
Salah satu penyebab Nabi Muhammad dan para
sahabat bisa bergerak dengan cepat membangun peradaban Islam di Jazirah Arab yaitu
adanya kekuatan keyakinan terhadap keesaan Allah SWT. Dari keyakinan keesaan-Nya,
lahir lah suatu kekuatan spiritual dan kepercayaan diri yang sangat besar melakukan
perubahan-perubahan moral, etika dan tatanan kehidupan Masyarakat Arab. Dalam waktu
singkat, budaya Masyarakat Arab kala itu benar-benar terjadi perubahan dratis. Dari
Masyarakat Jahiliyah menjadi Masyarakat Madaniah.
Apakah saat itu kaum oposisi peradaban dari
golongan Yahudi dan Nasrani masih terbelakang?. Tidak. Bahkan kedua agama
tersebut telah menoreh peradaban yang telah beradab-abad di Timur Tengah seperti
daerah Mesir dan Palestina. Bahkan saat mereka mencapai puncak kejayaan
peradaban, Jazirah Arab masih disebut sebagai zaman jahiliyah.
Karena mempunyai kekuatan sejarah peradaban
masa lalu yang menyebabkan mereka sombong dan tidak rela terhadap kedatangan
agama baru yang dianggap sebagai pesaing bagi agama-agama mereka. Allah swt
telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 120 sebagai berikut:
وَلَنْ تَرْضٰى
عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ اِنَّ
هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ
الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا
نَصِيْرٍ ١٢٠
Artinya:
Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga
engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah
petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka
setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan
penolong dari (azab) Allah.
Ayat tersebut
mempertegas bahwa agama Islam merupakan agama yang sepenuhnya menuruti nafsu
mutmainah yaitu nafsu yang hatinya penuh dengan kecintaan kepada Allah yang
sangat mendalam. Sedangkan para penganut agama sebelumnya banyak menjadikan
agama sebagai jalan menuruti hawa nafsu sayyiah.
Ketika umat Islam
pada saat itu mempraktekan spirit nafsu mutmainah, maka energi positif
terus menyembur tiada henti seperti sinar matahari. Tidak peduli, apa kata
manusia, matahari tetap mengeluarkan sinar dan terus memberi kemanfaatan. Meskipun
kadang sebagian orang mengeluh karena sengatan panas. Matahari tetap mengeluarkan
cahaya. Sinar panas yang disalahpahami oleh sebagian manusia karena kedangkalan
pikirannya. Padahal karena adanya matahari tersebut, adanya kehidupan. Kita tidak
bisa membayangkan. Jika satu hari matahari tidak bersinar maka akan terjadi
bencana dan kematian masal di seluruh permukaan bumi.
Energi matahari
yang membara saat pada masa Kanjeng Nabi seolah-olah hilang pada saat sekarang
ini. Saat Islam masih sedikit, sinarnya sangat kuat memancar sangat terang. Kini
Islam telah menjadi penganut nomor dua di dunia, seolah-olah sinar nya hanya bintang-bintang
kecil yang indah di pandang, tetapi tidak bisa memberi penerang di kegelapan
bumi. Indah di pandang, tapi manfaatnya sangat berkurang.
Sinar umat Islam
seolah-olah seperti sinar bintang-bingang di langit. Banyak Cahaya, tapi hanya
untuk memberi cahaya pada diri sendiri. Ketika orang lain bercahaya, maka
kadang kita terseinggung dan merasa tersaingi. Lalu, terjadi adalah saling
menjatuhkan satu dengan lainnya. Saling caci, saling menebar hoax, dan saling
menumbuhkan rasa benci terus menerus tanpa henti.
Pada saat
terjadi perang narasi saat sekarang di antara penganut agama untuk menjatuhkan
lawan nya dan mem-framing kebaikan pada dirinya sendiri, justru pada
saat yang sama umat Islam saling menjatuhkan dengan terus membuka segala
kekurangan dan kejelekan. Pada sisi lain saling menjatuhkan, kadang tidak malu
pula membagakan musuh=musuh Allah seolah-olah mereka mempunyai peradaban yang
agung dan sangat mulia. Kedangkalan keimanan dan keyakinan kepada Allah telah
menyebabkan hati kita subur penuh dengan kebencian sesama muslim dan terus
membanggakan umat non-muslim.
Saya kira, pada
kondisi saat sekarang ini umat Islam jangan menghabiskan energi untuk saling
merendahkan. Namun perlu sama-sama bahu-membahu, membangkitkan semangat untuk
membangun peradaban dengan berlandaskan pada semangat nafsu mutmainah.
Sudah cukup
umat lain melakukan propaganda tentang agama dan umat Islam kita di luar sana. Cukup
sudah kita menutup pintu segala propaganda tersebut yang tidak bermanfaat sama
sekali bagi umat Islam. Jangan lagi kita ikut-ikut mem-framing saudara
sendiri dengan terus menjelek-jelekan dengan segala kekurangan yang ada. Perbedaan
bisa dima’lumi dan bisa diterima secara apa adanya jika hati kita benar-benar
telah sumeleh kepada Allah SWT. Jika belum, maka yang akan terjadi adalah
bertengkar dan berkelahi sesama saudara sendiri.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   117
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3904
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3562
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456