
Sore ini saya memenuhi undangan Kapolres
Kepulauan Meranti. Acara ramah-tamah, bukber dan sekaligus santunan anak
yatim. Tamu undangan ramai. Ada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan para
pembesar negeri ini. Duduk di antara para pembesar jadi saya terlihat kecil dan
pendek. Ma’lum, berat hanya 55 kg, tinggi tambah satu angka-155. Sedangkan di
sekitar ku kelihatannya rata-rata beratnya lebih dari 70 kg, tinggi bisa 170
cm.
Kegiatan silaturahim sangat bagus. Kata Baginda Rasul : “ Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diperpanjang umurnya, hendaklah ia bersilaturahim”.

Kapolres kepulauan meranti -AKBP Aldi Alfa
Faroqi, S.H., S.I.K., M.H- termasuk kapolres yang mudah bergaul, low profile
dan murah senyum. Usianya masih muda. Wajah dan nama seperti keturunan Arab.
Sedangkan saya -kata orang sih- seperti China. Sudah ada 10 lebih mengatakan
bahwa saya itu keturunan China. Mereka baru percaya kalau saya bukan China saat
ngobrol. Ternyata “ngapak”.
Saya pernah diskusi kecil-kecilan dengan
pak aldi. Enak sekali. Wawasan luas. Intelektual. Dia tipe orang yang suka
mendengar. Ketika lawan berhenti bicara, baru ia menanggapi dan tidak terkesan
menggurui.
Di Kabupaten Kepulauan Meranti memang saya
menemukan beberapa Kapolres model Pak Aldi. Sebelumnya, ada pak Andi Yul.
Sekarang di Polda Riau. Sebelumnya juga ada pak laode proyek . namun hari ini
saya belum mendapatkan informasinya.
Pak Andi dan Pak Laode sama-sama dari Makasar.
Pun keduanya low profil. Contoh kecilnya saja, malam-malam Pak Laode datang
ke rumah ku sekitar jam 21.00. tujuannya cuma satu, ingin ngopi.
Para kapolres di atas sangat suka sekali silaturahim. Orang Jawa bilang “nyambung seduluran”. Tradisi silaturahim ini sangat penting untuk menggali berbagai informasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan juga peluang-peluang kerjasama dengan masyarakat dalam upaya menyelesaikan berbagai peristiwa yang komplek.

Silaturahim adalah sumber rezeki.
Silaturahim dengan ulama mendapatkan ilmu agama, silaturahim dengan dokter
penyakit sembuh, silaturahim dengan orang-orang fakir miskin, hati kita lembut,
silaturahim dengan orang tua hidup menjadi berkah, bahkan silaturahim dengan
penjahat pun kita akan mendapatkan ilmu berkaitan dengan strategi melakukan
kejahatan dan pelajaran untuk tidak seperti itu.
Pendek kata, para pemimpin yang rajin membangun koneksi akan mudah sekali naik pada level yang lebih tinggi.

“Ah saya khan orang hebat, cerdas, tinggi jabatanya,
luas pengalaman hidupnya, seharusnya mereka yang datang kesini!!”.
Mungkin sering egoisme psikologis dari
seseorang pemimpin muncul seperti itu. Saya kira itu manusiawi. Bahkan kita
kadang terasa risih jika menemui orang lebih muda yang dianggap sedikit
pengalamannya.
Padahal siapa sih yang lebih mulia dari
seorang yang bernama Muhammad? Dia seorang Nabi, dia juga seorang Rasul. Kunci surga
berada di tangannya. Kunci syafaat berada dalam genggamannya. Bahkan jika hanya
mengatakan “iya”, seluruh gunung bisa menjadi gunung emas. Namun, darinya kita
belajar bahwa keunggulan dan kesempurnaan dirinya tidak membuat “gumede”
dan merasa harus dihormati dan disanjung-sanjung. Dia dengan rendah hati biasa
duduk bareng dengan bilal dan dengan sahabat-sahabat kelas biasa. Makan bareng,
minum bareng dan bahkan bergurau dengan riang gembira.
Silaturahim adalah seni hidup yang
sebenarnya sebagai manusia. Silaturahim adalah ketulusan hati untuk menyatukan
batin dan menyamakan misi tentang makna persaudaraan dan kemanusiaan. Orang
yang rajin silaturahim akan sangat mudah membaca karakter lawan bicara. Orang
yang rajin silaturahim akan dengan mudah menyesuaikan diri dan tidak canggung
ketika berbicara dengan siapapun. Sebab ketika silaturahim terjalin dengan
baik, maka sekat-sekat jabatan sepertinya sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah
kebersamaan untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.
Jika demikian, silaturahim menjadi terlihat
sangat penting. Apalagi para pemangku kebijakan, mereka sangat membutuhkan
keberkahan dari teman-temannya. Jika modal tidak ada, kendaraan terbatas, dan
kesempatan ada, maka sebaiknya kebiasaan silaturahim terus berlanjut dan
benar-benar bagian dari cara membangun persaudaraan. Dari sini, modal sosial dengan
silaturahim menjadi sangat penting untuk menyatukan visi, misi dan memberi
pemahaman yang utuh tentang segala persoalan yang terjadi saat ini.
Dan mempertemukan seluruh elemen masyarakat
yang dilakukan oleh Kapolres Kepulauan Meranti adalah bagian dari tujuan yang
mulia tersebut. Langkah kecil dan kemanfaatanya sangat besar, yaitu silaturahim.
Penulis : Imam Ghozali
Filosofis Lail Al-Qadr: Menyikapi Perbedaan Awal Bulan Syawal
19 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   241
Puasa dan Hifdz An-Nafs
12 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   190
Puasa Sebagai Latihan Memanusiakan Manusia
22 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   161
BULUGHUL MARAM-AHKAMUL 'AQLI
18 September 2022   Oleh : Imam Ghozali   338
Niat dalam Ibadah
15 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   291
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870