Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

403 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Taman Ilmu



Sabtu , 03 Oktober 2026



Telah dibaca :  56

Hari ini-Sabtu,03 Oktober 2026-  kami melakukan penandantangan MoU antara Badan Keahlian DPR RI dengan sembilan perguruan tinggi -termasuk IAIN Datuk Laksemana Bengkalis- langsung oleh Rektor Dr. H. Abu Anwar, M.Ag, dilanjutkan penandatangan kerjasama dengan Pusat Perancangan Undang-Undang Bidang Politik, Hukum Dan Ham Badan Keahlian DPR RI dan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Datuk Laksemana Bengkalis.

Acara cukup padat: seminar tentang hukum, MoU dan pelantikan pengurus ADHTN-HAN Provinsi Riau. Anggotanya dari 9 Perguruan Tinggi di Riau.

Sebelum pelantikan saya bertemu dengan Husnu Abadi, P.hD. Ketemu langsung  merangkul ku. Sangat bersahabat, bersahaja dan low profil. Tapi karya nya selangit. Sampai-sampai waktu itu saya bertanya kepada nya: “Kapan pak husnu tidur?”. Maksud ku, apa dia punya waktu istirahat jika dilihat karya buku nya begitu banyak. di sela-sela kesibukan mengisi seminar, ia terus berkarya dan memberi pencerahan di dunia akademik.

Setelah selesai pelantikan, ketua terpilih dan sekaligus Warek 1 Unri Dr. Mexsasai Indra, SH, MH bertemu dengan ku. Lagi-lagi langsung memeluk ku. “Apa kabar kyai, sehat”. Dia memanggilku demikian -mungkin- gara-gara kebiasaan Dr. Edi Asnawi calon Professor dari Unilak – dosen ku saat saya mengambil ilmu hukum- sudah terbiasa memanggil ku “kyai”. Baik Pak Edi atau Pak Mexsasai hampir selalu memelukku saat bertemu. Seperti sahabat lama yang tidak pernah ketemu. Mereka orang-orang hebat. Pendekar hukum saat berada di pengadilan, staf ahli ataupun di forum-forum seminar keilmuan. Ternyata semakin luas ilmunya, semakin bersahaja orangnya.

Berbeda dengan pak Husnu. Ia lebih akrab memanggil ku dengan “Mas Imam”. Meskipun kadang campur dengan kata “ustadz”, jadi “mas ustadz”.

Lebih terkesan setelah selesai pelantikan ketika mendapatkan ucapan selamat, pas giliran ku, Prof Guntur -Prof.M.Guntur Hamzah, SH, MH salah satu hakim MK – memberi ucapan lengkap menyebut nama ku. Hafal nama ku. Katanya: “Selamat Ya Pak Imam Ghozali.”

Heran juga, begitu banyak nama ternyata dia hapal nama ku. Pantas saja jadi hakim MK. cerdas luarbiasa. Sekali sebut nama ku oleh panitia di antara puluhan nama, dia langsung hapal.

Saya pun heran juga, sekelas hakim MK memegang tangan ku sangat erat, senyum mengembang dan tidak memperlihatkan sebagai seorang hakim. Ia berpenampilan layak nya seorang guru bertemu dengan murid-muridnya atau mahasiswa nya. humble, murah senyum, ramah dan sangat gaul. Lagi-lagi, saya pun memberi suatu kesimpulan bahwa semakin dalam ilmu seseorang semakin membumi dan rendah hati ucapan dan perilakunya.

Amma ba’dhu,….

Dunia begitu luas dan indah ketika saya berada di Pertamanan Ilmu. Para guru besar dan dosen berkumpul. Mereka laskana bunga yang beragam warna. Semerbak harum menyelimuti ruang pertemuan tersebut. Kami berkumpul dalam upaya membangun satu rasa, satu jiwa dan satu tujuan untuk membangun Provinsi Riau semakin baik kedepan dan negeri Indonesia lebih baik lagi di masa mendatang.

Jika perguruan tinggi laksemana Taman Ilmu, apakah kita telah mencangkul tanah nya, mengairi air di atas nya agar gembur dan menyemai bibit-bibit unggul tentang ilmu, iman, amal dan akhlakul karimah.

Suasana perguruan tinggi mungkin sudah berbeda dulu dan sekarang. Prof Guntur sebagai keynote speaker saat itu menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi mahasiswa saat sekarang ini. Mereka lebih mengenal WA,IG,FB,X daripada buku-buku kuliah yang telah ditulis oleh para dosen, guru besar dan para ilmuwan. Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari dan mahasiswa harus melek terhadapnya. Tapi ruh teknologi ada pada buku-buku. Tanpa adanya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi bisa menjadi liar dan tidak manusiawi. Sebab teknologi hanya menawarkan persoalan efektifitas dan obyektifitas. Siapapun anda akan dilayani sama dan mendapatkan hasil yang sama juga.

Perguruan tinggi tidak hanya menciptakan manusia robot. Perguruan Tinggi merupakan penerus peradaban yang sering disebut sebagai khalifah fi al-ardh. Pada diri manusia ada sisi rasa yang mampu menyambung suasana batin yang tidak dipunyai oleh teknologi. Pada diri manusia ada jiwa, hati, kalbu yang menjadikan manusia hidup bisa selaras dalam kehidupan sosial dan selaras hubungan bersama Sang Pencipta. Hubungan horizontal dan vertical pada diri manusia hanya didapat pada unsur: jasmaniah, batiniah, akal pikiran dan juga perasaan manusia.

Itu sebabnya, taman-taman ilmu di perguruan tinggi harus dihidupkan obor-obor peradaban yang bersumber tidak hanya pada bidang saint dan teknologi semata, tetapi juga pada bidang-bidang inti dari tujuan manusia sendiri diciptakan yaitu untuk ibadah kepada Allah -Allah tidak menciptakan manusia kecuali beribadah kepada-Nya – dan menjadikan hidup dalam upaya menebarkan makarimal akhlak -Kami diutus kedunia ini tiada lain untuk menyempurnakan akhlak.

Apapun kurikulum pendidikan dan perkuliahan, semangat menanam taman ilmu dengan nilai-nilai ibadah dan akhlak menjadi suatu kebutuhan sepanjang masa tidak peduli apapun zamanya. Sebab hanya dengan dua kekuatan tersebut, Pertamanan Ilmu Akan tetap hidup dan masyarakat dunia akan senantiasa baik-baik saja. Semoga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   167

Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   235

Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   187

Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   183

Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   177

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15033


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6703


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6074


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4985