
Hari ini saya melihat diberbagai laman
media sosial rame-rame mendukung dan memuji keberanian pemerintah Iran melawan AS
dan Israel. Bukan karena syiah nya, tapi tumbuhnya budaya mandiri pemerintah
dan masyarakatnya dalam mengelola Sumber Daya Alam -SDA- dan Sumber Daya
Manusia-SDM. Negara mullah sangat percaya diri atas kemampuan sebagai bangsa
yang “ya’ulu wala yu’la ‘alaih”.
Ada beberapa youtube telah melihat beberapa
fakta yang belum pernah saya dengar dan lihat sebelumnya. Saya akan menampilkan
satu fakta nyata kisah duta besar Indonesia untuk Iran tahun 2012-2016 ,Dian
Wirengjurit berkata kurang lebih begini:
“Di Iran hingga detik ini tidak ada orang
miskin, orang minta-minta di jalan. Dari kota hingga kampung-kampung kebutuhan
dasar masyarakat terpenuhi seperti sandang, papan, sandang, pendidikan dan kesehatan.
Listrik dan air bayar. Tapi murah sekali”.
Ini data dari Dubes RI yang pernah kerja bertugas
di negara tersebut selama 4 tahun. Secara teori tentu sangat tidak logis tidak
ada orang miskin di negara tersebut.
Namun, saya hingga detik ini juga tidak menemukan youtube yang berisi masyarakat-masyarakat Iran membawa kaleng-kaleng bekas “ngemis” dan meminta bantuan. Selama 50 tahun, Iran di embargo ekonomi dan mata uang nya hancur lebur tidak menyebabkan inflasi dalam negeri. Dengan konsep “berdikari-berdiri di kaki sendiri-, Iran mempunyai kualitas SDM sejajar SDM barat. Meskipun pendidikan nya produk dalam negeri.
Menurut pakar politik ekonomi Ichsanuddin Noorsy, ada tiga kekuatan yang menyebabkan Iran tangguh menghadapi embargo ekonomi dan politik puluhan tahun dari AS, yaitu: kekuatan modal sosial, politik, dan ekonomi. Ketiga modal ini melahirkan modal kultural masyarakat Iran yang ikhlas mengorbankan jiwa dan harta untuk kepentingan kebesaran bangsa dan negara. Maka ketika ada perang saat sekarang ini, mereka tetap tenang. Mindset nya kematian membela negara nya jauh lebih mulia daripada tunduk terhadap AS dan Israel.
Bukan hanya masyarakat muslim, tapi masyarakat
global rame-rame mengacungkan jempol atas keberanian Pemerintah Iran melawan
hegemoni AS. Bahkan masyarakat AS sendiri sudah “sangat muak” hidup penuh
dengan ketegangan dan peperangan. Masyarakat AS dan masyarakat dunia ingin
hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.
Bagi bangsa AS dan Israel, Iran adalah anak
haram. Perang narasi bergenderang sangat keras. AS dan Israel sepakat memberi
label pelaku “teroris” dan “genosida” terhadap Iran secara massif ke dunia
internasional. Itu provokasi pola lama yang dulu sangat ampuh menghancurkan
negara-negara Islam seperti Libya, Irak dan Yaman.
Pemerintah Iran hanya tersenyum tenang menghadapi
tuduhan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi : “Kami sedang
diplomasi ingin damai, tapi tiba-tiba negara kami dihancurkan, pemimpin
tertinggi kami meninggal dunia. Perang bukan dari kami, tapi mereka yang
memulai. Apakah kami salah membela negara sendiri!?”.
Berita ini cepat viral. Semua masyarakat dunia
menyaksikan, bahwa fakta itu nyata. bahwa
perang saat sekarang ini bukan dari Iran, tapi dari arogansi AS dan Israel yang
menginginkan menguasai dunia dengan segala cara. Termasuk perang dengan
memutarbalikan fakta.
Ini dibuktikan hasil survei. LSI dan dan SMRC, sebanyak 83,1% responden di Indonesia tidak setuju dengan
serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Reuters melakukan survei, sekitar 60% masyarakat
AS menolak perang AS terhadap Iran. Survei Ipsos, 86 persen warga mengaku khawatir terhadap risiko yang dapat
mengancam keselamatan personel militer jika operasi darat dilakukan. Kondisi
ini mempertegas bahwa masyarakat tidak ingin keterlibatan militer lebih dalam.
Bagi sebagian umat Islam di Indonesia , Iran
adalah anak tiri. Ada Islam Sunni tidak mengakui keimanan mereka. Perbedaan
ideologi syi’ah dan sunni memang menjadi jurang pemisah yang sangat sulit disatukan.
Tentu saja, masyarakat muslim yang masih belum memahami secara komprehensif
tentang perjalanan sejarah dan politik yang sangat panjang ditubuh umat Islam. Saling
salah dan saling serang.
Padahal, jika berbicara kesalahan politik
tidak adil jika dituduhkan kepada syi’ah saja. Kematian cucu Nabi oleh Islam
sunni pada masa Dinasti Umayyah sangat menyakitkan hati pecinta ahlu bait. Bagaimana
mungkin mengharapkan syafa’at Nabi Muhammad sedangkan cucunya dibantai dengan
sangaat kejam?.
Kenapa syi’ah sangat marah terhadap Khalifah
Abu Bakar, Umar Bin Khatab dan Utsman bin Affan. Karena persoalan politik. Ketika
Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib meminta bagian khumuz -seperlima- harta
rampasan sebagai hak keluarga nabi tidak diberikan oleh Abu Bakar. Hal yang
sama juga dilakukan oleh pemerintah umar dan utsman. Kedua-duanya tidak
memberikan bagian khumuz kepada keluarga Ali bin Abi Thalib.
Kenapa saat Ali bin Abi Thalib menjadi
khalifah diserang oleh sayidah Aisyah -keluarga Abu Bakar- dan Muawiyyah
-keluarga Utsman bin Affan?. Salah satunya karena persoalan politik keluarga.
Fakta sejarah pertikaian politik memang sudah
mendarah daging di tubuh umat Islam. Kedua ideologi telah melahirkan pemikiran
ideologi untuk memperkuat kebenaran masing-masing.
Kini, saya kira “tembok besar” perbedaan
ideologi mulai cair. Hegemoni AS mulai goyah. Kepercayaan dunia internasional
mulai lemah terhadap AS sebagai pelaku penguasa tunggal dunia. Iran telah
menggugah semangat negara-negara baik timur maupun barat tentang kesetaraan
derajat untuk membangun tatanan peradaban baru di era digital. Peradaban tidak berdasarkan pada ketakutan dan
ancaman. Iran telah mengajarkan tentang hakikat keberanian untuk berdiri tegak
di negara sendiri tanpa campur tangan negara asing.
Kini, Iran yang dianggap sebagai anak haram
atau anak tiri telah mengajarkan tentang konsep berpolitik, berbangsa dan
bernegara yang bermartabat. Apakah bangsa-bangsa yang menganggap diri sebagai
anak yang sah sudah menjadi negara dan bangsa bermartabat?.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   145
Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228
Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   848
Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   553
Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   552
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870