Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

366 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Musim Semi Tiba



Senin , 06 Juli 2026



Telah dibaca :  51

Hari ini ada dua kegiatan diskusi: Bersama mahasiswa yang hebat-hebat dan dosen-dosen luarbiasa. Diskusi ditemani oleh Dekan Dakwah dan Komunikasi Islam -Dr. Jarir- dan teman-teman dari perencaan-Mas Ali Tayan dan Mas Sholihin. Sangat menarik sekali. Sampai-sampai saya lupa belum sarapan dan makan siang. Kami benar-benar rapat penuh dengan rasa cinta dan kebahagiaan. Cinta telah mengubah dunia menjadi terlihat indah. Cinta bukan menjadikan semua satu warna. Cinta tidak juga mengubah batu menjadi emas. Tidak mengubah gula jawa rasa coklat. Tidak sama sekali. Semua tetap sesuai dengan ketentuan Tuhan. Cinta yang mengajarkan kepada kami arti penting persaudaraan dan kerjasama saling mengisi dan memperbaiki satu dengan lainnya.

Jam 14.15 baru makan siang. Ada gerimis pasca hujan. Siang ini memang tidak terasa panas. Saya teringat firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 130 sebagai berikut:

وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗۗ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَاۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٣٠

Artinya:

Siapa yang membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Kami benar-benar telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.

Ayat tersebut menegaskan betapa bahaya rasa benci terhadap kebenaran agama. Tentu saja, kebenaran agama disini berkaitan dengan penolakan tentang millata Ibrahima hanifa. Kita tahu, bahwa kebenaran terbesar dari ajaran agama Nabi Ibrahim yaitu kalimat laa ilaha illa allah-tiada Tuhan selain Allah.

Makna laa ilaha illa Allah sebenarnya makna yang sangat sakral dan otoritatif. Sakral karena Allah hadir untuk membunuh egoisme manusia dengan segala atribut kebesaran nya. Sakral karena Allah mendidik jiwa dan hati manusia untuk melihat kecintaan Allah tanpa batas kepada kita dan kita pun diajarkan oleh-Nya untuk menebarkan cinta kepada sesama manusia dengan tetap patuh terhadap regulasi yang telah ditentukan.

Selain itu Allah juga sangat otoritatif. Dia mempunyai kuasa mutlak atas segala kehidupan manusia dan alam semesta. Ketika manusia merasa mempunyai kekuasaan, maka sebenarnya manusia sedang menunjukan kelemahan atas kekuasaannya. Sebab kekuasaan yang dimiliki oleh manusia adalah kekuasaan yang dibatasi oleh waktu, tempat dan bersifat periodik. Sedangkan kekuasaan Tuhan tidak ada periodisasinya. Selama-lama nya Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa.

Maka ayat tersebut telah mengajarkan kepada kita dinamika kehidupan yang terus bergerak secara dinamis dan terus terjadi hukum sosial yang beragam tidak akan bisa dihindari baik dari segala bentuk dan eksesnya. Kita tidak bisa juga menghindari dari keberagaman pandangan yang kadang membuat sedikit tensi kita naik dan sebagainya. Tapi Tuhan terlalu indah mengajarkan kepada kita, bahwa ada yang lebih penting dari semua itu yaitu kita adalah sama-sama hamba Allah yang sedang belajar mencintai-Nya dengan benar. Jika kita sama-sama hamba Allah yang sedang merayu-Nya, Apakah kita akan menggagalkan diri sebagai kekasih-Nya gara-gara egoisme kita kepada makhluk?.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   141

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217

Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   206

Shooting Film Karbala
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   231

Iman dan Traffic Light
26 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   161

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13990


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5001


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4167


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3674