rasakan.


Suatu hari, saya ingin sekali sholeh. Jam 06.30, saya sudah berhenti di simpang empat. Lampu warna merah. Itu tanda berhenti. saya patuh. Namun dari empat penjuru arah mata angin, kendaraan tetap berjalan. Tidak ada yang merasa bersalah. Santai saja. Malah saya yang tadinya merasa sholeh lama-lama ada perasaan asing dalam dirinya. Lama-lama saya ngiler juga. Ngapain saya berhenti, toh mereka para pengendara juga santai saja tidak mematuhi aturan lalu lintas. Semua. Rakyat biasa sampai para pejabat. Mulai dari jama’ah sampai para ustadz. Sama.

Bangsa ini nampak nya memang diciptakan bukan untuk rapi atau teratur dalam administrasi dan kepatuhan aturan. Rasa-rasa nya seperti itu. Itu Kesimpulan ku untuk sementara. Tentu ini tidak benar. Namun disisi lain, tentu saja kadang ada sisi baik nya. Salah satu sisi kebaikannya yaitu ada kesepakatan sosial dan saling memahami untuk bisa menjaga diri dari sesuatu yang merugikan diri dan orang lain. sama-sama tahu.

Kita mungkin iri dengan negara-negara yang teratur seperti Singapura, Jepang, China dan negara-negara besar lainnya. Mereka sangat patuh sekali terahadap aturan. Hidup tertib dan teratur.

Namun disisi lain, hasil survei menunjukan bahwa di negara-negara yang menerapkan aturan sangat ketat justru mengalami depresi atau stress sangat tinggi. Contoh nyata adalah China. Mereka hidup seperti robot. Setiap menit ada jadwal kegiatan yang harus dipatuhi. Lama kelamaan mereka mengalami tekanan hidup, bosan, lalu depresi dan banyak pegawai yang bunuh diri.


Di negara yang tidak teratur seperti di Indonesia selalu saja melihat pemandangan yang sangat menyedihkan. Lihat di kota-kota sedang atau besar. Saat kendaraan berhenti di persimpangan, kita akan melihat pemandangan yang sangat mafhum seperti: penjual koran, aqua, pengamen, pengemis dan sampah membusuk dan menggunung yang ada di pinggir jalan. Belum lagi banyak para kendaraan yang main serobot jalan. Persoalan sangat komplek sekali.

Tapi ada sisi positifnya. Pola hidup yang tidak teratur justru melahirkan daya tahan hidup yang luarbiasa. Pola hidup yang menurut ku “ngawur” malah kadang bisa menghadapi badai resesi atau gonjangan ekonomi dan penyakit dengan sangat enjoy.

Contoh saat negara-negara maju mengalami kekacauan sosial keamanan luarbiasa dan kehancuran ekonomi yang sangat serius akibat virus covid-19, Masyarakat Indonesia masih bisa cengengesan dengan sangat santai. Mereka-orang orang yang berada di perkampungan-atau kota kecil sudah bisa hidup dengan tanpa tekanan serius. Saat orang lain memakai masker dan suntik vaksin, Masyarakat kita tetap enjoy duduk-duduk di kedai kopi atau di Pos Ronda minum kopi sambil main catur dan merokok.

Ketika dokter menasehati agar menjaga kesehatan, mereka pun punya jawaban yang sangat religius: “Mati urip sing duwi gusti Allah!”. Makjleb.

Tentu saja tulisan ini tidak mengajak untuk berfikir terlalu ekstrem seperti orang-orang yang ada di Gardu Ronda tadi. Saya tentu saja sangat menginginkan agar hidup selalu melakukan ikhtiar agar kita bisa lebih baik dari hari kemaren. Termasuk memakai helm. Meskipun belum sempurna. Tapi paling tidak pada waktu-waktu tertentu kita bisa mematuhinya.

Toh jika lagi apes dan tidak memakai helm, lalu anda ketangkap polisi. Saya kira dua-dua nya harus menyelesaikan dengan arif dan bijaksana. Pengendara minta maat karena melakukan kesalahan, dan polisi jangan main tilang dengan meminta imbalan uang tebusan. Penyelesaian dengan kekeluargaan. Masa sih dengan keluarga minta duit. Tidak lucu khan?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Bertemu Perempuan Hebat
27 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   229

Mendengar Suara Rakyat
21 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   180

Harga Sepiring Lempeng
19 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   409

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   204

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14210


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5210


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4055