Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

357 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?



Minggu , 07 Juni 2026



Telah dibaca :  140

Salah satu penyebab Nabi Muhammad dan para sahabat bisa bergerak dengan cepat membangun peradaban Islam di Jazirah Arab yaitu adanya kekuatan keyakinan terhadap keesaan Allah SWT. Dari keyakinan keesaan-Nya, lahir lah suatu kekuatan spiritual dan kepercayaan diri yang sangat besar melakukan perubahan-perubahan moral, etika dan tatanan kehidupan Masyarakat Arab. Dalam waktu singkat, budaya Masyarakat Arab kala itu benar-benar terjadi perubahan dratis. Dari Masyarakat Jahiliyah menjadi Masyarakat Madaniah.

Apakah saat itu kaum oposisi peradaban dari golongan Yahudi dan Nasrani masih terbelakang?. Tidak. Bahkan kedua agama tersebut telah menoreh peradaban yang telah beradab-abad di Timur Tengah seperti daerah Mesir dan Palestina. Bahkan saat mereka mencapai puncak kejayaan peradaban, Jazirah Arab masih disebut sebagai zaman jahiliyah.

Karena mempunyai kekuatan sejarah peradaban masa lalu yang menyebabkan mereka sombong dan tidak rela terhadap kedatangan agama baru yang dianggap sebagai pesaing bagi agama-agama mereka. Allah swt telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 120 sebagai berikut:

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ ۝١٢٠

Artinya:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.

Ayat tersebut mempertegas bahwa agama Islam merupakan agama yang sepenuhnya menuruti nafsu mutmainah yaitu nafsu yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah yang sangat mendalam. Sedangkan para penganut agama sebelumnya banyak menjadikan agama sebagai jalan menuruti hawa nafsu sayyiah.

Ketika umat Islam pada saat itu mempraktekan spirit nafsu mutmainah, maka energi positif terus menyembur tiada henti seperti sinar matahari. Tidak peduli, apa kata manusia, matahari tetap mengeluarkan sinar dan terus memberi kemanfaatan. Meskipun kadang sebagian orang mengeluh karena sengatan panas. Matahari tetap mengeluarkan cahaya. Sinar panas yang disalahpahami oleh sebagian manusia karena kedangkalan pikirannya. Padahal karena adanya matahari tersebut, adanya kehidupan. Kita tidak bisa membayangkan. Jika satu hari matahari tidak bersinar maka akan terjadi bencana dan kematian masal di seluruh permukaan bumi.

Energi matahari yang membara saat pada masa Kanjeng Nabi seolah-olah hilang pada saat sekarang ini. Saat Islam masih sedikit, sinarnya sangat kuat memancar sangat terang. Kini Islam telah menjadi penganut nomor dua di dunia, seolah-olah sinar nya hanya bintang-bintang kecil yang indah di pandang, tetapi tidak bisa memberi penerang di kegelapan bumi. Indah di pandang, tapi manfaatnya sangat berkurang.

Sinar umat Islam seolah-olah seperti sinar bintang-bingang di langit. Banyak Cahaya, tapi hanya untuk memberi cahaya pada diri sendiri. Ketika orang lain bercahaya, maka kadang kita terseinggung dan merasa tersaingi. Lalu, terjadi adalah saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Saling caci, saling menebar hoax, dan saling menumbuhkan rasa benci terus menerus tanpa henti.

Pada saat terjadi perang narasi saat sekarang di antara penganut agama untuk menjatuhkan lawan nya dan mem-framing kebaikan pada dirinya sendiri, justru pada saat yang sama umat Islam saling menjatuhkan dengan terus membuka segala kekurangan dan kejelekan. Pada sisi lain saling menjatuhkan, kadang tidak malu pula membagakan musuh=musuh Allah seolah-olah mereka mempunyai peradaban yang agung dan sangat mulia. Kedangkalan keimanan dan keyakinan kepada Allah telah menyebabkan hati kita subur penuh dengan kebencian sesama muslim dan terus membanggakan umat non-muslim.

Saya kira, pada kondisi saat sekarang ini umat Islam jangan menghabiskan energi untuk saling merendahkan. Namun perlu sama-sama bahu-membahu, membangkitkan semangat untuk membangun peradaban dengan berlandaskan pada semangat nafsu mutmainah.

Sudah cukup umat lain melakukan propaganda tentang agama dan umat Islam kita di luar sana. Cukup sudah kita menutup pintu segala propaganda tersebut yang tidak bermanfaat sama sekali bagi umat Islam. Jangan lagi kita ikut-ikut mem-framing saudara sendiri dengan terus menjelek-jelekan dengan segala kekurangan yang ada. Perbedaan bisa dima’lumi dan bisa diterima secara apa adanya jika hati kita benar-benar telah sumeleh kepada Allah SWT. Jika belum, maka yang akan terjadi adalah bertengkar dan berkelahi sesama saudara sendiri.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   117

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456