
Akhir-akhir ini penulis melihat dan membaca berbagai peristiwa baik ditingkat nasional maupun lokal. Jika seluruh peristiwa tersebut saya taruh dikepalaku, terasa seperti mendidih dan emosi bisa-bisa meledak dan ledakannya bisa "mblarah" kemana-kemana-mana. Untungnya semua peristiwa tersebut hanya ditaruh di tangan dan saya lempar ke tanah. Bukan karena tidak peduli dengan keadaan. Justru membuangnya agar tidak bersarang dalam pikiran ku bagian dari kepedulian menjaga kewarasan ku agar bisa berfikir dan berdzikir untuk bisa melihat hikmah kebaikan dari seluruh peristiwa yang ada. Bukankah Allah membuat segala peristiwa selalu ada hikmah nya?.
Saya teringat Q.S. Al-Baqarah ayat 118 bahaw Allah telah
menerangkan betapa sulitnya Kaum Yahudi menerima kebenaran dakwah Nabi Muhammad
tentang kekuasaan Allah SWT. Persis ketika nenek moyang mereka meragukan Tuhan
nya Nabi Musa. Sikap arogansi tersebut karena pada diri mereka ada dua hal:
sombong dan terlalu membanggakan akal pikiran atau pendapat mereka sendiri. Dua
hal tersebut yang kemudian mengantarkan kehinaan sepanjang masa di hadapan
allah swt sampai hari kiamat.
Allah memperingatkan kepada kita tentang
kebenaran ilahiyah tentang hakikat kebenaran mengikuti perintah-perintah Nya mendatangkan kebahagiaan. Pada sisi lain, Allah juga menyadarkan kepada
kita bahwa taman-taman surga di kelilingi berbagai rayuan yang menipu yang akan
menyesatkan selama-lama nya. Jalan menuju surga ada jurang yang curam, terjal
dan membayakan. Ada juga binatang buas siap menerkam dan ular berbisa siap
menggigit. Tuhan telah memberikan beragam warning di setiap perjalanan hidup
manusia. Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 119 sebagai berikut:
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا
وَّنَذِيْرًاۙ وَّلَا تُسْـَٔلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ ١١٩
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Nabi
Muhammad) dengan hak sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Engkau tidak akan dimintai (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni
neraka.
Saya mengambil pelajaran dari ayat tersebut
merupakan "jimat" yang sangat berharga dalam memahami dinamika kehidupan. Bukan
hanya persoalan dinamika dakwah Nabi Muhammad dalam memperkuat pemahaman tauhid
kepada umat Islam pada masa nya, juga pemahaman yang mendalam umat Islam saat
sekarang ini.
Makna tauhid yang dijabarkan pada dua
pendekatan “بَشِيْرًا “ dan “وَّنَذِيْرًا “ adalah suatu realita kehidupan yang
cukup rumit. Ketika keduanya dipraktekan dalam sistem administrasi dan
kehidupan sosial, maka ada tafsir-tafsir berbeda dalam upaya mewujudkan
cita-cita tersebut. Perbedaan terjadi karena perbedaan pemikiran dan orientasi
pada masing-masing individu.
Dalam ilmu administrasi modern kita
mengenal “reward” dan “punishment”- penghargaan dan hukuman.
Konsep yang bagus sebagaimana konsep Al-Qur’an tentang pentingnya kabar gembira
dan peringatan dalam menjalan pola kehidupan di dunia. Dua kata yang kita
bayangkan adalah sebuah jalan untuk membangun keseimbangan hidup antara
kepentingan dunia dan akherat. Meskipun pada media menuju kedua kepentingan
tersebut sama yaitu aktivitas kehidupan manusia dalam tempat yang beragam
seperti di perkantoran, pemerintahan, pendidikan dan lain-lain.
