
Semilir angin laut sore hari terasa sangat
segar, damai dan tenang. Saya sore ini sedikit ada bisikan kesadaran dalam
hati, bahwa kenikmatan tersebut sangat berharga. Ketika Mas Doktor Jarir memanggilku
untuk duduk disampingnya dan mengabadikan keindahan sore hari, hati ku berkata;”Betapa
sering saya salah mengartikan makna kenikmatan pada hari-hari yang telah lalu”.
Kenikmatan menghirup angin segar sering
kita abaikan. Jarang kita ingat kepada Allah sang pembuat oksigen. Kita baru
sadar saat kita berada di Rumah Sakit, saat badan penuh dengan ventilator
atau slang dari Endotracheal Tube (ETT) ke hidung dan tenggorokan, kita
kadang baru sadar bahwa angin segar seperti di pinggir laut sangat dirindukan. Itulah
manusia. sering lupa pada kenikmatan. Pada saat kenikmatan telah tiada kita
sering merindukan keberadaanya.
Sering kita lupa terhadap nikmatnya makan
dan minum. Kenikmatan yang sehari-hari kita lalui sering dianggap angin lalu
saja. Kadang pikiran nakal kita memaknai kenikmatan hidup saat kita mempunyai
fasilitas kehidupan berupa duit, jabatan, pangkat, dan kekuasaan. Persaingan,
perkelahian, pertarungan, dan peperangan berkaitan masalah satu yaitu ekonomi. Dari
ekonomi ini lahir beragam intrik politik sehingga kemudian melahirkan
tatanan kehidupan dan sistem kehidupan yang kita lihat saat sekarang ini. Lalu lama
kelamaan manusia mulai melupakan esensi kenikmatan yang agung pada diri nya. Akhirnya,
manusia sibuk mengejar dan bersaing pada kenikmatan yang sebenarnya statusnya
berada di bawah kenikmatan gratis yang Allah berikan setiap saat.
Padahal semua yang kita lakukan akan diminta
pertanggungjawaban. Apa yang kita lakukan, kita juga yang diminta
pertanggungjawaban. Saat kita berada di Akherat nanti, semua manusia bersifat nafsi-nafsi,
urusanku adalah urusanku, bukan urusanmu. Kita masing-masing
mempertanggungjawabkan segara perilaku dan aktivitas kehidupan sehari-hari
sebagaimana Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 123 sebagai
berikut:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ
عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا
شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ ١٢٣
Artinya:
Takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat
menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusannya tidak diterima,
syafaat tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong.
Kadang dalam kesendirian ketika melihat orang tidak bisa melihat-orang
buta-dan berjalan meminta-minta di pinggir jalan atau di Kedai-Kedai, hatiku
berkata: “Betapa sedihnya orang itu tidak melihat keindahan lautan, sungai,
gunung, Pelangi, pohon dan burung-burung yang berterbangan dari satu ranting ke
ranting lain”.
Beberapa hari lalu, saat saya naik Kapal Laut Dumai Line, ada seorang
laki-laki tuna netra-buta- duduk di sebelah ku. Ia sangat riang sekali
menikmati keterbatasan fisiknya. HP Android selalu diputar lagu-lagu Roma
Irama. Selesai, diputar lagi. Selesai diputar lagi. Kelihatannya ia sedang
menghapalkan lirik-lirik lagunya.
Saya melihatnya. Ia sungguh terlihat sangat bahagia. Selalu tersenyum
dan sambil menyanyikan lagu. Nampak nya ia sedang menghapalkan lirik-lirik lagu-
termasuk menghapalkan lagu “MBG: Mas Bahlil Ngganteng”.
Dulu, saya pernah bertemu seorang laki-laki tunanetra. Berpakaian necis,
berdasi, pakai Jas Hitam, Celana Hitam Panjang dan pakai Sepatu hitam. Di tangan
nya ada Tongkat Lipat-Folding White Cane. Bertemu di Stasiun Kalisetail,
Genteng, Banyuwangi. Kami sama-sama akan pergi Surabaya.
Saya memperkenalkan diri. Lalu saya bertanya tujuan ke Surabaya. Jawabanya
sungguh sangat mengejutkan: “Menjadi guru musik”. Lebih mengejutkan
lagi, ia setiap minggu pulang-pergi dari Banyuwangi-Surabaya.
Semakin kesini saya semakin bisa melihat orang-orang yang mempunyai
keterbatasan fisik seperti tuna netra bisa menghafalkan al-Qur’an 30 juz. Ada lagi,
pemuda yang tidak mempunyai kaki dan tangan bisa menjadi penulis dan pembicara
internasional.
Ketika saya semakin membuka file-file kehidupan yang bertebaran di
muka bumi, ternyata banyak juga orang-orang yang telah memanfaatkan kenikmatan
dari allah dengan sangat maksimal. Matanya tidak bisa melihat al-Qur’an, maka
ia memaksimalkan kekuatan akal pikiran untuk menghafalkan dan melafadzkan
dengan fasih.
Ada yang tidak mempunyai tangan dan kaki. Ia pun memanfaatkan akal
pikiran untuk terus melatih menyusun kata-kata dan teman dekatnya disuruh untuk
menulisnya dalam wujud kata dan kalimat-kalimat.
Saya menyakini, orang-orang seperti ini tentu sangat bahagia. Sebab
mereka bisa mempertanggungjawabkan karya terindah di hadapan Allah SWT.
Saat saya melihat diriku. Seluruh tubuh normal. Ironisnya, sampai
detik ini belum bisa melahirkan karya untuk kemaslahatan orang banyak. Saya dengan
tubuh yang normal masih sering sibuk pada hal yang remeh temeh, ecek-ecek,
dan hal yang tidak produktif. Lalu, bagaimana pertanggungjawabanku dihadapan-Nya?.
Ya Allah, berilah kekuatan kepada ku untuk bisa mempergunakan
fasilitas kenikmatan yang engkau berikan untuk kemaslahatan diri, keluarga dan masyarakat
lebih luas.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154
Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   242
Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194
Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245
Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13910
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4945
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3956
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3608
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3565