
Hari ini-Sabtu,03 Oktober 2026- kami melakukan penandantangan MoU antara Badan
Keahlian DPR RI dengan sembilan perguruan tinggi -termasuk IAIN Datuk Laksemana
Bengkalis- langsung oleh Rektor Dr. H. Abu Anwar, M.Ag, dilanjutkan penandatangan
kerjasama dengan Pusat Perancangan Undang-Undang Bidang Politik, Hukum Dan Ham
Badan Keahlian DPR RI dan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Datuk
Laksemana Bengkalis.
Acara cukup padat: seminar tentang hukum,
MoU dan pelantikan pengurus ADHTN-HAN Provinsi Riau. Anggotanya dari 9 Perguruan
Tinggi di Riau.
Sebelum pelantikan saya bertemu dengan Husnu
Abadi, P.hD. Ketemu langsung merangkul ku.
Sangat bersahabat, bersahaja dan low profil. Tapi karya nya selangit. Sampai-sampai
waktu itu saya bertanya kepada nya: “Kapan pak husnu tidur?”. Maksud ku, apa
dia punya waktu istirahat jika dilihat karya buku nya begitu banyak. di
sela-sela kesibukan mengisi seminar, ia terus berkarya dan memberi pencerahan
di dunia akademik.
Setelah selesai pelantikan, ketua terpilih
dan sekaligus Warek 1 Unri Dr. Mexsasai Indra, SH, MH bertemu dengan ku. Lagi-lagi
langsung memeluk ku. “Apa kabar kyai, sehat”. Dia memanggilku demikian
-mungkin- gara-gara kebiasaan Dr. Edi Asnawi calon Professor dari Unilak –
dosen ku saat saya mengambil ilmu hukum- sudah terbiasa memanggil ku “kyai”. Baik
Pak Edi atau Pak Mexsasai hampir selalu memelukku saat bertemu. Seperti sahabat
lama yang tidak pernah ketemu. Mereka orang-orang hebat. Pendekar hukum saat
berada di pengadilan, staf ahli ataupun di forum-forum seminar keilmuan. Ternyata
semakin luas ilmunya, semakin bersahaja orangnya.
Berbeda dengan pak Husnu. Ia lebih akrab
memanggil ku dengan “Mas Imam”. Meskipun kadang campur dengan kata “ustadz”,
jadi “mas ustadz”.
Lebih terkesan setelah selesai pelantikan ketika
mendapatkan ucapan selamat, pas giliran ku, Prof Guntur -Prof.M.Guntur Hamzah, SH,
MH salah satu hakim MK – memberi ucapan lengkap menyebut nama ku. Hafal nama ku.
Katanya: “Selamat Ya Pak Imam Ghozali.”
Heran juga, begitu banyak nama ternyata dia
hapal nama ku. Pantas saja jadi hakim MK. cerdas luarbiasa. Sekali sebut nama
ku oleh panitia di antara puluhan nama, dia langsung hapal.
Saya pun heran juga, sekelas hakim MK memegang
tangan ku sangat erat, senyum mengembang dan tidak memperlihatkan sebagai seorang
hakim. Ia berpenampilan layak nya seorang guru bertemu dengan murid-muridnya
atau mahasiswa nya. humble, murah senyum, ramah dan sangat gaul. Lagi-lagi,
saya pun memberi suatu kesimpulan bahwa semakin dalam ilmu seseorang semakin
membumi dan rendah hati ucapan dan perilakunya.
Amma ba’dhu,….
Dunia begitu luas dan indah ketika saya
berada di Pertamanan Ilmu. Para guru besar dan dosen berkumpul. Mereka laskana
bunga yang beragam warna. Semerbak harum menyelimuti ruang pertemuan tersebut. Kami
berkumpul dalam upaya membangun satu rasa, satu jiwa dan satu tujuan untuk
membangun Provinsi Riau semakin baik kedepan dan negeri Indonesia lebih baik
lagi di masa mendatang.
Jika perguruan tinggi laksemana Taman Ilmu,
apakah kita telah mencangkul tanah nya, mengairi air di atas nya agar gembur
dan menyemai bibit-bibit unggul tentang ilmu, iman, amal dan akhlakul karimah.
Suasana perguruan tinggi mungkin sudah
berbeda dulu dan sekarang. Prof Guntur sebagai keynote speaker saat itu
menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi mahasiswa saat sekarang ini. Mereka lebih
mengenal WA,IG,FB,X daripada buku-buku kuliah yang telah ditulis oleh para
dosen, guru besar dan para ilmuwan. Kemajuan teknologi memang tidak bisa
dihindari dan mahasiswa harus melek terhadapnya. Tapi ruh teknologi ada pada buku-buku.
Tanpa adanya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi bisa menjadi liar dan tidak
manusiawi. Sebab teknologi hanya menawarkan persoalan efektifitas dan
obyektifitas. Siapapun anda akan dilayani sama dan mendapatkan hasil yang sama
juga.
Perguruan tinggi tidak hanya menciptakan manusia
robot. Perguruan Tinggi merupakan penerus peradaban yang sering disebut sebagai
khalifah fi al-ardh. Pada diri manusia ada sisi rasa yang mampu
menyambung suasana batin yang tidak dipunyai oleh teknologi. Pada diri manusia
ada jiwa, hati, kalbu yang menjadikan manusia hidup bisa selaras dalam
kehidupan sosial dan selaras hubungan bersama Sang Pencipta. Hubungan horizontal
dan vertical pada diri manusia hanya didapat pada unsur: jasmaniah, batiniah,
akal pikiran dan juga perasaan manusia.
Itu sebabnya, taman-taman ilmu di perguruan
tinggi harus dihidupkan obor-obor peradaban yang bersumber tidak hanya pada
bidang saint dan teknologi semata, tetapi juga pada bidang-bidang inti dari
tujuan manusia sendiri diciptakan yaitu untuk ibadah kepada Allah -Allah tidak
menciptakan manusia kecuali beribadah kepada-Nya – dan menjadikan hidup dalam
upaya menebarkan makarimal akhlak -Kami diutus kedunia ini tiada lain untuk
menyempurnakan akhlak.
Apapun kurikulum pendidikan dan
perkuliahan, semangat menanam taman ilmu dengan nilai-nilai ibadah dan akhlak
menjadi suatu kebutuhan sepanjang masa tidak peduli apapun zamanya. Sebab hanya
dengan dua kekuatan tersebut, Pertamanan Ilmu Akan tetap hidup dan masyarakat dunia
akan senantiasa baik-baik saja. Semoga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   167
Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   235
Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   187
Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183
Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15033
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6703
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6074
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4985
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4926