
Dalam konteks sosial-politik, kelompok manusia dengan jumlah yang sangat besar yang mengacu kepada persamaan ideologi atau agama sering disebut umat. Seperti umat Yahudi dan Nasrani. Pada sisi lain, kata umat juga mencakup makna universal. Ini juga yang dijelaskan dalam Piagam Madinah. Kata umat mengacu kepada kelompok tertentu pada penganut agama, juga kelompok seluruh manusia dimana mereka tinggal dengan batas-batas geografis. Seperti Penduduk Yasrib secara general menggunakan kata umat.

Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 128
menggunakan kata umat dengan redaksi sebagai berikut:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ
وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ
عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ١٢٨
Artinya:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri
kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu,
tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji,
dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi
Maha Penyayang.
Allah menggunakan kata umat secara khusus “ اُمَّةً مُّسْلِمَةً “ yang mempunyai makna ‘umat Islam’ secara
bahasa mempunyai arti umat yang berserah diri kepada Allah SWT. Umat Islam
berarti punya makna umat yang secara totalitas mengabdi kepada-Nya.
Kata ‘umatan muslimatan‘ bukan sebatas identifas formalitas
sebagai seorang penganut agama Islam. Juga, ia bagian dari pengejawantahan dari
makna tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga berkaitan dengan status
agama, ia juga sebagai wujud pengabdian secara total kepada-Nya, juga berkaitan
dengan penjelmaan ajaran-ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai pengejawantahan dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim telah dididik oleh Tuhan agar bisa melihat kemahakuasaan semata-mata milik Allah SWT. Otoritas Tunggal hanya ada pada-Nya. Manusia yang muslim, adalah manusia yang taat terhadap otoritas-nya dalam wujud taat, tunduk melaksanakan aturan dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa, artinya bahwa manusia tidak
mempunyai otoritas melakukan penindasan, penghinaan, dan penganiayaan atas nama
agama ataupun atas nama Tuhan. Bagaimana mungkin seorang manusia yang dhoif
memposisikan diri sebagai pribadi yang eklusif tanpa cacat. Siapapun orangnya,
pasti mempunyai berbagai kekurangan-kekurangan yang memungkinkan untuk bisa
dikritisi. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan, tetapi sebagai jalan untuk melaksanakan
fungsi manusia untuk saling mengingatkan. Tanpa menjalankan fungsi tersebut
justru manusia telah melakukan kesesatan secara berjamaah sebagaimana yang
dilakukan rakyat Mesir kepada Raja Fir’aun.
Karena itu kata ‘umatan muslimatan’ sebenarnya mempunyai
makna keteraturan hidup umat Islam dalam kehidupan sosial. Jika hubungan manusia
dengan Tuhan saja mempunyai aturan-aturan yang harus dilakukan dan ditaati,
maka hubungan antara manusia dengan manusia lebih banyak lagi aturan-aturan administrasi
sebaagai wujud komplektifitas dari aktivitas manusia yang sangat super dinamis.
Aturan-aturan buatan manusia bagian dari pengejawantahan ketundukan
manusia kepada Tuhan nya. Jika manusia bisa menjalankan ibadah dengan baik ketika
kondisi sosial politik juga keadaan baik. Jika kacau dan terjadi huru hara,
maka ketaatan terhadap aturan ibadah kepada Allah pun terkendala.
Dari sini, kenapa keteraturan dan ketaatan terhadap administrasi
kehidupan sosial itu penting tiada lain agar terjadi keselarasan hubungan
manusia dengan Allah berhasil dengan baik dan keselaraan serta cita-cita
manusia dalam kehidupan sosial bisa diraih dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Bisa
jadi ini yang menjadi istilah yang ada dalam al-Qur’an ‘baldatun toyibatun
warrabul ghafur’.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   178
Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209
Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   145
Melupakan Kenikmatan Dasar , Mengejar Kenikmatan Sekunder
20 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   308
Doa Nabi Ibrahim dan Rencana Damai AS vs Iran
17 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13968
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4988
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4048
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      3873
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3664