
Ada teman ku kaget bahwa perang masih
terjadi di Timur Tengah: Iran Vs Israel. Dia mengira bahwa Tom & Jerry Timur
Tengah tidak lagi perang. Sudah genjatan senjata permanen. Ma’lum, beberapa
minggu media sosial masih sibuk melototi dolar, rupiah dan MBG.
Masyarakat Indonesia memang perhatian
banget terhadap apa-apa yang dianggap berhubungan dengan hidup hajat orang
banyak. Tapi sesedih-sedih masyarakat Indonesia masih bisa ngopi. Meskipun kata
Menkeu, Tempe dan Tahu sudah mulai mengecil. Itupun bukan masalah
yang prinsipil. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, minum kopi itu hal yang
utama. Tidak minum kopi, rasa nya sudah Kiamat Sughro.
Sepanjang masih ada kopi, aman. Sesulit
apapun saya dan-mungkin-anda masih bisa “cekikikan”. Bahagia dan tetap enjoy.
Bahkan kebahagiaannya menular mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Bahkan
kebahagiaan menular sampai ke luar negeri. Itu hanya gara-gara Mas Bahlil. Lagu
MBG sangat viral. Sampai anak ku yang masih SD hapal judul lagunya: MBG-Mas
Bahlil Ganteng.
Ini yang berbeda dengan Bangsa Yahudi di Timur
Tengah. Bangsa yang dulu dikarunia anugerah yang sangat besar – turun nya para
Nabi dan Rasul- telah kehilangan ruh rasa syukur kepada Allah SWT. Kenikmatan
yang telah diberikan begitu banyak disia-siakan. Bahkan secara terang-terangan
melawan perintah-perintah para Nabi dan Rasul. Allah telah menggambarkan
besarnya kenikmatan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 123 sebagai berikut:
يٰبَنِيْٓ
اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ
فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ١٢٢
Artinya:
Wahai Bani
Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya
Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).
Allah begitu
banyak menganugrahkan kenikmatan kepada Bani Israel melebihi kenikmatan kepada
lainnya. Ternyata kenikmatan yang sangat besar tidak menjadikan mereka dekat
dengan Allah, tetapi justru melawan hukum-hukum Nya dan membunuh para
utusan-Nya.
Saya dan
-mungkin-anda bukan bagian dari titisan darah geneologis Bani Israel. Kita juga
bukan bagian dari orang yang penganut agama yahudi. Kita sering mengatakan
“anti yahudi”.
Benarkah
demikian. Benarkah kita sangat membenci nya secara totalitas. Jangan-jangan
mulut kita membencinya, tapi perilaku mirip-mirip seperti nya. Ada banyak
kenikmatan, tapi sering melupakan kenikmatan tersebut.
Kita mungkin
terlalu sering membenci kaum yahudi atau bangsa israel. Namun kita sering tidak
menyadari bahwa pada sisi tertentu perbuatan kita pun sangat sulit dibedakan dengan
orang-orang -kaum yahudi- yang selalu dituduh sebagai kelompok merusak seluruh sistem
kehidupan di dunia.
Ada kenikmatan
berupa pekerjaan, kita kadang lupa terhadap pekerjaan yang diamanahkan kepada
kita. Ada kenikmatan berupa istri dan anak, tapi kadang kita melupakan merawat
dan mendidik keduanya. Ada kenikmatan berupa umur kadang lupa untuk
memanfaatkan secara maksimal untuk mengabdi kepada-Nya dan mempersembahkan
karya kita terbaik untuk-Nya.
Jika berbicara
kenikmatan tentu saja sangat luas. Saya mencoba mempersempit scope of work
pada diri sendiri sebagai jalan untuk mengingat diri dengan segala kelemahan.
Padad level
tertentu kita mungkin seperti seorang Kaisar seperti pada kisah-kisah Drama
China. Namun saya melihat, bahwa sehebat Kaisar selalu saja membutuhkan
orang-orang yang bisa memberi nasehat kebaikan. Sebab mata dan telinga kaisar
terbatas. Sedangkan wilayah sangat luas. Kaisar membutuhkan orang lain untuk
membantu kekuasaannya.
Kita adalah Kaisar
untuk dirinya sendiri. Kata Imam Al-Ghozali, kita adalah Raja. Lebih tepat,
hati kita adalah Raja. Sebuah hati sebagai tempat suci dan kebaikan tidak cukup
hanya dinikmati oleh hati itu sendiri. Ia membutuhkan program-program yang terdokumen
dalam hati agar seluruh bagian tubuh bisa melaksanakan tugas secara baik dan
benar. Menjalankan tugas-tugas tersebut sebenarnya perwujudan kepatuhan hati. Dan
kepatuhan hati sebenarnya kepatuhan terhadap perintah-perintah Allah SWT. Karena
memang demikian, hati tidak pernah berbohong dan tidak mau menolak
perintah-perintah-Nya.
Walhasil Allah
mengajarkan kepada nabi dan umat nya agar jangan sampai hati kita lupa atau
lebih ekstrem lagi “mati” seperti Kaum Yahudi. Kenikmatan yang agung
telah dihempas begitu saja dari diri mereka, dan mereka hanya mengambil sedikit
dari kenikmatan yang fana, yaitu kekayaan, kekuasaan dan kemewahan. Untuk mempertahankan
yang sedikit ini, mereka harus berkelahi dan membunuh bahkan juga memberangus
secara kejam masyarakat Palestina. Na’udzubillah mindalik.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141
Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3904
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3562
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456