
Perjalanan hidup manusia merupakan catatan
sejarah yang akan terulang. Bukan pada benda nya, tapi lebih tepat pada
perilakunya. Sering manusia menilai pada fisik semata, sehingga melupakan
esensinya. Itu sebabnya manusia sering tertipu oleh keindahan benda atau alam
semata ketika seluruh panca Indera sebatas mengagumi keindahan tersebut.
Di antara keajaiban dunia yang sering
menghiasai daftar tujuan manusia di dunia yaitu mengunjungi Baitullah -Ka’bah- melalui
paket umrah. Ada paket umrah yang lebih mahal, maka bisa berkunjung ke berbagai
manca negara di Timur Tengah seperti Turki dan Mesir. Jika ke Mesir, maka bisa
melihat bangunan kuno yaitu Piramida sebuah saksi sejarah catatan peradaban
pada masa Raja Fir’aun.
Berkaitan dengan Ka’bah, Allah telah
mengabadikan doa Nabi Ibrahim ketika sedang membangun nya sebagai berikut:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ
مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ
السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١
Artinya:
(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama
Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ayat tersebut bentuk kesucian seorang Ibrahim dalam melaksanakan
visi sebagai khalifah fi al ardh. Tujuan hidupnya jelas, yaitu hanya
mencari ridha Nya. Ia berdoa sebagai pengakuan diri bahwa segala yang ia
lakukan senantiasa untuk meninggikan keagungan-Nya. Baginya, Allah adalah Dzat
Yang Maha Agung. Karya yang ia buat tidak sebanding dengan keagungan-nya. Itu
sebabnya, ia membutuhkan legitimasi hukum bahwa karya yang sedang ia bangung
bagian dari amal sholeh yang selaras dengan tujuan penciptaan manusia sebagai
hamba-Nya di dunia.
Visi misi Nabi Ibrahim sudah jelas, yaitu mengimplementasikan
perinta-perintah Allah dalam seluruh sisi kehidupan. Tidak ada celah sisi hidup
punya niat selain karena-Nya. Karya yang dihasilkan tidak menjadikan dirinya
bangga. Tidak ada kepikiran untuk menunjukan keakuan diri. Semua lebur dalam
cinta nya kepada Sang Kekasih Yang Agung yaitu Allah SWT.
Cara berfikir Nabi Ibrahim berbeda dengan Raja Fir’aun. Sang Raja
tersebut telah mengabadikan dan mensetatuskan dirinya sebagai sang penguasa tunggal.
Ia telah memposisikan sebagai sumber kebenaran yang tidak bisa dibantahkan oleh
siapapun. Q.S. Yunus ([10]:83) menggambarkan kepribadian nya sebagai berikut:
Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya
disertai ketakutan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa
mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya
ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.
Kerangka berfikir Fir’aun sangat sederhana sekali. Ia hanya melihat
kekuasaan dan karya besarnya sebatas pada kepentingan egoisme diri. Seolah-olah
apa yang ia bangun bagian dari kehebatan dirinya tanpa campur tangan dari Allah
SWT.
Adanya perasaan kemerdekaan diri secara absolut telah melahirkan kesombongan
sangat memuncak. Fir’aun melihat manusia secara datar. Tidak ada yang kehebatan
selainnya. Jika ada yang lebih hebat darinya maka dianggap sebagai pesaing yang
harus dihancurkan.
Ketika Allah menghadirkan Nabi Musa, maka Fir’aun dengan tegas
menolak seluruh argumentasi dengan data-data ilmiah dan egois kekuasaannya. Secara
data ilmiah, ia telah berhasil membangun Kerajaan dan bangunan-bangunan megah
sebagai simbol kekuasaan. Fir’aun tidak sadar, bahwa Kerajaan,
bangunan-bangunan mempunyai batas waktu tertentu. Bahkan dirinya sebagai raja
pun akan mengalami kehancuran dibatasi oleh waktu.
Akibat tertutup kebenaran ilahiah, Fir’aun telah melihat dunia
sebagai sumber kebahagiaan yang kekal abadi. Ia pun menerapkan peraturan
sebagai sumber kebenaran absolut. Keyakinan tersebut tidak berubah hingga
akhirnya ia mati tenggelam di Laut Merah. Ia terkubur dengan simbol kekuasaannya.
Walhasil, dari dua simbol tersebut di atas-Ka’bah dan Piramida-telah
mengajarkan kepada kita sebagai umat Islam, bahwa karya terbaik yang kita
lakukan saat sekarang ini bukan sebatas pada karya bersifat materi saja, tetapi
lebih dalam lagi berkaitan dengan tujuan akhir dari tujuan itu sendiri yaitu
mengabdi kepada Allah SWT. Sebab tujuan ini yang menyebabkan manusia akan kekal
selama-lamanya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   167
Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   126
Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   287
Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   261
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13958
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4976
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4032
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3762
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3649