Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

385 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein



Selasa , 11 Agustus 2026



Telah dibaca :  75

Jam 06.40 saya sudah sampai di Kampus. Terlalu cepat memang untuk ukuran kota Bengkalis. Jam segitu kendaraan masih sepi. Saya sengaja cepat berangkat khawatir tidur-tiduran di kos-kosan malah tidur beneran. Akhirnya, saya putuskan untuk segara berangkat dan menulis catatan harian berikut ini.

Bismillahirrahmanirahim,

Allah telah mempertegas persoalan kesamaan akidah agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Semua sama yaitu agama yang mentauhidkan Allah swt. Semua sama-sama mengikuti ajaran dari Nabi Ibrahim sebagai bapak tauhid. Mereka sama-sama menerima ajaran tauhid. Jika Yahudi dan Nasrani mendapatkan pemahaman tauhid dari jalur Nabi Ishak, maka Islam mendapatkan pemahaman tauhid dari jalur Nabi Ismail yang kemudian melahirkan salah satu dari keturunannya yaitu Nabi Muhammad saw.

Dari sini tidak ada persoalan. Namun drama kehidupan yang sangat melelahkan yang dibuat oleh Bani Israel membuat konsep tauhid menjadi absurd. Mereka memahami tauhid tidak sama sebagaimana tauhid yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim yaitu “Tiada Tuhan Selain Allah”. Konsep tauhid yang benar-benar suci dan menghancurkan seluruh kesakralan makhluk.

Konsep ini yang dipertahankan oleh nabi Muhammad. Namun ditentang oleh kaum bani israel yang merasa sebagai anak tuhan. Pada wilayah ini sebenarnya sudah tidak ada titik temu. Allah dengan firman-nya memberikan penjelasan penguat tentang konsep tauhid yang sebenarnya dan menjadikan ayat tersebut juga sebagai argumentasi atau hujah bahwa konsep tuhan kaum yahudi kemudian hari bermasalah dan tidak lagi sesuai dengan konsep tauhid asli. Allah mempertegas lagi dengan ayat berikut ini:

فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُۗ ۝١٣٧

Artinya:

Jika mereka telah mengimani apa yang kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Akan tetapi, jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka, Allah akan mencukupkanmu (dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Terlepas dari kesalahan konsep dan keyakinan kaum Bani Israel, ada sisi positif yang bisa kita ambil hikmah nya. Dalam pandangan Islam, akidah mereka salah. Namun kesalahan yang mereka perbuat dijadikan ramuan yang sangat manjur untuk menciptakan kelezatan keimanan versi terbaru. Mereka berhasil menggiring pemikiran jutaan kaum yahudi bahwa mereka adalah bagian dari keturunan Tuhan.

Terlihat lucu dan menggelikan. Tapi dalam suatu keyakinan, tidak ada yang lucu sama sekali bagi orang yang masuk di dalam nya. Lucu bagi orang yang diluar keyakinannya. Bagi kaum yahudi, status sebagai anak Tuhan mempunyai dorongan kuat untuk merealisasikan visi ketuhanan dalam menggarap kesuksesan sistem kehidupan di dunia.

Mereka merasa punya hak otoriatif. Jika Tuhan sebagai pencipta alam semesta, maka sebagai anak Tuhan mempunyai hak otoritatif untuk mengelola nya sesuai dengan keinginan Tuhan. Seperti apa keinginan Tuhan, tentu saja sesuai dengan keinginan-keinginan anak-anak Tuhan nya. Doktrin yang saya kira sangat efektif untuk menggerakan satu kekuatan kaum yahudi untuk terus berjuang, berinovasi, dan siap mati dalam upaya mewujudkan cita-cita besar visi ketuhanan versi mereka.

