
Di kampung kami ada pertunjukan wayang
kulit. Kebetulan yang punya hajatan masih ada saudara dengan pemimpin
pesantren-sering disebut “pengasuh” pesantren. Malam itu, ngaji diliburkan.
Para santri senang luarbiasa. Mereka ramai-ramai menuju pelataran rumah yang
punya hajatan tersebut, duduk dan melihat pertunjukan wayang kulit.
Malam itu, santri benar-benar mendapatkan
hari kemerdekaan, ia bisa terbebas dari segala kesibukan ngaji Al-Qur’an, kitab
kuning dan hafalan grammar atau sastra arab. Ada hiburan wayang kulit. Lakon
nya “Perang Baratayuda”. Mereka sama-sama nonton sambil menikmati kacang rebus
dan gorengan gembus.
Para santri tidak memahami lakon tersebut. mereka
lebih senang melihat keahlian dalang memainkan kelincahan tangan sehingga
benar-benar terlihat hidup. Lebih unik lagi, sang dalang mempunyai beragam jenis
suara dengan beragam karakter tokoh-tokoh wayang yang jumlah nya cukup banyak.
Sebagian santri yang sudah mempunyai bekal
tentang pewayangan, tentu saja mengerti lakon tersebut. perang baratayuda merupakan
lakon perebutan kekuasaan. Rebutan kerajaan Hastinapura antara pandawa dan
kurawa.
Pada awalnya sebenarnya tidak ada
persoalan. Kerajaan Hastina seharusnya mempunyai hak milik pandawa. Namun karena
siasat Sangkuni, Pandawa harus bermain dadu melawan Sangkuni. Pandawa diwakili Yudistira, kakak
tertua dari pandawa. Orang yang lurus, jujur dan bersih. Jelas ia tidak tahu
menahu tentang permainan dadu. Ending jelas bisa terbaca, pandawa kalah
dalam permainan tersebut. akhirnya ia harus mengasingkan diri selama 12 tahun. Pandawa
benar-benar menderita akibat konflik tersebut. Meskipun secera geneologis, kurawa
dan pandawa masih satu keluarga. Namun kepentingan politik yang menyebabkan
terjadi perang baratayuda.
Siapa yang menjadi korban dalam perang
tersebut. Prajurit di kedua belah pihak. Itu pasti. Mereka gugur di Padang
Kurusetra. Selain itu keluarga besar mereka, juga harus menanggung derita. Perang
Baratayuda tidak ada yang menguntungkan sama sekali. Menang jadi arang, kalah
jadi abu.
Selasai goro-goro-pasca perang- muncul
punokawan: semar,gareng, petruk dan bagong.
Semar dalam bahasa arab “ismar” yang mempunyai arti
paku. Sebagai simbol konsisten dalam menegakan kebenaran. semar juga sering dipanggil
badranaya yang berasal dari kata “badrun” yang mempunyai arti
rembulan. Semar simbol kelembutan hati dan selalu memberi penerangan kebajikan
kepada masyarakat. Orang yang semakin mengerti agama semakin bijaksana dan istiqomah
dalam berbicara, bersikap dan mengambil keputusan.
Petruk berasal dari bahasa arab “fatruk”- yang mempunyai
arti meninggalkan segala sesuatu selain Allah. Petruk simbol punokawan yang
mengajarkan kepada kita bahwa hidup semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Gareng berasal dari naala qarin mempunyai teman
banyak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Gareng simbol
kebersamaan berdakwah dalam rangka untuk sama-sama selamat hidup di dunia dan
di akherat.
Bagong berasal dari kata baghaa yang mempunyai arti
berontak dari kebatilan. Ini merupakan simbol dari jiwa manusia yang suci dan hati
nurani selalu menolak dari perbuatan yang batil. Sebab hati nurani cuma satu
yaitu hanya menerima kebenaran.
Punokawan yang jumlah nya empat tadi selalu
saja hadir dengan kebahagiaan, ada canda tawa dan wajah penuh dengan kasih
sayang. Sifat-sifat punokawan adalah simbol keberhasilan manusia dalam
melahirkan nafsu mutmainah pada dirinya. Maka bisa dipastikan punokawan selalu
hadir dengan riang gembira dan menyenangkan siapa yang melihatnya.
Sedangkan perang kurusetra adalah wujud
dari nafsu amarah yang dikuasi nafsu untuk menghancurkan orang-orang atau
kelompok-kelompok tertentu yang tidak disukai nya. Watak nafsu yang selalu saja
bermusuhan meskipun dengan dibalut rasa persaudaraan. Semua simbol bertemanan,
senyum, dan persaudaraan adalah manipulatif untuk menutup seluruh sifat-sifat
angkara murka dalam hati.
Watak punokawan adalah watak para santri
yang sedang melihat tontonan wayang kulit. Mereka menonton dengan kebersihan
hati dan riang gembira. Mereka tidak peduli saat Durna, Dursasana, dan Sengkuni
mati oleh senjata pandawa. Tidak peduli, semua dalam pandangan santri sama saja,
bahwa perang pasti akan berakhir.
Santri hanya menikmati pertunjukan wayang
kulit semalam suntuk. Selesai pertunjukan, mereka akan kembali ke pesantren untuk
berdzikir dan berfikir dengan penuh riang gembira tanpa mengingat kembali Perang
Baratayuda.
Jiwa santri bisa juga saya, anda dan kita. Jiwa
yang sedang belajar melihat seluruh kejadian dengan berlandaskan atas qadha dan
qadhar Allah SWT. Semua sudah ada dalang nya. Kita tinggal menjalankan nya. Dan
kita memilih peran bukan sebagai pandawa atau kurawa, tapi sebagai punokawan
yang selalu riang gembira.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112
Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   821
Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   542
Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   522
Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   330
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355