
Pada masa jahiliyah ucapan yang berkualitas
apabila ucapan datang dari para tokoh baik penguasa, saudagar, para tokoh masyarakat
dan tokoh-tokoh agama. Ucapan-ucapan mereka menjadi referensi dalam menjalankan
kehidupan sehari-hari. Ucapannya Adalah hukum kehidupan. Seperti apa sikap,
perkataan dan perbuatannya menjadi cermin bagaimana ucapan dan karakter para
tokoh-tokoh tersebut.
Pada masa jahiliyah sangat mendewa-dewakan
kebebasan berekspresi. Para sastrawan dari kalangan bangsawan sering mengadakan
pameran seni. Terutama seni sastra dengan membacakan puisi padang pasir yang
penuh dengan luapan keindahan cinta bebas, kepahlawanan dan kemewahan.
Fakta ini yang kemudian membentuk budaya masyarakat
arab yang sangat hedonis,hidup dengan kebebasan, minum-minuman keras, berjudi
dan bermain perempuan sekehendaknya tanpa aturan. Mereka berlomba-lomba bisa
menjadi penguasa, menjadi tokoh agama dan saudagar. Dengan ada salah satu pada
dirinya, maka semua tindakan dan ucapannya menjadi hukum dan diikuti oleh masyarakat
saat itu. Wajar jika kemudian muncul beragam faksi-faksi kekuatan yang tumbuh
di masyarakat dan di antara mereka saling serang dan saling bunuh membunuh. Tujuan
sangat jelas: harta, tahta, wanita.
Ketika allah mengutus Nabi Muhammad SAW di Jazirah
Arab, pola komunikasi mulai secara berlahan-lahan mengalami perubahan. Nabi merubah
kriteria kebaikan dalam ucapan. Jika pada jahiliyah, ucapan yang baik
mengandung unsur-unsur syahwat duniawiyah, maka pada masa nabi mengarah kepada
semangat ilahiyah. Ucapan sudah tidak lagi berbicara tentang berbangga diri
tentang jabatan, kekayaan dan kekuatan suku. Ucapan sudah mengarah tentang hakikat
kebaikan sesuai dengan fitrah manusia.
Kanjeng Nabi Muhammad dawuh:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ
خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
Artinya:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata
yang baik atau diam.” [HR Bukhari]
Standar kebaikan ucapan terletak pada
keimanan. Satu keimanan kepada Allah berarti bahwa ucapan harus mengantarkan
semakin mencintai Allah SWT. Kedua, keimanan kepada hari akhir berarti ucapan
kita akan dipertanggungjawabkan di akherat nanti. Dua syarat ucapan yang baik tersebut
menjadi reformasi komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja makna “khairan”
menjadi sangat luas. Sebab khairan -kebaikan-adalah suatu keselerasan dengan
hati setiap orang berbicara. Ketika apa yang diucapkan tapi tidak sesuai dengan
dirinya sendiri,maka orang tersebut dalam hatinya akan menerima jika benar,
menolak jika tidak benar atau tidak baik.
Hadist tersebut juga mempunyai makna bahwa
siapapun yang berbicara sepanjang itu mengandung unsur-unsur kebaikan maka bisa
diterima dan diikuti. Ini juga meruntuhkan status quo seseorang yang dianggap
penting, tapi tidak memenuhi kriteria unsur-unsur kebaikan, maka kita bisa
menolaknya. Tentu saja menolak dengan cara yang baik juga.
Ali bin Abi Thalib berkata: “undzur
maqala wala tandur man qala”-lihat apa yang diucapkan jangan lihat siapa
yang mengucapkan. Kalimat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan datang
dari siapa saja tanpa melihat status seseorang. Ada kalanya orang biasa bisa
menjadi panutan atau suri tauladan, ada kalanya orang-orang yang sudah dianggap
tokoh dan panutan belum bisa dijadikan panutan secara maksimal. Ketika ucapan
atau perbuatannya belum memenuhi unsur-unsur kebaikan, maka kita bisa menolak
dengan beragam cara. Sekali lagi, tentu maknanya dengan penyelesaian atau
jawaban yang baik dan mengandung hikmah.
Walhasil, dalam kehidupan sosial serba
komplek karakter, watak atau sifat manusia, membutuhkan kedalaman ilmu batin
dan “kejembaran” pikiran dan hati untuk bisa menterjemahkan keberagaman
tersebut menjadi suatu tatanan kehidupan sosial yang indah. Kompleksitas tersebut
menjadi kita semakin banyak belajar tentang keberagaman tersebut. Harapannya tentu
semakin arif dan bijaksana ketika melihat keberagaman hadir di tengah-tengah masyarakat.
Penulis : Imam Ghozali
Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207
Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   821
Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   541
Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   522
Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   330
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3114
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355