Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Santri Nonton Wayang Kulit



Minggu , 23 November 2025



Telah dibaca :  207

Di kampung kami ada pertunjukan wayang kulit. Kebetulan yang punya hajatan masih ada saudara dengan pemimpin pesantren-sering disebut “pengasuh” pesantren. Malam itu, ngaji diliburkan. Para santri senang luarbiasa. Mereka ramai-ramai menuju pelataran rumah yang punya hajatan tersebut, duduk dan melihat pertunjukan wayang kulit.

Malam itu, santri benar-benar mendapatkan hari kemerdekaan, ia bisa terbebas dari segala kesibukan ngaji Al-Qur’an, kitab kuning dan hafalan grammar atau sastra arab. Ada hiburan wayang kulit. Lakon nya “Perang Baratayuda”. Mereka sama-sama nonton sambil menikmati kacang rebus dan gorengan gembus.

Para santri tidak memahami lakon tersebut. mereka lebih senang melihat keahlian dalang memainkan kelincahan tangan sehingga benar-benar terlihat hidup. Lebih unik lagi, sang dalang mempunyai beragam jenis suara dengan beragam karakter tokoh-tokoh wayang yang jumlah nya cukup banyak.

Sebagian santri yang sudah mempunyai bekal tentang pewayangan, tentu saja mengerti lakon tersebut. perang baratayuda merupakan lakon perebutan kekuasaan. Rebutan kerajaan Hastinapura antara pandawa dan kurawa.

Pada awalnya sebenarnya tidak ada persoalan. Kerajaan Hastina seharusnya mempunyai hak milik pandawa. Namun karena siasat Sangkuni, Pandawa harus bermain dadu melawan  Sangkuni. Pandawa diwakili Yudistira, kakak tertua dari pandawa. Orang yang lurus, jujur dan bersih. Jelas ia tidak tahu menahu tentang permainan dadu. Ending jelas bisa terbaca, pandawa kalah dalam permainan tersebut. akhirnya ia harus mengasingkan diri selama 12 tahun. Pandawa benar-benar menderita akibat konflik tersebut. Meskipun secera geneologis, kurawa dan pandawa masih satu keluarga. Namun kepentingan politik yang menyebabkan terjadi perang baratayuda.

Siapa yang menjadi korban dalam perang tersebut. Prajurit di kedua belah pihak. Itu pasti. Mereka gugur di Padang Kurusetra. Selain itu keluarga besar mereka, juga harus menanggung derita. Perang Baratayuda tidak ada yang menguntungkan sama sekali. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Selasai goro-goro-pasca perang- muncul punokawan: semar,gareng, petruk dan bagong.

Semar dalam bahasa arab “ismar” yang mempunyai arti paku. Sebagai simbol konsisten dalam menegakan kebenaran. semar juga sering dipanggil badranaya yang berasal dari kata “badrun” yang mempunyai arti rembulan. Semar simbol kelembutan hati dan selalu memberi penerangan kebajikan kepada masyarakat. Orang yang semakin mengerti agama semakin bijaksana dan istiqomah dalam berbicara, bersikap dan mengambil keputusan.

Petruk berasal dari bahasa arab “fatruk”- yang mempunyai arti meninggalkan segala sesuatu selain Allah. Petruk simbol punokawan yang mengajarkan kepada kita bahwa hidup semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Gareng berasal dari naala qarin mempunyai teman banyak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Gareng simbol kebersamaan berdakwah dalam rangka untuk sama-sama selamat hidup di dunia dan di akherat.

Bagong berasal dari kata baghaa yang mempunyai arti berontak dari kebatilan. Ini merupakan simbol dari jiwa manusia yang suci dan hati nurani selalu menolak dari perbuatan yang batil. Sebab hati nurani cuma satu yaitu hanya menerima kebenaran.

Punokawan yang jumlah nya empat tadi selalu saja hadir dengan kebahagiaan, ada canda tawa dan wajah penuh dengan kasih sayang. Sifat-sifat punokawan adalah simbol keberhasilan manusia dalam melahirkan nafsu mutmainah pada dirinya. Maka bisa dipastikan punokawan selalu hadir dengan riang gembira dan menyenangkan siapa yang melihatnya.

Sedangkan perang kurusetra adalah wujud dari nafsu amarah yang dikuasi nafsu untuk menghancurkan orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu yang tidak disukai nya. Watak nafsu yang selalu saja bermusuhan meskipun dengan dibalut rasa persaudaraan. Semua simbol bertemanan, senyum, dan persaudaraan adalah manipulatif untuk menutup seluruh sifat-sifat angkara murka dalam hati.

Watak punokawan adalah watak para santri yang sedang melihat tontonan wayang kulit. Mereka menonton dengan kebersihan hati dan riang gembira. Mereka tidak peduli saat Durna, Dursasana, dan Sengkuni mati oleh senjata pandawa. Tidak peduli, semua dalam pandangan santri sama saja, bahwa perang pasti akan berakhir.

Santri hanya menikmati pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Selesai pertunjukan, mereka akan kembali ke pesantren untuk berdzikir dan berfikir dengan penuh riang gembira tanpa mengingat kembali Perang Baratayuda.

Jiwa santri bisa juga saya, anda dan kita. Jiwa yang sedang belajar melihat seluruh kejadian dengan berlandaskan atas qadha dan qadhar Allah SWT. Semua sudah ada dalang nya. Kita tinggal menjalankan nya. Dan kita memilih peran bukan sebagai pandawa atau kurawa, tapi sebagai punokawan yang selalu riang gembira.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   821

Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   542

Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   522

Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   330

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355