
Saya biasanya mengikuti pengajian dzikrul ghofilin. Namun tahun ini saya absen. Sudah dua hari demam, hidung “meler” terus, tenggorokan sakit, dan kepala terasa berat. Namun saya tetap berdoa, semoga kedatang Gus Sabut Pranoto Projo dari Pesantren Ploso Jawa Timur memberkahi diriku dan keluargaku, juga semua masyarakat Meranti, wabil khusus para muhibin. Amin.
Sejarah panjang pengajian dzikrur ghofilin berawal dari gagasan tiga kiai pada tahun 1960-an; kiai Hamid Pasuruan, Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek) dan Kiai Ahmad Shidiq Jember. Tujuan dzikrul ghofilin yaitu murni untuk kebahagiaan di Akherat. Amalan ini mempunyai rangkaian cara yang sudah ditentukan.
Apakah orang-orang yang sudah mengikuti acara ini sudah merasa tenang atau belum, tergantung pada maisng-masing individu. Wiridan ini adalah bagian untuk mendapatkan madu kebahagiaan secara totalitas. Wiridan ini adalah tangganya. Etikanya, ketika sudah memanjat tangga ke-ma’rifat-an kepada Allah s.w.t, seharusnya para muridin dan muhibin sudah bisa melihat lautan kebagiaan yang tidak bertepi. Namun ketika, masih “sumpek” dengan urusan dunia, dan mencoba menetralisir dengan wiridan-wiridan tersebut, sangat susah untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun mendapatkan, akan mudah hilang. Setelah acara selesai, selesai juga kebahagiaan yang dia dapat di majelis ta’lim.
Fenomena tersebut bukan hal yang baru saja terjadi. Pada zaman nabi juga demikian. Para sahabat merasa bahagia ketika duduk bareng dalam satu majelis dengan nabi yang agung, Muhammad s.a.w. para sahabat merasa bahagia lahir-batin. Seolah-olah melihat surga yang ditajuhkan di dunia. Tidak ada kesedihan luarbiasa. Namun ketika pulang ke rumah, para sahabat pun mengeluh. Mereka melihat keindahan tidak didapat lagi. Yang ada di rumah adalah kemarahan istri, anak sakit, kebutuhan rumah tangga serba kekurangan dan berbagai persoalan-persoalan lainya.
Nabi pun tersenyum ketika mendengar cerita para sehabat yang demikian adanya. Menurutnya itulah hakikat manusia, yang selalu merasa senang dan sedih terhadap apa yang ditemukan di dunia. Adanya tantangan tersebut menjadi renungan bagi sahabat untuk senantiasa senang dan bahagia dalam keadaan apapun.
Saya kira tujuan dzikrul ghofilin demikian. Saya yang dhaif ini menilai bahwa manusia sering lupa kepada Sang Pencipta. Lupa kepada-Nya dalam keterjagaan. Manusia memang tidak pernah lupa sholat dan wiridan kepada Allah s.w.t, dan mengirim shalawat kepada Rasulullah s.a.w. Manusia sholat tetapi lupa pada hakikat sholat dan wiridan. Hati dan pikirannya masih tergantung kepada nikmat dunia, belum bisa merasakan nikmat sholat dan wiridan serta membaca sholawat. Padahal orang-orang yang sudah merasakan indah bercengkarama dengan Allah secara totalitas, kebahagiaan dunia pun terwujud. Bukan karena melimpah nya harta, tapi karena melihat Dunia dengan kacamata Akherat. Itulah makna dari “Mengikuti dzikrul ghofilin, maka dunia pun mengikutinya.” Wallahu a’lam.
Kapal Dumai Line, 1 Agustus 2022
Imam Ghozali
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879