
Sebelum menulis lebih lanjut, saya jelaskan
dulu kata ‘Lempeng’ pada judul tulisan ini. Jika kamu membaca ‘Lempeng’
dengan huruf ‘E’ nya seperti membaca kata ‘Tempe”, itu artinya makanan
terbuat dari Tepung Sagu yang dipanggang dengan Wadah Tanah Liat atau Wajan
atau alat khusus, sehingga lapisan luar menyerupai Kerak Nasi.
Sedangkan ‘lempeng’ dengan huruf ‘E’
nya seperti membaca kata ‘Pecel’, mempunyai arti lurus. Kata ini berasal
dari Bahasa jawa. Jika ada kalimat begini: “bapak itu hidup nya kok lempeng
banget”, arti hidup lurus-lurus saja, tidak aneh-aneh.
Judul “Harga Sepiring Lempeng”, artinya
Lempeng yang membacanya seperti kata ‘Tempe’. Makanan khas daerah
Riau -wabilkhusus-daerah Kepulauan Kepulauan Meranti dan kabupaten sekitarnya.
Seperti kabupaten Bengkalis dan Siak.
Lempeng berbahan tepung sagu ini sangat
cocok bagi orang-orang yang terkena penyakit gula. Ia lebih aman ketimbang nasi putih. Sebab
sagu lebih lambat diubah menjadi glukosa. Itu sebabnya, beberapa Asesor
Akreditasi yang mempunyai riwayat penyakit gula sangat senang makan terbuat
dari sagu, baik Tepung Sagu maupun Mie Sagu. Sudah beberapa kali saya menemani
mereka makan lempeng atau Mie Sagu. Kata mereka: enak, gurih dan menyehatkan.
Lempeng Sagu terdengar seperti makanan Wong
Ndeso. Makanan zaman Majapahit. Kurang keren. Bahkan kalah keren dari Indomie
Rebus, Indomie Goreng, Nasi Goreng Spesial, atau Nasi Uduk Pecel Lele.
Apalagi kalau dibandingkan dengan Hamburger, jelas Lempeng Sagu
kalah kelas. Seperti bumi dan langit. Sangat jomplang derajatnya.
Itu yang saya pahami secara spintas yaitu
adanya gejala ‘kemota’ oleh sebagian kelompok yang sudah terpengaruh
gaya hedon dan priyayi. Anak-anak muda yang sedang kranjingan gaya hidup
model CEO, sudah tidak suka lagi minum-minum alami atau terkesan
tradisional seperti minum air putih, beras kencur, kunyit dan sejenisnya.
mereka lebih suka nama-nama aneh dan dianggap keren seperti: Es Doger, Mixue,
Pop Ice, Es Mama Muda, dan lain-lain.
Lempeng Sagu memang kalah trending
dari nama-nama makanan era modern saat sekarang ini. Jika anda pernah pergi ke
hotel-hotel berbintang nama makanan lebih keren daripada pemesannya. Nama
makanan seperti : Oxtail Soup, Lamb Biryani, Wagyu Steak. Sedangkan
nama pemesannya yaitu: Tugimin, Paijo, Sarinem dan Surtini.
Saya tidak tahu, apakah gejala tersebut
bagian dari sikap dan perilaku kita yang lebih senang pada hal yang ‘ecek-ecek’
daripada memikirkan subtansi yang jauh lebih penting dari sekedar nama yang
terlihat ‘gagah’, ‘modern’, tapi sebenarnya hanya sebatas penampilan kosong
belaka.
Sering kita berperilaku seperti orang kota,
tapi pemikirannya justru tidak mencerminkan dari makna kota itu sendiri:
tamadun-berperadaban. Kita sering meletakan manusia yang berperadaban jika
makan Pakai Garpu, Sendok dan Pisau. Ketika makan di lehernya dikalungkan Kain
Serbet. Ikan harus dipotong pakai pisau, lalu dimasukan ke mulut dengan bantuan
garpu dan sendok. Katanya itu gaya hidup kaum elit.
Gaya kaum elit, tapi pemikiran alit-kecil,
pendek atau cetek. Padahal kaum elit lahir dari keseriusan memikirkan
hal-hal yang lebih besar dan berdampak bagi kehidupan lebih baik di masa
datang. Sedangkan kaum alit berfikir terlalu sempit, terkurung oleh
batas-batas ruang gema-echo chamber- yaitu pemikiran yang sejalan dengan diri sendiri, sehingga
menutup akses pada perspektif lain.
Pemikiran-pemikiran yang seperti ini sering berkutat pada hal-hal
yang sepele dan terus-menerus dikunyah sampai menjadi bubur.
Meskipun sepele, tapi bisa menjadi ‘daya ledak’ kerusakan yang sangat
mengerikan. Sebab pola pembahasan berulang-ulang akan larut dalam alam bawah
sadar dan lama-kelamaan menjadi karakter.
Jangan-jangan karakter sulit maju pada diri kita karena kebiasaan
menguyah masalah itu-itu terus tanpa mau memecahkan masalah secara sehat dan
lebih produktif.
Bisakah kita belajar melihat diri ini sebagai makhluk Allah yang
serba kekurangan menjadi manusia yang sangat progresif-amalun sholihun-dalam
pemikiran, inovasi, ide-ide, dan keputusan-keputusan yang membuat diri kita,
pekerjaan kita bisa lebih bermakna bagi diri kita dan orang lain, baik untuk
hari ini maupun untuk masa depan?.
Saya dan anda rasa-rasa nya harus semakin terbuka melihat
kekurangan diri dalam upaya untuk lebih mengenal jati diri sebenarnya. Semakin
tahu kekurangan, semakin tahu cara menyelesaikan kekurangan tersebut. Bukankah
dengan selesainya kekurangan itu bagian dari terciptanya suatu kekurangan.
Tulisan ini saya tutup tentang kisah Tiago Linck, seorang pemuda dari
Brazil yang tidak punya tangan dan kaki. Saat lahir, orang tuanya sangat sedih
melihatnya. Saat remaja, Tiago Linck sangat terpukul melihat realita kondisi
tubuhnya. Sedih. Hidup dengan serba kekurangan.
Tiago Linck beruntung mendapatkan guru dan motivator hebat: Nick
Vujicic. Sama. Dua-duanya tidak punya kaki dan tangan. Sama. Dulu sama-sama
ingin bunuh diri.
Beruntung kedua pemuda tangguh tersebut yang serba kekurangan secara fisik mempunyai pemikiran relovulioner
melampaui batas-batas dogmatis dan konservatif. Tidak ada manfaatnya mengeluh.
Daripada memikirkan kondisi yang tidak mungkin berubah fisiknya, lebih baik
merubah cara berfikir yang produktif. Sebab hakikat manusia bukan pada fisik
semata, tapi pada pemikiran yang produktif. Dan berhasil. Tiago Linck kini
sebagai seorang musikus dan Motivator Internasional seperti Nick Vujicic.
Saya kira, kita Allah menghadirkan makanan seperti Lempeng Sagu
agar kita bisa tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, keagungan yang
diwariskan oleh para leluhur untuk mempersembahkan kemanfaatan melebihi
batas-batas territorial tempat dimana kita tinggal.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   367
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   171
Santri Nonton Wayang Kulit
23 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   262
Isra Mi’raj dan Revolusi Budaya
27 Januari 2025   Oleh : Imam Ghozali   869
Madzhab Sepak Bola
16 Oktober 2024   Oleh : Imam Ghozali   565
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13906
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4944
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3955
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3604
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3561