Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

374 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Islam, Timur Tengah dan Iran



Sabtu , 25 Juli 2026



Telah dibaca :  75

Negara Timur Tengah kelihatanya sudah mulai memahami perilaku pemerintah Iran. Dulu selalu saja su’udzan. Sekarang mulai khusnudzan. Apakah ini pertanda kebangkitan dunia sufi di Timur Tengah?.

Jika di awal-awal perang -sekitar bulan Pebruari 2026- negara-negara teluk marah-marah ketika pangkalan militer AS di serang oleh tentara Iran. AS masih digdaya. AS masih bisa menggunakan politik Sengkuni. Bisik sana-bisik sini. Ia menggunakan strategi proxy war. Lempar batu sembunyi tangan. Orang lain suruh perang, dia yang untung.

Pola tersebut sepertinya secara pelan-pelan tapi pasti mulai dipahami oleh negara teluk. Saat pemakaman Ayatollah Sayyid Ali Khaemeini, para utusan Negara Timur tengah ta’ziyah, seperti Arab Saudi, Irak, Qatar, dan Oman. Negara Timur Tengah mulai memahami bahwa Iran mempunyai tujuan yang sangat jelas yaitu melepaskan cengkraman AS dan Israel dan menjadikan negara Timur Tengah sebagai kekuatan baru negara di era modern saat sekarang ini.

Ini bukan sebatas pemakaman biasa, tapi sekaligus pesan politik. Pemerintah Iran benar-benar cerdas. Di tengah sabotase AS terhadap negera yang datang ke pemakaman tersebut, Iran mampu menunjukan kewibawaan yang agung. Di tengah gempuran tanpa jeda, di tengah embargo ekonomi berpuluh-puluh tahun, Iran mampu mengimbangi kecanggihan senjata AS. Tentu orang berfikir: “Apa jadinya jika Iran tidak diembargo, punya uang melimpah dan punya kebebasan yang setara dengan negara barat, bisa jadi Iran akan sangat jauh meninggalkan teknologi AS dan barat”.

Timur Tengah masih terus membara. Tapi tidak sama pola tahun 1980 an-hingga 1990 an. Sekarang berbeda. Timur Tengah membara, tapi tetap menyala. Membara pada pangkalan militer AS. Menyala karena menjadi pemandangan baru warga Timur Tengah melihat drone berterbangan angkasa. Laksana melihat film Armageddon, Greenland, Starship Troopers atau War Machine.

Konflik dan perang akan terus terjadi. Sejarah panjang telah menjadi catatan, bahwa kaum yahudi dan Iran sejak sebelum Islam datang sudah mempunyai tradisi perang. Kedua nya silih berganti menang dan kalah dalam peperangan.

Jika dulu yahudi disimbolkan dengan bangsa romawi melawan Iran -Persia- yang masih beragama majuzi. Bangsa Romawi jika dulu disimbolkan sebagai penganut agama samawi, dan Persia sebagai penyembah berhala. Kini Persia telah berubah beragama Islam. Semangat membangun peradaban dan sebagai penguasa dunia terus membara. Kedua negara bertemu dalam upaya sebagai penentu arah peradaban dunia. Dan Solusi mewujudkan cita-cita tersebut yaitu perang dan salah satunya hancur.

Yahudi masih tetap menggunakan pola lama yaitu Strategi Sengkuni. Strategi yang ternyata sangat efektif untuk memperoleh kemenangan dan kejayaan. Meskipun itu salah secara syariat agama-agama yang dibawah oleh para leluhurnya, kaum yahudi akan tetap menempuhnya. Sebab baginya, kejayaan dan kekuasaan di atas segala dogma dan doktrin, termasuk doktrin tuhan sekalipun. Bahkan dengan tidak segan-segan, mereka akan mengubah doktrin Tuhan untuk tujuan kekuasaan dan kejayaan.

Allah telah menjelaskan dalam Surat Al-Baqarah tentang watak kaum yahudi sebagai berikut:

تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٣٤

Artinya:

Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.

وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْاۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝١٣٥

Artinya:

Mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Ayat tersebut menggambarkan tentang pertarungan ideologi. Kaum Yahudi bersikukuh terus mencekoki ide-ide besar tentang negara dan makna kejayaan. Mereka dengan segala tipu daya mempengaruhi pikiran-pikiran umat Islam tentang sistem ekonomi, politik dan kebahagiaan. Konsep kapitalisme ditawarkan. Sebagian Umat manusia -termasuk sebagian muslim- pun dibuat tercengang. Semua orang yang melihatnya terkagum-kagum. Lalu ramai-ramai mereka mengatakan: “Inilah makna peradaban sejati, inilah makna ajaran Islam sejati. Mereka bukan muslim, tapi mereka telah menerapkan ajaran-ajaran agama Islam”.

Nabi Muhammad menolak dengan tegas. Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan bahwa kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan tidak termasuk orang-orang yang musrik.

Ketegasan Nabi Muhammad sangat jelas. Ketika kesepakatan politik telah dibuat antara Islam, Yahudi dan Nasrani dalam Piagam Madinah, maka siapapun yang melakukan sabotase atau konspirasi politik di luar kesepakatan tersebut, langsung ditindak tegas oleh Nabi. Itu sebabnya, kaum yahudi langsung diusir dari barisan Nabi. Ini sebagai hukum tentang pentingnya nilai-nilai agama ditegakan dalam sistem kehidupan politik.

Kini ketegasan politik umat Islam sepertinya belum terlihat bangkit dipercaturan dunia. Dunia barat masih menjadi imam dalam setiap kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Saya melihat Sebagian umat islam masih menjadi ma’mum dan ma’mum masbuk. Akibatnya, umat Islam terombang ambing seperti buih di tengah lautan.

Di tengah krisis geopolitik global, Iran tampil berbeda. Ia berani melawan arus. Ia berani dengan tegas di konstitusi negara nya menolak terhadap dominasi imperialisme barat yang sengaja menjauhkan masyarakat Iran dari ajaran Islam.

Kini sikap tegas Iran telah menginspirasi negara-negara muslim lainnya tentang arti penting nya kedaulatan suatu bangsa. Hanya bangsa yang berdaulat penuh yang mampu mengucapkan “berdikari” -berdiri di kaki sendiri.

Apakah inspirasi tersebut akan menjadi sebuah kekuatan baru sebagai penyeimbang dari kekuatan barat, atau hanya sebatas “ngegreg” AS agar bisa bersimpati kepada mereka wallahu a’lam.

Bicara politik memang harus menggunakan -bukan sebatas panca Indera- kemampuan panca Indera keenam. Kemampuan ini yang membuat kita semakin dewasa bahwa politik adalah seni kepentingan yang perubahan sangat cepat. Kita harus bisa menyikapi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Jika tidak maka, bisa dipastikan akan kalah sebelum bertanding.I



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   153

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   145

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   190

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239

Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   307

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14081


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5132


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5110


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3816