Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

363 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ka’bah dan Piramida



Senin , 29 Juni 2026



Telah dibaca :  134

Perjalanan hidup manusia merupakan catatan sejarah yang akan terulang. Bukan pada benda nya, tapi lebih tepat pada perilakunya. Sering manusia menilai pada fisik semata, sehingga melupakan esensinya. Itu sebabnya manusia sering tertipu oleh keindahan benda atau alam semata ketika seluruh panca Indera sebatas mengagumi keindahan tersebut.

Di antara keajaiban dunia yang sering menghiasai daftar tujuan manusia di dunia yaitu mengunjungi Baitullah -Ka’bah- melalui paket umrah. Ada paket umrah yang lebih mahal, maka bisa berkunjung ke berbagai manca negara di Timur Tengah seperti Turki dan Mesir. Jika ke Mesir, maka bisa melihat bangunan kuno yaitu Piramida sebuah saksi sejarah catatan peradaban pada masa Raja Fir’aun.

Berkaitan dengan Ka’bah, Allah telah mengabadikan doa Nabi Ibrahim ketika sedang membangun nya sebagai berikut:

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۝١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat tersebut bentuk kesucian seorang Ibrahim dalam melaksanakan visi sebagai khalifah fi al ardh. Tujuan hidupnya jelas, yaitu hanya mencari ridha Nya. Ia berdoa sebagai pengakuan diri bahwa segala yang ia lakukan senantiasa untuk meninggikan keagungan-Nya. Baginya, Allah adalah Dzat Yang Maha Agung. Karya yang ia buat tidak sebanding dengan keagungan-nya. Itu sebabnya, ia membutuhkan legitimasi hukum bahwa karya yang sedang ia bangung bagian dari amal sholeh yang selaras dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba-Nya di dunia.

Visi misi Nabi Ibrahim sudah jelas, yaitu mengimplementasikan perinta-perintah Allah dalam seluruh sisi kehidupan. Tidak ada celah sisi hidup punya niat selain karena-Nya. Karya yang dihasilkan tidak menjadikan dirinya bangga. Tidak ada kepikiran untuk menunjukan keakuan diri. Semua lebur dalam cinta nya kepada Sang Kekasih Yang Agung yaitu Allah SWT.

Cara berfikir Nabi Ibrahim berbeda dengan Raja Fir’aun. Sang Raja tersebut telah mengabadikan dan mensetatuskan dirinya sebagai sang penguasa tunggal. Ia telah memposisikan sebagai sumber kebenaran yang tidak bisa dibantahkan oleh siapapun. Q.S. Yunus ([10]:83) menggambarkan kepribadian nya sebagai berikut:

Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Kerangka berfikir Fir’aun sangat sederhana sekali. Ia hanya melihat kekuasaan dan karya besarnya sebatas pada kepentingan egoisme diri. Seolah-olah apa yang ia bangun bagian dari kehebatan dirinya tanpa campur tangan dari Allah SWT.

Adanya perasaan kemerdekaan diri secara absolut telah melahirkan kesombongan sangat memuncak. Fir’aun melihat manusia secara datar. Tidak ada yang kehebatan selainnya. Jika ada yang lebih hebat darinya maka dianggap sebagai pesaing yang harus dihancurkan.

Ketika Allah menghadirkan Nabi Musa, maka Fir’aun dengan tegas menolak seluruh argumentasi dengan data-data ilmiah dan egois kekuasaannya. Secara data ilmiah, ia telah berhasil membangun Kerajaan dan bangunan-bangunan megah sebagai simbol kekuasaan. Fir’aun tidak sadar, bahwa Kerajaan, bangunan-bangunan mempunyai batas waktu tertentu. Bahkan dirinya sebagai raja pun akan mengalami kehancuran dibatasi oleh waktu.

Akibat tertutup kebenaran ilahiah, Fir’aun telah melihat dunia sebagai sumber kebahagiaan yang kekal abadi. Ia pun menerapkan peraturan sebagai sumber kebenaran absolut. Keyakinan tersebut tidak berubah hingga akhirnya ia mati tenggelam di Laut Merah. Ia terkubur dengan simbol kekuasaannya.

Walhasil, dari dua simbol tersebut di atas-Ka’bah dan Piramida-telah mengajarkan kepada kita sebagai umat Islam, bahwa karya terbaik yang kita lakukan saat sekarang ini bukan sebatas pada karya bersifat materi saja, tetapi lebih dalam lagi berkaitan dengan tujuan akhir dari tujuan itu sendiri yaitu mengabdi kepada Allah SWT. Sebab tujuan ini yang menyebabkan manusia akan kekal selama-lamanya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   167

Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   126

Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   287

Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   261

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13958


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4976


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3762


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3649