Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan



Minggu , 31 Mei 2026



Telah dibaca :  81

Ada perbedaan  pemikiran antara Nabi Ibrahim dan tradisi kaum musyrikin berkaitan dengan Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Jika Nabi Ibrahim melalui proses aktif mencari kebenaran tentang Tuhan. Ia terus mencari dan kemudian hari menemukan-Nya dalam keimanan di dada yang sangat kuat.

Sedangkan kaum musryikin mencari Tuhan sebagai bentuk penghinaan atau ejekan. Tujuan mempertanyakan eksistensi Tuhan bukan karena ingin beriman kepada-Nya, tapi sebatas untuk menuruti hawa nafsu semata tentang penolakan eksistensi-Nya dalam hati mereka yang paling dalam. Persis seperti kebencian yang membara dalam hati, sehebat apapun atau kebenaran apapun yang ia bawa akan tetap dibenci oleh kaum pembenci. Apalagi jika salah, maka semakin menjadi rasa benci dalam hati.

Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 118 sebagai berikut:

وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ۝١١٨

Artinya:

Orang-orang yang tidak mengetahui berkata, “Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kita?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sungguh, telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang yakin.

Di era modern, persoalan Tuhan dan agama terus diperdebatkan. Bahkan jauh-jauh hari ketika perkembangan rasionalisme di dunia barat mewabah, muncul penolakan tuhan, nabi dan agama di kalangan mereka. Hingga kemudian muncul aliran humanisme yang memposisikan diri sebagai agama baru dengan menolak eksistensi agama-agama samawi dan agama-agama lainnya. Menolak tuhan, nabi dan kitab suci.

Salah satu tokoh humanisme Julian Huxley mengatakan sebagai berikut: “Perkataan agama sering dipakai secara terbatas, dengan arti kepercayaan kepada dewa-dewa, tetapi saya tidak memakainya dalam pengertian ini-dengan sendirinya saya tidak ingin melihat seorang manusia diangkat menjadi dewa, sebagaimana terjadi pada beberapa orang pada masa silam, dan masih terjadi sampai hari ini. Saya menggunakan dalam pengertian yang lebih luas, untuk menunjukan suatu hubungan menyeluruh antara seseorang dan nasibnya, serta sesuatu yang menyangkut perasaannya tentang apa yang suci.”

Dari sini penulis bisa melihat bahwa manusia pada masa dulu dan masa sekarang pada persoalan percaya atau tidak percaya kepada allah merupakan proses yang akan terus terjadi sepanjang masa. Kedua kutub yang akan menjadi madzhab besar dan saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Mereka saling mempromosikan kehebatan dirinya dan menjatuhkan kelemahan-kelemahan lainnya.

Contoh kecil dalam Al-Qur’an, Ketika kaum musryikin pada masa Persia-sebelum islam-mengalami masa kejayaan, maka bangsa-bangsa sekitarnya sangat memuja-muja kehehabatan bangsa Persia. Dataran Arab Saudi yang sering melakukan perjalanan bisnis -baik di musim panas dan musim dingin- sangat cepat mendapatkan informasi tentang kehebatan dan keperkasaan bangsa Persia. Bangsa Penyembah Api ini pun disanjung-sanjung tentang kebenaran ajaran dan prinsip-prinsip hidupnya. Itu sebabnya, Masyarakat Arab Jahiliyah -yang sebelumnya mengikuti ajaran Para Nabi- lama kelamaan mengikuti pola sesembahan kaum Persia yaitu menyembah berhala.

Ketika terjadi peperangan Romawi dan Persia, masyarakat Arab Jahiliyah pun mengejek Nabi Muhammad dan umat Islam seperti agama Bangsa Romawi yang sama-sama Samawi. Mereka berpandangan bahwa bangsa Romawi selalu kalah karena agama nya tidak lagi relevan dengan nilai-nilai ajaran manusia modern. Dan sudah pantas ditinggalkan. Menganut agama Islam, berarti sama menganut agama yang dianut oleh bangsa Romawi yang kolot.

Allah berkehendak lain. pada masa Nabi, Bangsa Romawi menang melawan Persia. Berbahagialah Nabi Muhammad dan umat Islam. Berita kemenangan Bangsa Romawi memperkuat kedudukan agama Islam di Tanah Arab. Masyarakat jahiliyah yang mengejak Umat Islam dan Bangsa Romawi terdiam. Meskipun demikian, bagi mereka -kaum jahiliyah-yang sudah benar-benar benci terhadap Islam-akan terus mencari kesalahan Nabi Muhammad dan ajarannya.

Saat sekarang ini baik penganut agama samawi-seperti agama Islam- maupun penganut rasionalisme mutlak, humanisme, materalisme dan sejenisnya akan sama-sama mengalami kegoncangan akibat kondisi ekonomi dan politik global yang semakin kacau. Hari ini kita sama-sama sibuk saling memandang. Seolah-olah mereka lebih bahagia daripada kita yang sebagai penganut agama Islam.

Padahal pada saat yang sama, kaum materialisme dan humanisme juga sedang mengalami kegoncangan yang sangat hebat. Kebenaran rasional yang dianut oleh mereka mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan kebahagiaan secara fundamental. Mereka -kaum humanisme- yang selalu menjadikan akal sebagai rujukan tertinggi dalam menyelesaikan persoalan ternyata pada wilayah-wilayah tertentu tumpul. Kebahagiaan yang diciptakan hasil buah karya pikiran pun hanya sebatas seperti “obat peredam panas”, yang saat minum obat turun suhunya, saat obat habis maka kambuh lagi penyakitnya. Itulah kondisi kaum humanisme saat sekarang ini.

Sebagai umat Islam dalam segala keterbatasan dan keterbelakangan pada bagian-bagian tertentu memang sangat menyedihkan. Meskipun demikian, umat Islam masih tetap menyakini tentang Tuhan, Nabi, Agama dan segala ajaran-ajarannya. Meskipun belum melaksanakan secara kaffah. Lagi-lagi kondisi seperti ini jauh labih baik ketimbang dari kaum humanisme yang selalu muter-muter mencari kebenaran dan tidak pernah menemukan kebenaran sejati. Sebab kebenaran sejati bukan pada akal, tetapi kebenaran sejati justri di atas akal yaitu kebenaran yang bersumber dari firman Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   129

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

Perang Mulut para Penganut Ahli Kitab, Kenapa kita ikut-ikutan?
24 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4866


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3255