
Kelihatannya Iran dan Amerika Serikat akan melakukan
Memorandum Of Understanding-MoU- yang akan ditandatangani di Swiss. Perang yang
telah berlangsung sekitar 100 hari benar-benar menguras energi dan nutrisi. Keduanya
nampaknya lelah dan ingin memulihkan energi yang terkuras sangat ekstrem. Apakah
setelah energinya normal akan perang lagi. Hanya Allah dan mereka yang tahu.
Hari ini Netanyahu lagi ngambek sama
Donald Trump. Netanyahu berusaha menggagalkan kesepakatan dengan memborbardir Lebanon.
Justru Trump marah besar. Trump benar-benar meninggalkan Netanyahu. Kesepakatan
Kerjasama AS dan Israel benar-benar dalam kondisi yang sangat tidak
menguntungkan kedua belah pihak. Hari ini, Iran benar-benar tampil bak seorang
pahlawan.
Iran mirip-mirip cerita Drama China-Dramcin.
Seorang CEO yang menyamar gembel yang mempunyai kultivasi tingkat dewa. Ia
tampil dengan segala kemampuannya dan membungkam konglomerat atau kaum Aristokrat
kedua negara tersebut-AS dan Israel.
Perdamaian AS vs Iran merupakan kabar baik.
Harga minya bisa turun. Manfaat dalam negeri positif. APBN bisa naik, harga-harga
kebutuhan pokok turun, dan rupiah bisa semakin menguat.
Apakah kabar baik perdamaian kedua negara -yang
sudah menjadi musuh bebuyutan- akan happy
end?. Jawabannya: may be yes, may be no. Dalam politik selalu saja
serba mungkin. Kata para politikus: tidak ada musuh yang abadi.
Peristiwa tersebut mengingatkan penulis firman
Allah telah menggambarkan besarnya kenikmatan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 124
sebagai berikut:
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ
رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًاۗ
قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ ١٢٤
Artinya:
(Ingatlah)
ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya
dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau
sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon
juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan,
tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
Ayat tersebut
menjelaskan tentang sifat kasih sayang Allah kepada Nabi Ibrahim, yaitu
terkabulnya doa-doanya. Salah satu nya yaitu Sebagian keturunan Nabi Ibrahim.
Dalam sejarah Nabi
Ibrahim mempunyai dua istri. Istri pertama Sarah melahirkan anak bernama Ishak.
Istri kedua hajar melahirkan anak bernama Ismail. Dari dua anak ini melahirkan tiga
agama besar: Yahudi, Nasrani dan Islam. Garis keturunan Nabi Ishak mengembangkan
agama Yahudi dan Nasrani. Sedangkan keturunan Nabi Ismail kemudian hari
menurunkan Nabi Muhammad dengan membawa Risalah Islam.
Kedua garis
keturunan ini kemudian melahirkan kelompok, suku, etnis dan bangsa. Ketika Allah
mengutuk kaum Bani Israel dan kemudian hari kehilangan negara, maka mereka pergi
ke seluruh penjuru dunia. Sebagian besar ke daerah barat atau sekarang disebut
negara barat. Mereka berdiaspora. Hingga kini populasi terbesar Kaum Yahudi selain
di Negara Israel yaitu: AS, Prancis, Inggris, Kanada, Rusia, Jerman, dan Argentina.
Perang AS vs Iran
sebenarnya perang di antara dua agama yaitu Yahudi dan Islam-Syiah. AS bukan
negara Yahudi. Namun kunci utama penggerak ekonomi dan politik adalah Kaum
Yahudi. Kebijakan-kebijakan lebih condong kepada tujuan kepentingan transnasional
Kaum Yahudi. Sedangkan Iran adalah representasi
dari Islam Syiah. Secara ideologi atau aliran, ia tidak mewakili seluruh aliran
Islam di dunia-Sunni, Mu’tazilah dan Khawarij. Sama seperti Negara Israel-mengklaim
sebagai penyelamat dunia-, Negara Iran juga mengklaim diri sebagai penyelamat
umat Islam secara keseluruhan-tanpa melihat ideologinya.
Kini perwakilan
dua agama besar -AS dan Iran- akan mengadakan MoU di Swis. Mereka sepakat ingin
menciptakan perdamaian dan hidup berdampingan tanpa adanya rasa saling curiga. Secara
teoritis, memang kesepakatan tersebut masih rapuh. Di internal pemerintah Donald
Trump masih silang pendapat. Hal ini merupakan kewajaran dari watak politik AS yang
sudah terbiasa menerapkan politik dua kaki.
Apakah politik
dua kaki model Donald Trump bagian dari pola Kaum Yahudi?. Wallahu a’lam.
Ketika penulis membaca akhir firman allah ayat 124 di atas, ada kalimat: “(Doamu
Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” Kalimat
pendek tersebut mengisyaratkan bahwa ada kelompok manusia yang konsisten
menjalankan janji-janji Allah dan ada kelompok yang selalu dzalim dengan
melanggar janji-janji-Nya. Dan dalam sejarah, kelompok yang selalu melanggar
janji firman-firman Allah adalah Kaum Yahudi.
Meskipun demikian,
penulis lagi-lagi berharap janji perdamaian AS dan Iran benar-benar terwujud. Sebab
implikasi dari perjanjian tersebut sangat besar untuk kebaikan tatanan
kehidupan masyarakat global.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   223
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177
Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   202
Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   250
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13903
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4938
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3945
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3596
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3545