Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ucapan Berkualitas



Kamis , 26 Februari 2026



Telah dibaca :  218

Pada masa jahiliyah ucapan yang berkualitas apabila ucapan datang dari para tokoh baik penguasa, saudagar, para tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama. Ucapan-ucapan mereka menjadi referensi dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Ucapannya Adalah hukum kehidupan. Seperti apa sikap, perkataan dan perbuatannya menjadi cermin bagaimana ucapan dan karakter para tokoh-tokoh tersebut.

Pada masa jahiliyah sangat mendewa-dewakan kebebasan berekspresi. Para sastrawan dari kalangan bangsawan sering mengadakan pameran seni. Terutama seni sastra dengan membacakan puisi padang pasir yang penuh dengan luapan keindahan cinta bebas, kepahlawanan dan kemewahan.

Fakta ini yang kemudian membentuk budaya masyarakat arab yang sangat hedonis,hidup dengan kebebasan, minum-minuman keras, berjudi dan bermain perempuan sekehendaknya tanpa aturan. Mereka berlomba-lomba bisa menjadi penguasa, menjadi tokoh agama dan saudagar. Dengan ada salah satu pada dirinya, maka semua tindakan dan ucapannya menjadi hukum dan diikuti oleh masyarakat saat itu. Wajar jika kemudian muncul beragam faksi-faksi kekuatan yang tumbuh di masyarakat dan di antara mereka saling serang dan saling bunuh membunuh. Tujuan sangat jelas: harta, tahta, wanita.

Ketika allah mengutus Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, pola komunikasi mulai secara berlahan-lahan mengalami perubahan. Nabi merubah kriteria kebaikan dalam ucapan. Jika pada jahiliyah, ucapan yang baik mengandung unsur-unsur syahwat duniawiyah, maka pada masa nabi mengarah kepada semangat ilahiyah. Ucapan sudah tidak lagi berbicara tentang berbangga diri tentang jabatan, kekayaan dan kekuatan suku. Ucapan sudah mengarah tentang hakikat kebaikan sesuai dengan fitrah manusia.

Kanjeng Nabi Muhammad dawuh:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

Artinya:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]

Standar kebaikan ucapan terletak pada keimanan. Satu keimanan kepada Allah berarti bahwa ucapan harus mengantarkan semakin mencintai Allah SWT. Kedua, keimanan kepada hari akhir berarti ucapan kita akan dipertanggungjawabkan di akherat nanti. Dua syarat ucapan yang baik tersebut menjadi reformasi komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja makna “khairan” menjadi sangat luas. Sebab khairan -kebaikan-adalah suatu keselerasan dengan hati setiap orang berbicara. Ketika apa yang diucapkan tapi tidak sesuai dengan dirinya sendiri,maka orang tersebut dalam hatinya akan menerima jika benar, menolak jika tidak benar atau tidak baik.

Hadist tersebut juga mempunyai makna bahwa siapapun yang berbicara sepanjang itu mengandung unsur-unsur kebaikan maka bisa diterima dan diikuti. Ini juga meruntuhkan status quo seseorang yang dianggap penting, tapi tidak memenuhi kriteria unsur-unsur kebaikan, maka kita bisa menolaknya. Tentu saja menolak dengan cara yang baik juga.

Ali bin Abi Thalib berkata: “undzur maqala wala tandur man qala”-lihat apa yang diucapkan jangan lihat siapa yang mengucapkan. Kalimat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan datang dari siapa saja tanpa melihat status seseorang. Ada kalanya orang biasa bisa menjadi panutan atau suri tauladan, ada kalanya orang-orang yang sudah dianggap tokoh dan panutan belum bisa dijadikan panutan secara maksimal. Ketika ucapan atau perbuatannya belum memenuhi unsur-unsur kebaikan, maka kita bisa menolak dengan beragam cara. Sekali lagi, tentu maknanya dengan penyelesaian atau jawaban yang baik dan mengandung hikmah.

Walhasil, dalam kehidupan sosial serba komplek karakter, watak atau sifat manusia, membutuhkan kedalaman ilmu batin dan “kejembaran” pikiran dan hati untuk bisa menterjemahkan keberagaman tersebut menjadi suatu tatanan kehidupan sosial yang indah. Kompleksitas tersebut menjadi kita semakin banyak belajar tentang keberagaman tersebut. Harapannya tentu semakin arif dan bijaksana ketika melihat keberagaman hadir di tengah-tengah masyarakat.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pak, Pakai Helm !
12 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Bertemu Perempuan Hebat
27 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   251

Mendengar Suara Rakyat
21 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   198

Harga Sepiring Lempeng
19 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   334

Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   415

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14335


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6051


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5489


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4425