
Hari ini ada dua kegiatan diskusi: Bersama mahasiswa
yang hebat-hebat dan dosen-dosen luarbiasa. Diskusi ditemani oleh Dekan Dakwah dan
Komunikasi Islam -Dr. Jarir- dan teman-teman dari perencaan-Mas Ali Tayan dan
Mas Sholihin. Sangat menarik sekali. Sampai-sampai saya lupa belum sarapan dan
makan siang. Kami benar-benar rapat penuh dengan rasa cinta dan kebahagiaan. Cinta
telah mengubah dunia menjadi terlihat indah. Cinta bukan menjadikan semua satu
warna. Cinta tidak juga mengubah batu menjadi emas. Tidak mengubah gula jawa
rasa coklat. Tidak sama sekali. Semua tetap sesuai dengan ketentuan Tuhan. Cinta
yang mengajarkan kepada kami arti penting persaudaraan dan kerjasama saling
mengisi dan memperbaiki satu dengan lainnya.
Jam 14.15 baru makan siang. Ada gerimis
pasca hujan. Siang ini memang tidak terasa panas. Saya teringat firman Allah dalam
Q.S. Al-Baqarah ayat 130 sebagai berikut:
وَمَنْ
يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗۗ وَلَقَدِ
اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَاۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
١٣٠
Artinya:
Siapa yang
membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Kami
benar-benar telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat
dia termasuk orang-orang saleh.
Ayat tersebut
menegaskan betapa bahaya rasa benci terhadap kebenaran agama. Tentu saja,
kebenaran agama disini berkaitan dengan penolakan tentang millata Ibrahima hanifa.
Kita tahu, bahwa kebenaran terbesar dari ajaran agama Nabi Ibrahim yaitu
kalimat laa ilaha illa allah-tiada Tuhan selain Allah.
Makna laa
ilaha illa Allah sebenarnya makna yang sangat sakral dan otoritatif. Sakral
karena Allah hadir untuk membunuh egoisme manusia dengan segala atribut
kebesaran nya. Sakral karena Allah mendidik jiwa dan hati manusia untuk melihat
kecintaan Allah tanpa batas kepada kita dan kita pun diajarkan oleh-Nya untuk
menebarkan cinta kepada sesama manusia dengan tetap patuh terhadap regulasi
yang telah ditentukan.
Selain itu Allah
juga sangat otoritatif. Dia mempunyai kuasa mutlak atas segala kehidupan
manusia dan alam semesta. Ketika manusia merasa mempunyai kekuasaan, maka sebenarnya
manusia sedang menunjukan kelemahan atas kekuasaannya. Sebab kekuasaan yang
dimiliki oleh manusia adalah kekuasaan yang dibatasi oleh waktu, tempat dan
bersifat periodik. Sedangkan kekuasaan Tuhan tidak ada periodisasinya. Selama-lama
nya Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa.
Maka ayat
tersebut telah mengajarkan kepada kita dinamika kehidupan yang terus bergerak
secara dinamis dan terus terjadi hukum sosial yang beragam tidak akan bisa
dihindari baik dari segala bentuk dan eksesnya. Kita tidak bisa juga
menghindari dari keberagaman pandangan yang kadang membuat sedikit tensi kita
naik dan sebagainya. Tapi Tuhan terlalu indah mengajarkan kepada kita, bahwa
ada yang lebih penting dari semua itu yaitu kita adalah sama-sama hamba Allah
yang sedang belajar mencintai-Nya dengan benar. Jika kita sama-sama hamba Allah
yang sedang merayu-Nya, Apakah kita akan menggagalkan diri sebagai kekasih-Nya gara-gara
egoisme kita kepada makhluk?.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217
Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   206
Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   231
Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   161
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13990
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5001
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4167
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4065
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3674