Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

385 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Q.S. Al-Baqarah Ayat 76 : Sulitnya Berdamai Dengan Diri Sendiri



Kamis , 01 Januari 2026



Telah dibaca :  392

Kaum yahudi bisa bersilat lidah di hadapan nabi dan sahabat-sahabatnya. Mereka bisa mengatakan dengan sangat menyakinkan bahwa mereka telah beriman kepada Allah dan beriman kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah.

Persoalannya bukan pada hakikat kebenaran yang telah ditulis dalam Kitab Taurat, bahwa akan datang rasul penutup para rasul yaitu Nabi Muhammad SAW. Persoalan terbesar yaitu tidak menerima kebeneran tersebut-meskipun sudah tertulis dalam Kitab Taurat-yang dianggap telah merendahkan status nasab mereka-kaum yahudi-sebagai manusia pilihan Tuhan. Jika menerima nya sebagai Rasul, berarti status sebagai pilihan akan bergeser kepada Nabi Muhammad SAW.

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۝٧٦

Artinya:

Apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi, apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, “Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Apakah kamu tidak mengerti?”

Dalam kontek kehidupan sosial, terkadang ada seseorang atau kelompok orang yang tidak bisa menerima kebenaran dari orang lain karena mereka menganggap dirinya lebih baik atau lebih mulia dari lainnya. Ukuran kebaikan atau kemuliaan bisa jadi karena ukuran keluasan ilmu pengetahuan, status sosial lebih tinggi, keturunan darah biru, dan pengalaman kehidupan yang lebih luas. Hanya orang-orang yang mempunyai status di atas ukuran tersebut atau “paling tidak sama”, yang mempunyai kemampuan bisa memberi nasehat kepada nya.

Nasehat kebenaran hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. adanya perasaan bahwa dirinya telah selesai dan tidak membutuhkan nasehat dari orang lain-apalagi opoisisi-menilai bahwa dirinya sudah cukup paham dengan segala persoalan dan mengetahui cara menyelesaikan persoalan tersebut. maka, mereka berusaha membangun suatu kelompok sebagai suatu kekuatan baru yang dianggap sebagai penyelesai masalah -solving problem.

Kaum Yahudi bisa saja berteman dengan siapa saja. Tapi watak yahudi yang merasa lebih hebat dari yang lain senantiasa membangun suatu pemikiran bahwa ia harus berada di atas segala-galanya.

Kaum Yahudi benar-benar telah mem-brand-ing diri nya lebih baik dari orang atau kelompok lain. Dalam konteks apapun, mereka akan tetap menempatkan diri sebagai manusia yang lebih unggul dan tidak mau ada yang bisa menguasai nya. Jika toh ada yang berada di atasnya, ia akan sekuat tenaga ingin menguasainya dan mengatur nya.

Saya kira, terlepas dari sikap arogansi kaum yahudi yang selalu merasa lebih hebat dari orang lain, kadang dalam sebuah perjuangan membutuhkan mentalitas seperti itu juga. keberanian menunjukan kemampuan diri perlu ditunjukan kepada siapapun-dalam kontek persoalan yang lebih luas-untuk menunjukan kualifikasi diri. kadang kita juga membutuhkan berbagai kemampuan lain yang ada pada diri kita sendiri agar orang lain menyakini bahwa diri kita pantas diperhitungkan. Ini sah-sah saja sebagai strategi politik meraih suatu cita-cita. Meskipun pada sisi lain, kita pun akan dicaci maki sebagai orang-orang yang-mungkin mohon maaf-sombong, songong, tidak punya rasa malu, tidak punya sopan santun dan pragmatis.

Apakah kita ingin maju dengan cara kaum yahudi tersebut, atau mungkin ingin tetap konsisten dengan keyakinan kita mengikuti ajaran Islam. Semua ada pilihan. Sebab dalam konteks sosial-politik, sering ajaran kebaikan agama dikalahkan oleh kekuatan nafsu sebagai dorongan paling kuat untuk berkuasa.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   77

Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   124

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   175

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5538


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5208


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4043