
Dunia akan terus berputar. Tatanan
kehidupan terus mengalami perubahan dan pergantian sistem seiring dengan
perubahan keinginan-keinginan manusia untuk tetap eksis dengan cara mereka
masing-masing. Dari sini saya melihat bahwa dinamika kehidupan manusia yang
sangat dinamis tidak lepas dari tujuan-tujuan hidup yang mereka inginkan.
Bagi kaum materialisme tujuan hidup berupa
terpenuhi kebutuhan fisik nya. Puncak kebahagiaannya ketika segala keinginan
materi terpenuhi. Sedangkan bagi kaum ahli tauhid, tidak sebatas terpenuhi
materi semata, tapi juga terpenuhi kebahagiaan ruhaniah dengan ditandai semakin
mengenal Allah SWT.
Manusia beragam tujuan hidupnya. Ada tujuan
hidup sebatas pada kehendak kepentingan perbaikan diri sendiri ada juga
berkaitan dengan keinginan mempertahankan nilai-nilai yang dianggap benar, sakral
dan menjadi harapan kebahagiaan saat meninggalkan dunia yang fana ini.
Ada manusia mempunyai tujuan hidup yang materialisme
tapi dengan memakai topeng sebagai penyembah allah. Jadi materialisme bukan sebatas
semata-mata orang tidak mengakui tuhan, bisa juga mengakui tuhan sebatas
formalitas, agama formalitas dan ritual juga formalitas. Tapi pikiran dan hati
sangat “gumrungsung” mengejar kepentingan jabatan, kekayaan, pangkat dan
sejenisnya.
Ada juga jenis manusia yang mutmainah. Manusia
yang sudah selesai dengan sendirinya. Ia telah memahami peta jalan kehidupan
yang telah diajarkan dalam al-Qur’an dan Al-Hadist. Dia paham tentang tugas dan
tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari.
Agama Islam sebagai petunjuk peta jalan
kehidupan manusia, memberikan arah tujuan hidup yang jelas yaitu hidup sebagai ‘abidin
sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 138 sebagai berikut:
صِبْغَةَ اللّٰهِۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةًۖ وَّنَحْنُ لَهٗ
عٰبِدُوْنَ ١٣٨
Artinya:
(Peliharalah) sibgah Allah. Siapa yang
lebih baik sibgahnya daripada Allah? Hanya kepada-Nya kami menyembah.
Sebagaimana ayat sebelumnya, ayat ini juga
mengkritik para penganut agama samawi-Yahudi dan Nasrani-yang mulai tidak lagi
patuh terhadap peta jalan kehidupan dengan aturan-aturan yang telah digariskan
oleh para Nabi dan Rasul Nya. Allah melakukan kritik kepada pola kehidupan
mereka yang mulai salah jalan. Ironisnya mereka tidak mau menyadari kesalahan
secara terus-menerus.
Kehidupan yang terlihat nikmat dan
seolah-olah kekal telah merubah sebagian penganut agama samawi untuk
meninggalkan ajaran-ajaran tauhid. Keberanian mereka mengotori ajaran tauhid
dengan menempatkan diri mereka sebagai anak Tuhan dan melakukan
perubahan-perubahan ajaran tuhan dalam firman-firman-Nya merupakan kesalahan
fatal yang tidak bisa diterima.
Mereka melakukan berbagai tindakan yang
sangat berani tersebut tentu dengan kondisi sadar dan ada visi besar yang
sedang dirancang oleh mereka yaitu membangun kerajaan dunia. Mereka menilai
bahwa dengan meninggalkan ajaran-ajaran Tuhan maka jalan untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut bisa dengan mudah untuk mendapatkannya. Ketika Tuhan
memberikan berbagai aturan hidup yang dianggap sebagai penghambat, maka mereka
membuat aturan hidup sendiri sebagai jalan membuka seluruh keinginan manusia
tanpa batas. Dari sini, ajaran Tuhan pun mulai ditinggalkan. Jika toh tidak
ditinggalkan, warna ajaran Tuhan sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran-ajaran
yang diamanahkan Allah kepada para Nabi pada masa lalu.
Islam sebagai bagian dari agama samawi juga
mendapatkan ujian berat dalam kehidupan sehari-hari. Jika Tuhan mengkritik
tentang kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani sebenarnya juga memberi peringatan
kepada umat Islam agar tidak ikut-ikutan jatuh pada kesalahan para
pendahulunya.
Kenyataan tidaklah demikian. Umat Islam
sering mengkritik perilaku umat Yahudi dan Nasrani yang dianggap sebagai
penyeleweng dari ajaran-ajaran para Rasul. Umat Islam selalu memusuhi kedua
penganut agama tersebut yang dianggap mengotori ajaran para nabi. Kenyataan nya,
sebagian umat Islam pun -sadar ataupun tidak sadar- perperilaku tidak jauh dari
umat-umat yang dimusuhi oleh nya.
Walhasil, dari sini saya bisa memahami
bahwa manusia selalu saja menginginkan kebahagiaan sesuai dengan
tafsir-tafsirnya sendiri. Kaum Yahudi, Nasrani dan Islam mempunyai tafsir dalam
upaya untuk mencapai suatu tujuan.
Sebagai sesama agama yang berasal dari Allah
SWT, seharusnya peta jalan sama, yaitu sama-sama melalui jalan syariah yang
telah diperintahkan oleh Allah SWT. Kenyataan tidak lah demikian. Keinginan, harapan
besar dan syahwat kehidupan yang sangat tinggi telah ikut mengubah peta jalan
tersebut menjadi berwarna-warni. Tentu semua akan dikembalikan kepada
masing-masing. Semua akan diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218
Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   198
Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233
Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   242
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14883
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6531
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5958
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4824
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4792