Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

357 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan



Rabu , 10 Juni 2026



Telah dibaca :  117

Ada teman ku kaget bahwa perang masih terjadi di Timur Tengah: Iran Vs Israel. Dia mengira bahwa Tom & Jerry Timur Tengah tidak lagi perang. Sudah genjatan senjata permanen. Ma’lum, beberapa minggu media sosial masih sibuk melototi dolar, rupiah dan MBG.

Masyarakat Indonesia memang perhatian banget terhadap apa-apa yang dianggap berhubungan dengan hidup hajat orang banyak. Tapi sesedih-sedih masyarakat Indonesia masih bisa ngopi. Meskipun kata Menkeu, Tempe dan Tahu sudah mulai mengecil. Itupun bukan masalah yang prinsipil. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, minum kopi itu hal yang utama. Tidak minum kopi, rasa nya sudah Kiamat Sughro.

Sepanjang masih ada kopi, aman. Sesulit apapun saya dan-mungkin-anda masih bisa “cekikikan”. Bahagia dan tetap enjoy. Bahkan kebahagiaannya menular mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Bahkan kebahagiaan menular sampai ke luar negeri. Itu hanya gara-gara Mas Bahlil. Lagu MBG sangat viral. Sampai anak ku yang masih SD hapal judul lagunya: MBG-Mas Bahlil Ganteng.

Ini yang berbeda dengan Bangsa Yahudi di Timur Tengah. Bangsa yang dulu dikarunia anugerah yang sangat besar – turun nya para Nabi dan Rasul- telah kehilangan ruh rasa syukur kepada Allah SWT. Kenikmatan yang telah diberikan begitu banyak disia-siakan. Bahkan secara terang-terangan melawan perintah-perintah para Nabi dan Rasul. Allah telah menggambarkan besarnya kenikmatan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 123 sebagai berikut:

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۝١٢٢

Artinya:

Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).

Allah begitu banyak menganugrahkan kenikmatan kepada Bani Israel melebihi kenikmatan kepada lainnya. Ternyata kenikmatan yang sangat besar tidak menjadikan mereka dekat dengan Allah, tetapi justru melawan hukum-hukum Nya dan membunuh para utusan-Nya.

Saya dan -mungkin-anda bukan bagian dari titisan darah geneologis Bani Israel. Kita juga bukan bagian dari orang yang penganut agama yahudi. Kita sering mengatakan “anti yahudi”.

Benarkah demikian. Benarkah kita sangat membenci nya secara totalitas. Jangan-jangan mulut kita membencinya, tapi perilaku mirip-mirip seperti nya. Ada banyak kenikmatan, tapi sering melupakan kenikmatan tersebut.

Kita mungkin terlalu sering membenci kaum yahudi atau bangsa israel. Namun kita sering tidak menyadari bahwa pada sisi tertentu perbuatan kita pun sangat sulit dibedakan dengan orang-orang -kaum yahudi- yang selalu dituduh sebagai kelompok merusak seluruh sistem kehidupan di dunia.

Ada kenikmatan berupa pekerjaan, kita kadang lupa terhadap pekerjaan yang diamanahkan kepada kita. Ada kenikmatan berupa istri dan anak, tapi kadang kita melupakan merawat dan mendidik keduanya. Ada kenikmatan berupa umur kadang lupa untuk memanfaatkan secara maksimal untuk mengabdi kepada-Nya dan mempersembahkan karya kita terbaik untuk-Nya.

Jika berbicara kenikmatan tentu saja sangat luas. Saya mencoba mempersempit scope of work pada diri sendiri sebagai jalan untuk mengingat diri dengan segala kelemahan.

Padad level tertentu kita mungkin seperti seorang Kaisar seperti pada kisah-kisah Drama China. Namun saya melihat, bahwa sehebat Kaisar selalu saja membutuhkan orang-orang yang bisa memberi nasehat kebaikan. Sebab mata dan telinga kaisar terbatas. Sedangkan wilayah sangat luas. Kaisar membutuhkan orang lain untuk membantu kekuasaannya.

Kita adalah Kaisar untuk dirinya sendiri. Kata Imam Al-Ghozali, kita adalah Raja. Lebih tepat, hati kita adalah Raja. Sebuah hati sebagai tempat suci dan kebaikan tidak cukup hanya dinikmati oleh hati itu sendiri. Ia membutuhkan program-program yang terdokumen dalam hati agar seluruh bagian tubuh bisa melaksanakan tugas secara baik dan benar. Menjalankan tugas-tugas tersebut sebenarnya perwujudan kepatuhan hati. Dan kepatuhan hati sebenarnya kepatuhan terhadap perintah-perintah Allah SWT. Karena memang demikian, hati tidak pernah berbohong dan tidak mau menolak perintah-perintah-Nya.

Walhasil Allah mengajarkan kepada nabi dan umat nya agar jangan sampai hati kita lupa atau lebih ekstrem lagi “mati” seperti Kaum Yahudi. Kenikmatan yang agung telah dihempas begitu saja dari diri mereka, dan mereka hanya mengambil sedikit dari kenikmatan yang fana, yaitu kekayaan, kekuasaan dan kemewahan. Untuk mempertahankan yang sedikit ini, mereka harus berkelahi dan membunuh bahkan juga memberangus secara kejam masyarakat Palestina. Na’udzubillah mindalik.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141

Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3456