Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri



Selasa , 07 April 2026



Telah dibaca :  224

Hari ini saya melihat diberbagai laman media sosial rame-rame mendukung dan memuji keberanian pemerintah Iran melawan AS dan Israel. Bukan karena syiah nya, tapi tumbuhnya budaya mandiri pemerintah dan masyarakatnya dalam mengelola Sumber Daya Alam -SDA- dan Sumber Daya Manusia-SDM. Negara mullah sangat percaya diri atas kemampuan sebagai bangsa yang “ya’ulu wala yu’la ‘alaih”.

Ada beberapa youtube telah melihat beberapa fakta yang belum pernah saya dengar dan lihat sebelumnya. Saya akan menampilkan satu fakta nyata kisah duta besar Indonesia untuk Iran tahun 2012-2016 ,Dian Wirengjurit berkata kurang lebih begini:

“Di Iran hingga detik ini tidak ada orang miskin, orang minta-minta di jalan. Dari kota hingga kampung-kampung kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi seperti sandang, papan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Listrik dan air bayar. Tapi murah sekali”.

Ini data dari Dubes RI yang pernah kerja bertugas di negara tersebut selama 4 tahun. Secara teori tentu sangat tidak logis tidak ada orang miskin di negara tersebut.

Namun, saya hingga detik ini juga tidak menemukan youtube yang berisi masyarakat-masyarakat Iran membawa kaleng-kaleng bekas “ngemis” dan meminta bantuan. Selama 50 tahun, Iran di embargo ekonomi dan mata uang nya hancur lebur tidak menyebabkan inflasi dalam negeri. Dengan konsep “berdikari-berdiri di kaki sendiri-, Iran mempunyai kualitas SDM sejajar SDM barat. Meskipun pendidikan nya produk dalam negeri.

Menurut pakar politik ekonomi Ichsanuddin Noorsy, ada tiga kekuatan yang menyebabkan Iran tangguh menghadapi embargo ekonomi dan politik puluhan tahun dari AS, yaitu: kekuatan modal sosial, politik, dan ekonomi. Ketiga modal ini melahirkan modal kultural masyarakat Iran yang ikhlas mengorbankan jiwa dan harta untuk kepentingan kebesaran bangsa dan negara. Maka ketika ada perang saat sekarang ini, mereka tetap tenang. Mindset nya kematian membela negara nya jauh lebih mulia daripada tunduk terhadap AS dan Israel.

Bukan hanya masyarakat muslim, tapi masyarakat global rame-rame mengacungkan jempol atas keberanian Pemerintah Iran melawan hegemoni AS. Bahkan masyarakat AS sendiri sudah “sangat muak” hidup penuh dengan ketegangan dan peperangan. Masyarakat AS dan masyarakat dunia ingin hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.

Bagi bangsa AS dan Israel, Iran adalah anak haram. Perang narasi bergenderang sangat keras. AS dan Israel sepakat memberi label pelaku “teroris” dan “genosida” terhadap Iran secara massif ke dunia internasional. Itu provokasi pola lama yang dulu sangat ampuh menghancurkan negara-negara Islam seperti Libya, Irak dan Yaman.

Pemerintah Iran hanya tersenyum tenang menghadapi tuduhan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi : “Kami sedang diplomasi ingin damai, tapi tiba-tiba negara kami dihancurkan, pemimpin tertinggi kami meninggal dunia. Perang bukan dari kami, tapi mereka yang memulai. Apakah kami salah membela negara sendiri!?”.

Berita ini cepat viral. Semua masyarakat dunia  menyaksikan, bahwa fakta itu nyata. bahwa perang saat sekarang ini bukan dari Iran, tapi dari arogansi AS dan Israel yang menginginkan menguasai dunia dengan segala cara. Termasuk perang dengan memutarbalikan fakta.

Ini dibuktikan hasil survei. LSI dan dan SMRC, sebanyak 83,1% responden di Indonesia tidak setuju dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Reuters melakukan survei, sekitar 60% masyarakat AS menolak perang AS terhadap Iran. Survei Ipsos, 86 persen warga mengaku khawatir terhadap risiko yang dapat mengancam keselamatan personel militer jika operasi darat dilakukan. Kondisi ini mempertegas bahwa masyarakat tidak ingin keterlibatan militer lebih dalam.

Bagi sebagian umat Islam di Indonesia , Iran adalah anak tiri. Ada Islam Sunni tidak mengakui keimanan mereka. Perbedaan ideologi syi’ah dan sunni memang menjadi jurang pemisah yang sangat sulit disatukan. Tentu saja, masyarakat muslim yang masih belum memahami secara komprehensif tentang perjalanan sejarah dan politik yang sangat panjang ditubuh umat Islam. Saling salah dan saling serang.

Padahal, jika berbicara kesalahan politik tidak adil jika dituduhkan kepada syi’ah saja. Kematian cucu Nabi oleh Islam sunni pada masa Dinasti Umayyah sangat menyakitkan hati pecinta ahlu bait. Bagaimana mungkin mengharapkan syafa’at Nabi Muhammad sedangkan cucunya dibantai dengan sangaat kejam?.

Kenapa syi’ah sangat marah terhadap Khalifah Abu Bakar, Umar Bin Khatab dan Utsman bin Affan. Karena persoalan politik. Ketika Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib meminta bagian khumuz -seperlima- harta rampasan sebagai hak keluarga nabi tidak diberikan oleh Abu Bakar. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah umar dan utsman. Kedua-duanya tidak memberikan bagian khumuz kepada keluarga Ali bin Abi Thalib.

Kenapa saat Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah diserang oleh sayidah Aisyah -keluarga Abu Bakar- dan Muawiyyah -keluarga Utsman bin Affan?. Salah satunya karena persoalan politik keluarga.

Fakta sejarah pertikaian politik memang sudah mendarah daging di tubuh umat Islam. Kedua ideologi telah melahirkan pemikiran ideologi untuk memperkuat kebenaran masing-masing.

Kini, saya kira “tembok besar” perbedaan ideologi mulai cair. Hegemoni AS mulai goyah. Kepercayaan dunia internasional mulai lemah terhadap AS sebagai pelaku penguasa tunggal dunia. Iran telah menggugah semangat negara-negara baik timur maupun barat tentang kesetaraan derajat untuk membangun tatanan peradaban baru di era digital.  Peradaban tidak berdasarkan pada ketakutan dan ancaman. Iran telah mengajarkan tentang hakikat keberanian untuk berdiri tegak di negara sendiri tanpa campur tangan negara asing.

Kini, Iran yang dianggap sebagai anak haram atau anak tiri telah mengajarkan tentang konsep berpolitik, berbangsa dan bernegara yang bermartabat. Apakah bangsa-bangsa yang menganggap diri sebagai anak yang sah sudah menjadi negara dan bangsa bermartabat?.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   145

Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   848

Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   553

Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   552

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870