Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

394 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan



Kamis , 10 September 2026



Telah dibaca :  38

Tepat jam 10.09 menit saya menulis artikel ini. Saya mencoba lagi menulis  catatan-catatan harian yang masih 'ngendon' dalam pikiran. Sempat tertunda. Selain karena ada persoalan kurang semangat-bad mood-beberapa hari lalu, juga karena persoalan administrasi. Terutama persoalan pekerjaan. Yang jelas, semester ini saya mendapatkan tugas 13 SKS atau 6 mata kuliah. Berarti saya harus menyiapkan 6 RPS OBE dan Kontrak Kuliah berstandar akreditasi juga 6 buah. Alhamdulillah sekitar jam 10.05 sudah selesai dikerjakan. clear, baik RPS maupun Kontrak Kuliah. Sedikit tenang dan senang. mumpung sedikit lagi nganggur, saya coba corat-coret tulisan, semoga bermanfaat.

Amma ba’du…

Tersenyum merupakan sunnah Nabi yang paling murah. Nabi mengajarkan tersenyum, bukan tertawa. Sebab tersenyum memang didesain oleh Allah dengan desain yang sangat indah. Orang yang selalu tersenyum akan terlihat pada format wajahnya. Ia terlihat lebih indah wajahnya daripada yang jarang tersenyum. Meskipun mungkin wajah nya terlihat tradisional, tapi wajah yang sering tersenyum naik melesat menjadi standar internasional, sebagai bagian dari etika kelas elit umat Nabi Muhammad SAW.

Kanjeng Nabi Muhammad bersabda:

Jarir bin Abdullah Al-Bajli berkata: “Tidaklah Rasulullah melarangku -untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin-sejak aku masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku, kecuali beliau selalu menampakkan senyuman di depan wajahku” (HR.Tirmidzi, Bukhari dan Muslim).

Senyum jenisnya macam-macam. Saya mencoba memahami dari berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama senyum dalam suasana hati yang sedang bahagia.Tersenyum sebenarnya bagian dari suasana batin seseorang. Senyum adalah juz min kul-bagian kecil tapi menggambarkan suasana batin secara menyeluruh. Orang yang suasana batin sedang damai dan bahagia akan terlihat senyumannya memancar ke seluruh tubuh. Senyumannya mampu memprovokasi energi positif kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Semua pun bisa ikut ketularan bahagia karena senyumannya. Senyum yang seperti ini ibarat vitamin yang sangat menyehatkan siapa saja yang mengkonsumsinya.

Orang yang biasa tersenyum dalam keadaan bahagia, belum tentu ia mampu tersenyum dalam keadaan sedih. Itu sebabnya kadang kondisi psikologis dan perilakunya kontras ketika ada suasana hati yang berbeda. Hari ini bisa senyum, besok bisa jadi akan marah-marah.

Kedua, senyum dalam suasana hati sedang sedih. Ada juga orang tersenyum tapi dalam suasana batin yang sedih. Ia ingin sekali menyenangkan atau membahagiakan kepada siapapun yang melihatnya. Tapi hatinya terkadang hancur lebur karena ada persoalan keluarga, sakit, penderitaan yang berkepanjangan dan persoalan-persoalan kehidupan lainnya.

Orang yang bisa tersenyum sedangkan dirinya dalam keadaan menderita merupakan senyum punya kualitas tinggi. Jika diibaratkan emas, jika ada emas 24 karat, maka senyum nya orang yang sedang menderita mempunyai kualitas emas 100 karat, bahkan bisa jadi ada yang level 1000 karat.

Kenapa demikian tinggi kualitas senyum manusia kelompok dua ini?. Sebab orang kelompok nomor dua ini adalah kelompok yang sudah melewati tahapan-tahapan penderitaan yang sangat panjang. Ia sudah tidak lagi melihat penderitaan sebagai sebuah penderitaan. Sudah biasa menderita. Sudah tidak kaget lagi.

Seperti kisah anak-anak dulu. Sekolah tidak sarapan, tidak jajan, tidak punya Sepatu, celana cuma satu, pulang sekolah membuka tudung nasi, ibu nya belum masak nasi dan sayur karena orang tua tidak punya beras. Anak-anak dulu tidak ada MBG-Makanan Bergizi Gratis. Tidak ada duit jajan. Pulang sekolah langsung main di selokan, mencari ikan di sawah dan pulang sampai sore hari. Mereka menderita, tapi sudah tidak merasakan penderitaan lagi. Mereka serba kekurangan, tapi senyum dan tawa lepas mereka menjadi hiasan terindah dalam kehidupan mereka.

Contoh yang sangat realita tentang senyum orang kelompok nomor dua ini -saya kira-adalah ibu ku. Ia ibuku asli bernama ibu Ainiyatun. Kisah hidupnya yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya mencoba mengenang sepenggal kisah masa dulu.

Ibu ku punya anak banyak. masih kecil-kecil. Selalu sakit. Bahkan ada adiku yang sakit selama kurang lebih 32 tahun. Jadi dari nol tahun sampai 32 tahun isinya sakit terus. Bukan sakit panas dingin saja, tapi sakit sangat super komplek.

Saat duduk di sampingku, ibu ku tersenyum dan berkata kepada ku: “Mam, lihat adik mu, sakit tidak sembuh-sembuh. Selalu berada di kamar. Saya tidak menyesal. Saya senang, bahagia dan tidak ada beban sama sekali. Tiap hari saya harus merawat tidak ada persoalan. Semua ini bagian dari ibadah ku. Saya bersyukur bisa merawat adik-adiknya dengan penuh kebahagiaan”.

Saya ingin meneteskan air mata saat itu. Ingin menjerit rasanya. Hati ku berkata: “Terbuat dari apa hati ibuku, kenapa dia begitu kuat menerima ujian yang sangat berat. Tapi ibuku tidak melihat sakit adik-adiku sebagai ujian, justru melihatnya sebagai kenikmatan bisa merawat adik-adiku dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT”.

Saya kadang berfikir, bisakah saya seperti ibuku. Sabar menghadapi segala ujian hidup dan bisa syukur atas segala karunia dari-Nya. saya kadang melihat diriku sendiri, badan yang ringkih, sering sakit-sakitan. Dan kadang punya anak pun sering sakit-sakitan. Apakah bisa menerapkan ilmu kesabaran dari ibu ku?.

Ketiga, ada senyum tapi auranya menyakitnya, yaitu senyum sinis. Senyum yang mengeluarkan racun-racun penyakit; benci, emosi, kemarahan dan permusuhan. Orang yang tersenyum sinis tentu tidak seindah wajahnya. Meskipun cantik, tapi tidak simetris dengan wajahnya. Itu sebabnya secantik apapun atau seganteng apapun ketika ada pada dirinya punya senyuman sinis menjadi hilang aura kecantikan atau ketampanannya. Sebab memang Tuhan menciptakan wajah hanya untuk senyum yang tulus, bukan senyum akal bulus.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200

Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   213

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   229

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   362

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   372

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14549


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6238


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5664


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4551