
Negara Timur Tengah kelihatanya sudah mulai
memahami perilaku pemerintah Iran. Dulu selalu saja su’udzan. Sekarang mulai
khusnudzan. Apakah ini pertanda kebangkitan dunia sufi di Timur Tengah?.
Jika di awal-awal perang -sekitar bulan Pebruari
2026- negara-negara teluk marah-marah ketika pangkalan militer AS di serang
oleh tentara Iran. AS masih digdaya. AS masih bisa menggunakan politik Sengkuni.
Bisik sana-bisik sini. Ia menggunakan strategi proxy war. Lempar batu
sembunyi tangan. Orang lain suruh perang, dia yang untung.
Pola tersebut sepertinya secara pelan-pelan
tapi pasti mulai dipahami oleh negara teluk. Saat pemakaman Ayatollah Sayyid
Ali Khaemeini, para utusan Negara Timur tengah ta’ziyah, seperti Arab Saudi, Irak, Qatar, dan Oman. Negara Timur Tengah mulai
memahami bahwa Iran mempunyai tujuan yang sangat jelas yaitu melepaskan
cengkraman AS dan Israel dan menjadikan negara Timur Tengah sebagai kekuatan
baru negara di era modern saat sekarang ini.
Ini bukan sebatas pemakaman biasa, tapi sekaligus pesan politik.
Pemerintah Iran benar-benar cerdas. Di tengah sabotase AS terhadap negera
yang datang ke pemakaman tersebut, Iran mampu menunjukan kewibawaan yang agung.
Di tengah gempuran tanpa jeda, di tengah embargo ekonomi berpuluh-puluh tahun, Iran
mampu mengimbangi kecanggihan senjata AS. Tentu orang berfikir: “Apa jadinya
jika Iran tidak diembargo, punya uang melimpah dan punya kebebasan yang setara
dengan negara barat, bisa jadi Iran akan sangat jauh meninggalkan teknologi AS
dan barat”.
Timur Tengah masih terus membara. Tapi
tidak sama pola tahun 1980 an-hingga 1990 an. Sekarang berbeda. Timur Tengah
membara, tapi tetap menyala. Membara pada pangkalan militer AS. Menyala karena
menjadi pemandangan baru warga Timur Tengah melihat drone berterbangan angkasa.
Laksana melihat film Armageddon, Greenland, Starship Troopers atau War Machine.
Konflik dan perang akan terus terjadi. Sejarah panjang telah
menjadi catatan, bahwa kaum yahudi dan Iran sejak sebelum Islam datang sudah
mempunyai tradisi perang. Kedua nya silih berganti menang dan kalah dalam
peperangan.
Jika dulu yahudi disimbolkan dengan bangsa romawi melawan Iran
-Persia- yang masih beragama majuzi. Bangsa Romawi jika dulu disimbolkan
sebagai penganut agama samawi, dan Persia sebagai penyembah berhala. Kini
Persia telah berubah beragama Islam. Semangat membangun peradaban dan sebagai
penguasa dunia terus membara. Kedua negara bertemu dalam upaya sebagai penentu
arah peradaban dunia. Dan Solusi mewujudkan cita-cita tersebut yaitu perang dan
salah satunya hancur.
Yahudi masih tetap menggunakan pola lama
yaitu Strategi Sengkuni. Strategi yang ternyata sangat efektif untuk
memperoleh kemenangan dan kejayaan. Meskipun itu salah secara syariat
agama-agama yang dibawah oleh para leluhurnya, kaum yahudi akan tetap
menempuhnya. Sebab baginya, kejayaan dan kekuasaan di atas segala dogma dan
doktrin, termasuk doktrin tuhan sekalipun. Bahkan dengan tidak segan-segan,
mereka akan mengubah doktrin Tuhan untuk tujuan kekuasaan dan kejayaan.
Allah telah menjelaskan dalam Surat
Al-Baqarah tentang watak kaum yahudi sebagai berikut:
تِلْكَ اُمَّةٌ
قَدْ خَلَتْۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ
عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٣٤
Artinya:
Itulah umat
yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang
telah kamu usahakan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa
yang telah mereka kerjakan.
وَقَالُوْا
كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْاۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ
حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٣٥
Artinya:
Mereka
berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat
petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak.) Akan tetapi, (kami mengikuti) agama Ibrahim
yang lurus dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik.”
Ayat tersebut
menggambarkan tentang pertarungan ideologi. Kaum Yahudi bersikukuh terus
mencekoki ide-ide besar tentang negara dan makna kejayaan. Mereka dengan segala
tipu daya mempengaruhi pikiran-pikiran umat Islam tentang sistem ekonomi,
politik dan kebahagiaan. Konsep kapitalisme ditawarkan. Sebagian Umat manusia -termasuk
sebagian muslim- pun dibuat tercengang. Semua orang yang melihatnya
terkagum-kagum. Lalu ramai-ramai mereka mengatakan: “Inilah makna peradaban
sejati, inilah makna ajaran Islam sejati. Mereka bukan muslim, tapi mereka
telah menerapkan ajaran-ajaran agama Islam”.
Nabi Muhammad menolak
dengan tegas. Nabi Muhammad dengan tegas mengatakan bahwa kami mengikuti agama Ibrahim
yang lurus dan tidak termasuk orang-orang yang musrik.
Ketegasan Nabi
Muhammad sangat jelas. Ketika kesepakatan politik telah dibuat antara Islam,
Yahudi dan Nasrani dalam Piagam Madinah, maka siapapun yang melakukan sabotase
atau konspirasi politik di luar kesepakatan tersebut, langsung ditindak tegas
oleh Nabi. Itu sebabnya, kaum yahudi langsung diusir dari barisan Nabi. Ini sebagai
hukum tentang pentingnya nilai-nilai agama ditegakan dalam sistem kehidupan politik.
Kini ketegasan
politik umat Islam sepertinya belum terlihat bangkit dipercaturan dunia. Dunia barat
masih menjadi imam dalam setiap kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, dan
budaya. Saya melihat Sebagian umat islam masih menjadi ma’mum dan ma’mum masbuk.
Akibatnya, umat Islam terombang ambing seperti buih di tengah lautan.
Di tengah
krisis geopolitik global, Iran tampil berbeda. Ia berani melawan arus. Ia berani
dengan tegas di konstitusi negara nya menolak terhadap dominasi imperialisme
barat yang sengaja menjauhkan masyarakat Iran dari ajaran Islam.
Kini sikap
tegas Iran telah menginspirasi negara-negara muslim lainnya tentang arti
penting nya kedaulatan suatu bangsa. Hanya bangsa yang berdaulat penuh yang
mampu mengucapkan “berdikari” -berdiri di kaki sendiri.
Apakah inspirasi
tersebut akan menjadi sebuah kekuatan baru sebagai penyeimbang dari kekuatan
barat, atau hanya sebatas “ngegreg” AS agar bisa bersimpati kepada
mereka wallahu a’lam.
Bicara politik
memang harus menggunakan -bukan sebatas panca Indera- kemampuan panca Indera keenam.
Kemampuan ini yang membuat kita semakin dewasa bahwa politik adalah seni
kepentingan yang perubahan sangat cepat. Kita harus bisa menyikapi dan
mengambil keputusan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Jika tidak maka,
bisa dipastikan akan kalah sebelum bertanding.I
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   153
Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   145
Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   190
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239
Islam dan Muslim
03 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   307
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14081
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5132
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5110
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4328
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3816