
Saat itu Timur Tengah membara. Banyak korban
manusia akibat perang berkepanjangan. Namun bukan berarti semua orang hanyut
pada persoalan raungan suara mesin, desiran suara senapan dan ledakan bom yang
menghantam gedung-gedung dan rumah-rumah.
Ada dua sahabat duduk bersama. Berhadap-hadapan.
Saling memandang. Ketika melihat sahabatnya gelisah, maka ia pun bertanya
gerangan persoalan yang menimpa dirinya.
Sang sahabat tersebut pun menjawab: “Setiap
malam tidak bisa tidur memikirkan kekasih ku. Sangat sulit melupakan
bayang-bayang-Nya dalam pikiran ku. Namun apakah diri-Nya mengetahui perasaan
ku?”.
Saya jadi ingat saat saya berada di depan
multazam. Saat itu sekitar jam 03.00 dini hari. Saat itu jamaah perempuan sudah
mulai sedikit yang mengelilingi Ka’bah. Jamaah laki-laki duduk, wiridan, dan
khusu’ berdoa menghadap kepada Ka’bah.
Pada saat itu juga, saya tidak berdoa sama
sekali. Saya asyik melihat puluhan ribu hamba Allah yang sedang mengharapkan
belas kasihan dari Sang Kekasih Teragung. Entah kenapa hatiku begitu keras. Di dalam
Masjidil Haram malah senyam-senyum melihat manusia yang beraneka ragam kulit,
rambut, hidung dan bahasa. Saya tersenyum. Dihadapan-Nya mereka bisa kumpul dan
akur. Saat pulang ke daerah masing-masing kembali bertempur. Lucu manusia ini.
Namun entah kenapa pikiran nakal ku
bertambah nakal saat mata ku tertuju kepada tiga orang jama’ah yang masih
berdiri. Satu laki-laki dua perempuan. Sebagai seorang laki-laki naluriku
tertuju kepada satu perempuan paling cantik di antara dua perempuan tersebut. Ya
Allah….hatiku terasa mau copot. Hidung nya mancung, kulitnya putih dan yang
jelas terlihat sangat cantik sekali.
Sampai-sampai saya berfikir, jika ada ribuan
perempuan malam itu yang mengelilingi Ka’bah, saya menyimpulkan bahwa hanya perempuan
tersebutlah yang paling cantik. Ia benar-benar perempuan yang sangat sempurna.
Entah apa karena perasaan ku. Dia tiba-tiba
menatap wajah ku. Mungkin itu perasaan ku. Saya kaget, dan tidak berani
menatapnya. Saya menundukan diri. Saat ia tidak lagi menatap kearah ku, saya
pun menatap nya lagi.
Menjelang subuh, para jamaah melaksanakan
sholat fajar. Saya tidak sholat. Saya serius menatap nya. Ia pun tidak sholat. Ia
hanya berdiri secara sempurna di depan Multazam.
Saya melihatnya mengangkat kedua tangannya.
Berdoa. Saya terus menatapnya dari samping. Semakin lama ia berdoa semakin
terlihat bahwa ia sedang hanyut berdialog dengan Kekasih Teragung Nya. Tetesan air
mata terus membasaih pipinya. Ia tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Ia benar-benar
hanyut berdialog dengan kekasih tercinta, allah swt.
Saya pun menangis sejadi-jadinya. Dalam hati,
aku berkata: “dia yang sangat cantik dan sempurna sudah tidak lagi memikirkan
keindahan fana, hatinya telah tertambat kecintaan keapda Tuhan-nya. Sedangkan
diriku yang serba kekurangan malah belum menemukan ladzatnya cinta ku kepada-Nya.
Duhai Tuhan, betapa hinannya diri ku iniiiiiiiiiiiiii….!!!.
Mengingat peristiwa tersebut, hati ku
berkecamuk tiada menentu. Persis seperti hidup dalam perjalanan yang tidak
jelas arah tujuan nya. Seperti arah mata angin yang selalu berubah arah. Seperti
gelombang laut yang kadang Tenang, tapi juga kadang bergelombang sangat
menakutkan.
Saya teringat firman-firman Allah sebagai
berikut:
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ
اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ١٣١
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya
(Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan
seluruh alam.”
وَوَصّٰى
بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى
لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَۗ ١٣٢
Artinya:
Ibrahim
mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya‘qub, “Wahai
anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu
mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Apakah saya
belum mengenal nya secara sempurna? Apakah saya selama ini hanya bermain-main
saja di hadapan-Nya. Bisa jadi. Semua hidup ini menjadi kacau, gara-gara bukan
karena masalah yang ada pada diriku, tapi karena saya telah melupakan-Nya dalam
kehidupan ku. Ini yang menyebabkan kekacauan-kekacauan datang setiap saat.
Jika diperluas
kekacauan yang terjadi di luar diriku, anggaplah kehidupan di tengah-tengah masyarakat
saat sekarang ini yang sama-sama kita saksikan. Kata Mahfudz MD sebagai “gempa”
konstitusi yang sangat dahsyat.
Bisa jadi ia. Sebab
hakikat manusia itu sama. Manusia sosial merupakan kumpulan-kumpulan individu
yang sama-sama mempunyai keinginan-keinginan. Hanya “rem” nya saja yang
berbeda-beda. Ketika letupan-letupan kecil persoalan kini semakin besar seperti
api menyambar hutan di musim kemarau. Kita hanya bisa sedih dan tidak bisa apa
apa untuk memadamkannya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   44
Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291
Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   258
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14030
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5073
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4904
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4132
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3723