Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

847 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa Sebagai Latihan Memanusiakan Manusia



Minggu , 22 Februari 2026



Telah dibaca :  115

Beberapa hari ini tidak sempat menulis catatan harian. Di bulan Ramadhan ini sebenarnya waktu sangat banyak dan berharga. Bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat. Mungkin karena pengaruh puasa, ingin rasanya santai-santai sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa.

Sebenarnya bukan itu masalah utama di bulan ramadhan. Yang jelas, saya harus mempersiapkan materi kuliah. Pada semester ini, ada 4 lokal tiga mata kuliah. Berarti saya harus mempelajari dan menulis beberapa materi mata kuliah dan saya masukan dalam laman website ku. Tujuannya agar mempermudah mahasiswa menerima materi kuliah.

Meskipun demikian, rasa nya tidak etis apabila kebiasaan menulis catatan harian berhenti. Sesibuk apapun, saya tetap menyiapkan. Meskipun mungkin para pembaca tidak berminat membacanya, tapi bagi ku sangat berharga sebagai bahan meditasi kehidupan melalui tulisan-tulisan.

Hari ini saya ingin menulis tulisan dengan judul “puasa kemanusiaan”. Selamat menikmati.

Rasa-rasanya ketika setiap manusia disuruh untuk memilih antara “puasa dan “tidak puasa”, rasa-rasa nya kok banyak yang memilih “tidak puasa”. Jika benar, saya kira wajar saja. Apalagi jika cuaca lagi tidak bersahabat. Sepert panas ekstrem atau dingin ekstrem.

Jika di daerah tropis biasanya cuaca panas ekstrem yang membuat rasa haus semakin menjadi-jadi. Anak ku Muhammad Faiz Artanabil “sambat” atau mengeluh haus dan lapar. Anak masih kelas 2 sd. Saya melihat nya kasihan. Saya mencoba menghiburnya. Saya bisikan ke telinganya,”cepat mandi, setelah sholat ashar nanti kita beli mercon dan takjil”. Ia sangat senang mendengar kalimat tersebut. Baginya terasa sangat indah seperti indahnya bisikan seorang kekasih yang mengajak pertemuan dengan kekasihnya minum kopi di kafe. Tentu bukan sembarang kafe. Mereka akan memilih kafe yang bersih, tenang dan cahaya terang mendukung serta ada lantunan kenangan. Membuat semakin terasa indah malam itu.

Selain panas ekstrem, ada dingin ekstrem. Di beberapa negara dingin, kadang menemukan bulan cuaca sangat dingin sekali. Bernafas saja seperti mengeluarkan asap. Jalan-jalan dan atap rumah dan seluruh alam berwarna putih. Lebih parah lagi durasi puasa kadang mencapai 18 jam. Bahkan ada hingga sampai 20 jam. Jarak antara buka puasa dan sahur sangat pendek. Selesai berbuka puasa, tidak lama kemudian sahur. Selesai sholat maghrib tidak lama kemudian sholat isya dan subuh.

Ibadah puasa juga bukan hanya sebatas soal kewajiban. Setiap umat Islam tidak mengingkarinya tentang persoalan tersebut. Puasa juga membahas tentang aspek kemanusiaan. Setiap muslim bisa mengukur diri sendiri, apakah fisiknya mampu menjalankan ibadah puasa atau tidak. Jika tidak berarti membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariatnya dan ketentuan geografisnya.

Jika warga kutub utara, tentu saja fidyahnya sesuai dengan makanan kebiasaan mereka. Makanan orang kutub harus mengandung unsur yang bisa membuat dirinya bisa bertahan hidup di lingkungan yang super dingin. Rata-rata makanan nya berupa daging mental atau ikan laut mentah. Tentu tidak cocok kalau fidyah nya nasi goreng atau nasi bungkus. Tuhan telah menciptakan sumber makanan sesuai dengan kondisi alam nya atau geografisnya.

