
Beberapa hari ini tidak sempat menulis
catatan harian. Di bulan Ramadhan ini sebenarnya waktu sangat banyak dan
berharga. Bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat. Mungkin karena pengaruh
puasa, ingin rasanya santai-santai sambil menunggu datangnya waktu berbuka
puasa.
Sebenarnya bukan itu masalah utama di bulan
ramadhan. Yang jelas, saya harus mempersiapkan materi kuliah. Pada semester
ini, ada 4 lokal tiga mata kuliah. Berarti saya harus mempelajari dan menulis beberapa
materi mata kuliah dan saya masukan dalam laman website ku. Tujuannya agar
mempermudah mahasiswa menerima materi kuliah.
Meskipun demikian, rasa nya tidak etis
apabila kebiasaan menulis catatan harian berhenti. Sesibuk apapun, saya tetap
menyiapkan. Meskipun mungkin para pembaca tidak berminat membacanya, tapi bagi
ku sangat berharga sebagai bahan meditasi kehidupan melalui tulisan-tulisan.
Hari ini saya ingin menulis tulisan dengan
judul “puasa kemanusiaan”. Selamat menikmati.
Rasa-rasanya ketika setiap manusia disuruh
untuk memilih antara “puasa dan “tidak puasa”, rasa-rasa nya kok banyak yang
memilih “tidak puasa”. Jika benar, saya kira wajar saja. Apalagi jika cuaca
lagi tidak bersahabat. Sepert panas ekstrem atau dingin ekstrem.
Jika di daerah tropis biasanya cuaca panas
ekstrem yang membuat rasa haus semakin menjadi-jadi. Anak ku Muhammad Faiz
Artanabil “sambat” atau mengeluh haus dan lapar. Anak masih kelas 2 sd. Saya
melihat nya kasihan. Saya mencoba menghiburnya. Saya bisikan ke telinganya,”cepat
mandi, setelah sholat ashar nanti kita beli mercon dan takjil”. Ia sangat
senang mendengar kalimat tersebut. Baginya terasa sangat indah seperti indahnya
bisikan seorang kekasih yang mengajak pertemuan dengan kekasihnya minum kopi di
kafe. Tentu bukan sembarang kafe. Mereka akan memilih kafe yang bersih, tenang
dan cahaya terang mendukung serta ada lantunan kenangan. Membuat semakin terasa
indah malam itu.
Selain panas ekstrem, ada dingin ekstrem. Di
beberapa negara dingin, kadang menemukan bulan cuaca sangat dingin sekali. Bernafas
saja seperti mengeluarkan asap. Jalan-jalan dan atap rumah dan seluruh alam berwarna
putih. Lebih parah lagi durasi puasa kadang mencapai 18 jam. Bahkan ada hingga
sampai 20 jam. Jarak antara buka puasa dan sahur sangat pendek. Selesai berbuka
puasa, tidak lama kemudian sahur. Selesai sholat maghrib tidak lama kemudian
sholat isya dan subuh.
Ibadah puasa juga bukan hanya sebatas soal kewajiban.
Setiap umat Islam tidak mengingkarinya tentang persoalan tersebut. Puasa juga
membahas tentang aspek kemanusiaan. Setiap muslim bisa mengukur diri sendiri,
apakah fisiknya mampu menjalankan ibadah puasa atau tidak. Jika tidak berarti
membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariatnya dan ketentuan geografisnya.
Jika warga kutub utara, tentu saja
fidyahnya sesuai dengan makanan kebiasaan mereka. Makanan orang kutub harus mengandung
unsur yang bisa membuat dirinya bisa bertahan hidup di lingkungan yang super
dingin. Rata-rata makanan nya berupa daging mental atau ikan laut mentah. Tentu
tidak cocok kalau fidyah nya nasi goreng atau nasi bungkus. Tuhan telah
menciptakan sumber makanan sesuai dengan kondisi alam nya atau geografisnya.
