Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

372 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mendengar Suara Rakyat



Selasa , 21 Juli 2026



Telah dibaca :  58

Hari ini saya benar-benar menjadi orang yang sangat sholeh. Baik sekali. Sebab hari ini saya bisa menerapkan sebagai “manusia tawadhu”. Salah satu bentuk ketawadhuaan ku yaitu mendengar suara warga negara ku di rapat siang hari ini dengan sangat serius.

Teman-teman prodi sangat aktif bertanya dan berpendapat. Ada saudara Afdal dari prodi HTN, ada Rino dari PBsy, ada Asfar dari HKI dan ada Firdaus dari Mksy serta Sandi dari Ekonomi Syariah. Mereka sangat aktif memberi masukan konstruktif.

Bertambah seru diskusi siang ini yaitu pendapat dari bu Nadia Faiqa-Kasubag Umum-dan Eka-staf. Sangat menarik. Tradisi mengelola perbedaan ternyata sangat indah sekali. Saya membiarkan mereka berpendapat. Tapi saya juga wasit, harus adil. Tidak boleh terlalu condong salah satu klub-yang katanya ini terjadi di Piala Dunia. Saya benar-benar menerapkan mizan dan al-qistu.

Lagi seru-serunya rapat, tiba-tiba ada Hamba Allah memberi kami makanan Pizza. Masih sangat hangat. Jadi, rapat kali ini sangat istimewa. Biasanya rapat di fakultas minum air putih, kadang ada hamba Allah yang membelikan gorengan atau nasi bungkus. Kini ada yang memberikan kueh Pizza. Kebaikan yang sangat sulit dihilangkan. Setiap kebaikan selalu dicatat dalam kebaikan, meskipun terkadang orang menimbunnya dengan keburukan. Kebaikan akan selalu bersinar di tengah-tengah kegelapan. Hanya orang-orang yang mengerti makna kebaikan sejati, yang bisa merasakan kebaikan itu sendiri.

Mas Rino dari PBSy kirim WA di grup. Katanya: “Apakah jadi rapat jam 13.30. nanti kita rapat dengan LPM jam 15.00”.

Saya jawab singkat: “Jadi !”.

Jawabanku mungkin masih meragukan bagi yang membacanya. Tapi saya yakinkan kepada mereka bahwa saya akan menggunakan waktu se-efektif mungkin untuk rapat. Saya harus langsung memimpin, mengatur dan memutuskan.

Walhasil rapat rencana jam 13.30, jam 13.40 mulai. Selesai jam 14.20. Masih ada sisa waktu 40 menit. Peserta rapat menggunakan sisa waktu untuk ngobrol bebas sambil menikmati Pizza.

Hasilnya, subhanallah. Prodi, kasubag dan staf sama-sama bahagia. Saya pun sangat bahagia, bukan karena hasil keputusannya, tapi karena saya mendapatkan Pizza.


Apakah ada masalah sangat sulit diselesaikan. Saya kira, setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik, meskipun tidak sempurna. Bagiku, masalah yang diselesaikan dengan musyawarah meskipun kurang baik tapi itulah bentuk kesempurnaan. Tidak ada manusia yang sempurna karena seorang diri. Kesempurnaan dalam kehidupan sosial adalah kebersamaan mengurai persoalan. Tim Sepak Bola Spanyol bisa juara bukan dari satu orang, tapi satu grup yang bekerjasama untuk mengukir prestasi.

Itu sebabnya ketika peserta rapat selalu berfikir negatif dan ada rasa ketakutan tentang beban kerja yang menumpuk, saya katakan dengan tegas: “Tidak ada beban yang berat jika kita sama-sama bekerja”.

Kalimat tersebut terlihat sangat ekstrem dan ironis di suatu komunitas yang belum terbiasa pola hidup mudzakarah dan musyawarah. Kalimat tersebut tentu sangat asing bagi komunitas yang masih membiasakan diri bermujadalah.

Itu sebabnya saya mencoba menekankan kepada tim bahwa kita disini tidak ada yang paling super dan tidak ada yang paling hebat dan tidak ada yang paling bodoh. Semua nya mempunyai kesempatan sama untuk menyampaikan segala pendapatnya. Lalu notulen mencatat, dan kemudian saya harus menginventarisir point-point penting dari seluruh pendapat tersebut menjadi satu-kesatuan jawaban.


Di hampir setiap kesempatan rapat, saya selalu menyisipkan kata-kata yang menurut ku itu benar, yaitu : “Sahabat-sahabat ku, jika di suatu komunitas sistem administrasi belum sempurna, maka jawaban yang paling ideal Adalah musyawarah. Jika musyawarah ditinggalkan, maka akan tumbuh prasangkan-prasangka yang tidak mendasar. Akhirnya muncul berbagai fitnah dan selalu saja muncul merasa paling benar dan paling hebat”.

Mungkin kalimat tersebut salah. Tapi saya melihat teman-teman yang saya ajak diskusi atau musawarah memahami dan menganggut-manggutkan kepala. Saya tidak tahu apakah karena sikap tersebut karena pertanda paham, atau ngantuk atau takut saya lempar pakai sandal kurang tahu.

Namun apapun yang saya lakukan dalam diskusi, saya selalu memasang niat:”Semoga ini bagian dari ibadah yang diterima oleh Allah SWT,Amin”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Harga Sepiring Lempeng
19 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   305

Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   396

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   188

Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   281

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   881

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14056


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5108


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5026


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3769