Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

365 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Cinta Bertasbih



Sabtu , 04 Juli 2026



Telah dibaca :  98

Pada tulisan sebelumnya, Allah menyebut setiap kelompok besar manusia-masyarakat- atas nama ideologi, agama, ataupun apa saja dengan kata umat. Kata ini sebagai penyebutan dasar bahwa Islam memang menginginkan suatu tatanan masyarakat. Bahkan kata masyarakat-perkumpulan- menginspirasi sebagai cita-cita puncak peradaban ideal yang sering disebut dengan hadarah atau tamadun.

Kita bisa melihat dari akar kata ‘hadarah’ yang sering dikaitkan dengan makna peradaban. Kata ‘hadarah’ yang bermakna ‘hadir’ atau datang atau ada merupakan kata yang sering kita dengar saat seorang dosen atau guru melakukan absensi pada saat sebelum mulai proses pembelajar. Ketika ada yang mengatakan ‘ saya hadir atau ana hadir atau ana hadiroh’, berarti mereka yang berada di ruangan dan siap menerima Pelajaran atau mata kuliah. Proses interaksi ini yang disebut hadarah atau proses mengenal jati diri manusia yang kemudian dikristalisasikan proses tersebut sebagai bentuk peradaban. Jadi peradaban manusia itu hadarah yaitu interaksi manusia ditempat tertentu dan saling interaksi dalam rangka berfikir, berkarya, berbuat untuk kepentingan Bersama.

Peradaban juga sering disebut dengan madaniyun atau tamadun. Peradaban melayu digambarkan dengan kalimat ‘tamadun melayu’. Jika merujuk kata ‘madaniyun’ sebenarnya intisari dari kata ijtima’ yang artinya perkumpulan. Searti dengan kata hadarah yang juga artinya perkumpulan atau masyarakat. Jadi baik hadarah atau tamadun sebenarnya punya akar kata sama yaitu masyarakat.

Tentu saja masyarakat membutuhkan suatu perangkat pengikat hubungan sosial mereka agar lebih efektif dalam upaya mencapai tujuan-tujuan bersama. Ini yang kemudian disebut dengan konstitusi, undang-undang dan penyebutan-penyebutan lainnya.

Ironisnya dalam praktek ikatan-ikatan aturan yang dibuat yang pada awalnya sering sebagai bentuk kesepakatan bersama lama kelamaan muncul otoritarian muncul menggeser konsep musyawarah. Ini juga yang kemudian melegitimasi sistem tersebut dalam waktu yang sangat panjang dan mengakar. Lalu muncul sistem kasta. Yang kuat memperlakukan yang lemah sebagai budak dan dianggap orang-orang bodoh, tidak berpengetahuan dan sejenisnya.

Kondisi yang demikian ini yang kemudian muncul para Rasul untuk memperbaiki sistem yang rusak. Allah SWT dalam Al-Qur’an ayat 129 menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُࣖ ۝١٢٩

Artinya:

Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Allah senantiasa menghadirkan Rasul dari kaum nya. Sistem yang telah berjalan seperti sudah tidak lagi bisa dirubah di tengah-tengah masyarakat. Namun mereka tidak bisa melakukan perubahan karena sistem yang telah membentuk nya. Apalagi presepsi pemaknaan status masyarakat sudah menjadi bagian dari keyakinan yang hidup dalam alam bawah sadar. Mau tidak mau, masyarakat pun menerima segala keputusan meskipun sebenarnya sangat menyakitkan mereka.

Allah menurunkan wahyu dan rasul nya memperkenalkan kepada masyarakat tentang makna kebaikan-kebaikan regulasi. Proses tersebut tentu saja mengalami pro dan kontra. Ada pendukung dan ada perlawanan. Dan kisah ini sudah terekam dalam buku sejarah yang sangat banyak.

Kisah tersebut menunjukan bahwa pola hubungan masyarakat senantiasa mengalami konflik kepentingan setiap kelompok dalam upaya mewujudkan kepentingan masing-masing.

Bahkan dalam suatu unit yang lebih dikecilkan sekalipun -seperti di lembaga pendidikan, ormas, masyarakat, keluarga-, persoalan-persoalan konflik kepentingan selalu saja terjadi.

Tentu saja tidak ada sistem yang paling baik untuk bisa membangun suatu sistem yang paripurna dalam sistem yang ada. Selalu saja ada plus minusnya. Itu sebabnya, Islam tidak memberikan solusi teknis untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Islam memberikan setrum perubahan pada ruhaniah para pelaku, pemimpin dan Masyarakat dengan pola ‘وَيُزَكِّيْهِمْۗ ‘ yaitu membersihkan ruh kita dari penyakit hati dan memasukan hati dengan nilai-nilai cinta yang tulus. Ketika cinta sudah mampu bertasbih dalam setiap sistem yang kita bangun, maka ada titik temu perbedaan-perbedaan sebagai fitrah yang wajar dan tumbuh saling menghargai satu dengan lainnya.

Bahkan ketika cinta benar-benar bertasbih, akan muncul keterbukaan -transparansi- pada sistem yang kita bangun bersama. Pada saat ini terwujud,maka hadarah dan tamadun benar-benar sudah melahirkan makna peradaban yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174

Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   150

Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13973


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4991


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4074


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3665