
Pada tanggal 16 Oktober 2026 merupakan hari
stand up komedi paling tidak populer pada tahun ini. Donald Trump
melontarkan candaan yang menyakitkan hati umat Islam. Menggunakan kata
“Muhammad” sebagai candaan untuk merendahkan bangsa Iran dan umat Islam secara
keseluruhan.
Pola candaan Donald Trump berbau SARA tentu
saja bertentangan dengan pondasi bangsa AS yang berdiri di atas pondasi human
right. Dia telah melawan konstitusi negara nya sendiri. Dia telah
melecehkan kebenaran yang telah dianut oleh pendiri bangsa AS : George Washington.
Ia menempatkan ham sebagai dasar legitimasi sebuah pemerintahan. Ia menjamin
kebebasan penuh. Menjamin kebebasan berarti melindunginya dari segala
intervensi dan diskriminasi dari pihak manapun.
Namun kelihatannya, prinsip human right
tidak berlaku untuk Trump, tapi berlaku untuk orang-orang yang membenci nya dan
negara nya. Trump menggunakan standar ganda. Pada saat ia berpidato tentang hak
asasi manusia, pada saat yang sama juga melecehkan agama lain atau bangsa lain
atas nama HAM.
Pola standar ganda tersebut merupakan ciri
khas dari keturunan kaum Yahudi. Pola yang diperkenalkan Yahuda kepada Nabi
Yusuf. Ia menangis di depan ayah nya Ya’qub atas musibah yang menimpa Yusuf. Padahal
dia sendiri yang telah melakukan penganiayaan kepada saudaranya sendiri.
Pola standar ganda ini juga dilakukan kaum Yahudi
pada masa Nabi Muhammad. Mereka mengharapkan kedatangan Nabi terakhir sebagai
pembawa penyelamat akidah dan kehidupan mereka. Tetapi ketika Muhammad bukan
dari keturunannya, mereka pun menolak dengan segala argument palsunya.
Sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi
Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani paling menyukai membahas tentang
tauhid. Mereka selalu mempertanyakan eksistensi Tuhan agama Islam. Mereka juga
mempertanyakan agama Islam sebagai agama terakhir. Mereka juga mengejek atau
menghina agama Islam dengan pendekatan rasis. Seolah-olah manusia yang
mempunyai hak untuk membawa risalah kenabian hanya dari keturunan kaum yahudi. Meskipun
mereka juga sudah memahami bahwa secara garis besar bahwa agama samawi
mempunyai satu induk sama yaitu millata Ibrahima hanifa. Mereka tidak
menerima nya gara-gara Nabi Muhammad mempunyai garis keturunan dari Nabi
Ismail. Dan Nabi Ismail lahir dari Hajar.
Pihak keturunan dari sarah sering
merendahkannya. Sebab hajar merupakan hadiah dari raja Fir’aun, seorang budak
perempuan yang sholeh. Meskipun sholeh, bagi keturunan Sarah dianggap status
budak tidak hilang. Bagaimana bisa status kedudukan manusia merdeka dengan
budak sama?. Kira-kira jalan berfikirnya seperti itu. Sentiment kesukuan
ternyata jauh lebih tinggi daripada kebenaran ajaran tauhid sebagai titik temu
agama-agama samawi.
Allah telah berfirman sebagai berikut:
قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ
وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ
Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Apakah kamu (Yahudi dan Nasrani) hendak berdebat dengan kami
tentang Allah? Padahal, Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan
kami, bagi kamu amalan kamu. Hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan
diri.
Ayat tersebut
sangat jelas tentang kedudukan Tuhan dalam agama-agama samawi yaitu Allah SWT. Kesamaan
Tuhan yang disembah tidak berarti membuat mereka sadar untuk saling menyayangi
satu dengan lainnya. Dalil ketuhanan justru menjadi pembuka perbedaan keyakinan
dan pandangan bahkan sampai pada permusuhan yang terus menerus akibat ada
kepentingan-kepentingan yang bersifat politis dan ekonomis.
Perdebatan persoalan
tauhid yang menjadi titik pertengkaran agama Islam, Yahudi dan Nasrani tidak
hanya antar agama sebagaimana yang dijelaskan pada ayat tersebut di atas.
Kini justru
terjadi pertengkaran di internal agama masing-masing. Semua agama mengalami
persoalan tentang pandangan tauhid. Dari perbedaan ini kemudian merambah pada
persoalan sosial yang lebih luas. Mereka akan berkelompok, berorganisasi dan
membentuk suatu sistem kehidupan bersama untuk mencapai tujuan yang
dicita-citakan bersama.
Hari ini kita
melihat fenomena pertengkaran, perkelahian dan bahkan peperangan tidak lepas
pada persoalan yang berawal dari perdebatan tentang persoalan ketuhanan.
Tuhan mengajarkan
kepada manusia agar perdebatan tersebut sebagai jalan untuk berfikir dan
mencari titik temu dan kemudian ada kesadaran untuk menemukan kebenaran sejati.
Namun sifat
manusia yang begitu komplek ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan naluri selalu
bersusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi naluri dasar yaitu kebutuhan makan
dan minum. Berangkat dari ini, manusia sering bertikai, berkelahi dan saling
membunuh atau perang karena rebutan sumber daya alam dalam beragam bentuk jenisnya.
Dan persoalan diskursus tentang masalah ketuhanan, lambat laun pun tidak lepas
dari keinginan untuk menguasai atau memenangkan persoalan politik, kekuasaan
dan kejayaan.
Lagi-lagi,
persoalan ketuhanan pun tidak bisa lepas dari persoalan sosial yang sangat
komplek dalam kehidupan manusia dewasa ini.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Peta Jalan Kehidupan
24 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   188
Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245
Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   225
Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   222
Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15332
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7170
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6264
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5412
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5072