Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

412 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tuhan dan Perang



Minggu , 25 Oktober 2026



Telah dibaca :  129

Pada tanggal 16 Oktober 2026 merupakan hari stand up komedi paling tidak populer pada tahun ini. Donald Trump melontarkan candaan yang menyakitkan hati umat Islam. Menggunakan kata “Muhammad” sebagai candaan untuk merendahkan bangsa Iran dan umat Islam secara keseluruhan.

Pola candaan Donald Trump berbau SARA tentu saja bertentangan dengan pondasi bangsa AS yang berdiri di atas pondasi human right. Dia telah melawan konstitusi negara nya sendiri. Dia telah melecehkan kebenaran yang telah dianut oleh pendiri bangsa AS : George Washington. Ia menempatkan ham sebagai dasar legitimasi sebuah pemerintahan. Ia menjamin kebebasan penuh. Menjamin kebebasan berarti melindunginya dari segala intervensi dan diskriminasi dari pihak manapun.

Namun kelihatannya, prinsip human right tidak berlaku untuk Trump, tapi berlaku untuk orang-orang yang membenci nya dan negara nya. Trump menggunakan standar ganda. Pada saat ia berpidato tentang hak asasi manusia, pada saat yang sama juga melecehkan agama lain atau bangsa lain atas nama HAM.

Pola standar ganda tersebut merupakan ciri khas dari keturunan kaum Yahudi. Pola yang diperkenalkan Yahuda kepada Nabi Yusuf. Ia menangis di depan ayah nya Ya’qub atas musibah yang menimpa Yusuf. Padahal dia sendiri yang telah melakukan penganiayaan kepada saudaranya sendiri.

Pola standar ganda ini juga dilakukan kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad. Mereka mengharapkan kedatangan Nabi terakhir sebagai pembawa penyelamat akidah dan kehidupan mereka. Tetapi ketika Muhammad bukan dari keturunannya, mereka pun menolak dengan segala argument palsunya.

Sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani paling menyukai membahas tentang tauhid. Mereka selalu mempertanyakan eksistensi Tuhan agama Islam. Mereka juga mempertanyakan agama Islam sebagai agama terakhir. Mereka juga mengejek atau menghina agama Islam dengan pendekatan rasis. Seolah-olah manusia yang mempunyai hak untuk membawa risalah kenabian hanya dari keturunan kaum yahudi. Meskipun mereka juga sudah memahami bahwa secara garis besar bahwa agama samawi mempunyai satu induk sama yaitu millata Ibrahima hanifa. Mereka tidak menerima nya gara-gara Nabi Muhammad mempunyai garis keturunan dari Nabi Ismail. Dan Nabi Ismail lahir dari Hajar.

Pihak keturunan dari sarah sering merendahkannya. Sebab hajar merupakan hadiah dari raja Fir’aun, seorang budak perempuan yang sholeh. Meskipun sholeh, bagi keturunan Sarah dianggap status budak tidak hilang. Bagaimana bisa status kedudukan manusia merdeka dengan budak sama?. Kira-kira jalan berfikirnya seperti itu. Sentiment kesukuan ternyata jauh lebih tinggi daripada kebenaran ajaran tauhid sebagai titik temu agama-agama samawi.

Allah telah berfirman sebagai berikut:

قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu (Yahudi dan Nasrani) hendak berdebat dengan kami tentang Allah? Padahal, Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu. Hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri.

Ayat tersebut sangat jelas tentang kedudukan Tuhan dalam agama-agama samawi yaitu Allah SWT. Kesamaan Tuhan yang disembah tidak berarti membuat mereka sadar untuk saling menyayangi satu dengan lainnya. Dalil ketuhanan justru menjadi pembuka perbedaan keyakinan dan pandangan bahkan sampai pada permusuhan yang terus menerus akibat ada kepentingan-kepentingan yang bersifat politis dan ekonomis.

Perdebatan persoalan tauhid yang menjadi titik pertengkaran agama Islam, Yahudi dan Nasrani tidak hanya antar agama sebagaimana yang dijelaskan pada ayat tersebut di atas.

Kini justru terjadi pertengkaran di internal agama masing-masing. Semua agama mengalami persoalan tentang pandangan tauhid. Dari perbedaan ini kemudian merambah pada persoalan sosial yang lebih luas. Mereka akan berkelompok, berorganisasi dan membentuk suatu sistem kehidupan bersama untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama.

Hari ini kita melihat fenomena pertengkaran, perkelahian dan bahkan peperangan tidak lepas pada persoalan yang berawal dari perdebatan tentang persoalan ketuhanan.

Tuhan mengajarkan kepada manusia agar perdebatan tersebut sebagai jalan untuk berfikir dan mencari titik temu dan kemudian ada kesadaran untuk menemukan kebenaran sejati.

Namun sifat manusia yang begitu komplek ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan naluri selalu bersusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi naluri dasar yaitu kebutuhan makan dan minum. Berangkat dari ini, manusia sering bertikai, berkelahi dan saling membunuh atau perang karena rebutan sumber daya alam dalam beragam bentuk jenisnya. Dan persoalan diskursus tentang masalah ketuhanan, lambat laun pun tidak lepas dari keinginan untuk menguasai atau memenangkan persoalan politik, kekuasaan dan kejayaan.

Lagi-lagi, persoalan ketuhanan pun tidak bisa lepas dari persoalan sosial yang sangat komplek dalam kehidupan manusia dewasa ini.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Peta Jalan Kehidupan
24 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   188

Makna Tauhid: Antara Das Sollen dan Das Sein
11 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245

Sanad Keimanan
05 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   225

Islam, Timur Tengah dan Iran
25 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   222

Musafir Di Persimpangan Jalan
17 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15332


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7170


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6264


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5412