Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

357 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak



Sabtu , 06 Juni 2026



Telah dibaca :  169

Akhir-akhir ini penulis melihat dan membaca berbagai peristiwa baik ditingkat nasional maupun lokal. Jika seluruh peristiwa tersebut saya taruh dikepalaku, terasa seperti mendidih dan emosi bisa-bisa meledak dan ledakannya bisa "mblarah" kemana-kemana-mana. Untungnya semua peristiwa tersebut hanya ditaruh di tangan dan saya lempar ke tanah. Bukan karena tidak peduli dengan keadaan. Justru membuangnya agar tidak bersarang dalam pikiran ku bagian dari kepedulian menjaga kewarasan ku agar bisa berfikir dan berdzikir untuk bisa melihat hikmah kebaikan dari seluruh peristiwa yang ada. Bukankah Allah membuat segala peristiwa selalu ada hikmah nya?.

Saya teringat Q.S. Al-Baqarah ayat 118  bahaw Allah telah menerangkan betapa sulitnya Kaum Yahudi menerima kebenaran dakwah Nabi Muhammad tentang kekuasaan Allah SWT. Persis ketika nenek moyang mereka meragukan Tuhan nya Nabi Musa. Sikap arogansi tersebut karena pada diri mereka ada dua hal: sombong dan terlalu membanggakan akal pikiran atau pendapat mereka sendiri. Dua hal tersebut yang kemudian mengantarkan kehinaan sepanjang masa di hadapan allah swt sampai hari kiamat.

Allah memperingatkan kepada kita tentang kebenaran ilahiyah tentang hakikat kebenaran mengikuti perintah-perintah Nya mendatangkan kebahagiaan. Pada sisi lain, Allah juga menyadarkan kepada kita bahwa taman-taman surga di kelilingi berbagai rayuan yang menipu yang akan menyesatkan selama-lama nya. Jalan menuju surga ada jurang yang curam, terjal dan membayakan. Ada juga binatang buas siap menerkam dan ular berbisa siap menggigit. Tuhan telah memberikan beragam warning di setiap perjalanan hidup manusia. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 119 sebagai berikut:

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّلَا تُسْـَٔلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ ۝١١٩

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Nabi Muhammad) dengan hak sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Engkau tidak akan dimintai (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.

Saya mengambil pelajaran dari ayat tersebut merupakan "jimat" yang sangat berharga dalam memahami dinamika kehidupan. Bukan hanya persoalan dinamika dakwah Nabi Muhammad dalam memperkuat pemahaman tauhid kepada umat Islam pada masa nya, juga pemahaman yang mendalam umat Islam saat sekarang ini.

Makna tauhid yang dijabarkan pada dua pendekatan “بَشِيْرًا “ dan “وَّنَذِيْرًا “ adalah suatu realita kehidupan yang cukup rumit. Ketika keduanya dipraktekan dalam sistem administrasi dan kehidupan sosial, maka ada tafsir-tafsir berbeda dalam upaya mewujudkan cita-cita tersebut. Perbedaan terjadi karena perbedaan pemikiran dan orientasi pada masing-masing individu.

Dalam ilmu administrasi modern kita mengenal “reward” dan “punishment”- penghargaan dan hukuman. Konsep yang bagus sebagaimana konsep Al-Qur’an tentang pentingnya kabar gembira dan peringatan dalam menjalan pola kehidupan di dunia. Dua kata yang kita bayangkan adalah sebuah jalan untuk membangun keseimbangan hidup antara kepentingan dunia dan akherat. Meskipun pada media menuju kedua kepentingan tersebut sama yaitu aktivitas kehidupan manusia dalam tempat yang beragam seperti di perkantoran, pemerintahan, pendidikan dan lain-lain.

