Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya



Senin , 27 Januari 2025



Telah dibaca :  821

Isra’ mi’raj merupakan perjalanan dhohiran dan batinan kanjeng Nabi Muhammad saw. Ia perlu diperingati agar simbol-simbol budaya Islam tidak hilang di masyarakat. Peringatan Isra’ Mi’raj seperti peringatan-peringatan keagamaan lain seperti Maulid Nabi, Nuzul Qur’an,  Tahun Baru Hijrah, Idul Fitri dan Idul Adha adalah simbol-simbol budaya. Jika kita tidak merawatnya, maka simbol-simbol tersebut hilang dan akan muncul simbol-simbol budaya yang tidak Islami. Itu sebabnya, orang-orang yang antipati terhadap peringatan-peringatan keagamaan sebenarnya sedang meruntuhkan simbol-simbol budaya Islam di masjid, mushola, tempat pendidikan, perkantoran dan lain-lain. Jika semua hilang, maka kita akan melihat kreasi-kreasi manusia tanpa nilai agama akan bermunculan dengan sangat leluasa. Generasi Islam akan menjadi miskin budaya. Akhirnya mau tidak mau ikut budaya orang lain yang tidak Islami.

Kreasi manusia selalu bermunculan. Itu yang disebut budaya. Manusia tidak bisa hilang dari budaya. Manusia makhluk berbudaya [insan hayawanu natiq]. Bahkan agama itu sendiri bisa berjalan karena ada media budaya. Ada Masjid, Mushola, Baju, Sajadah, Rumah, Pesawat Terbang merupakan hasil budaya yang membantu kesempurnaan sholat. Kita bisa membayangkan sholat tanpa baju tanpa masjid dan mushola atau tempat ibadah. Maka sholat menjadi kehilangan ruh nya. Padahal sholat mempunyai tujuan menciptakan kemulyaan manusia. Karena kebencian terhadap budaya, maka tidak ada baju dan hal-hal yang menutup aurat. Dari sini kita memahami bahwa agama dan budaya tidak bisa dipisahkan dari aspek syariat dan hukum sosial.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Hud ([ 11 ]:114) sebagai berikut:

“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagiaan permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”.

Allah telah memerintahkan agar setiap muslim melaksanakan sholat. Setelah memerintah, allah juga memberi penjelasan bahwa perbuatan-perbuatan baik menjadi penghapus dosa. Makna perbuatan baik tidak lepas dari aktivitas manusia yang sangat luas. Ia menjangkau beragam suku, etnis, agama dan budaya. Hubungan sosial beragam akan melahirkan beragam budaya tingkah laku, produk dan hasil-hasil nilai-nilai kebaikan yang disepakati bersama. Nilai-nilai kebaikan masyarakat Indonesia berbeda dengan Cina, Thailand, Korea dan AS. Mereka menganggap baik dan biasa saja ketika ada orang-orang memakai baju model mereka. Itulah nilai kebaikan versi mereka.

 Indonesia menganut budaya timur yang lebih tertutup menjaga seluruh tubuh terlihat dari orang-orang yang bukan muhrim nya. Lalu muncul jenis beragam desain baju yang mempunyai standar tersebut. Akhirnnya tercipta produk budaya berupa baju sebagai manifestasi pemahaman firman-firman Allah dalam al-qur’an dan hadist-hadist nabi. Produk budaya itu, bagian dari tafsir ulama dan ilmuwan islam yang melahirkan budaya tersendiri. Wajar jika bentuk baju berbeda dari satu bangsa ke bangsa lain, suku ke suku lain, daerah ke daerah lain.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat ([49]: 13) sebagai berikut:

“Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Teliti”.

Ayat tersebut menunjukan bahwa allah telah mendesain hukum sejarah peradaban manusia. keberagaman geografis daerah dan penghuninya telah melahirkan cara berbicara, menulis, beraktivitas dan pemahaman-pemahaman terhadap teks-teks al-qur’an dan hadist. Itulah wujud budaya. Ada daerah sangat dingin melahirkan desain baju sangat tebal berbeda dengan daerah tandus yang penuh debu seperti di derah gurun padang pasir. Orang Indonesia menggunakan budaya Indonesia ketika ingin sholat di daerah kutub utara dengan hanya memakai sarung dan baju seperti yang sering kita lihat, maka ia akan mengalami beragam penyakit demam berat, membeku dan lebih dekat kepada kematian. Mau tidak mau, orang Indonesia harus menyesuaikan budaya baju daerah kutub untuk menjaga jiwa. Ketika sholat mengabaikan keselamatan jiwa,justru bertentangan dengan ajaran islam itu sendiri. sebab salah satu tujuan agama dilahirkan ke dunia yaitu menjaga jiwa [hifdz an-nafs].

