
Tepat jam 10.09 menit saya menulis artikel
ini. Saya mencoba lagi menulis catatan-catatan harian yang masih 'ngendon'
dalam pikiran. Sempat tertunda. Selain karena ada persoalan kurang semangat-bad
mood-beberapa hari lalu, juga karena persoalan administrasi. Terutama persoalan
pekerjaan. Yang jelas, semester ini saya mendapatkan tugas 13 SKS atau 6 mata
kuliah. Berarti saya harus menyiapkan 6 RPS OBE dan Kontrak Kuliah berstandar
akreditasi juga 6 buah. Alhamdulillah sekitar jam 10.05 sudah selesai dikerjakan. clear, baik RPS maupun Kontrak Kuliah. Sedikit tenang dan senang. mumpung sedikit lagi nganggur, saya coba corat-coret tulisan, semoga bermanfaat.
Amma ba’du…
Tersenyum merupakan sunnah Nabi yang paling
murah. Nabi mengajarkan tersenyum, bukan tertawa. Sebab tersenyum memang
didesain oleh Allah dengan desain yang sangat indah. Orang yang selalu
tersenyum akan terlihat pada format wajahnya. Ia terlihat lebih indah wajahnya
daripada yang jarang tersenyum. Meskipun mungkin wajah nya terlihat
tradisional, tapi wajah yang sering tersenyum naik melesat menjadi standar
internasional, sebagai bagian dari etika kelas elit umat Nabi Muhammad SAW.
Kanjeng Nabi Muhammad bersabda:
Jarir bin Abdullah Al-Bajli berkata: “Tidaklah
Rasulullah melarangku -untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin-sejak aku
masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku, kecuali beliau selalu menampakkan
senyuman di depan wajahku” (HR.Tirmidzi, Bukhari dan Muslim).
Senyum jenisnya macam-macam. Saya mencoba
memahami dari berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama senyum dalam suasana hati yang sedang bahagia.Tersenyum
sebenarnya bagian dari suasana batin seseorang. Senyum adalah juz min kul-bagian
kecil tapi menggambarkan suasana batin secara menyeluruh. Orang yang suasana
batin sedang damai dan bahagia akan terlihat senyumannya memancar ke seluruh
tubuh. Senyumannya mampu memprovokasi energi positif kepada orang-orang yang
berada di sekitarnya. Semua pun bisa ikut ketularan bahagia karena senyumannya.
Senyum yang seperti ini ibarat vitamin yang sangat menyehatkan siapa saja yang
mengkonsumsinya.
Orang yang biasa tersenyum dalam keadaan bahagia,
belum tentu ia mampu tersenyum dalam keadaan sedih. Itu sebabnya kadang kondisi
psikologis dan perilakunya kontras ketika ada suasana hati yang berbeda. Hari ini
bisa senyum, besok bisa jadi akan marah-marah.
Kedua, senyum dalam suasana hati sedang sedih. Ada juga
orang tersenyum tapi dalam suasana batin yang sedih. Ia ingin sekali
menyenangkan atau membahagiakan kepada siapapun yang melihatnya. Tapi hatinya
terkadang hancur lebur karena ada persoalan keluarga, sakit, penderitaan yang
berkepanjangan dan persoalan-persoalan kehidupan lainnya.
Orang yang bisa tersenyum sedangkan dirinya
dalam keadaan menderita merupakan senyum punya kualitas tinggi. Jika diibaratkan
emas, jika ada emas 24 karat, maka senyum nya orang yang sedang menderita
mempunyai kualitas emas 100 karat, bahkan bisa jadi ada yang level 1000 karat.
Kenapa demikian tinggi kualitas senyum manusia
kelompok dua ini?. Sebab orang kelompok nomor dua ini adalah kelompok yang
sudah melewati tahapan-tahapan penderitaan yang sangat panjang. Ia sudah tidak
lagi melihat penderitaan sebagai sebuah penderitaan. Sudah biasa menderita. Sudah
tidak kaget lagi.
Seperti kisah anak-anak dulu. Sekolah tidak
sarapan, tidak jajan, tidak punya Sepatu, celana cuma satu, pulang sekolah
membuka tudung nasi, ibu nya belum masak nasi dan sayur karena orang tua tidak
punya beras. Anak-anak dulu tidak ada MBG-Makanan Bergizi Gratis. Tidak ada
duit jajan. Pulang sekolah langsung main di selokan, mencari ikan di sawah dan
pulang sampai sore hari. Mereka menderita, tapi sudah tidak merasakan
penderitaan lagi. Mereka serba kekurangan, tapi senyum dan tawa lepas mereka menjadi
hiasan terindah dalam kehidupan mereka.
Contoh yang sangat realita tentang senyum orang
kelompok nomor dua ini -saya kira-adalah ibu ku. Ia ibuku asli bernama ibu Ainiyatun.
Kisah hidupnya yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya mencoba
mengenang sepenggal kisah masa dulu.
Ibu ku punya anak banyak. masih
kecil-kecil. Selalu sakit. Bahkan ada adiku yang sakit selama kurang lebih 32
tahun. Jadi dari nol tahun sampai 32 tahun isinya sakit terus. Bukan sakit panas
dingin saja, tapi sakit sangat super komplek.
Saat duduk di sampingku, ibu ku tersenyum
dan berkata kepada ku: “Mam, lihat adik mu, sakit tidak sembuh-sembuh. Selalu
berada di kamar. Saya tidak menyesal. Saya senang, bahagia dan tidak ada beban
sama sekali. Tiap hari saya harus merawat tidak ada persoalan. Semua ini bagian
dari ibadah ku. Saya bersyukur bisa merawat adik-adiknya dengan penuh
kebahagiaan”.
Saya ingin meneteskan air mata saat itu. Ingin
menjerit rasanya. Hati ku berkata: “Terbuat dari apa hati ibuku, kenapa dia
begitu kuat menerima ujian yang sangat berat. Tapi ibuku tidak melihat sakit
adik-adiku sebagai ujian, justru melihatnya sebagai kenikmatan bisa merawat
adik-adiku dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT”.
Saya kadang berfikir, bisakah saya seperti
ibuku. Sabar menghadapi segala ujian hidup dan bisa syukur atas segala karunia
dari-Nya. saya kadang melihat diriku sendiri, badan yang ringkih, sering
sakit-sakitan. Dan kadang punya anak pun sering sakit-sakitan. Apakah bisa
menerapkan ilmu kesabaran dari ibu ku?.
Ketiga, ada senyum tapi auranya menyakitnya,
yaitu senyum sinis. Senyum yang mengeluarkan racun-racun penyakit; benci,
emosi, kemarahan dan permusuhan. Orang yang tersenyum sinis tentu tidak seindah
wajahnya. Meskipun cantik, tapi tidak simetris dengan wajahnya. Itu sebabnya
secantik apapun atau seganteng apapun ketika ada pada dirinya punya senyuman
sinis menjadi hilang aura kecantikan atau ketampanannya. Sebab memang Tuhan
menciptakan wajah hanya untuk senyum yang tulus, bukan senyum akal
bulus.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200
Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213
Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   229
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   362
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   372
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14549
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6238
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5664
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4712
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4551