Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

359 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Harga Sepiring Lempeng



Jumat , 19 Juni 2026



Telah dibaca :  90

Sebelum menulis lebih lanjut, saya jelaskan dulu kata ‘Lempeng’ pada judul tulisan ini. Jika kamu membaca ‘Lempeng’ dengan huruf ‘E’ nya seperti membaca kata ‘Tempe”, itu artinya makanan terbuat dari Tepung Sagu yang dipanggang dengan Wadah Tanah Liat atau Wajan atau alat khusus, sehingga lapisan luar menyerupai Kerak Nasi.

Sedangkan ‘lempeng’ dengan huruf ‘E’ nya seperti membaca kata ‘Pecel’, mempunyai arti lurus. Kata ini berasal dari Bahasa jawa. Jika ada kalimat begini: “bapak itu hidup nya kok lempeng banget”, arti hidup lurus-lurus saja, tidak aneh-aneh.

Judul “Harga Sepiring Lempeng”, artinya Lempeng yang membacanya seperti kata ‘Tempe’. Makanan khas daerah Riau -wabilkhusus-daerah Kepulauan Kepulauan Meranti dan kabupaten sekitarnya. Seperti kabupaten Bengkalis dan Siak.

Lempeng berbahan tepung sagu ini sangat cocok bagi orang-orang yang terkena penyakit gula.  Ia lebih aman ketimbang nasi putih. Sebab sagu lebih lambat diubah menjadi glukosa. Itu sebabnya, beberapa Asesor Akreditasi yang mempunyai riwayat penyakit gula sangat senang makan terbuat dari sagu, baik Tepung Sagu maupun Mie Sagu. Sudah beberapa kali saya menemani mereka makan lempeng atau Mie Sagu. Kata mereka: enak, gurih dan menyehatkan.

Lempeng Sagu terdengar seperti makanan Wong Ndeso. Makanan zaman Majapahit. Kurang keren. Bahkan kalah keren dari Indomie Rebus, Indomie Goreng, Nasi Goreng Spesial, atau Nasi Uduk Pecel Lele. Apalagi kalau dibandingkan dengan Hamburger, jelas Lempeng Sagu kalah kelas. Seperti bumi dan langit. Sangat jomplang derajatnya.

Itu yang saya pahami secara spintas yaitu adanya gejala ‘kemota’ oleh sebagian kelompok yang sudah terpengaruh gaya hedon dan priyayi. Anak-anak muda yang sedang kranjingan gaya hidup model CEO, sudah tidak suka lagi minum-minum alami atau terkesan tradisional seperti minum air putih, beras kencur, kunyit dan sejenisnya. mereka lebih suka nama-nama aneh dan dianggap keren seperti: Es Doger, Mixue, Pop Ice, Es Mama Muda, dan lain-lain.

Lempeng Sagu memang kalah trending dari nama-nama makanan era modern saat sekarang ini. Jika anda pernah pergi ke hotel-hotel berbintang nama makanan lebih keren daripada pemesannya. Nama makanan seperti : Oxtail Soup, Lamb Biryani, Wagyu Steak. Sedangkan nama pemesannya yaitu: Tugimin, Paijo, Sarinem dan Surtini.

Saya tidak tahu, apakah gejala tersebut bagian dari sikap dan perilaku kita yang lebih senang pada hal yang ‘ecek-ecek’ daripada memikirkan subtansi yang jauh lebih penting dari sekedar nama yang terlihat ‘gagah’, ‘modern’, tapi sebenarnya hanya sebatas penampilan kosong belaka.

Sering kita berperilaku seperti orang kota, tapi pemikirannya justru tidak mencerminkan dari makna kota itu sendiri: tamadun-berperadaban. Kita sering meletakan manusia yang berperadaban jika makan Pakai Garpu, Sendok dan Pisau. Ketika makan di lehernya dikalungkan Kain Serbet. Ikan harus dipotong pakai pisau, lalu dimasukan ke mulut dengan bantuan garpu dan sendok. Katanya itu gaya hidup kaum elit.

Gaya kaum elit, tapi pemikiran alit-kecil, pendek atau cetek. Padahal kaum elit lahir dari keseriusan memikirkan hal-hal yang lebih besar dan berdampak bagi kehidupan lebih baik di masa datang. Sedangkan kaum alit berfikir terlalu sempit, terkurung oleh batas-batas ruang gema-echo chamber- yaitu pemikiran yang sejalan dengan diri sendiri, sehingga menutup akses pada perspektif lain.

Pemikiran-pemikiran yang seperti ini sering berkutat pada hal-hal yang sepele dan terus-menerus dikunyah sampai menjadi bubur. Meskipun sepele, tapi bisa menjadi ‘daya ledak’ kerusakan yang sangat mengerikan. Sebab pola pembahasan berulang-ulang akan larut dalam alam bawah sadar dan lama-kelamaan menjadi karakter.

Jangan-jangan karakter sulit maju pada diri kita karena kebiasaan menguyah masalah itu-itu terus tanpa mau memecahkan masalah secara sehat dan lebih produktif.

Bisakah kita belajar melihat diri ini sebagai makhluk Allah yang serba kekurangan menjadi manusia yang sangat progresif-amalun sholihun-dalam pemikiran, inovasi, ide-ide, dan keputusan-keputusan yang membuat diri kita, pekerjaan kita bisa lebih bermakna bagi diri kita dan orang lain, baik untuk hari ini maupun untuk masa depan?.

Saya dan anda rasa-rasa nya harus semakin terbuka melihat kekurangan diri dalam upaya untuk lebih mengenal jati diri sebenarnya. Semakin tahu kekurangan, semakin tahu cara menyelesaikan kekurangan tersebut. Bukankah dengan selesainya kekurangan itu bagian dari terciptanya suatu kekurangan.

Tulisan ini saya tutup tentang kisah Tiago Linck, seorang pemuda dari Brazil yang tidak punya tangan dan kaki. Saat lahir, orang tuanya sangat sedih melihatnya. Saat remaja, Tiago Linck sangat terpukul melihat realita kondisi tubuhnya. Sedih. Hidup dengan serba kekurangan.

Tiago Linck beruntung mendapatkan guru dan motivator hebat: Nick Vujicic. Sama. Dua-duanya tidak punya kaki dan tangan. Sama. Dulu sama-sama ingin bunuh diri.

Beruntung kedua pemuda tangguh tersebut yang serba kekurangan  secara fisik mempunyai pemikiran relovulioner melampaui batas-batas dogmatis dan konservatif. Tidak ada manfaatnya mengeluh. Daripada memikirkan kondisi yang tidak mungkin berubah fisiknya, lebih baik merubah cara berfikir yang produktif. Sebab hakikat manusia bukan pada fisik semata, tapi pada pemikiran yang produktif. Dan berhasil. Tiago Linck kini sebagai seorang musikus dan Motivator Internasional seperti Nick Vujicic.

Saya kira, kita Allah menghadirkan makanan seperti Lempeng Sagu agar kita bisa tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, keagungan yang diwariskan oleh para leluhur untuk mempersembahkan kemanfaatan melebihi batas-batas territorial tempat dimana kita tinggal.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   367

Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   171

Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   262

Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   869

Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   565

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13906


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4944


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3561