Allah telah menciptakan manusia sesuai dengan geografisnya. Dari situ lahir kebiasan makanan yang sesuai dengan kondisi tubuhnya. Seperti di Arab Saudi, Allah menumbuhkan makanan yang sangat cocok dengan kondisi geografis yaitu kurma. Segala jenis kurma tumbuh dengan baik. Persis di Indonesia bisa tumbuh segala jenis tanaman padi.

Apa makanan pokoknya, dan apa fidyah nya dan zakatnya? Tentu saja kurma atau gandum. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ.

Artinya:

“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum” (HR Bukhari dan Muslim).

Bangsa Indonesia merupakan daerah tropis. Sejak dulu Tuhan telah menciptakan masyarakat Indonesia dengan segala fasilitas yang sangat mewah. Allah memberikan bahan makan pokok berupa padi. Hampir setiap mata memandang, hamparan sawah yang menguning dan siap untuk dipanen dan dikonsumsi.

Makanan pokok beras tidak bisa digantikan dengan daging atau kurma atau juga gandum. Itu sebabnya, membayar fidyah dan zakat juga dengan beras atau  makanan dari beras berupa nasi.

Itu sebabnya, kewajiban zakat fitrah masyarakat Indonesia tidak dengan kurma atau gandum, tapi dengan beras.

Tentu saja, kita tidak boleh mengatakan “bid’ah” zakat fitrah dengan beras karena tidak ada satu pun dalil  dari Al-Qur’an atau Hadist. Apalagi uang, tidak ada sama sekali. Orang-orang yang selalu berkoar-koar bahwa “ibadah” harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, termasuk zakat pasti akan terjebak kebingungan berprinsip ibadah. Jika ia tetap ngotot pada prinsipnya, maka ia harus merubah pola makanan dengan gandum atau kurma dan zakat juga dengan gandum atau kurma.

Jadi, syariat Islam saja sangat manusiawi. Jika tidak mampu berpuasa, maka membayar fidyah. Jika pun tidak mampu membayar fidyah pun karena miskin sekali, maka justru menerima fidyah. Jadi fidyah untuk dirinya sendiri.

Begitu juga persoalan zakat fitrah, Islam sangat manusiawi. Kita boleh berzakat dengan fitrah dengan makanan pokok berupa beras sesuai dengan harga yang bisa makan.

Bahkan jika diperkirakan dari segi kemanfaatan lebih besar dari uang daripada beras, maka justru zakat fitrah bisa diganti dengan uang. Sekarang kita lihat di berbagai masjid dan mushola, ada yang tetap menggunakan beras ada juga yang sudah bergeser berupa zakat fitrah dengan uang.

Itu sebabnya, puasa jangan dijadikan sebagai ibadah yang sangat ekstrem. Jika syariat memberikan pesan-pesan kemanusiaan, maka memaksa beragama dengan dalil “kembali “ kepada Al-Qur’an dan Hadist  secara tekstual justru memberatkan diri umat Islam itu sendiri. Jelas ini bertentangan dengan esensi agama yang selalu menjunjung tinggi kemanusiaan.

Jika Tuhan saja menjadikan ibadah puasa sebagai jalan untuk memanusiakan manusia atau mengenal dirinya sebagai manusia, maka sudah sepantasnya orang berpuasa harus semakin mengenal dirinya sendiri. Semakin mengenal dirinya sendiri, maka semakin “lembut” perasaan melihat orang lain. Semakin lembut melihat perasaan orang lain, maka semakin tumbuh rasa saling menghormati dan menghargai berbedaan. Dari sini sebenarnya esensi puasa bukan sebatas meningkatkan kualitas takwa kepada Allah, tapi juga nilai takwa yang meluber dalam kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat majemuk.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

BULUGHUL MARAM-AHKAMUL 'AQLI
18 September 2022   Oleh : Imam Ghozali   315

Niat dalam Ibadah
15 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   275

Penetapan Awal Bulan Ramadhan
16 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   449

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355