
Sebenarnya saya kurang suka olah raga sepak
bola. Trauma. Padahal dulu saat masih kecil termasuk gibol (gila bola).
Posisi ku selalu jadi Penjaga Gawang. Padahal badanku paling pendek. Kurus. Pertimbangan
bukan professional, tapi gara-gara lariku paling lambat. Penjaga gawang jadi
"jabatan kering". Kurang bergengsi. Tapi beresiko. Ketika tim menang,
pencetak gol dapat bonus, ketika kalah penjaga gawang langsung dapat semprotan
dari suporter.
Namun alasan paling rasional pensiun dari
sepak bola karena “ketendang” dan lawan
berbadan besar. Otot nya benar-benar “otot kawat”, “tulang” kaki nya
benar-benar “balung wesi”. Semenjak itu, saya taubatan nasuha di
bidang sepak bola. Ganti main catur. Saya selalu juara dua dari lawan ku.
Pengaruh sepak bola sangat terasa. Ketika
tim-11 Garuda tarung dengan Bahrain,saya
tidak nonton. Saya hanya dapat "meme" wasit botak pasca
bermain draw. Katanya curang. Macam-macam bentuk nya di medsos.
Lucu-lucu. Ada juga yang menyebalkan dan bikin emosi. Netizen kita sangat
kreatif jika membuat "meme" yang menyebalkan.
Berbeda saat bermain dengan Cina. Sampai
pagi ini,saya belum melihat "meme" netizen saat tadi malam timnas
kita ditekuk oleh Cina. Netizen kadang berfikir rasional melihat lawan. Atau mungkin
masih dongkol kelaku Rocky Gerung soal "naturalisasi" pemain. Jangan-jangan
gara-gara rocky, pemain jadi “lemes” ketika lawan Cina. Wajah timnas Cina
natural sekali, wajah timnas Indonesia naturalisasi sekali. Tapi….apapun
namanya, netizen telah mensuport sangat besar. Iingin timnas menang dan
rangking FIFA semakin istiqomah,semakin hari rangking semakin naik. Itulah
cinta, gula jawa rasa coklat.
Netizen paham. Timnas Cina lebih hebat.
Pembinaan nya sudah sangat mapan dan sangat profesional. Sudah tidak ada lagi
cawe-cawe politik. Ia sudah benar-benar
menerapkan politik kebangsaan,bukan politik praktis. Siapapun yang duduk
dikemenpora dan turunannya hanya bicara sukses berbasis nasionalisme. Siapapun
orang nya dan dari manapun orang nya. Mampu lanjut. Tidak mampu,sadar diri dengan
gentleman mengundurkan diri.
Tulisan ini tidak terlalu jauh membahas manajerial per-sepak bola-an. Saya
hanya melihat dari jarak jauh ketika Erick Tohir memimpin PSSI. Insting ku
menyakini ia mampu melakukan perubahan. Dulu sudah saya tulis tentang masa
depan sepak bola bersama Erick. Dan hasil sepak bola sekarang sedikit dari
prediksiku saat itu. Bagaimana nasib selanjutnya, waktu yang membuktikan.
Olah raga sepak bola bukan sebatas olah
raga biasa. Ia telah berubah menjadi jati diri bangsa dan negara. Meskipun
hanya berjumlah kesebelasan yang jumlah nya hanya sebelah, tapi ia mempunyai
magnet menyatukan seluruh masyarakat internasional. Sepakbola menjadi juru diplomasi
tingkat dunia. Antar negara bisa perang karena sepakbola, juga bisa merintis
perdamaian dunia melalui sepakbola.
Saya masih ingat drama penolakan timnas
Israel U-20 2023 main di Indonesia. Sepakbola mengalahkan alasan nasionalisme. Saat
ada tokoh nasional menolak timnas Israel atas dasar nasionalisme langsung
dirujak netizen. Padahal, melarang timnas Israel bagian dari wujud nasionalisme
dan menolak imperialisme dan kolonialisme modern. Semua negara Islam sudah
mahfum perilaku Israel. Peristiwa pembantaian rakyat Palestina oleh Israel
tidak dibenarkan sama sekali. Netizen tak peduli. Baginya, sepakbola punya cara
tersendiri dalam memaknai nasionalisme, bela negara dan sejenisnya. Melarang
timnas Israel, berarti telah mempersempit makna nasionalis mereka. Itu
sebabnya, mereka menyerang dan membombardir tokoh sekaligus partai nya. Itulah
madzhab atau paham para pecinta sepak bola.
Walhasil dari sini,saya bisa mengambil
hikmah nya bahwa memperbaiki pesepakbola menjadi sangat penting. Ia jadi bagian
wajah garda depan bangsa Indonesia di masyarakat dunia. Sudah saat nya pemerintah melakukan perawatan
nya agar terlihat glowing. Butuh modal dan keseriusan tingkat dewa.
Saya hanya ingin melihat dan
menunggu-nunggu langkah pemerintah mendatang teknik meng-glowing-kan wajah
sepak bola Indonesia,yang cantik dan sehat. Sebab saya lihat saat ini,ada wajah
glowing tapi implikasi kedepan merusak wajah jadi menghitam. Semoga sepak bola
baik-baik saja dan semakin baik-baik saja.
Penulis : Imam Ghozali
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112
Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207
Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   821
Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   522
Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   330
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355