
Viki, anak ku yang pertama mengirim pesan
lewat WA. Isinya: “Ayah, besok kalau ngirim duit ditambah ya?”.
Saya balas singkat: “Untuk apa?”
Anak ku menjawab: “Soal nya Viki mau kkn,
jadi butuh helm. Malu pinjam helm terus, jadi rencana viki mau beli helm”.
Saya tersenyum dan menjawab: “Iya,
sayang…nanti ayah kirim untuk beli helm”.
Persoalan helm, memang kadang bikin gemes,
kadang juga bikin dengkol. Itu saya. Bukan karena polisi, tapi karena ibu-ibu. Baik
di Bengkalis atau Selatpanjang sama saja. Kadang bikin gemes, bikin dengkol. Tapi
dipikir-pikir benar juga. Untuk keselamatan. Jadi kalau ada ibu-ibu menasehati
ku, saya langsung diam. Nurut saja. Selesai masalah.
Istri ku paling fanatik memakai helm. Kemana-mana
pasti pakai helm. Dia merasa sudah nyaman dan aman. Apalagi di daerah kepulauan
yang para pengendara roda dua sudah tidak bisa mengartikan mana jalan utama,
mana jalan gang, dan mana jalan tikus. Pokok nya kalau sudah “njebul” di
jalan utama, langsung gasssss.
Peristiwa ini yang menyebabkan sering
terjadi kecelakaan. Peristiwa ini juga yang menyebabkan istriku kemana-mana
memakai helm. Itu gara-gara tetangga sebelah tidak memakai helm, kecelakaan
langsung meninggal dunia di tempat kejadian.
Itu sebabnya, kalau saya keluar rumah
mengendarai honda tidak memakai helm langsung kena semprot. Apalagi pagi hari
dan pas jadwal operasi zebra. Itu hukum nya fardhu ‘ain. Pokok nya kalau
tidak pakai helm, saya kena rujak lah. Anda sudah tahukan kalau perempuan lagi
ngomel? Bukan hanya suaminya yang kena sasaran, ayam lewat pun disalahkan.”Dasar
ayam, pagi-pagi sudah bising!!”: katanya. Hatiku jadi ingin tertawa, padahal
dia sendiri yang bising, ayam jadi sasaran.
Fenomena helm memang tidak serta merta persoalan keselamatan semata saat mengendari kendaraan. Apalagi jika kita sedang melakukan perjalanan jauh yang mengharuskan menggunakan kecepatan tinggi. Helm menjadi suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, selain bensin, dan ATM tentunya. Helm menjadi suatu kebutuhan primer. Wajib. Titik.

Artinya tidak boleh ada alasan darurat
dalam berkendaraan. Tidak boleh karena darurat melakukan perjalanan jauh. Lupa tidak
pakai helm, lalu memakai Pot Bunga tetangga sebagai pengganti helm atau plastik
kresek wadah gorengan pisang. Ini persoalan keselamatan kepala looeee !!!.
Bukan membahas tentang bab sholat, yang kalau tidak ada air bisa tayamum !!!.
Salah satu fenomena helm yang tidak lazim
tapi masuk akal yaitu seorang anak kost tinggal di Rumah Petak. Berangkat ke Kampus
tidak pakai helm. Tapi di rumah, terutama malam hari dia selalu memakai helm
kalau mau tidur. Ketika ditanya alasanya, ia menjawab: “Tetanggaku eror,
setiap malam selalu membunyikan sound horeg!!”.
Memakai helm selain kewajiban juga untuk kebaikan para pengendara. Itu standar tujuan dan kemanfaatanya. Mungkin kadang kita juga memaknai berbeda karena kondisi dan situasi yang menyebabkan kita kadang tidak memakai helm.

Bisa jadi karena pola aturan lalu lintas
yang “anget-anget tahi ayam”, kadang ditegakan, kadang dibiarkan. Kadang
dihukum sesuai prosedur, kadang tanpa prosedur.
Disisi lain kadang ada ‘oknum” keamanan justu
menyebabkan suasana menjadi tidak aman. Kondisi yang kemudian menjadi rahasia
umum. Lalu muncul sumpah serapah dari masyarakat. Pada titik ini kemudian
muncul adanya ketidakpercayaan
Publik terhadap aturan-aturan. Itu yang saya rasakan.