Ketika dua kepentingan utama-kebahagiaan dunia dan akherat-dalam wujud kegiatan yang bersentuhan dengan muamalah, tidak terlepas dari beragam pandangan yang tidak bisa dihindari. Perbedaan yang kadang menimbulkan konflik karena saling mempertahankan ego masing-masing atau karena kurangnya wawasan keilmuan, kurang jam terbangnya, atau ada kepentingan-kepentingan tersembunyi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa menimbulkan konflik yang terkadang tidak berkesudahan. Ada rasa saling curiga secara terus menerus. Ada rasa ingin mengunci “gembok” perasaan hati yang paling dalam. Ada rasa terus menerus saling benar. Perasaan-perasaan yang memang melahirkan suasana batin dan kondisi kerja menjadi terlihat tidak menyenangkan. Aura-aura kebahagiaan hilang. Semangat aktivitas menurun. Dan kebencian terus bersarang dalam hati. Sangat mudah disatukan. Seperti sebuah cermin yang retak.

Bagi orang yang punya jiwa pesimistis melihat kondisi cermin yang sudah retak beranggapan sudah tidak berguna lagi. Mungkin dibuang di tempat sampah. Padahal, persoalan utama bukan pada cermin yang retak. Bukan. Bukan pada cerminya. Ia adalah benda yang tidak bisa apa-apa jika tidak dimanfaatkan oleh manusia. bahkan apapun benda di dunia ini mempunyai makna jika manusia bisa memanfaatkan dengan baik.

Kondisi kerja kita mungkin tidak ideal. Penuh dengan kekurangan fasilitas, rasa kekeluargaan rendah, saling curiga atau pun saling jegal dan saling menjatuhkan. Dan kondisi seperti ini bukan hanya di tempat kita. Tapi juga di tempat lain juga sama.

Seperti ketika kita melihat kondisi bangsa dan negara kita yang seolah-olah dalam pikiran kita sangat carut marut tidak karuan. Ada rasa geram – orang Jawa bilang “gemletek “- dan ingin lari dari kondisi seperti ini. Lalu kita membandingkan kondisi tempat lain, bangsa lain atau negara lain yang terlihat lebih enak daripada kita.

Allah menghadirkan keberagaman bukan untuk menjatuhkan diri sendiri, bukan untuk saling menyalahkan terus menerus. Tuhan menghadirkan keberagaman tempat kerja, kantor, bangsa dan negara sebenarnya untuk “lita’arafu”-belajar dan terus belajar. Belajar dari orang lain dan lebih-lebih lagi belajar mengenal diri sendiri.

Cermin yang retak secara hakikat bukan karena semata-mata kesalahan kita. Cermin yang retak adalah cara Allah menghadirkan suatu pelajaran untuk bisa menggunakan nya dengan sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat. Meskipun cermin yang retak tidak sepenuhnya bisa untuk bercemin, tapi tetap berguna  untuk menatap wajah kita sendiri di cermin tersebut. Gambar tidak jelas itu bukan soal. Itulah fakta diri kita yang hari-hari kita lalui penuh dengan ketidakjelasan hati dan hubungan emosional kita dalam kehidupan muamalah.

Cermin yang retak sebenarnya berisi kabar bahagia dan peringatan sekaligus untuk kita. Cermin yang retak sebenarnya bagian dari strategi untuk mendesain bangunan kebahagiaan bukan semata-mata dari keindahann rumah, tapi mendesain bangunan kebahagiaan dari sama-sama sebagai hamba Allah yang sedang mencari ridha-Nya.

Sejarah telah mengajarkan kita tentang dinamika sosial yang sangat komplek. Sejarah juga telah mengajarkan bahwa ada persoalan yang lebih mengerikan dari apa yang terjadi pada diri kita saat sekarang ini. Tapi mereka bisa berhasil bangkit dari keterpurukan dan menjadi manusia yang unggul. Semua ini terjadi, karena mereka menjauhi dari ratapan dan tangisan yang tidak berguna dan menghabiskan energi. Mereka menjadi manusia yang unggul karena mereka sadar bahwa segala aktivitas yang mereka lakukan sedang mempersembahkan karya terbaik untuk kekasih teragung yaitu Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   118

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456