
Isra’ mi’raj merupakan perjalanan dhohiran
dan batinan kanjeng Nabi Muhammad saw. Ia perlu diperingati agar simbol-simbol
budaya Islam tidak hilang di masyarakat. Peringatan Isra’ Mi’raj seperti
peringatan-peringatan keagamaan lain seperti Maulid Nabi, Nuzul Qur’an, Tahun Baru Hijrah, Idul Fitri dan Idul Adha adalah
simbol-simbol budaya. Jika kita tidak merawatnya, maka simbol-simbol tersebut hilang
dan akan muncul simbol-simbol budaya yang tidak Islami. Itu sebabnya,
orang-orang yang antipati terhadap peringatan-peringatan keagamaan sebenarnya
sedang meruntuhkan simbol-simbol budaya Islam di masjid, mushola, tempat pendidikan,
perkantoran dan lain-lain. Jika semua hilang, maka kita akan melihat kreasi-kreasi
manusia tanpa nilai agama akan bermunculan dengan sangat leluasa. Generasi Islam
akan menjadi miskin budaya. Akhirnya mau tidak mau ikut budaya orang lain yang
tidak Islami.
Kreasi manusia selalu bermunculan. Itu yang
disebut budaya. Manusia tidak bisa hilang dari budaya. Manusia makhluk
berbudaya [insan hayawanu natiq]. Bahkan agama itu sendiri bisa berjalan karena
ada media budaya. Ada Masjid, Mushola, Baju, Sajadah, Rumah, Pesawat Terbang merupakan
hasil budaya yang membantu kesempurnaan sholat. Kita bisa membayangkan sholat tanpa
baju tanpa masjid dan mushola atau tempat ibadah. Maka sholat menjadi
kehilangan ruh nya. Padahal sholat mempunyai tujuan menciptakan kemulyaan
manusia. Karena kebencian terhadap budaya, maka tidak ada baju dan hal-hal yang
menutup aurat. Dari sini kita memahami bahwa agama dan budaya tidak bisa dipisahkan
dari aspek syariat dan hukum sosial.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Hud ([ 11
]:114) sebagai berikut:
“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi
siang (pagi dan petang) dan pada bahagiaan permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”.
Allah telah memerintahkan agar setiap
muslim melaksanakan sholat. Setelah memerintah, allah juga memberi penjelasan
bahwa perbuatan-perbuatan baik menjadi penghapus dosa. Makna perbuatan baik
tidak lepas dari aktivitas manusia yang sangat luas. Ia menjangkau beragam
suku, etnis, agama dan budaya. Hubungan sosial beragam akan melahirkan beragam
budaya tingkah laku, produk dan hasil-hasil nilai-nilai kebaikan yang
disepakati bersama. Nilai-nilai kebaikan masyarakat Indonesia berbeda dengan Cina,
Thailand, Korea dan AS. Mereka menganggap baik dan biasa saja ketika ada
orang-orang memakai baju model mereka. Itulah nilai kebaikan versi mereka.
Indonesia
menganut budaya timur yang lebih tertutup menjaga seluruh tubuh terlihat dari
orang-orang yang bukan muhrim nya. Lalu muncul jenis beragam desain baju yang
mempunyai standar tersebut. Akhirnnya tercipta produk budaya berupa baju
sebagai manifestasi pemahaman firman-firman Allah dalam al-qur’an dan
hadist-hadist nabi. Produk budaya itu, bagian dari tafsir ulama dan ilmuwan
islam yang melahirkan budaya tersendiri. Wajar jika bentuk baju berbeda dari
satu bangsa ke bangsa lain, suku ke suku lain, daerah ke daerah lain.
Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat ([49]:
13) sebagai berikut:
“Wahai manusia, sesungguhnya kami telah
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Teliti”.
Ayat tersebut menunjukan bahwa allah telah
mendesain hukum sejarah peradaban manusia. keberagaman geografis daerah dan
penghuninya telah melahirkan cara berbicara, menulis, beraktivitas dan
pemahaman-pemahaman terhadap teks-teks al-qur’an dan hadist. Itulah wujud
budaya. Ada daerah sangat dingin melahirkan desain baju sangat tebal berbeda
dengan daerah tandus yang penuh debu seperti di derah gurun padang pasir. Orang
Indonesia menggunakan budaya Indonesia ketika ingin sholat di daerah kutub
utara dengan hanya memakai sarung dan baju seperti yang sering kita lihat, maka
ia akan mengalami beragam penyakit demam berat, membeku dan lebih dekat kepada
kematian. Mau tidak mau, orang Indonesia harus menyesuaikan budaya baju daerah
kutub untuk menjaga jiwa. Ketika sholat mengabaikan keselamatan jiwa,justru
bertentangan dengan ajaran islam itu sendiri. sebab salah satu tujuan agama
dilahirkan ke dunia yaitu menjaga jiwa [hifdz an-nafs].
