
Setelah Sholat Jum’at, saya membuka facebook.
Lupa, facebook milik siapa. Isinya kisah sutradara, pemain film dan fotografer
yang ‘keseguken’ menangis tersedu-sedu. Menangis gara-gara shooting tentang
kematian sayidina husein di padang karbala. Tangisan sangat histeris. Seperti seorang
anak kehilangan orang tua nya, dan seorang ibu kehilangan anak yang sangat
dicintainya.
Sungguh mereka mampu menghayati makna cinta
yang sangat mendalam. Cinta dari orang-orang yang sangat dicintainya. jarak
hidup nya terpaut 14 abad. Tapi luapan cinta nya seperti telah menyatu antara
kulit dan daging. sayidina husein laksana aliran darah kehidupan yang akan
terus menginspirasi seluruh masyarakat Iran.
Apakah ada kesedihan dan penderitaan di Iran.
Tetap ada. Namun kecintaan yang mendalam kepada Sayidina Husein seolah-olah telah
melenyapkan rasa penderitaan dalam jiwa dan perasaan mereka. Dalam segala
keterbatasan, mereka tetap terus membawa panji jihad peradaban.
Itu sumpah mereka. Spirit penderitaan telah
menjadi cahaya kekuatan. Laksana Kepompong yang rela berpuasa. Tujuannya hanya
satu yaitu akan lahir kupu-kupu yang menebarkan kebahagiaan siapapun yang
melihatnya.
Masyarakat Iran terlalu dalam rasa
keyakinan atas pertolongan Allah. Kesadaran total terhadap rizki yang telah
dijanjikan bagi orang-orang yang selalu hatinya bersandar kepada-Nya.
Keyakinan akan pertolongan Allah bukan
keyakinan buta. Mereka merealisasikan keyakinan tersebut melalui olah lelaku
dalam sistem pendidikan. Pertolongan Allah akan sangat terbuka ketika hamba-hamba-Nya
mempunyai senjata peradaban tertinggi yaitu senjata intelektual. Sebab keimanan
yang disertai dengan pemahaman intelektual yang mendalam akan semakin sumrambah
sektor-sektor rezeki Allah terbuka lebar. Sedangkan keimanan tanpa gerakan intelektual,
maka rezeki yang diberikan Allah sesuai dengan kadar kemampuannya.
Mari kita memahami bersama-sama firman Allah
berikut ini:
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ
اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ
قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ
النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ١
Artinya:
(Ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri
Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil
tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang
beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.” Dia (Allah) berfirman,
“Siapa yang kufur akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa
dia ke dalam azab neraka. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
Ini adalah doa yang progresif. Doa bukan sebatas harapan kosong
hanya dalam wujud rangkaian kata-kata. Doa tersebut adalah doa orang-orang yang
senantiasa mengisi hidupnya untuk memperbaiki diri sepanjang masa. Doa tanpa
usaha adalah bagian dari kufur nikmat. Orang-orang yang tidak mau meningkatkan
kualitas diri dalam beragam aspek bagian dari kufur nikmat secara sistemik. Orang-orang
yang monoton dan menutup pintu perubahan akan terjebak pada rutinitas doa yang
hampa dan terkadang lambat laun akan terkena bayang-bayang kebosanan dan
keraguan akan efektifas doa nya.
Doa bukan hanya diucapkan di mulut. Doa adalah usaha sungguh-sungguh
merangkai sistem energi seluruh elemen menyatu dalam aktivitas seluruh bagian tubuh. Mulai dari ucapan, pikiran, jiwa dan
perasaan serta gerak langkah dalam kehidupan sehari-hari. Semua dalam keadaan
siaga.
Doa adalah busur panah. Ketika lepas dari busurnya, maka target
hanya satu yaitu mencapai sasaran atau tujuan. Doa menjadi kekuatan energi yang
sangat mengerikan untuk mempercepat tujuan-tujuan yang dicita-citakan.
Kini di era digital yang serba cepat, kekuatan doa sepertinya sudah
mulai dianggap sebagai fosil yang berada di kotak kaca hampa udara. Orang-orang
yang memanjatkan doa seperti mulai terasa unik, lucu dan asing pada saat
manusia di luar sana sedang ramai-ramai menciptakan peradaban baru.
Mungkin manusia modern mulai lupa bahwa pondasi peradaban manusia
dari dulu sampai masa mendatang terletak pada kekuatan batiniah nya. Jika
kekuatan ini hancur, maka peradaban yang kita cita-citakan sebenarnya sedang
menciptakan Rumah Sakit masal untuk menerima ribuan pasien karena ketidaksiapan
mereka menerima persaingan hidup yang semakin membuat manusia gelisah, stress dan
bingung dalam menjalankan hidup sehari-hari di dunia ini. Hanya orang-orang
yang membara jiwa kecintaan kepada Allah yang akan terus eksis dalam persaingan
global.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   69
Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   256
Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   201
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13934
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4970
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4013
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3650
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3630