Umat Islam tentu saja merasa yakin dan harus yakin bahwa tauhid yang kita bangun adalah tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan diteruskan kepada Nabi Muhammad hingga kepada umat Islam. Tiada Tuhan selain Allah. Kalimat persaksian ini sangat pendek. Dan ini juga sebenarnya kalimat yang sangat dahsyat. Sebab mendudukan dua hal yang berbeda pada tempatnya. Kita menempatkan Allah di atas segala tuhan dan kekuatan manusia. Allah segala-gala nya. Pada sisi lain, bahwa manusia bukan Tuhan dan tidak boleh bergaya sebagai Tuhan. Manusia semua sama di hadapan-Nya.

Ketika manusia sama, maka Allah memberikan perbedaan-nya yaitu mutaqin. Makna mutaqin tentu saja berbeda dengan makna ketuhanan model reinkarnasi ala kaum yahudi. mutaqin dalam hal kedekatan seperti makna ihsan yaitu: "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu."

Realisasi nya tentu saja luas sekali. Ini berkaitan pada persoalan ibadah dan juga persoalan kehidupan sosial dalam aspek yang sangat luas. Ketika ihsan sebagai bagian realiasi mutaqin maka yang terbayang dalam konsep hidup bahwa kita bukan sebagai anak Tuhan, tetapi sebagai kekasih Tuhan. Konsekuensinya sebagai kekasih Tuhan, maka perilaku nya jauh lebih progresif untuk mendapatkan cinta dari-Nya. Orang yang sedang jatuh cinta akan rela memberikan apapun terbaik buat kekasihnya. Siang malam bekerja, berusaha, belajar, dan terus menerus melakukan inovasi-inovasi terbarukan untuk kemaslahatan peradaban umat manusia merupakan bagian dari wujud kecintaan kepada Allah swt.

Faktanya tidaklah demikian. Ketika kaum yahudi menempatkan diri sebagai keturunan Tuhan, mereka tidak manja. Mereka justru sangat inovasi melakukan rekayasa-rekayasa ilmu pengetahuan, teknologi untuk kejayaan bangsa mereka.

Sedangkan Sebagian umat Islam mengalami ketumpulan dalam merealisasikan diri sebagai kekasih Tuhan. Sebagian umat Islam memaknai sebagai kekasih Tuhan secara pasif. Kerjanya meminta, memohon, berdoa dan sangat sedikit untuk berkorban membesarkan nama Tuhan dalam ranah peradaban.

Saya kira pada wilayah  ini sebagian umat Islam mengalami kesalahan dalam memaknai kalimat tauhid. Konsep tauhid nya benar, tapi cara pandang tauhid sebagai jalan menjadi kekasih Allah yang kurang tepat dalam upaya membangun diri sebagai khalifah di dunia.

Tauhid sebagai penggerak terkuat untuk terus melakukan karya nyata, malah sering menjadi pelarian sebagai manusia-manusia kalah. Setiap hari hidup diisi penuh dengan keluh kesah dan doa-doa manusia kalah dan putus asa. Ingin kaya, ingin banyak harta, ingin sukses dan ingin-ingin segala kenikmatan lainnya. Namun pada sisi lain, miskin dalam segala rencana strategis, wujud nyata dalam bekerja dan bekarya dan selalu sibuk menyalahkan kepada orang-orang yang telah berhasil.

Tuhan sebagai roadmap kehidupan seharusnya sudah terbayang dalam diri kita suatu rasa bahagia untuk terus bergerak memperbaiki diri, tim dan semua di sekitar kita untuk sama-sama mencapai suatu cita-cita besar yang kita mimpikan. Tentu saja cita-cita besar lahir dari energi positif dari kalimat tauhid tadi. Suatu energi dimana semua apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Membaca satu kalimat tauhid saja dapat ibadah, apalagi jika merealisasikan dalam kerja nyata jelas akan menjadi sumbangsih ibadah yang sangat luarbiasa. Dan untuk mencapai cita-cita yang besar sebagai kekasih Allah selalu saja ada ujian-ujian datang selain ujian penderitaan, kelaparan dan kematian. Ada ujian yang mewabah saat ini pada diri sebagian umat Islam yaitu ujian malas dan putus asa. Wallahu a’lam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   124

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   175

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14207


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5531


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5208


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4042