Ketika pemahaman agama sebatas pada ritual
dalam pengertian sempit, maka pikiran kita akan terdoktrin dalam alam bawah
sadar hanya sebatas melihat syariat hitam-putih, halal dan haram. Akhirnya terjadi
pemahaman yang sangat pendekat dengan kalimat pendek tapi bermasalah “Jika
tidak ada dalam al-qur’an dan hadist maka tinggalkan”. Kita tidak mungkin
memutar praktik agama persis pada masa nabi dengan zakat pakai gandum dan
kurma. Kita juga tidak mungkin memakai baju model nabi saat tinggal di daerah dingin.
Kita juga tidak mungkin haji atau umrah dengan berjalan kaki atau kendaraan kuda
atau unta. Kita harus menerima kendaraan singa (lion) dan kendaraan garuda. Sebab
kendaraan kuda dan onta tidak bisa digunakan di Indonesia. Kekakuan terhadap teks-teks
agama akan menjadi agama terlihat sempit, kaku dan tidak responsif terhadap fenomena
masyarakat.
Penulis tentu saja berprasangka baik. Semangat
para ahli ibadah agar melaksanakan agama secara kaffah sesuai dengan teks-teks
kitab suci merupakan semangat yang sangat luarbiasa.
Namun persoalannya pada saat mereka
berbicara tentang teks-teks kitab suci, mereka juga memberi penjelasan tentang
ayat-ayat dan hadist-hadist menurut versi mereka. Cara seperti ini juga sudah
melakukan tafsir versi kelompok tersebut. sebab segala ayat kitab suci yang
diucapkan oleh manusia adalah tafsir. Yang tahu makna kitab suci tentu hanya Allah
SWT. Manusia hanya menafsiri pemahaman ayat yang belum tentu sesuai dengan
keinginan Allah SWT. Bahkan pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf adalah
bentuk budaya yang ada sebelum Islam turun yaitu budaya orang-orang Romawi, Persia,
Yunani dan Cina. Wajar jika Abu Bakar menolaknya. Tapi Umar bin Khatab melakukan
revolusi budaya dengan bersikukuh melakukan kodifikasi Kitab Suci Al-Qur’an. Sebab
manfaat nya jauh lebih besar madzaratnya.
Jadi belajar dari Umar bin Khatab sebenarnya
revolusi budaya para ulama dengan membuat kegiatan seperti Isra Mi’raj, Maulid
Nabi, Peringatan Tahun Baru Hijrah adalah jalan untuk memperkuat ajaran Islam
itu sendiri meskipun tidak ada pada masa nabi. Semua kegiatan tersebut tentu
saja sudah melakukan kajian yang sangat mendalam dalam sisi syariat dan
kemanfaatannya.
Hanya saja, sebagian orang-orang [sekarang ini
]mencoba meluruskan agama dengan mencoba meruntuhkan budaya-budaya Islam atas
dasar argument “Tidak ada dalam ajaran Islam” sebenarnya wujud dari cara
menghilangkan mahabah ajaran Islam dari hati masyarakat muslim. Pemahaman yang
menurut mereka benar, tapi sebenarnya salah dilihat dari beragam aspek baik
ajaran agama, sosial-budaya, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Lebih bahaya
dalam waktu tertentu akan terjadi benturan-benturan pemahaman yang bisa
melahirkan konflik horizontal di masyarakat. Tidak suka boleh, tapi
mengharamkan dan menganggap sesat adalah urusan keimanan. Disini masalahnya. Disini
yang bisa menjadi sumber konflik.
Dari pandangan penulis di atas, merawat
budaya-budaya Islam dalam wujud peringatan-peringatan hari-hari besar Islam bagian
dari revolusi budaya yang sangat berlian dari para ulama terdahulu dan seharusnya
tetap dilestarikan oleh generasi Islam.
Penulis : Imam Ghozali
???? We send a gift from unknown user. Withdrаw =>
2ic6tc
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112
Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   542
Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   523
Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   331
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355