Allah telah menciptakan manusia sesuai
dengan geografisnya. Dari situ lahir kebiasan makanan yang sesuai dengan
kondisi tubuhnya. Seperti di Arab Saudi, Allah menumbuhkan makanan yang sangat
cocok dengan kondisi geografis yaitu kurma. Segala jenis kurma tumbuh dengan
baik. Persis di Indonesia bisa tumbuh segala jenis tanaman padi.
Apa makanan pokoknya, dan apa fidyah nya dan
zakatnya? Tentu saja kurma atau gandum. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – فَرَضَ رَسُولُ
اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ
صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ.
Artinya:
“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri dengan satu sha’ kurma
atau satu sha’ gandum” (HR Bukhari dan Muslim).
Bangsa Indonesia merupakan daerah tropis. Sejak
dulu Tuhan telah menciptakan masyarakat Indonesia dengan segala fasilitas yang
sangat mewah. Allah memberikan bahan makan pokok berupa padi. Hampir setiap
mata memandang, hamparan sawah yang menguning dan siap untuk dipanen dan dikonsumsi.
Makanan pokok beras tidak bisa digantikan
dengan daging atau kurma atau juga gandum. Itu sebabnya, membayar fidyah dan
zakat juga dengan beras atau makanan dari
beras berupa nasi.
Itu sebabnya, kewajiban zakat fitrah masyarakat
Indonesia tidak dengan kurma atau gandum, tapi dengan beras.
Tentu saja, kita tidak boleh mengatakan “bid’ah”
zakat fitrah dengan beras karena tidak ada satu pun dalil dari Al-Qur’an atau Hadist. Apalagi uang,
tidak ada sama sekali. Orang-orang yang selalu berkoar-koar bahwa “ibadah”
harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, termasuk zakat pasti akan terjebak
kebingungan berprinsip ibadah. Jika ia tetap ngotot pada prinsipnya, maka ia harus
merubah pola makanan dengan gandum atau kurma dan zakat juga dengan gandum atau
kurma.
Jadi, syariat Islam saja sangat manusiawi. Jika
tidak mampu berpuasa, maka membayar fidyah. Jika pun tidak mampu membayar
fidyah pun karena miskin sekali, maka justru menerima fidyah. Jadi fidyah untuk
dirinya sendiri.
Begitu juga persoalan zakat fitrah, Islam
sangat manusiawi. Kita boleh berzakat dengan fitrah dengan makanan pokok berupa
beras sesuai dengan harga yang bisa makan.
Bahkan jika diperkirakan dari segi
kemanfaatan lebih besar dari uang daripada beras, maka justru zakat fitrah bisa
diganti dengan uang. Sekarang kita lihat di berbagai masjid dan mushola, ada
yang tetap menggunakan beras ada juga yang sudah bergeser berupa zakat fitrah dengan
uang.
Itu sebabnya, puasa jangan dijadikan
sebagai ibadah yang sangat ekstrem. Jika syariat memberikan pesan-pesan
kemanusiaan, maka memaksa beragama dengan dalil “kembali “ kepada Al-Qur’an dan
Hadist secara tekstual justru
memberatkan diri umat Islam itu sendiri. Jelas ini bertentangan dengan esensi
agama yang selalu menjunjung tinggi kemanusiaan.
Jika Tuhan saja menjadikan ibadah puasa
sebagai jalan untuk memanusiakan manusia atau mengenal dirinya sebagai manusia,
maka sudah sepantasnya orang berpuasa harus semakin mengenal dirinya sendiri. Semakin
mengenal dirinya sendiri, maka semakin “lembut” perasaan melihat orang
lain. Semakin lembut melihat perasaan orang lain, maka semakin tumbuh rasa
saling menghormati dan menghargai berbedaan. Dari sini sebenarnya esensi puasa
bukan sebatas meningkatkan kualitas takwa kepada Allah, tapi juga nilai takwa
yang meluber dalam kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat majemuk.
Penulis : Imam Ghozali
BULUGHUL MARAM-AHKAMUL 'AQLI
18 September 2022   Oleh : Imam Ghozali   315
Niat dalam Ibadah
15 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   275
Penetapan Awal Bulan Ramadhan
16 November 2021   Oleh : Imam Ghozali   449
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3115
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355