Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

360 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder



Sabtu , 20 Juni 2026



Telah dibaca :  119

Semilir angin laut sore hari terasa sangat segar, damai dan tenang. Saya sore ini sedikit ada bisikan kesadaran dalam hati, bahwa kenikmatan tersebut sangat berharga. Ketika Mas Doktor Jarir memanggilku untuk duduk disampingnya dan mengabadikan keindahan sore hari, hati ku berkata;”Betapa sering saya salah mengartikan makna kenikmatan pada hari-hari yang telah lalu”.

Kenikmatan menghirup angin segar sering kita abaikan. Jarang kita ingat kepada Allah sang pembuat oksigen. Kita baru sadar saat kita berada di Rumah Sakit, saat badan penuh dengan ventilator atau slang dari Endotracheal Tube (ETT) ke hidung dan tenggorokan, kita kadang baru sadar bahwa angin segar seperti di pinggir laut sangat dirindukan. Itulah manusia. sering lupa pada kenikmatan. Pada saat kenikmatan telah tiada kita sering merindukan keberadaanya.

Sering kita lupa terhadap nikmatnya makan dan minum. Kenikmatan yang sehari-hari kita lalui sering dianggap angin lalu saja. Kadang pikiran nakal kita memaknai kenikmatan hidup saat kita mempunyai fasilitas kehidupan berupa duit, jabatan, pangkat, dan kekuasaan. Persaingan, perkelahian, pertarungan, dan peperangan berkaitan masalah satu yaitu ekonomi. Dari ekonomi ini lahir beragam intrik politik sehingga kemudian melahirkan tatanan kehidupan dan sistem kehidupan yang kita lihat saat sekarang ini. Lalu lama kelamaan manusia mulai melupakan esensi kenikmatan yang agung pada diri nya. Akhirnya, manusia sibuk mengejar dan bersaing pada kenikmatan yang sebenarnya statusnya berada di bawah kenikmatan gratis yang Allah berikan setiap saat.

Padahal semua yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawaban. Apa yang kita lakukan, kita juga yang diminta pertanggungjawaban. Saat kita berada di Akherat nanti, semua manusia bersifat nafsi-nafsi, urusanku adalah urusanku, bukan urusanmu. Kita masing-masing mempertanggungjawabkan segara perilaku dan aktivitas kehidupan sehari-hari sebagaimana Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 123 sebagai berikut:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ ۝١٢٣

Artinya:

Takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusannya tidak diterima, syafaat tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong.

Kadang dalam kesendirian ketika melihat orang tidak bisa melihat-orang buta-dan berjalan meminta-minta di pinggir jalan atau di Kedai-Kedai, hatiku berkata: “Betapa sedihnya orang itu tidak melihat keindahan lautan, sungai, gunung, Pelangi, pohon dan burung-burung yang berterbangan dari satu ranting ke ranting lain”.

Beberapa hari lalu, saat saya naik Kapal Laut Dumai Line, ada seorang laki-laki tuna netra-buta- duduk di sebelah ku. Ia sangat riang sekali menikmati keterbatasan fisiknya. HP Android selalu diputar lagu-lagu Roma Irama. Selesai, diputar lagi. Selesai diputar lagi. Kelihatannya ia sedang menghapalkan lirik-lirik lagunya.

Saya melihatnya. Ia sungguh terlihat sangat bahagia. Selalu tersenyum dan sambil menyanyikan lagu. Nampak nya ia sedang menghapalkan lirik-lirik lagu- termasuk menghapalkan lagu “MBG: Mas Bahlil Ngganteng”.

Dulu, saya pernah bertemu seorang laki-laki tunanetra. Berpakaian necis, berdasi, pakai Jas Hitam, Celana Hitam Panjang dan pakai Sepatu hitam. Di tangan nya ada Tongkat Lipat-Folding White Cane. Bertemu di Stasiun Kalisetail, Genteng, Banyuwangi. Kami sama-sama akan pergi Surabaya.

Saya memperkenalkan diri. Lalu saya bertanya tujuan ke Surabaya. Jawabanya sungguh sangat mengejutkan: “Menjadi guru musik”. Lebih mengejutkan lagi, ia setiap minggu pulang-pergi dari Banyuwangi-Surabaya.

Semakin kesini saya semakin bisa melihat orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik seperti tuna netra bisa menghafalkan al-Qur’an 30 juz. Ada lagi, pemuda yang tidak mempunyai kaki dan tangan bisa menjadi penulis dan pembicara internasional.

Ketika saya semakin membuka file-file kehidupan yang bertebaran di muka bumi, ternyata banyak juga orang-orang yang telah memanfaatkan kenikmatan dari allah dengan sangat maksimal. Matanya tidak bisa melihat al-Qur’an, maka ia memaksimalkan kekuatan akal pikiran untuk menghafalkan dan melafadzkan dengan fasih.

Ada yang tidak mempunyai tangan dan kaki. Ia pun memanfaatkan akal pikiran untuk terus melatih menyusun kata-kata dan teman dekatnya disuruh untuk menulisnya dalam wujud kata dan kalimat-kalimat.

Saya menyakini, orang-orang seperti ini tentu sangat bahagia. Sebab mereka bisa mempertanggungjawabkan karya terindah di hadapan Allah SWT.

Saat saya melihat diriku. Seluruh tubuh normal. Ironisnya, sampai detik ini belum bisa melahirkan karya untuk kemaslahatan orang banyak. Saya dengan tubuh yang normal masih sering sibuk pada hal yang remeh temeh, ecek-ecek, dan hal yang tidak produktif. Lalu, bagaimana pertanggungjawabanku dihadapan-Nya?.

Ya Allah, berilah kekuatan kepada ku untuk bisa mempergunakan fasilitas kenikmatan yang engkau berikan untuk kemaslahatan diri, keluarga dan masyarakat lebih luas.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   242

Kitab Suci Di Depan Cermin
08 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245

Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13910


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4945


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3565