Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

381 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sanad Keimanan



Rabu , 05 Agustus 2026



Telah dibaca :  53

Klaim keimanan akan terus bergulir melintasi zaman antara Islam, Yahudi dan Nasrani. Para pengikut terus melakukan hujan dengan beragam pendekatan, baik pendekatan keimanan, keaslian wahyu, dan analisis-analisis logika untuk memperkuat kebenaran masing-masing. Bahkan kadang-kadang perdebatan layak nya seperti anak kecil. Yahudi dan Nasrani merasa lebih benar karena lahir dulu. Islam merasa paling benar karena sebagai penutup. Pendek kata, ruang debat dan diskusi akan terus berlanjut dengan seribu argument sebagai dasar hujah untuk mematahkan satu dengan lainnya.

Dalam ajaran Islam sebagai agama yang terakhir pun tidak lepas dari perdebatan akidah. Sebagai sebuah agama dan sama-sama sebagai agama samawi-selain Yahudi dan Nasrani- tentu saja argumen-argumen akidah tidak bisa ditinggalkan.

Sebenarnya jika untuk menguji suatu kebenaran agama yang mempunyai geneologis akidah yang sama, maka perdebatan tidak perlu berlarut-larut. Sebab produk nya sama. Seperti produk HP atau mobil. Ketika anda mempunyai Iphone maka anda akan menemukan kelebihan dan kelemahannya. Begitu juga produk-produk lain. Semua sudah mengetahui semua itu.

Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an, Allah telah menjelaskan dengan sangat sederhana dan logis tentang persoalan keimanan sebagai berikut:

قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ۝١٣٦

Artinya:

Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.”

Firman Allah sangat jelas, runtut dan logis tentang persoalan keimanan. Berkaitan dengan akidah atau pembahasan tentang Tuhan, maka akan menemukan titik temu yaitu pada Nabi Ibrahim. Al-Qur’an menjelaskan “millata Ibrahima hanifa”. Ciri-ciri nya yaitu tauhid. Allah itu Esa. Qulhuwa Allahu ahad. Katakanlah bahwa Allah itu ahad.

Siapa itu Nabi Ibrahim. Maka penulis bisa melihat sejarah bahwa Nabi Ibrahim adalah bapak nya Nabi Ishak dan Nabi Ismail. Nabi Ishak ini yang menurunkan Kaum Yahudi. Dan Nabi Ismail ini yang kemudian menurunkan salah satu keturannya yaitu Nabi Muhammad SAW. Visi kedua Nabi tersebut sama, yaitu sama-sama meng-esa-kan Allah Swt.

Kenapa sekarang terjadi perdebatan sengit tentang persoalan keimanan. Jika mengacu kepada firman allah tersebut, maka sebenarnya sudah clear. Namun, kaum Yahudi menempatkan keimanan bukan persoalan yang pokok. Ada persoalan yang lebih penting dari persoalan tauhid, yaitu harga diri, kekuasaan dan kekayaan.

Tentu saja ada orang Yahudi yang berpegang teguh kepada keesaan Allah. Pandangan-pandangan yang lurus pernah ditemui sebagaimana pada masa Nabi Muhammad. Mereka mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Apakah semua Kaum Yahudi seperti itu?. Tidak. Sebagian besar mereka tertutup pintu hatinya untuk mengakui diri sebagai hamba Allah. Mereka lebih memilih sebagai anak Tuhan. Harga diri sebagai anak Tuhan jelas berbeda dengan manusia biasa. Dari sini kemudian memunculkan perdebatan tentang tauhid berkepanjangan. Ada versi tauhid yang berbeda antara Muslim dan Yahudi. perbedaan atas dasar dokrin dan egoisme sebagai anak Tuhan ini yang menyebabkan kaum yahudi atau bangsa Israel merendahkan kaum muslimin sepanjang sejarah.

Tentu saja persoalan tersebut tidak akan selesai dan entah kapan selesainya. Ketika di ujung sana, ada suatu bangsa yang tampil berani memborbardil negara israel yaitu negara iran tidak menyebabkan pemerintah Israel merasa kalah. Bahkan sebaliknya, semakin ganas menyerang negara Libanon. Pertemuan perang antara iran dan israel seperti pertemuan dua pemuda musuh bebuyutan yang saling berkelahi dan tidak mau kalah.

Saya kira penisbatan kedua negara tersebut dengan dua pemuda agak kurang tepat, jika seorang pemuda berkelahi ada kemungkinan bertambah umur bertambah bijak dalam melihat suatu persoalan. Jadi ada peluang untuk bisa berdamai di kemudian hari. Apalagi tiba-tiba mereka “besanan”, anak mereka saling bertemu dan menikah. “Geger-gegeran” bisa berakhir dengan “geer-geeran”.

Namun, sangat sulit memprediksi ketulusan bangsa Israel untuk membuka hati memulai tatanan hidup baru sebagai bagian hidup penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan bersama. Sangat sulit seperti minyak dan air.

Namun lagi-lagi, Tuhan mempunyai otoritas untuk melakukan perubahan-perubahan hati, pikiran dan perjalanan sejarah. Ada akal pikiran tidak bisa menemukan solusi, tapi kadang Tuhan memberikan jawaban justru pada saat kita tidak mampu lagi berfikir menyelesaikan masalah. Allah hadir menyelesaikan masalah dengan penuh keagungan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   164

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   187

Cinta ku jatuh di Depan Multazam
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   172

Ketika Musim Semi Tiba
06 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Ketika Cinta Bertasbih
04 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14176


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5378


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5185


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3962