Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

406 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Seminar Hukum: Buku dan Scopus



Selasa , 06 Oktober 2026



Telah dibaca :  35

Saya sudah biasa jika jalan-jalan pertama yang saya cari yaitu buku. Gatel rasaya nya jika tidak beli buku. Alhamdulillah ada dua buku sudah saya beli hari ini: buku “Atomic Habits” tulisan James Clear dan “ The Art of Scientific Inquiry” tulisan Noorhaidi Hasan Rektor UIN Sunan Kalijaga. Kebetulan di berkenan membubuhkan tanda tangan di buku yang saya beli.  Terima kasih prof.

Saya memang paling suka beli buku, tapi cuma beli dan jarang mengetahui secara utuh isi bukunya.

Entah kenapa setelah saya mengikuti dua kegiatan berturut-turut ada kegelisahan di dalam hati. Terutama berkaitan dengan dunia Pendidikan. Kegiatan pertama ketika saya mengikuti seminar di UIR (Sabtu, 3 Oktober 2026), ada kegelisahan yang sangat serius datang dari Prof. Dr. M. Guntur Hamzah, S.H., M.H, yaitu adanya fenomena mahasiswa tidak bisa lagi menikmati ladzat nya buku-buku mata kuliah sebagaimana pada masa nya. Mereka memilih jalan pintas dengan pola hidup cepat saji. Ketika AI, semua yang diinginkan berada di depan mata.

Menurut nya sangat berbahaya sekali. Hidup dengan pola makan cepat saji sangat berbahaya terhadap kedalaman secara utuh tentang makna ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Proses menjadi sangat penting bagi mereka -dan tentu nya para dosen-untuk hidup secara wajar dalam upaya menjadikan dirinya sebagai ilmuwan dengan pola lama tidak boleh ditinggalkan yaitu menjadi kutu buku dan membuat buku atau penulis buku. Sangat menyedihkan sekali jika dosen sudah malas berfikir dan hidup nya sudah diserahkan kepada AI.

Kegiatan kedua yaitu seminar hukum kedua di UIN Yogyakarta (Selasa, 6 Oktober 2026). Persoalan proses menanak nasi secara wajar sebagai seorang penulis juga digaungkan lagi oleh Prof.Muhammad Amin Abdullah.

Dia mengibaratkan dunia akademik sekarang ini seperti kata Jayabaya “ora edan ora keduman”. Sambil guyon, Prof Amin Abdullah menggambarkan para dosen yang rebutan scopus, nek ora rebutan scopus ora keduman”. Para akademis berebut buat scopus yang hanya berapa lembar yang produknya rata-rata yang dalam tumpukan administrasi dan tidak terlihat konstribusi sama sekali. Para akademis telah terjebak pada kepentingan praktis, dan kehilangan daya kritis untuk melakukan suatu perubahan peradaban di tengah-tengah masyarakat.

Itu yang saya tangkap dari wejangan Amin Abdullah terhadap keresahan yang sangat mendalam di dunia akademik saat sekarang ini.

Scopus boleh-boleh juga. Tapi jangan sampai terjebak falsafah “ora edan ora keduman”. Seorang akademis harus menghidupan lagi falsafah ”wong waras nggagas”- orang berfikir sehat harus berfikir kritis melalui pemikiran-pemikiran dalam menyelesaikan persoalan sosial. Dunia akademik diharapkan bisa berkonstribusi menyelesaikan masalah. Minimal mempunyai karya sehingga masyarakat bisa membaca dan mendapatkan pencerahan melalui buku-buku yang ditulisnya.

Kenapa?. Karena dunia akademik sejati sebenarnya bagian dari jalan untuk membangun kesadaran diri sebagai jalan mengenal diri kepada Allah SWT. Dalam Jayabaya disebutkan “Eling lan Waspada”. Artinya bahwa daya kritis yang sudah terbentuk harus bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Ia harus berani menyelesaikan persoalan dengan pemikiran dan kajian-kajian ilmiahnya dan juga nasehat-nasehatnya pada situasi kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Disini letak dari kesadaran diri terhadap Allah SWT. Kesadaran spiritual yang mampu diwujudkan dalam operasional.

Saya kira persoalan dunia akademik memang sangat komplek sekali. Namun bukan berarti kita tidak bisa lagi menghidupkan dunia menulis buku -selain artikel yang wilayah nya sangat terbatas sekali- sebagai bagian wasilah untuk mewarisi tradisi intelektual para ulama dan ilmuwan pada masa lalu dan diteruskan kembali oleh generasi sekarang dengan karya yang lebih baik lagi dan lebih solutif. Semoga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Untuk Sahabatku: Pak Ocit dan Bu Ismi
13 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   268

Filosofis Lail Al-Qadr: Menyikapi Perbedaan Awal Bulan Syawal
19 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   343

Silaturahim, Pembuka Segala Rezeki
14 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   437

Puasa dan Hifdz An-Nafs
12 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   272

Puasa Sebagai Latihan Memanusiakan Manusia
22 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   267

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15084


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6778


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6107


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5024