Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

362 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Shooting Film Karbala



Jumat , 26 Juni 2026



Telah dibaca :  0

Setelah Sholat Jum’at, saya membuka facebook. Lupa, facebook milik siapa. Isinya kisah sutradara, pemain film dan fotografer yang ‘keseguken’ menangis tersedu-sedu. Menangis gara-gara shooting tentang kematian sayidina husein di padang karbala. Tangisan sangat histeris. Seperti seorang anak kehilangan orang tua nya, dan seorang ibu kehilangan anak yang sangat dicintainya.

Sungguh mereka mampu menghayati makna cinta yang sangat mendalam. Cinta dari orang-orang yang sangat dicintainya. jarak hidup nya terpaut 14 abad. Tapi luapan cinta nya seperti telah menyatu antara kulit dan daging. sayidina husein laksana aliran darah kehidupan yang akan terus menginspirasi seluruh masyarakat Iran.

Apakah ada kesedihan dan penderitaan di Iran. Tetap ada. Namun kecintaan yang mendalam kepada Sayidina Husein seolah-olah telah melenyapkan rasa penderitaan dalam jiwa dan perasaan mereka. Dalam segala keterbatasan, mereka tetap terus membawa panji jihad peradaban.

Itu sumpah mereka. Spirit penderitaan telah menjadi cahaya kekuatan. Laksana Kepompong yang rela berpuasa. Tujuannya hanya satu yaitu akan lahir kupu-kupu yang menebarkan kebahagiaan siapapun yang melihatnya.

Masyarakat Iran terlalu dalam rasa keyakinan atas pertolongan Allah. Kesadaran total terhadap rizki yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang selalu hatinya bersandar kepada-Nya.

Keyakinan akan pertolongan Allah bukan keyakinan buta. Mereka merealisasikan keyakinan tersebut melalui olah lelaku dalam sistem pendidikan. Pertolongan Allah akan sangat terbuka ketika hamba-hamba-Nya mempunyai senjata peradaban tertinggi yaitu senjata intelektual. Sebab keimanan yang disertai dengan pemahaman intelektual yang mendalam akan semakin sumrambah sektor-sektor rezeki Allah terbuka lebar. Sedangkan keimanan tanpa gerakan intelektual, maka rezeki yang diberikan Allah sesuai dengan kadar kemampuannya.

Mari kita memahami bersama-sama firman Allah berikut ini:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ۝١

Artinya:

(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman, “Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Ini adalah doa yang progresif. Doa bukan sebatas harapan kosong hanya dalam wujud rangkaian kata-kata. Doa tersebut adalah doa orang-orang yang senantiasa mengisi hidupnya untuk memperbaiki diri sepanjang masa. Doa tanpa usaha adalah bagian dari kufur nikmat. Orang-orang yang tidak mau meningkatkan kualitas diri dalam beragam aspek bagian dari kufur nikmat secara sistemik. Orang-orang yang monoton dan menutup pintu perubahan akan terjebak pada rutinitas doa yang hampa dan terkadang lambat laun akan terkena bayang-bayang kebosanan dan keraguan akan efektifas doa nya.

Doa bukan hanya diucapkan di mulut. Doa adalah usaha sungguh-sungguh merangkai sistem energi seluruh elemen menyatu dalam aktivitas seluruh bagian  tubuh. Mulai dari ucapan, pikiran, jiwa dan perasaan serta gerak langkah dalam kehidupan sehari-hari. Semua dalam keadaan siaga.

Doa adalah busur panah. Ketika lepas dari busurnya, maka target hanya satu yaitu mencapai sasaran atau tujuan. Doa menjadi kekuatan energi yang sangat mengerikan untuk mempercepat tujuan-tujuan yang dicita-citakan.

Kini di era digital yang serba cepat, kekuatan doa sepertinya sudah mulai dianggap sebagai fosil yang berada di kotak kaca hampa udara. Orang-orang yang memanjatkan doa seperti mulai terasa unik, lucu dan asing pada saat manusia di luar sana sedang ramai-ramai menciptakan peradaban baru.

Mungkin manusia modern mulai lupa bahwa pondasi peradaban manusia dari dulu sampai masa mendatang terletak pada kekuatan batiniah nya. Jika kekuatan ini hancur, maka peradaban yang kita cita-citakan sebenarnya sedang menciptakan Rumah Sakit masal untuk menerima ribuan pasien karena ketidaksiapan mereka menerima persaingan hidup yang semakin membuat manusia gelisah, stress dan bingung dalam menjalankan hidup sehari-hari di dunia ini. Hanya orang-orang yang membara jiwa kecintaan kepada Allah yang akan terus eksis dalam persaingan global.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   69

Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   256

Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13934


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4970


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3650