
Saya sudah biasa jika jalan-jalan pertama
yang saya cari yaitu buku. Gatel rasaya nya jika tidak beli buku. Alhamdulillah
ada dua buku sudah saya beli hari ini: buku “Atomic Habits” tulisan James
Clear dan “ The Art of Scientific Inquiry” tulisan Noorhaidi Hasan
Rektor UIN Sunan Kalijaga. Kebetulan di berkenan membubuhkan tanda tangan di
buku yang saya beli. Terima kasih prof.
Saya memang paling suka beli buku, tapi cuma
beli dan jarang mengetahui secara utuh isi bukunya.
Entah kenapa setelah saya mengikuti dua
kegiatan berturut-turut ada kegelisahan di dalam hati. Terutama berkaitan
dengan dunia Pendidikan. Kegiatan pertama ketika saya mengikuti seminar di UIR
(Sabtu, 3 Oktober 2026), ada kegelisahan yang sangat serius datang dari Prof.
Dr. M. Guntur Hamzah, S.H., M.H, yaitu adanya fenomena mahasiswa tidak bisa
lagi menikmati ladzat nya buku-buku mata kuliah sebagaimana pada masa nya. Mereka
memilih jalan pintas dengan pola hidup cepat saji. Ketika AI, semua yang
diinginkan berada di depan mata.
Menurut nya sangat berbahaya sekali. Hidup dengan
pola makan cepat saji sangat berbahaya terhadap kedalaman secara utuh tentang
makna ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Proses menjadi sangat penting bagi
mereka -dan tentu nya para dosen-untuk hidup secara wajar dalam upaya menjadikan
dirinya sebagai ilmuwan dengan pola lama tidak boleh ditinggalkan yaitu menjadi
kutu buku dan membuat buku atau penulis buku. Sangat menyedihkan sekali jika
dosen sudah malas berfikir dan hidup nya sudah diserahkan kepada AI.
Kegiatan kedua yaitu seminar hukum kedua di
UIN Yogyakarta (Selasa, 6 Oktober 2026). Persoalan proses menanak nasi secara
wajar sebagai seorang penulis juga digaungkan lagi oleh Prof.Muhammad Amin
Abdullah.
Dia mengibaratkan dunia akademik sekarang
ini seperti kata Jayabaya “ora edan ora keduman”. Sambil guyon, Prof
Amin Abdullah menggambarkan para dosen yang rebutan scopus, nek ora rebutan
scopus ora keduman”. Para akademis berebut buat scopus yang hanya berapa
lembar yang produknya rata-rata yang dalam tumpukan administrasi dan tidak
terlihat konstribusi sama sekali. Para akademis telah terjebak pada kepentingan
praktis, dan kehilangan daya kritis untuk melakukan suatu perubahan peradaban
di tengah-tengah masyarakat.
Itu yang saya tangkap dari wejangan Amin
Abdullah terhadap keresahan yang sangat mendalam di dunia akademik saat
sekarang ini.
Scopus boleh-boleh juga. Tapi jangan sampai
terjebak falsafah “ora edan ora keduman”. Seorang akademis harus
menghidupan lagi falsafah ”wong waras nggagas”- orang berfikir sehat
harus berfikir kritis melalui pemikiran-pemikiran dalam menyelesaikan persoalan
sosial. Dunia akademik diharapkan bisa berkonstribusi menyelesaikan masalah. Minimal
mempunyai karya sehingga masyarakat bisa membaca dan mendapatkan pencerahan
melalui buku-buku yang ditulisnya.
Kenapa?. Karena dunia akademik sejati
sebenarnya bagian dari jalan untuk membangun kesadaran diri sebagai jalan
mengenal diri kepada Allah SWT. Dalam Jayabaya disebutkan “Eling lan Waspada”.
Artinya bahwa daya kritis yang sudah terbentuk harus bisa direalisasikan dalam
kehidupan nyata. Ia harus berani menyelesaikan persoalan dengan pemikiran dan
kajian-kajian ilmiahnya dan juga nasehat-nasehatnya pada situasi kondisi dunia yang
sedang tidak baik-baik saja. Disini letak dari kesadaran diri terhadap Allah SWT.
Kesadaran spiritual yang mampu diwujudkan dalam operasional.
Saya kira persoalan dunia akademik memang
sangat komplek sekali. Namun bukan berarti kita tidak bisa lagi menghidupkan
dunia menulis buku -selain artikel yang wilayah nya sangat terbatas sekali-
sebagai bagian wasilah untuk mewarisi tradisi intelektual para ulama dan
ilmuwan pada masa lalu dan diteruskan kembali oleh generasi sekarang dengan
karya yang lebih baik lagi dan lebih solutif. Semoga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Untuk Sahabatku: Pak Ocit dan Bu Ismi
13 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   268
Filosofis Lail Al-Qadr: Menyikapi Perbedaan Awal Bulan Syawal
19 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   343
Silaturahim, Pembuka Segala Rezeki
14 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   437
Puasa dan Hifdz An-Nafs
12 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   272
Puasa Sebagai Latihan Memanusiakan Manusia
22 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   267
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15084
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6778
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6107
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5024
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4950