Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

362 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Iman dan Traffic Light



Jumat , 26 Juni 2026



Telah dibaca :  69

Masih cukup pagi. Sekitar jam 6.20 menit saya berangkat ke Kantor. Bukan karena disiplin, bukan juga karena rajin. gara-gara charger HP ketinggalan di kantor. Baterai HP drop. Era kini, kebutuhan alat komunikasi sudah pada level di bawah ATM.

Masih cukup pagi. Jam 6.20 kendaraan di kota kecil seperti bengkalis masih sepi. Lampu Traffic Light-lampu merah-sudah berganti-ganti warna. Karena sepi juga, Traffic Light seolah-olah tidak berfungsi. Kendaraan dari depan, kanan, kiri dan belakang berjalan normal. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada rasa takut ketabrak. Tidak juga takut dianggap pelanggar aturan. Masyarakat Indonesia memang sungguh luarbiasa. Melihat Traffic Light di pagi hari seperti  lampu hias di Rumah-Rumah, Mini Market atau Perkantoran. Hanya dilihat nya sambil terus berjalan.

Saya mencoba patuh terhadap aturan. Bersabar saat lampu masih berwarna merah. Berhenti, sambil mata melihat lalu lalang kendaraan dari segala penjuru mata angin. Namun, saya semakin merasa asing saat mencoba untuk patuh terhadap aturan. Bahkan -seolah-olah- sebagian pengendara yang melintas di depan ku sambil mengejek karena menunggu warna merah berubah hijau.

Tiba-tiba saya merasa-saat itu-ada rasa keterasingan dari dunia nyata. Saya merasa bahwa komitmen ku seperti orang asing yang sedang berjalan-jalan di negeri seberang. Mereka melihatku seperti manusia yang lucu, aneh dan unik.

Ini adalah cerita kehidupan. Fakta hidup yang sangat lumrah dilihat di depan mata dan dalam kehidupan sehari-hari. Kita patuh pada aturan Traffic Light ketika ada polisi berdiri di pinggir jalan. Kita patuh pada aturan ketika ada reward and punishment ada, terlihat dan nyata di depan mata. Saat keduanya, tidak terlihat maka ketaatan terhadap aturan tersebut pun semakin luntur. Kesalahan terasa sebagai kebiasaan baru yang kemudian hari membentuk kebiasaan formal berjamaah.

Jika kajian ditingkatkan pada level di atasnya lagi, umpamanya kajian berkaitan tentang iman kepada Allah dan segala konsekuensinya, maka kita akan menemukan variable kehidupan sosial yang mirip-mirip dengan cerita Sang Pengendara dengan Traffic Light.

Pada persoalan kehidupan, iman sering mempunyai peran penting dalam upaya memperkuat imunisasi diri agar kehidupan bisa normal atau setidak nya sedikit normal antara ketaatan terhadap Allah dan ketaatan terhadap aturan-aturan sosial. Iman dengan segala perangkat syariatnya sedang mengajarkan tentang tatacara menempatkan diri sebagai jalan menciptakan diri manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa patuh, taat dan merasa damai bersama dengan-Nya. Allah telah berfirman sebagai berikut:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ ۝١٢٥

Artinya:

(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!”

Ayat tersebut menggambarkan pola hidup manusia yang ideal, yaitu pola hidup yang dalam menjalankan aktivitasnya selaras dengan rasa aman Ketika menjalankan pengabdian kepada Allah. Sebab hakikat hamparan dunia ini adalah tempat ruku’ dan sujud-sholat.

Kita boleh mempunyai aktivitas. Tuhan tidak terlalu ikut campur pada persoalan kinerja kamu dan aktivitas mu. Secara operasional, Tuhan memberikan kebebasan manusia mendesain kegiatan tersebut. Kebebasan yang bertanggungjawab. Maknanya, bahwa aktivitas kita tidak boleh serta merta merusak bagian-bagian lain atau membahayakan kelompok lain. Bagaimanapun juga, mereka bagian dari komunitas yang secara etika dan hukum mempunyai kedudukan sama dengan kita.

Tanggungjawab sosial yang demikian memang melahirkan beragam pendapat, aliran dan idelologi yang kemudian menjadi dasar atau pijakan dalam membangun kehidupan bersama.

Tentu kebebasan yang diperoleh manusia tidak dibenarkan terlalu vulgar dan liberal. Tatanan nilai sebagai buah pikiran yang disepakati bersama bisa jadi akan berbeda dari satu kelompok dengan kelompok lain. Anda bisa jadi akan menolak pandangan orang-orang barat yang menurut kehidupan anda terlalu bebas dan berlawanan dengan moral. Hal yang sama bangsa barat pun akan menilai anda sebagai kelompok yang dianggap terlalu primitif dan tidak responsif terhadap peradaban-tentu saja versi mereka.

Disini aturan Tuhan mengisi ruang kosong dalam membangun kesamaan visi sehingga keberagaman dilihat bukan sebagai kegiatan yang penuh kecurigaan. Perbedaan justru akan menjadi rahmat, ketika dikemas dalam nilai-nilai aturan agama Islam. Kita bisa berbeda pandangan budaya antar suku, etnis, dan lain-lain. Namun kita bisa disatukan oleh nilai-nilai keagungan yang menerangi setiap perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya, ketika kita bertemu dan berkumpul dengan bahasa dan budaya yang berbeda, mereka tersenyum dan ada rasa aman dalam kalbu. Sebab mereka sama-sama ruku, sujud dan sholat hanya mengharapkan ridha Allah SWT.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1

Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   256

Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13934


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4970


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3650