Ketika pemahaman agama sebatas pada ritual dalam pengertian sempit, maka pikiran kita akan terdoktrin dalam alam bawah sadar hanya sebatas melihat syariat hitam-putih, halal dan haram. Akhirnya terjadi pemahaman yang sangat pendekat dengan kalimat pendek tapi bermasalah “Jika tidak ada dalam al-qur’an dan hadist maka tinggalkan”. Kita tidak mungkin memutar praktik agama persis pada masa nabi dengan zakat pakai gandum dan kurma. Kita juga tidak mungkin memakai baju model nabi saat tinggal di daerah dingin. Kita juga tidak mungkin haji atau umrah dengan berjalan kaki atau kendaraan kuda atau unta. Kita harus menerima kendaraan singa (lion) dan kendaraan garuda. Sebab kendaraan kuda dan onta tidak bisa digunakan di Indonesia. Kekakuan terhadap teks-teks agama akan menjadi agama terlihat sempit, kaku dan tidak responsif terhadap fenomena masyarakat.

Penulis tentu saja berprasangka baik. Semangat para ahli ibadah agar melaksanakan agama secara kaffah sesuai dengan teks-teks kitab suci merupakan semangat yang sangat luarbiasa.

Namun persoalannya pada saat mereka berbicara tentang teks-teks kitab suci, mereka juga memberi penjelasan tentang ayat-ayat dan hadist-hadist menurut versi mereka. Cara seperti ini juga sudah melakukan tafsir versi kelompok tersebut. sebab segala ayat kitab suci yang diucapkan oleh manusia adalah tafsir. Yang tahu makna kitab suci tentu hanya Allah SWT. Manusia hanya menafsiri pemahaman ayat yang belum tentu sesuai dengan keinginan Allah SWT. Bahkan pengumpulan Al-Qur’an menjadi satu mushaf adalah bentuk budaya yang ada sebelum Islam turun yaitu budaya orang-orang Romawi, Persia, Yunani dan Cina. Wajar jika Abu Bakar menolaknya. Tapi Umar bin Khatab melakukan revolusi budaya dengan bersikukuh melakukan kodifikasi Kitab Suci Al-Qur’an. Sebab manfaat nya jauh lebih besar madzaratnya.

Jadi belajar dari Umar bin Khatab sebenarnya revolusi budaya para ulama dengan membuat kegiatan seperti Isra Mi’raj, Maulid Nabi, Peringatan Tahun Baru Hijrah adalah jalan untuk memperkuat ajaran Islam itu sendiri meskipun tidak ada pada masa nabi. Semua kegiatan tersebut tentu saja sudah melakukan kajian yang sangat mendalam dalam sisi syariat dan kemanfaatannya.

Hanya saja, sebagian orang-orang [sekarang ini ]mencoba meluruskan agama dengan mencoba meruntuhkan budaya-budaya Islam atas dasar argument “Tidak ada dalam ajaran Islam” sebenarnya wujud dari cara menghilangkan mahabah ajaran Islam dari hati masyarakat muslim. Pemahaman yang menurut mereka benar, tapi sebenarnya salah dilihat dari beragam aspek baik ajaran agama, sosial-budaya, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Lebih bahaya dalam waktu tertentu akan terjadi benturan-benturan pemahaman yang bisa melahirkan konflik horizontal di masyarakat. Tidak suka boleh, tapi mengharamkan dan menganggap sesat adalah urusan keimanan. Disini masalahnya. Disini yang bisa menjadi sumber konflik.

Dari pandangan penulis di atas, merawat budaya-budaya Islam dalam wujud peringatan-peringatan hari-hari besar Islam bagian dari revolusi budaya yang sangat berlian dari para ulama terdahulu dan seharusnya tetap dilestarikan oleh generasi Islam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? We send a gift from unknown user. Withdrаw =>

2ic6tc

   Berita Terkait

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   112

Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   542

Makna Pancasila Menurut Banser di Daerah 3T
02 Oktober 2023   Oleh : Imam Ghozali   523

Kearifan Lokal Pengendali Kenakalan Remaja
17 Februari 2023   Oleh : Reno Firdaus, S.T,M.Si   331

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355