Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

357 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kitab Suci Di Depan Cermin



Senin , 08 Juni 2026



Telah dibaca :  116

Tulisan yang lalu tentang rahasia kekuatan umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan pada masa keemasan luarbiasa: masa Dinasti Umayyah dan Abassiyah. Rembesan energi tauhid benar-benar menjadi urat nadi penggerak peradaban mencapai puncak kejayaan pada zaman masing-masing.

Tentu saja suatu rembesan energi tauhid jangan dimaknai seperti seseorang yang sedang baris berbaris. apa yang dikatakan oleh penguasa akan diterima apa adanya tanpa koreksi. Bukan. Bukan seperti itu makna rembesan tauhid dalam kontek keberagaman masyarakat.

Rembesan energi tauhid harus dimaknai sebagai kebebasan dan kemerdekaan warga negara untuk berkreasi, berkarya dan membangun cita-cita nya dengan sekuat tenaga. Sedangkan penguasa pada waktu itu memberikan jaminan kehidupan kepada warga negara nya. termasuk rembesan energi tauhid juga adanya kemampuan pemerintah menerima masukan-masukan atau kritik produktif Masyarakat. Sebab hakikat energi positif dari kalimat tauhid yaitu meniadakan kekuatan atau kekuasaan pada dirinya sendiri dan mengakui sepenuhnya bahwa Allah mempunyai kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Sempurna.

Karena itu, semua harus bisa menempatkan diri sendiri pada wilayah masing-masing. Semua harus bisa bercermin terhadap perintah-perintah Allah yang terekam dalam kitab suci Al-Qur’an sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 121 sebagai berikut:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَࣖ ۝١

Artinya:

Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, itulah orang-orang yang beriman padanya. Siapa yang ingkar padanya, merekalah orang-orang yang rugi.

Ayat tersebut masih berkaitan dengan kaum Bani Israel yang mempunyai tabiat buruk yaitu melakukan pengubahan teks atau isi dari kitab suci nya. Perbuatan yang sangat berani dan radikal sekali. Sebab mereka berani merubah ayat-ayat Allah untuk kepentingan agenda mereka.

Ayat tersebut memang terlalu luas. Biarkan para mufasirin untuk mengartikan yang lebih baik lagi makna yang sebenarnya tentang pesan-pesan yang terkandung di dalam nya.

Penulis dan -mungkin- anda senantiasa membaca Kitab Suci. Bahkan sampai pada tingkat menghafal, dan sedikit pada memahami isinya. Dari sini, penulis bisa memahami bahwa proses membaca Al-Qur’an tidak sebatas membacanya secara tekstual, tetapi juga mampu membaca pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Dari sini, kita harus bisa bercermin diri. Apakah kita membaca Kitab Suci sebatas sebagai wiridan, ritual atau sebagai bagian dari jalan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan keluarga, kehidupan di institusi maupun dalam kehidupan yang lebih luas.

Kita sadar bahwa berdiri di depan cermin sangat mudah. Itu hampir menjadi aktivitas harian. Tapi sangat sulit sekali menerima ketika pada wajah kita ada Panu dan Kutil di wajahnya. Padahal cermin adalah benda yang sangat jujur untuk melihat kekurangan dirinya sendiri.

Saya kira, membuat program untuk kemajuan umat manusia sangat mulia sebagai bentuk tanggungjawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun ada yang sering lupa yaitu budaya bercermin diri untuk memperbaiki kualitas diri. Padahal bercermin diri jalan untuk lebih cepat untuk mencapai tangga kesuksesan dalam pengertian luas. Jika bercermin diri ditinggalkan, maka konflik sangat mudah terjadi dan sangat sulit untuk untuk disatukan. Sebab kemauan bercermin diri bagian dari kesadaran terhadap kekurangan diri dan keikhlasan menerima masukan dari orang lain.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efek Melupakan Nikmat dari Tuhan
10 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   118

Ketika Orang Lain Tidak Ridha, Kenapa Kamu Ikut-Ikutan?
07 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141

Kisah Keajaiban pada Cermin yang Retak
06 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   170

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13875


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4906


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3458