
Klaim keimanan akan terus bergulir
melintasi zaman antara Islam, Yahudi dan Nasrani. Para pengikut terus melakukan
hujan dengan beragam pendekatan, baik pendekatan keimanan, keaslian wahyu, dan
analisis-analisis logika untuk memperkuat kebenaran masing-masing. Bahkan kadang-kadang
perdebatan layak nya seperti anak kecil. Yahudi dan Nasrani merasa lebih benar
karena lahir dulu. Islam merasa paling benar karena sebagai penutup. Pendek kata,
ruang debat dan diskusi akan terus berlanjut dengan seribu argument sebagai dasar
hujah untuk mematahkan satu dengan lainnya.
Dalam ajaran Islam sebagai agama yang
terakhir pun tidak lepas dari perdebatan akidah. Sebagai sebuah agama dan
sama-sama sebagai agama samawi-selain Yahudi dan Nasrani- tentu saja argumen-argumen
akidah tidak bisa ditinggalkan.
Sebenarnya jika untuk menguji suatu
kebenaran agama yang mempunyai geneologis akidah yang sama, maka perdebatan
tidak perlu berlarut-larut. Sebab produk nya sama. Seperti produk HP atau
mobil. Ketika anda mempunyai Iphone maka anda akan menemukan kelebihan dan
kelemahannya. Begitu juga produk-produk lain. Semua sudah mengetahui semua itu.
Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an,
Allah telah menjelaskan dengan sangat sederhana dan logis tentang persoalan
keimanan sebagai berikut:
قُوْلُوْٓا
اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ
وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى
وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ
اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٦
Artinya:
Katakanlah
(wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang
diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,
Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta
pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami
berserah diri.”
Firman Allah
sangat jelas, runtut dan logis tentang persoalan keimanan. Berkaitan dengan akidah
atau pembahasan tentang Tuhan, maka akan menemukan titik temu yaitu pada Nabi
Ibrahim. Al-Qur’an menjelaskan “millata Ibrahima hanifa”. Ciri-ciri nya
yaitu tauhid. Allah itu Esa. Qulhuwa Allahu ahad. Katakanlah bahwa Allah
itu ahad.
Siapa itu Nabi
Ibrahim. Maka penulis bisa melihat sejarah bahwa Nabi Ibrahim adalah bapak nya Nabi
Ishak dan Nabi Ismail. Nabi Ishak ini yang menurunkan Kaum Yahudi. Dan Nabi
Ismail ini yang kemudian menurunkan salah satu keturannya yaitu Nabi Muhammad
SAW. Visi kedua Nabi tersebut sama, yaitu sama-sama meng-esa-kan Allah Swt.
Kenapa sekarang
terjadi perdebatan sengit tentang persoalan keimanan. Jika mengacu kepada
firman allah tersebut, maka sebenarnya sudah clear. Namun, kaum Yahudi
menempatkan keimanan bukan persoalan yang pokok. Ada persoalan yang lebih
penting dari persoalan tauhid, yaitu harga diri, kekuasaan dan kekayaan.
Tentu saja ada
orang Yahudi yang berpegang teguh kepada keesaan Allah. Pandangan-pandangan
yang lurus pernah ditemui sebagaimana pada masa Nabi Muhammad. Mereka mengakui Muhammad
sebagai Nabi dan Rasul. Apakah semua Kaum Yahudi seperti itu?. Tidak. Sebagian besar
mereka tertutup pintu hatinya untuk mengakui diri sebagai hamba Allah. Mereka lebih
memilih sebagai anak Tuhan. Harga diri sebagai anak Tuhan jelas berbeda dengan
manusia biasa. Dari sini kemudian memunculkan perdebatan tentang tauhid
berkepanjangan. Ada versi tauhid yang berbeda antara Muslim dan Yahudi. perbedaan
atas dasar dokrin dan egoisme sebagai anak Tuhan ini yang menyebabkan kaum
yahudi atau bangsa Israel merendahkan kaum muslimin sepanjang sejarah.
Tentu saja persoalan
tersebut tidak akan selesai dan entah kapan selesainya. Ketika di ujung sana,
ada suatu bangsa yang tampil berani memborbardil negara israel yaitu negara
iran tidak menyebabkan pemerintah Israel merasa kalah. Bahkan sebaliknya,
semakin ganas menyerang negara Libanon. Pertemuan perang antara iran dan israel
seperti pertemuan dua pemuda musuh bebuyutan yang saling berkelahi dan tidak
mau kalah.
Saya kira
penisbatan kedua negara tersebut dengan dua pemuda agak kurang tepat, jika
seorang pemuda berkelahi ada kemungkinan bertambah umur bertambah bijak dalam
melihat suatu persoalan. Jadi ada peluang untuk bisa berdamai di kemudian hari.
Apalagi tiba-tiba mereka “besanan”, anak mereka saling bertemu dan
menikah. “Geger-gegeran” bisa berakhir dengan “geer-geeran”.
Namun, sangat
sulit memprediksi ketulusan bangsa Israel untuk membuka hati memulai tatanan
hidup baru sebagai bagian hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan bersama.
Sangat sulit seperti minyak dan air.
Namun lagi-lagi,
Tuhan mempunyai otoritas untuk melakukan perubahan-perubahan hati, pikiran dan
perjalanan sejarah. Ada akal pikiran tidak bisa menemukan solusi, tapi kadang Tuhan
memberikan jawaban justru pada saat kita tidak mampu lagi berfikir menyelesaikan
masalah. Allah hadir menyelesaikan masalah dengan penuh keagungan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   164
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   187
Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   172
Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218
Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14176
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5378
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5185
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4477
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3962