Suatu hari, saya ingin sekali sholeh. Jam 06.30,
saya sudah berhenti di simpang empat. Lampu warna merah. Itu tanda berhenti.
saya patuh. Namun dari empat penjuru arah mata angin, kendaraan tetap berjalan.
Tidak ada yang merasa bersalah. Santai saja. Malah saya yang tadinya merasa sholeh
lama-lama ada perasaan asing dalam dirinya. Lama-lama saya ngiler juga. Ngapain
saya berhenti, toh mereka para pengendara juga santai saja tidak mematuhi aturan
lalu lintas. Semua. Rakyat biasa sampai para pejabat. Mulai dari jama’ah sampai
para ustadz. Sama.
Bangsa ini nampak nya memang diciptakan
bukan untuk rapi atau teratur dalam administrasi dan kepatuhan aturan. Rasa-rasa
nya seperti itu. Itu Kesimpulan ku untuk sementara. Tentu ini tidak benar. Namun
disisi lain, tentu saja kadang ada sisi baik nya. Salah satu sisi kebaikannya
yaitu ada kesepakatan sosial dan saling memahami untuk bisa menjaga diri dari
sesuatu yang merugikan diri dan orang lain. sama-sama tahu.
Kita mungkin iri dengan negara-negara yang
teratur seperti Singapura, Jepang, China dan negara-negara besar lainnya. Mereka
sangat patuh sekali terahadap aturan. Hidup tertib dan teratur.
Namun disisi lain, hasil survei menunjukan bahwa di negara-negara yang menerapkan aturan sangat ketat justru mengalami depresi atau stress sangat tinggi. Contoh nyata adalah China. Mereka hidup seperti robot. Setiap menit ada jadwal kegiatan yang harus dipatuhi. Lama kelamaan mereka mengalami tekanan hidup, bosan, lalu depresi dan banyak pegawai yang bunuh diri.

Di negara yang tidak teratur seperti di Indonesia
selalu saja melihat pemandangan yang sangat menyedihkan. Lihat di kota-kota
sedang atau besar. Saat kendaraan berhenti di persimpangan, kita akan melihat
pemandangan yang sangat mafhum seperti: penjual koran, aqua, pengamen, pengemis
dan sampah membusuk dan menggunung yang ada di pinggir jalan. Belum lagi banyak
para kendaraan yang main serobot jalan. Persoalan sangat komplek sekali.
Tapi ada sisi positifnya. Pola hidup yang
tidak teratur justru melahirkan daya tahan hidup yang luarbiasa. Pola hidup
yang menurut ku “ngawur” malah kadang bisa menghadapi badai resesi atau gonjangan
ekonomi dan penyakit dengan sangat enjoy.
Contoh saat negara-negara maju mengalami
kekacauan sosial keamanan luarbiasa dan kehancuran ekonomi yang sangat serius
akibat virus covid-19, Masyarakat Indonesia masih bisa cengengesan dengan
sangat santai. Mereka-orang orang yang berada di perkampungan-atau kota kecil
sudah bisa hidup dengan tanpa tekanan serius. Saat orang lain memakai masker
dan suntik vaksin, Masyarakat kita tetap enjoy duduk-duduk di kedai kopi atau
di Pos Ronda minum kopi sambil main catur dan merokok.
Ketika dokter menasehati agar menjaga kesehatan,
mereka pun punya jawaban yang sangat religius: “Mati urip sing duwi gusti Allah!”.
Makjleb.
Tentu saja tulisan ini tidak mengajak untuk
berfikir terlalu ekstrem seperti orang-orang yang ada di Gardu Ronda tadi.
Saya tentu saja sangat menginginkan agar hidup selalu melakukan ikhtiar agar kita
bisa lebih baik dari hari kemaren. Termasuk memakai helm. Meskipun belum
sempurna. Tapi paling tidak pada waktu-waktu tertentu kita bisa mematuhinya.
Toh jika lagi apes dan tidak memakai
helm, lalu anda ketangkap polisi. Saya kira dua-dua nya harus menyelesaikan
dengan arif dan bijaksana. Pengendara minta maat karena melakukan kesalahan,
dan polisi jangan main tilang dengan meminta imbalan uang tebusan. Penyelesaian
dengan kekeluargaan. Masa sih dengan keluarga minta duit. Tidak lucu khan?
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Bertemu Perempuan Hebat
27 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   230
Mendengar Suara Rakyat
21 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   181
Harga Sepiring Lempeng
19 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Iran: Antara Anak Haram dan Anak Tiri
07 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   410
Ucapan Berkualitas
26 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   204
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14211
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5210
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4548
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4058