
Pada tulisan sebelumnya, Allah menyebut
setiap kelompok besar manusia-masyarakat- atas nama ideologi, agama, ataupun
apa saja dengan kata umat. Kata ini sebagai penyebutan dasar bahwa Islam memang
menginginkan suatu tatanan masyarakat. Bahkan kata masyarakat-perkumpulan- menginspirasi
sebagai cita-cita puncak peradaban ideal yang sering disebut dengan hadarah
atau tamadun.
Kita bisa melihat dari akar kata ‘hadarah’
yang sering dikaitkan dengan makna peradaban. Kata ‘hadarah’ yang
bermakna ‘hadir’ atau datang atau ada merupakan kata yang sering kita dengar saat
seorang dosen atau guru melakukan absensi pada saat sebelum mulai proses pembelajar.
Ketika ada yang mengatakan ‘ saya hadir atau ana hadir atau ana hadiroh’,
berarti mereka yang berada di ruangan dan siap menerima Pelajaran atau mata
kuliah. Proses interaksi ini yang disebut hadarah atau proses mengenal
jati diri manusia yang kemudian dikristalisasikan proses tersebut sebagai
bentuk peradaban. Jadi peradaban manusia itu hadarah yaitu interaksi
manusia ditempat tertentu dan saling interaksi dalam rangka berfikir, berkarya,
berbuat untuk kepentingan Bersama.
Peradaban juga sering disebut dengan madaniyun
atau tamadun. Peradaban melayu digambarkan dengan kalimat ‘tamadun
melayu’. Jika merujuk kata ‘madaniyun’ sebenarnya intisari dari kata
ijtima’ yang artinya perkumpulan. Searti dengan kata hadarah yang
juga artinya perkumpulan atau masyarakat. Jadi baik hadarah atau tamadun
sebenarnya punya akar kata sama yaitu masyarakat.
Tentu saja masyarakat membutuhkan suatu
perangkat pengikat hubungan sosial mereka agar lebih efektif dalam upaya mencapai
tujuan-tujuan bersama. Ini yang kemudian disebut dengan konstitusi,
undang-undang dan penyebutan-penyebutan lainnya.
Ironisnya dalam praktek ikatan-ikatan
aturan yang dibuat yang pada awalnya sering sebagai bentuk kesepakatan bersama lama
kelamaan muncul otoritarian muncul menggeser konsep musyawarah. Ini juga yang
kemudian melegitimasi sistem tersebut dalam waktu yang sangat panjang dan mengakar.
Lalu muncul sistem kasta. Yang kuat memperlakukan yang lemah sebagai budak dan
dianggap orang-orang bodoh, tidak berpengetahuan dan sejenisnya.
Kondisi yang demikian ini yang kemudian
muncul para Rasul untuk memperbaiki sistem yang rusak. Allah SWT dalam Al-Qur’an
ayat 129 menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا
مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيْهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُࣖ ١٢٩
Artinya:
Ya Tuhan kami,
utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan
kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada
mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana.”
Allah senantiasa
menghadirkan Rasul dari kaum nya. Sistem yang telah berjalan seperti sudah
tidak lagi bisa dirubah di tengah-tengah masyarakat. Namun mereka tidak bisa
melakukan perubahan karena sistem yang telah membentuk nya. Apalagi presepsi pemaknaan
status masyarakat sudah menjadi bagian dari keyakinan yang hidup dalam alam
bawah sadar. Mau tidak mau, masyarakat pun menerima segala keputusan meskipun
sebenarnya sangat menyakitkan mereka.
Allah menurunkan
wahyu dan rasul nya memperkenalkan kepada masyarakat tentang makna
kebaikan-kebaikan regulasi. Proses tersebut tentu saja mengalami pro dan
kontra. Ada pendukung dan ada perlawanan. Dan kisah ini sudah terekam dalam
buku sejarah yang sangat banyak.
Kisah tersebut
menunjukan bahwa pola hubungan masyarakat senantiasa mengalami konflik
kepentingan setiap kelompok dalam upaya mewujudkan kepentingan masing-masing.
Bahkan dalam
suatu unit yang lebih dikecilkan sekalipun -seperti di lembaga pendidikan,
ormas, masyarakat, keluarga-, persoalan-persoalan konflik kepentingan selalu
saja terjadi.
Tentu saja
tidak ada sistem yang paling baik untuk bisa membangun suatu sistem yang
paripurna dalam sistem yang ada. Selalu saja ada plus minusnya. Itu sebabnya, Islam
tidak memberikan solusi teknis untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Islam memberikan
setrum perubahan pada ruhaniah para pelaku, pemimpin dan Masyarakat
dengan pola ‘وَيُزَكِّيْهِمْۗ ‘ yaitu
membersihkan ruh kita dari penyakit hati dan memasukan hati dengan nilai-nilai
cinta yang tulus. Ketika cinta sudah mampu bertasbih dalam setiap sistem yang
kita bangun, maka ada titik temu perbedaan-perbedaan sebagai fitrah yang wajar dan
tumbuh saling menghargai satu dengan lainnya.
Bahkan ketika cinta
benar-benar bertasbih, akan muncul keterbukaan -transparansi- pada sistem yang
kita bangun bersama. Pada saat ini terwujud,maka hadarah dan tamadun
benar-benar sudah melahirkan makna peradaban yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174
Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194
Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218
Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   150
Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13973
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4991
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4074
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4055
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3665