
Saat itu, saya ngobrol dengan Kajari Kepulauan
Meranti-Ricky Makado, SH,MH. Tidak ngobrol yang aneh-anek. Tidak juga yang
berat-berat. Tidak juga bicara batu bara, tidak juga bicara emas. Paling-paling
kalau toh terpaksa bicara emas, paling banter emas 1000 karat -eMas Imam
Ghozali.
Kami ngobrol santai sekali. Tentang keluarga.
Tentang istri dan anak. Dan tentang harga tiket yang tidak turun-turun. Saya memang
sudah biasa seperti itu. Ketemu siapa saja, tema pembicaraan tidak jauh dari
keluarga, anak berapa dan istri sudah nambah apa belum. Tema-tema sederhana,
tetapi kami merasa sangat dekat dan memperkuat silaturahim di antara kami.
Hari ini di dunia maya, kita sering stress
mendadak karena persoalan yang terlihat semrawut sekali di beranda-berada yang
bersliweran di HP kita. Rasa-rasa nya dunia maya isinya susah dan sedih. Semua komentar.
Semua merasa benar. Semua merasa paling hebat. Semua merasa paling berguna. Akhirnya,
kita saksikan bersama. Karena sama-sama saling merasa “paling benar”, maka
dunia ini semakin terasa gelap, aura nya suram, dan terasa hilang harapan hidup
dan menimbulkan keputus-asaan sebagian saudara-saudara kita melihat
fenomena-fenomena tersebut.
Saya merasa bahwa dunia dari dulu hingga
saat sekarang ini sama saja. Ada tawa dan tangis. Ada sedih dan gembira. Pangkat,
jabatan, dan rakyat biasa. Sama-sama. Perputaran ejarah akan terulang dengan
tombol yang sama tapi desain nya saja berfariasi.
Semua sama, respon terhadap persoalan
hampir sama juga. Ada yang kuat, ada yang stress, ada yang tegar ada juga yang
kerjanya mengeluh tanpa henti.
Saya melihat semua itu wajar-wajar saja. Yang
tidak wajar sebenarnya Adalah “diri kita sendiri”. Masalah yang terlihat besar
yang kita lihat sebenarnya bukan masalah tersebut, tapi diri kita yang telah
menjadi masalah.
Kita terlalu membuat diri kita menderita
sendiri, capai dibuat sendiri dengan mengomentari seluruh persoalan. Seolah-olah
tidak ada yang menyuarakan kebenaran, keadilan dan perjuangan. Seolah-oleh kita
berjuang sendiri membela hak-hak rakyat kecil. Seolah-olah kita adalah pahlawan
untuk segala urusan.
Saya kira saat kita melihat suatu ketidakadilan,
kejahatan atau ketidakbaikan jangan terburu-buru menjustifikasi yang kita
sendiri belum memahami duduk persoalan. Justru yang terbaik pada saat melihat
ketidaksempurnaan pada diri orang lain, apakah diri kita sudah sempurna, sudah
baik, sudah sesuai perbuatan denga napa yang diucapkan. Apakah kita sudah
selaras kehidupan kita dengan perintah-perintah-Nya, tentang cara kerja,
tentang cara bermasyarakat, tentang cara mengajar, mendidik, dan sebabagainya. Jika
setiap kita asyik melihat kekurangan masing-masing, maka akan tercipta
perubahan radikal di waktu yang sangat cepat.
Hari ini kita lebih suka mengarahkan jari
telunjuk kepada orang lain dan menumpahkan seluruh kesalahan kepada orang lain.
padahal pada saat jari telunjuk mengarah kepada orang lain, ada empat jari
telunjuk mengarah kepada diri sendiri.
Pola menunjuk dengan jari telunjuk adalah budaya
orang-orang Yahudi yang telah didokumentasi dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat
133 sebagai berikut:
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ
لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ
اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ
لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٣
Artinya:
Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang
kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah
sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek
moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya)
kepada-Nya kami berserah diri.”
Ayat tersebut
merupakan pola kaum yahudi menyudutkan Nabi Muhammad dengan argumentasi palsu
tentang agama. Mereka terlalu terburu-buru menyalahkan agama Islam. Namun Allah
pun membuka tabir kebenaran, bahwa agama yang diterima oleh Allah adalah agama Islam.
Pola seperti
tersebut hingga kini masih dipakai oleh kaum yahudi. Bangsa ini gampang sekali
menuduh negara-negara lain sebagai bangsa primitif, pelaku genosida, teroris,
dan radikalis. Pada saat yang sama, mereka justru melakukan pembantaian manusia
secara bar-bar di Yaman, Kurdi, Palestina, libanon, Irak dan Iran.
Sayang nya, sebagian
umat Islam tidak menyadari hal tersebut. Sebagian mereka terjebak pada
kebimbangan informasi. Laksana musafir kebingungan di tengah jalan. Satu sisi
melihat ke kiri tentang budaya barat, satu lagi ke kiri melihat kekuatan baru
muncul yaitu Iran.
Pada saat
seperti ini, maka solusi yang harus dilakukan yaitu kesadaran kembali memahami
ajaran agama Islam sebagai solving problem. Kita perlu mulai interopeksi diri
atas segala kelemahan diri kita. Lalu setelah ketemu segala kelemahanya, perlu
melakukan langkah-langkah konkrit me-mitigasi untuk mengurasi berbagai persoalan
yang ada.
Jika kita
sudah menemukan key wordnya, maka kita tidak perlu takut untuk terbang kemana
saja, di timur, di barat semua sama. Sebab orang yang sudah menemukan dirinya
akan mantap terhadap keputusannya. Kemanapun ia pergi, maka yang dilakukan adalah
untuk mengurangi masalah, memperjuangkan kebenaran dan membuat tangga peradaban
yang semakin matang dan mantap.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   77
Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   173
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   291
Ka’bah dan Piramida
29 Juni 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   258
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14030
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5073
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      4904
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4132
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3723