Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

369 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Musafir Di Persimpangan Jalan



Jumat , 17 Juli 2026



Telah dibaca :  43

Saat itu, saya ngobrol dengan Kajari Kepulauan Meranti-Ricky Makado, SH,MH. Tidak ngobrol yang aneh-anek. Tidak juga yang berat-berat. Tidak juga bicara batu bara, tidak juga bicara emas. Paling-paling kalau toh terpaksa bicara emas, paling banter emas 1000 karat -eMas Imam Ghozali.

Kami ngobrol santai sekali. Tentang keluarga. Tentang istri dan anak. Dan tentang harga tiket yang tidak turun-turun. Saya memang sudah biasa seperti itu. Ketemu siapa saja, tema pembicaraan tidak jauh dari keluarga, anak berapa dan istri sudah nambah apa belum. Tema-tema sederhana, tetapi kami merasa sangat dekat dan memperkuat silaturahim di antara kami.

Hari ini di dunia maya, kita sering stress mendadak karena persoalan yang terlihat semrawut sekali di beranda-berada yang bersliweran di HP kita. Rasa-rasa nya dunia maya isinya susah dan sedih. Semua komentar. Semua merasa benar. Semua merasa paling hebat. Semua merasa paling berguna. Akhirnya, kita saksikan bersama. Karena sama-sama saling merasa “paling benar”, maka dunia ini semakin terasa gelap, aura nya suram, dan terasa hilang harapan hidup dan menimbulkan keputus-asaan sebagian saudara-saudara kita melihat fenomena-fenomena tersebut.

Saya merasa bahwa dunia dari dulu hingga saat sekarang ini sama saja. Ada tawa dan tangis. Ada sedih dan gembira. Pangkat, jabatan, dan rakyat biasa. Sama-sama. Perputaran ejarah akan terulang dengan tombol yang sama tapi desain nya saja berfariasi.

Semua sama, respon terhadap persoalan hampir sama juga. Ada yang kuat, ada yang stress, ada yang tegar ada juga yang kerjanya mengeluh tanpa henti.

Saya melihat semua itu wajar-wajar saja. Yang tidak wajar sebenarnya Adalah “diri kita sendiri”. Masalah yang terlihat besar yang kita lihat sebenarnya bukan masalah tersebut, tapi diri kita yang telah menjadi masalah.

Kita terlalu membuat diri kita menderita sendiri, capai dibuat sendiri dengan mengomentari seluruh persoalan. Seolah-olah tidak ada yang menyuarakan kebenaran, keadilan dan perjuangan. Seolah-oleh kita berjuang sendiri membela hak-hak rakyat kecil. Seolah-olah kita adalah pahlawan untuk segala urusan.

Saya kira saat kita melihat suatu ketidakadilan, kejahatan atau ketidakbaikan jangan terburu-buru menjustifikasi yang kita sendiri belum memahami duduk persoalan. Justru yang terbaik pada saat melihat ketidaksempurnaan pada diri orang lain, apakah diri kita sudah sempurna, sudah baik, sudah sesuai perbuatan denga napa yang diucapkan. Apakah kita sudah selaras kehidupan kita dengan perintah-perintah-Nya, tentang cara kerja, tentang cara bermasyarakat, tentang cara mengajar, mendidik, dan sebabagainya. Jika setiap kita asyik melihat kekurangan masing-masing, maka akan tercipta perubahan radikal di waktu yang sangat cepat.

Hari ini kita lebih suka mengarahkan jari telunjuk kepada orang lain dan menumpahkan seluruh kesalahan kepada orang lain. padahal pada saat jari telunjuk mengarah kepada orang lain, ada empat jari telunjuk mengarah kepada diri sendiri.

Pola menunjuk dengan jari telunjuk adalah budaya orang-orang Yahudi yang telah didokumentasi dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 133 sebagai berikut:

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ۝١٣٣

Artinya:

Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.”

Ayat tersebut merupakan pola kaum yahudi menyudutkan Nabi Muhammad dengan argumentasi palsu tentang agama. Mereka terlalu terburu-buru menyalahkan agama Islam. Namun Allah pun membuka tabir kebenaran, bahwa agama yang diterima oleh Allah adalah agama Islam.

Pola seperti tersebut hingga kini masih dipakai oleh kaum yahudi. Bangsa ini gampang sekali menuduh negara-negara lain sebagai bangsa primitif, pelaku genosida, teroris, dan radikalis. Pada saat yang sama, mereka justru melakukan pembantaian manusia secara bar-bar di Yaman, Kurdi, Palestina, libanon, Irak dan Iran.

Sayang nya, sebagian umat Islam tidak menyadari hal tersebut. Sebagian mereka terjebak pada kebimbangan informasi. Laksana musafir kebingungan di tengah jalan. Satu sisi melihat ke kiri tentang budaya barat, satu lagi ke kiri melihat kekuatan baru muncul yaitu Iran.

Pada saat seperti ini, maka solusi yang harus dilakukan yaitu kesadaran kembali memahami ajaran agama Islam sebagai solving problem. Kita perlu mulai interopeksi diri atas segala kelemahan diri kita. Lalu setelah ketemu segala kelemahanya, perlu melakukan langkah-langkah konkrit me-mitigasi untuk mengurasi berbagai persoalan yang ada.

Jika kita sudah menemukan key wordnya, maka kita tidak perlu takut untuk terbang kemana saja, di timur, di barat semua sama. Sebab orang yang sudah menemukan dirinya akan mantap terhadap keputusannya. Kemanapun ia pergi, maka yang dilakukan adalah untuk mengurangi masalah, memperjuangkan kebenaran dan membuat tangga peradaban yang semakin matang dan mantap.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   77

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291

Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   258

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14030


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5073


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4904


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3723