
Masih cukup pagi. Sekitar jam 6.20 menit
saya berangkat ke Kantor. Bukan karena disiplin, bukan juga karena rajin.
gara-gara charger HP ketinggalan di kantor. Baterai HP drop. Era kini, kebutuhan
alat komunikasi sudah pada level di bawah ATM.
Masih cukup pagi. Jam 6.20 kendaraan di
kota kecil seperti bengkalis masih sepi. Lampu Traffic Light-lampu merah-sudah
berganti-ganti warna. Karena sepi juga, Traffic Light seolah-olah tidak
berfungsi. Kendaraan dari depan, kanan, kiri dan belakang berjalan normal.
Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada rasa takut ketabrak. Tidak juga takut
dianggap pelanggar aturan. Masyarakat Indonesia memang sungguh luarbiasa.
Melihat Traffic Light di pagi hari seperti
lampu hias di Rumah-Rumah, Mini Market atau Perkantoran. Hanya dilihat
nya sambil terus berjalan.
Saya mencoba patuh terhadap aturan.
Bersabar saat lampu masih berwarna merah. Berhenti, sambil mata melihat lalu
lalang kendaraan dari segala penjuru mata angin. Namun, saya semakin merasa
asing saat mencoba untuk patuh terhadap aturan. Bahkan -seolah-olah- sebagian
pengendara yang melintas di depan ku sambil mengejek karena menunggu warna
merah berubah hijau.
Tiba-tiba saya merasa-saat itu-ada rasa
keterasingan dari dunia nyata. Saya merasa bahwa komitmen ku seperti orang
asing yang sedang berjalan-jalan di negeri seberang. Mereka melihatku seperti
manusia yang lucu, aneh dan unik.
Ini adalah cerita kehidupan. Fakta hidup
yang sangat lumrah dilihat di depan mata dan dalam kehidupan sehari-hari. Kita
patuh pada aturan Traffic Light ketika ada polisi berdiri di pinggir jalan. Kita
patuh pada aturan ketika ada reward and punishment ada, terlihat dan
nyata di depan mata. Saat keduanya, tidak terlihat maka ketaatan terhadap
aturan tersebut pun semakin luntur. Kesalahan terasa sebagai kebiasaan baru
yang kemudian hari membentuk kebiasaan formal berjamaah.
Jika kajian ditingkatkan pada level di
atasnya lagi, umpamanya kajian berkaitan tentang iman kepada Allah dan segala
konsekuensinya, maka kita akan menemukan variable kehidupan sosial yang
mirip-mirip dengan cerita Sang Pengendara dengan Traffic Light.
Pada persoalan kehidupan, iman sering
mempunyai peran penting dalam upaya memperkuat imunisasi diri agar
kehidupan bisa normal atau setidak nya sedikit normal antara ketaatan terhadap Allah
dan ketaatan terhadap aturan-aturan sosial. Iman dengan segala perangkat
syariatnya sedang mengajarkan tentang tatacara menempatkan diri sebagai jalan
menciptakan diri manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa patuh, taat dan merasa
damai bersama dengan-Nya. Allah telah berfirman sebagai berikut:
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا
مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ
وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ
وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ ١٢٥
Artinya:
(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu
(Ka‘bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika
Aku katakan,) “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.”
(Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah
rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud
(salat)!”
Ayat tersebut menggambarkan pola hidup
manusia yang ideal, yaitu pola hidup yang dalam menjalankan aktivitasnya
selaras dengan rasa aman Ketika menjalankan pengabdian kepada Allah. Sebab hakikat
hamparan dunia ini adalah tempat ruku’ dan sujud-sholat.
Kita boleh mempunyai aktivitas. Tuhan tidak
terlalu ikut campur pada persoalan kinerja kamu dan aktivitas mu. Secara operasional,
Tuhan memberikan kebebasan manusia mendesain kegiatan tersebut. Kebebasan yang
bertanggungjawab. Maknanya, bahwa aktivitas kita tidak boleh serta merta
merusak bagian-bagian lain atau membahayakan kelompok lain. Bagaimanapun juga,
mereka bagian dari komunitas yang secara etika dan hukum mempunyai kedudukan
sama dengan kita.
Tanggungjawab sosial yang demikian memang
melahirkan beragam pendapat, aliran dan idelologi yang kemudian menjadi dasar
atau pijakan dalam membangun kehidupan bersama.
Tentu kebebasan yang diperoleh manusia
tidak dibenarkan terlalu vulgar dan liberal. Tatanan nilai sebagai buah pikiran
yang disepakati bersama bisa jadi akan berbeda dari satu kelompok dengan
kelompok lain. Anda bisa jadi akan menolak pandangan orang-orang barat yang
menurut kehidupan anda terlalu bebas dan berlawanan dengan moral. Hal yang sama
bangsa barat pun akan menilai anda sebagai kelompok yang dianggap terlalu primitif
dan tidak responsif terhadap peradaban-tentu saja versi mereka.
Disini aturan Tuhan mengisi ruang kosong
dalam membangun kesamaan visi sehingga keberagaman dilihat bukan sebagai kegiatan
yang penuh kecurigaan. Perbedaan justru akan menjadi rahmat, ketika dikemas
dalam nilai-nilai aturan agama Islam. Kita bisa berbeda pandangan budaya antar
suku, etnis, dan lain-lain. Namun kita bisa disatukan oleh nilai-nilai
keagungan yang menerangi setiap perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya,
ketika kita bertemu dan berkumpul dengan bahasa dan budaya yang berbeda, mereka
tersenyum dan ada rasa aman dalam kalbu. Sebab mereka sama-sama ruku, sujud dan
sholat hanya mengharapkan ridha Allah SWT.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1
Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   256
Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13934
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4970
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4013
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3650
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3630