Ketika dua kepentingan utama-kebahagiaan
dunia dan akherat-dalam wujud kegiatan yang bersentuhan dengan muamalah, tidak
terlepas dari beragam pandangan yang tidak bisa dihindari. Perbedaan yang
kadang menimbulkan konflik karena saling mempertahankan ego masing-masing atau
karena kurangnya wawasan keilmuan, kurang jam terbangnya, atau ada
kepentingan-kepentingan tersembunyi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa
menimbulkan konflik yang terkadang tidak berkesudahan. Ada rasa saling curiga
secara terus menerus. Ada rasa ingin mengunci “gembok” perasaan hati
yang paling dalam. Ada rasa terus menerus saling benar. Perasaan-perasaan yang
memang melahirkan suasana batin dan kondisi kerja menjadi terlihat tidak
menyenangkan. Aura-aura kebahagiaan hilang. Semangat aktivitas menurun. Dan
kebencian terus bersarang dalam hati. Sangat mudah disatukan. Seperti sebuah
cermin yang retak.
Bagi orang yang punya jiwa pesimistis
melihat kondisi cermin yang sudah retak beranggapan sudah tidak berguna lagi.
Mungkin dibuang di tempat sampah. Padahal, persoalan utama bukan pada cermin
yang retak. Bukan. Bukan pada cerminya. Ia adalah benda yang tidak bisa apa-apa
jika tidak dimanfaatkan oleh manusia. bahkan apapun benda di dunia ini
mempunyai makna jika manusia bisa memanfaatkan dengan baik.
Kondisi kerja kita mungkin tidak ideal.
Penuh dengan kekurangan fasilitas, rasa kekeluargaan rendah, saling curiga atau
pun saling jegal dan saling menjatuhkan. Dan kondisi seperti ini bukan hanya di
tempat kita. Tapi juga di tempat lain juga sama.
Seperti ketika kita melihat kondisi bangsa
dan negara kita yang seolah-olah dalam pikiran kita sangat carut marut
tidak karuan. Ada rasa geram – orang Jawa bilang “gemletek “- dan ingin
lari dari kondisi seperti ini. Lalu kita membandingkan kondisi tempat lain,
bangsa lain atau negara lain yang terlihat lebih enak daripada kita.
Allah menghadirkan keberagaman bukan untuk
menjatuhkan diri sendiri, bukan untuk saling menyalahkan terus menerus. Tuhan
menghadirkan keberagaman tempat kerja, kantor, bangsa dan negara sebenarnya
untuk “lita’arafu”-belajar dan terus belajar. Belajar dari orang lain
dan lebih-lebih lagi belajar mengenal diri sendiri.
Cermin yang retak secara hakikat bukan
karena semata-mata kesalahan kita. Cermin yang retak adalah cara Allah
menghadirkan suatu pelajaran untuk bisa menggunakan nya dengan sesuatu yang
lebih baik dan bermanfaat. Meskipun cermin yang retak tidak sepenuhnya bisa
untuk bercemin, tapi tetap berguna untuk
menatap wajah kita sendiri di cermin tersebut. Gambar tidak jelas itu bukan
soal. Itulah fakta diri kita yang hari-hari kita lalui penuh dengan
ketidakjelasan hati dan hubungan emosional kita dalam kehidupan muamalah.
Cermin yang retak sebenarnya berisi kabar
bahagia dan peringatan sekaligus untuk kita. Cermin yang retak sebenarnya
bagian dari strategi untuk mendesain bangunan kebahagiaan bukan semata-mata
dari keindahann rumah, tapi mendesain bangunan kebahagiaan dari sama-sama
sebagai hamba Allah yang sedang mencari ridha-Nya.
Sejarah telah mengajarkan kita tentang
dinamika sosial yang sangat komplek. Sejarah juga telah mengajarkan bahwa ada
persoalan yang lebih mengerikan dari apa yang terjadi pada diri kita saat
sekarang ini. Tapi mereka bisa berhasil bangkit dari keterpurukan dan menjadi
manusia yang unggul. Semua ini terjadi, karena mereka menjauhi dari ratapan dan
tangisan yang tidak berguna dan menghabiskan energi. Mereka menjadi manusia
yang unggul karena mereka sadar bahwa segala aktivitas yang mereka lakukan
sedang mempersembahkan karya terbaik untuk kekasih teragung yaitu Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   118
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3904
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3562
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456