Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

369 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cinta ku jatuh di Depan Multazam



Jumat , 17 Juli 2026



Telah dibaca :  77

Saat itu Timur Tengah membara. Banyak korban manusia akibat perang berkepanjangan. Namun bukan berarti semua orang hanyut pada persoalan raungan suara mesin, desiran suara senapan dan ledakan bom yang menghantam gedung-gedung dan rumah-rumah.

Ada dua sahabat duduk bersama. Berhadap-hadapan. Saling memandang. Ketika melihat sahabatnya gelisah, maka ia pun bertanya gerangan persoalan yang menimpa dirinya.

Sang sahabat tersebut pun menjawab: “Setiap malam tidak bisa tidur memikirkan kekasih ku. Sangat sulit melupakan bayang-bayang-Nya dalam pikiran ku. Namun apakah diri-Nya mengetahui perasaan ku?”.

Saya jadi ingat saat saya berada di depan multazam. Saat itu sekitar jam 03.00 dini hari. Saat itu jamaah perempuan sudah mulai sedikit yang mengelilingi Ka’bah. Jamaah laki-laki duduk, wiridan, dan khusu’ berdoa menghadap kepada Ka’bah.

Pada saat itu juga, saya tidak berdoa sama sekali. Saya asyik melihat puluhan ribu hamba Allah yang sedang mengharapkan belas kasihan dari Sang Kekasih Teragung. Entah kenapa hatiku begitu keras. Di dalam Masjidil Haram malah senyam-senyum melihat manusia yang beraneka ragam kulit, rambut, hidung dan bahasa. Saya tersenyum. Dihadapan-Nya mereka bisa kumpul dan akur. Saat pulang ke daerah masing-masing kembali bertempur. Lucu manusia ini.

Namun entah kenapa pikiran nakal ku bertambah nakal saat mata ku tertuju kepada tiga orang jama’ah yang masih berdiri. Satu laki-laki dua perempuan. Sebagai seorang laki-laki naluriku tertuju kepada satu perempuan paling cantik di antara dua perempuan tersebut. Ya Allah….hatiku terasa mau copot. Hidung nya mancung, kulitnya putih dan yang jelas terlihat sangat cantik sekali.

Sampai-sampai saya berfikir, jika ada ribuan perempuan malam itu yang mengelilingi Ka’bah, saya menyimpulkan bahwa hanya perempuan tersebutlah yang paling cantik. Ia benar-benar perempuan yang sangat sempurna.

Entah apa karena perasaan ku. Dia tiba-tiba menatap wajah ku. Mungkin itu perasaan ku. Saya kaget, dan tidak berani menatapnya. Saya menundukan diri. Saat ia tidak lagi menatap kearah ku, saya pun menatap nya lagi.

Menjelang subuh, para jamaah melaksanakan sholat fajar. Saya tidak sholat. Saya serius menatap nya. Ia pun tidak sholat. Ia hanya berdiri secara sempurna di depan Multazam.

Saya melihatnya mengangkat kedua tangannya. Berdoa. Saya terus menatapnya dari samping. Semakin lama ia berdoa semakin terlihat bahwa ia sedang hanyut berdialog dengan Kekasih Teragung Nya. Tetesan air mata terus membasaih pipinya. Ia tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Ia benar-benar hanyut berdialog dengan kekasih tercinta, allah swt.

Saya pun menangis sejadi-jadinya. Dalam hati, aku berkata: “dia yang sangat cantik dan sempurna sudah tidak lagi memikirkan keindahan fana, hatinya telah tertambat kecintaan keapda Tuhan-nya. Sedangkan diriku yang serba kekurangan malah belum menemukan ladzatnya cinta ku kepada-Nya. Duhai Tuhan, betapa hinannya diri ku iniiiiiiiiiiiiii….!!!.

Mengingat peristiwa tersebut, hati ku berkecamuk tiada menentu. Persis seperti hidup dalam perjalanan yang tidak jelas arah tujuan nya. Seperti arah mata angin yang selalu berubah arah. Seperti gelombang laut yang kadang Tenang, tapi juga kadang bergelombang sangat menakutkan.

Saya teringat firman-firman Allah sebagai berikut:

اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۝١٣١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَۗ ۝١٣٢

Artinya:

Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya‘qub, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Apakah saya belum mengenal nya secara sempurna? Apakah saya selama ini hanya bermain-main saja di hadapan-Nya. Bisa jadi. Semua hidup ini menjadi kacau, gara-gara bukan karena masalah yang ada pada diriku, tapi karena saya telah melupakan-Nya dalam kehidupan ku. Ini yang menyebabkan kekacauan-kekacauan datang setiap saat.

Jika diperluas kekacauan yang terjadi di luar diriku, anggaplah kehidupan di tengah-tengah masyarakat saat sekarang ini yang sama-sama kita saksikan. Kata Mahfudz MD sebagai “gempa” konstitusi yang sangat dahsyat.

Bisa jadi ia. Sebab hakikat manusia itu sama. Manusia sosial merupakan kumpulan-kumpulan individu yang sama-sama mempunyai keinginan-keinginan. Hanya “rem” nya saja yang berbeda-beda. Ketika letupan-letupan kecil persoalan kini semakin besar seperti api menyambar hutan di musim kemarau. Kita hanya bisa sedih dan tidak bisa apa apa untuk memadamkannya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   44

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291

Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   258

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14030


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5073


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4904


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3723