
Ada perbedaan pemikiran antara Nabi Ibrahim dan tradisi kaum
musyrikin berkaitan dengan Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Jika Nabi Ibrahim
melalui proses aktif mencari kebenaran tentang Tuhan. Ia terus mencari dan
kemudian hari menemukan-Nya dalam keimanan di dada yang sangat kuat.
Sedangkan kaum musryikin mencari Tuhan
sebagai bentuk penghinaan atau ejekan. Tujuan mempertanyakan eksistensi Tuhan
bukan karena ingin beriman kepada-Nya, tapi sebatas untuk menuruti hawa nafsu
semata tentang penolakan eksistensi-Nya dalam hati mereka yang paling dalam.
Persis seperti kebencian yang membara dalam hati, sehebat apapun atau kebenaran
apapun yang ia bawa akan tetap dibenci oleh kaum pembenci. Apalagi jika salah,
maka semakin menjadi rasa benci dalam hati.
Allah SWT telah berfirman dalam Q.S.
Al-Baqarah ayat 118 sebagai berikut:
وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا
يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ قَدْ بَيَّنَّا
الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ١١٨
Artinya:
Orang-orang yang tidak mengetahui berkata, “Mengapa Allah tidak
berbicara dengan kita atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kita?”
Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan
mereka itu. Hati mereka serupa. Sungguh, telah Kami jelaskan tanda-tanda
(kekuasaan Kami) kepada kaum yang yakin.
Di era modern, persoalan Tuhan dan agama terus diperdebatkan.
Bahkan jauh-jauh hari ketika perkembangan rasionalisme di dunia barat mewabah,
muncul penolakan tuhan, nabi dan agama di kalangan mereka. Hingga kemudian
muncul aliran humanisme yang memposisikan diri sebagai agama baru dengan
menolak eksistensi agama-agama samawi dan agama-agama lainnya. Menolak tuhan,
nabi dan kitab suci.
Salah satu tokoh humanisme Julian Huxley mengatakan sebagai
berikut: “Perkataan agama sering dipakai secara terbatas, dengan arti
kepercayaan kepada dewa-dewa, tetapi saya tidak memakainya dalam pengertian
ini-dengan sendirinya saya tidak ingin melihat seorang manusia diangkat menjadi
dewa, sebagaimana terjadi pada beberapa orang pada masa silam, dan masih
terjadi sampai hari ini. Saya menggunakan dalam pengertian yang lebih luas,
untuk menunjukan suatu hubungan menyeluruh antara seseorang dan nasibnya, serta
sesuatu yang menyangkut perasaannya tentang apa yang suci.”
Dari sini penulis bisa melihat bahwa manusia pada masa dulu dan
masa sekarang pada persoalan percaya atau tidak percaya kepada allah merupakan
proses yang akan terus terjadi sepanjang masa. Kedua kutub yang akan menjadi
madzhab besar dan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Mereka saling
mempromosikan kehebatan dirinya dan menjatuhkan kelemahan-kelemahan lainnya.
Contoh kecil dalam Al-Qur’an, Ketika kaum musryikin pada masa
Persia-sebelum islam-mengalami masa kejayaan, maka bangsa-bangsa sekitarnya
sangat memuja-muja kehehabatan bangsa Persia. Dataran Arab Saudi yang sering
melakukan perjalanan bisnis -baik di musim panas dan musim dingin- sangat cepat
mendapatkan informasi tentang kehebatan dan keperkasaan bangsa Persia. Bangsa Penyembah
Api ini pun disanjung-sanjung tentang kebenaran ajaran dan prinsip-prinsip
hidupnya. Itu sebabnya, Masyarakat Arab Jahiliyah -yang sebelumnya mengikuti
ajaran Para Nabi- lama kelamaan mengikuti pola sesembahan kaum Persia yaitu
menyembah berhala.
Ketika terjadi peperangan Romawi dan Persia, masyarakat Arab
Jahiliyah pun mengejek Nabi Muhammad dan umat Islam seperti agama Bangsa Romawi
yang sama-sama Samawi. Mereka berpandangan bahwa bangsa Romawi selalu kalah
karena agama nya tidak lagi relevan dengan nilai-nilai ajaran manusia modern.
Dan sudah pantas ditinggalkan. Menganut agama Islam, berarti sama menganut
agama yang dianut oleh bangsa Romawi yang kolot.
Allah berkehendak lain. pada masa Nabi, Bangsa Romawi menang
melawan Persia. Berbahagialah Nabi Muhammad dan umat Islam. Berita kemenangan
Bangsa Romawi memperkuat kedudukan agama Islam di Tanah Arab. Masyarakat
jahiliyah yang mengejak Umat Islam dan Bangsa Romawi terdiam. Meskipun
demikian, bagi mereka -kaum jahiliyah-yang sudah benar-benar benci terhadap
Islam-akan terus mencari kesalahan Nabi Muhammad dan ajarannya.
Saat sekarang ini baik penganut agama samawi-seperti agama Islam-
maupun penganut rasionalisme mutlak, humanisme, materalisme dan sejenisnya akan
sama-sama mengalami kegoncangan akibat kondisi ekonomi dan politik global yang
semakin kacau. Hari ini kita sama-sama sibuk saling memandang. Seolah-olah
mereka lebih bahagia daripada kita yang sebagai penganut agama Islam.
Padahal pada saat yang sama, kaum materialisme dan humanisme juga
sedang mengalami kegoncangan yang sangat hebat. Kebenaran rasional yang dianut
oleh mereka mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan kebahagiaan secara
fundamental. Mereka -kaum humanisme- yang selalu menjadikan akal sebagai
rujukan tertinggi dalam menyelesaikan persoalan ternyata pada wilayah-wilayah
tertentu tumpul. Kebahagiaan yang diciptakan hasil buah karya pikiran pun hanya
sebatas seperti “obat peredam panas”, yang saat minum obat turun
suhunya, saat obat habis maka kambuh lagi penyakitnya. Itulah kondisi kaum humanisme
saat sekarang ini.
Sebagai umat Islam dalam segala keterbatasan dan keterbelakangan
pada bagian-bagian tertentu memang sangat menyedihkan. Meskipun demikian, umat Islam
masih tetap menyakini tentang Tuhan, Nabi, Agama dan segala ajaran-ajarannya.
Meskipun belum melaksanakan secara kaffah. Lagi-lagi kondisi seperti ini
jauh labih baik ketimbang dari kaum humanisme yang selalu muter-muter
mencari kebenaran dan tidak pernah menemukan kebenaran sejati. Sebab kebenaran
sejati bukan pada akal, tetapi kebenaran sejati justri di atas akal yaitu
kebenaran yang bersumber dari firman Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   139
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3857
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3513
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255