Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

399 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Peta Jalan Kehidupan



Kamis , 24 September 2026



Telah dibaca :  75

Dunia akan terus berputar. Tatanan kehidupan terus mengalami perubahan dan pergantian sistem seiring dengan perubahan keinginan-keinginan manusia untuk tetap eksis dengan cara mereka masing-masing. Dari sini saya melihat bahwa dinamika kehidupan manusia yang sangat dinamis tidak lepas dari tujuan-tujuan hidup yang mereka inginkan.

Bagi kaum materialisme tujuan hidup berupa terpenuhi kebutuhan fisik nya. Puncak kebahagiaannya ketika segala keinginan materi terpenuhi. Sedangkan bagi kaum ahli tauhid, tidak sebatas terpenuhi materi semata, tapi juga terpenuhi kebahagiaan ruhaniah dengan ditandai semakin mengenal Allah SWT.

Manusia beragam tujuan hidupnya. Ada tujuan hidup sebatas pada kehendak kepentingan perbaikan diri sendiri ada juga berkaitan dengan keinginan mempertahankan nilai-nilai yang dianggap benar, sakral dan menjadi harapan kebahagiaan saat meninggalkan dunia yang fana ini.

Ada manusia mempunyai tujuan hidup yang materialisme tapi dengan memakai topeng sebagai penyembah allah. Jadi materialisme bukan sebatas semata-mata orang tidak mengakui tuhan, bisa juga mengakui tuhan sebatas formalitas, agama formalitas dan ritual juga formalitas. Tapi pikiran dan hati sangat “gumrungsung” mengejar kepentingan jabatan, kekayaan, pangkat dan sejenisnya.

Ada juga jenis manusia yang mutmainah. Manusia yang sudah selesai dengan sendirinya. Ia telah memahami peta jalan kehidupan yang telah diajarkan dalam al-Qur’an dan Al-Hadist. Dia paham tentang tugas dan tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari.

Agama Islam sebagai petunjuk peta jalan kehidupan manusia, memberikan arah tujuan hidup yang jelas yaitu hidup sebagai ‘abidin sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 138 sebagai berikut:

صِبْغَةَ اللّٰهِۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةًۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ ۝١٣٨

Artinya:

(Peliharalah) sibgah Allah. Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Hanya kepada-Nya kami menyembah.

Sebagaimana ayat sebelumnya, ayat ini juga mengkritik para penganut agama samawi-Yahudi dan Nasrani-yang mulai tidak lagi patuh terhadap peta jalan kehidupan dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh para Nabi dan Rasul Nya. Allah melakukan kritik kepada pola kehidupan mereka yang mulai salah jalan. Ironisnya mereka tidak mau menyadari kesalahan secara terus-menerus.

Kehidupan yang terlihat nikmat dan seolah-olah kekal telah merubah sebagian penganut agama samawi untuk meninggalkan ajaran-ajaran tauhid. Keberanian mereka mengotori ajaran tauhid dengan menempatkan diri mereka sebagai anak Tuhan dan melakukan perubahan-perubahan ajaran tuhan dalam firman-firman-Nya merupakan kesalahan fatal yang tidak bisa diterima.

Mereka melakukan berbagai tindakan yang sangat berani tersebut tentu dengan kondisi sadar dan ada visi besar yang sedang dirancang oleh mereka yaitu membangun kerajaan dunia. Mereka menilai bahwa dengan meninggalkan ajaran-ajaran Tuhan maka jalan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut bisa dengan mudah untuk mendapatkannya. Ketika Tuhan memberikan berbagai aturan hidup yang dianggap sebagai penghambat, maka mereka membuat aturan hidup sendiri sebagai jalan membuka seluruh keinginan manusia tanpa batas. Dari sini, ajaran Tuhan pun mulai ditinggalkan. Jika toh tidak ditinggalkan, warna ajaran Tuhan sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran-ajaran yang diamanahkan Allah kepada para Nabi pada masa lalu.

Islam sebagai bagian dari agama samawi juga mendapatkan ujian berat dalam kehidupan sehari-hari. Jika Tuhan mengkritik tentang kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani sebenarnya juga memberi peringatan kepada umat Islam agar tidak ikut-ikutan jatuh pada kesalahan para pendahulunya.

Kenyataan tidaklah demikian. Umat Islam sering mengkritik perilaku umat Yahudi dan Nasrani yang dianggap sebagai penyeleweng dari ajaran-ajaran para Rasul. Umat Islam selalu memusuhi kedua penganut agama tersebut yang dianggap mengotori ajaran para nabi. Kenyataan nya, sebagian umat Islam pun -sadar ataupun tidak sadar- perperilaku tidak jauh dari umat-umat yang dimusuhi oleh nya.

Walhasil, dari sini saya bisa memahami bahwa manusia selalu saja menginginkan kebahagiaan sesuai dengan tafsir-tafsirnya sendiri. Kaum Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai tafsir dalam upaya untuk mencapai suatu tujuan.

Sebagai sesama agama yang berasal dari Allah SWT, seharusnya peta jalan sama, yaitu sama-sama melalui jalan syariah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Kenyataan tidak lah demikian. Keinginan, harapan besar dan syahwat kehidupan yang sangat tinggi telah ikut mengubah peta jalan tersebut menjadi berwarna-warni. Tentu semua akan dikembalikan kepada masing-masing. Semua akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   198

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   242

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14883


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6531


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5958


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4792