Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Madzhab Sepak Bola



Rabu , 16 Oktober 2024



Telah dibaca :  541

Sebenarnya saya kurang suka olah raga sepak bola. Trauma. Padahal dulu saat masih kecil termasuk gibol (gila bola). Posisi ku selalu jadi Penjaga Gawang. Padahal badanku paling pendek. Kurus. Pertimbangan bukan professional, tapi gara-gara lariku paling lambat. Penjaga gawang jadi "jabatan kering". Kurang bergengsi. Tapi beresiko. Ketika tim menang, pencetak gol dapat bonus, ketika kalah penjaga gawang langsung dapat semprotan dari suporter.

Namun alasan paling rasional pensiun dari sepak bola karena “ketendang” dan  lawan berbadan besar. Otot nya benar-benar “otot kawat”, “tulang” kaki nya benar-benar “balung wesi”. Semenjak itu, saya taubatan nasuha di bidang sepak bola. Ganti main catur. Saya selalu juara dua dari lawan ku.

Pengaruh sepak bola sangat terasa. Ketika tim-11 Garuda  tarung dengan Bahrain,saya tidak nonton. Saya hanya dapat "meme" wasit botak pasca bermain draw. Katanya curang. Macam-macam bentuk nya di medsos. Lucu-lucu. Ada juga yang menyebalkan dan bikin emosi. Netizen kita sangat kreatif jika membuat "meme" yang menyebalkan.

Berbeda saat bermain dengan Cina. Sampai pagi ini,saya belum melihat "meme" netizen saat tadi malam timnas kita ditekuk oleh Cina. Netizen kadang berfikir rasional melihat lawan. Atau mungkin masih dongkol kelaku Rocky Gerung soal "naturalisasi" pemain. Jangan-jangan gara-gara rocky, pemain jadi “lemes” ketika lawan Cina. Wajah timnas Cina natural sekali, wajah timnas Indonesia naturalisasi sekali. Tapi….apapun namanya, netizen telah mensuport sangat besar. Iingin timnas menang dan rangking FIFA semakin istiqomah,semakin hari rangking semakin naik. Itulah cinta, gula jawa rasa coklat.

Netizen paham. Timnas Cina lebih hebat. Pembinaan nya sudah sangat mapan dan sangat profesional. Sudah tidak ada lagi cawe-cawe politik.  Ia sudah benar-benar menerapkan politik kebangsaan,bukan politik praktis. Siapapun yang duduk dikemenpora dan turunannya hanya bicara sukses berbasis nasionalisme. Siapapun orang nya dan dari manapun orang nya. Mampu lanjut. Tidak mampu,sadar diri dengan gentleman mengundurkan diri.

Tulisan ini tidak terlalu jauh  membahas manajerial per-sepak bola-an. Saya hanya melihat dari jarak jauh ketika Erick Tohir memimpin PSSI. Insting ku menyakini ia mampu melakukan perubahan. Dulu sudah saya tulis tentang masa depan sepak bola bersama Erick. Dan hasil sepak bola sekarang sedikit dari prediksiku saat itu. Bagaimana nasib selanjutnya, waktu yang membuktikan.

Olah raga sepak bola bukan sebatas olah raga biasa. Ia telah berubah menjadi jati diri bangsa dan negara. Meskipun hanya berjumlah kesebelasan yang jumlah nya hanya sebelah, tapi ia mempunyai magnet menyatukan seluruh masyarakat internasional. Sepakbola menjadi juru diplomasi tingkat dunia. Antar negara bisa perang karena sepakbola, juga bisa merintis perdamaian dunia melalui sepakbola.

Saya masih ingat drama penolakan timnas Israel U-20 2023 main di Indonesia. Sepakbola mengalahkan alasan nasionalisme. Saat ada tokoh nasional menolak timnas Israel atas dasar nasionalisme langsung dirujak netizen. Padahal, melarang timnas Israel bagian dari wujud nasionalisme dan menolak imperialisme dan kolonialisme modern. Semua negara Islam sudah mahfum perilaku Israel. Peristiwa pembantaian rakyat Palestina oleh Israel tidak dibenarkan sama sekali. Netizen tak peduli. Baginya, sepakbola punya cara tersendiri dalam memaknai nasionalisme, bela negara dan sejenisnya. Melarang timnas Israel, berarti telah mempersempit makna nasionalis mereka. Itu sebabnya, mereka menyerang dan membombardir tokoh sekaligus partai nya. Itulah madzhab atau paham para pecinta sepak bola.

Walhasil dari sini,saya bisa mengambil hikmah nya bahwa memperbaiki pesepakbola menjadi sangat penting. Ia jadi bagian wajah garda depan bangsa Indonesia di masyarakat dunia.  Sudah saat nya pemerintah melakukan perawatan nya agar terlihat glowing. Butuh modal dan keseriusan tingkat dewa.

Saya hanya ingin melihat dan menunggu-nunggu langkah pemerintah mendatang teknik meng-glowing-kan wajah sepak bola Indonesia,yang cantik dan sehat. Sebab saya lihat saat ini,ada wajah glowing tapi implikasi kedepan merusak wajah jadi menghitam. Semoga sepak bola baik-baik saja dan semakin baik-baik saja.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112

Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   821

Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   522

Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   330

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355