Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Silaturahim, Pembuka Segala Rezeki



Sabtu , 14 Maret 2026



Telah dibaca :  326

Sore ini saya memenuhi undangan Kapolres Kepulauan Meranti. Acara ramah-tamah, bukber dan sekaligus santunan anak yatim. Tamu undangan ramai. Ada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan para pembesar negeri ini. Duduk di antara para pembesar jadi saya terlihat kecil dan pendek. Ma’lum, berat hanya 55 kg, tinggi tambah satu angka-155. Sedangkan di sekitar ku kelihatannya rata-rata beratnya lebih dari 70 kg, tinggi bisa 170 cm.

Kegiatan silaturahim sangat bagus. Kata Baginda Rasul : “ Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diperpanjang umurnya, hendaklah ia bersilaturahim”.


Kapolres kepulauan meranti -AKBP Aldi Alfa Faroqi, S.H., S.I.K., M.H- termasuk kapolres yang mudah bergaul, low profile dan murah senyum. Usianya masih muda. Wajah dan nama seperti keturunan Arab. Sedangkan saya -kata orang sih- seperti China. Sudah ada 10 lebih mengatakan bahwa saya itu keturunan China. Mereka baru percaya kalau saya bukan China saat ngobrol. Ternyata “ngapak”.

Saya pernah diskusi kecil-kecilan dengan pak aldi. Enak sekali. Wawasan luas. Intelektual. Dia tipe orang yang suka mendengar. Ketika lawan berhenti bicara, baru ia menanggapi dan tidak terkesan menggurui.

Di Kabupaten Kepulauan Meranti memang saya menemukan beberapa Kapolres model Pak Aldi. Sebelumnya, ada pak Andi Yul. Sekarang di Polda Riau. Sebelumnya juga ada pak laode proyek . namun hari ini saya belum mendapatkan informasinya.

Pak Andi dan Pak Laode sama-sama dari Makasar. Pun keduanya low profil. Contoh kecilnya saja, malam-malam Pak Laode datang ke rumah ku sekitar jam 21.00. tujuannya cuma satu, ingin ngopi.

Para kapolres di atas sangat suka sekali silaturahim. Orang Jawa bilang “nyambung seduluran”. Tradisi silaturahim ini sangat penting untuk menggali berbagai informasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan juga peluang-peluang kerjasama dengan masyarakat dalam upaya menyelesaikan berbagai peristiwa yang komplek.


Silaturahim adalah sumber rezeki. Silaturahim dengan ulama mendapatkan ilmu agama, silaturahim dengan dokter penyakit sembuh, silaturahim dengan orang-orang fakir miskin, hati kita lembut, silaturahim dengan orang tua hidup menjadi berkah, bahkan silaturahim dengan penjahat pun kita akan mendapatkan ilmu berkaitan dengan strategi melakukan kejahatan dan pelajaran untuk tidak seperti itu.

Pendek kata, para pemimpin yang rajin membangun koneksi akan mudah sekali naik pada level yang lebih tinggi.


“Ah saya khan orang hebat, cerdas, tinggi jabatanya, luas pengalaman hidupnya, seharusnya mereka yang datang kesini!!”.

Mungkin sering egoisme psikologis dari seseorang pemimpin muncul seperti itu. Saya kira itu manusiawi. Bahkan kita kadang terasa risih jika menemui orang lebih muda yang dianggap sedikit pengalamannya.

Padahal siapa sih yang lebih mulia dari seorang yang bernama Muhammad? Dia seorang Nabi, dia juga seorang Rasul. Kunci surga berada di tangannya. Kunci syafaat berada dalam genggamannya. Bahkan jika hanya mengatakan “iya”, seluruh gunung bisa menjadi gunung emas. Namun, darinya kita belajar bahwa keunggulan dan kesempurnaan dirinya tidak membuat “gumede” dan merasa harus dihormati dan disanjung-sanjung. Dia dengan rendah hati biasa duduk bareng dengan bilal dan dengan sahabat-sahabat kelas biasa. Makan bareng, minum bareng dan bahkan bergurau dengan riang gembira.

Silaturahim adalah seni hidup yang sebenarnya sebagai manusia. Silaturahim adalah ketulusan hati untuk menyatukan batin dan menyamakan misi tentang makna persaudaraan dan kemanusiaan. Orang yang rajin silaturahim akan sangat mudah membaca karakter lawan bicara. Orang yang rajin silaturahim akan dengan mudah menyesuaikan diri dan tidak canggung ketika berbicara dengan siapapun. Sebab ketika silaturahim terjalin dengan baik, maka sekat-sekat jabatan sepertinya sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah kebersamaan untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.

Jika demikian, silaturahim menjadi terlihat sangat penting. Apalagi para pemangku kebijakan, mereka sangat membutuhkan keberkahan dari teman-temannya. Jika modal tidak ada, kendaraan terbatas, dan kesempatan ada, maka sebaiknya kebiasaan silaturahim terus berlanjut dan benar-benar bagian dari cara membangun persaudaraan. Dari sini, modal sosial dengan silaturahim menjadi sangat penting untuk menyatukan visi, misi dan memberi pemahaman yang utuh tentang segala persoalan yang terjadi saat ini.

Dan mempertemukan seluruh elemen masyarakat yang dilakukan oleh Kapolres Kepulauan Meranti adalah bagian dari tujuan yang mulia tersebut. Langkah kecil dan kemanfaatanya sangat besar, yaitu silaturahim. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Filosofis Lail Al-Qadr: Menyikapi Perbedaan Awal Bulan Syawal
19 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   241

Puasa dan Hifdz An-Nafs
12 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   190

Puasa Sebagai Latihan Memanusiakan Manusia
22 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   161

BULUGHUL MARAM-AHKAMUL 'AQLI
18 September 2022   Oleh : Imam Ghozali   338

Niat dalam Ibadah
15 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   291

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870