
Mengenal akhlak berarti mengenal inti ajaran Islam. Nabi telah menjelaskan bahwa dia diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Ini membuktikan bahwa akhlak menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat arab kala itu, ketika mereka telah mencapai pada titik terendah kemerosotan moral dalam kehidupan sehari-hari. tatanan kehidupan sudah tidak berjalan dengan baik. Hukum dibuat berdasarkan atas kepentingan kelompok dan kekuatan para penguasa dan kaum feudal. Rakyat kecil mendapatkan posisi tidak berharga. Mereka menjadi kelas dua dalam strata sosial. Mereka diperjual belikan laksana binatang dan benda-benda kebutuhan sehari-hari. sungguh sangat mengenaskan status manusia kala itu. Kebenaran, ketenaran dan kemulyaan atas dasar kekuatan dan kekuasaan serta kekayaan.
Tuhan dalam Q.S. al-Qalam [4] telah berfirman :
وانك لعلي خلق عظيم
Artinya : “dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung.”
Apa itu akhlak? Banyak para ulama mendefinisikan tentang akhlak. Muhammad al-Wasithy mengatakan : “ Nabi disebut mempunyai akhlak yang mulia karena beliau merelakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah s.w.t semata. Menurutnya akhlak mulia berarti orang tidak bertengkar dengan orang lain, tidak memusuhi oleh mereka, karena hamba itu dihadapi kedahsyatan ma’rifat kepada Allah s.w.t.
Al-Husain bin manshur menjelaskan, “Akhlak mulia adalah, bahwa engkau tidak terpengaruh kebesaran orang banyak, setelah engkau memperhatikan al-haq.” Syah al-Kirmany menuturkan, “suatu tanda akhlak yang baik adalah, bahwa engkau mencegah bahaya, dan secara rela menanggung kerugian yang mereka timpakan kepadamu.” (an-Naisabury, 1997).
Dari definisi di tersebut menunjukan bahwa makna akhlak yang agung pada diri manusia ketika pada dirinya ada pola berfikir dan berbuat semata-semata hanya mengharap ridha Allah s.w.t. orang-orang yang menempuh jalan kemuliaan ini sudah tidak memperdulikan sanjungan dari siapapun, sebab apa yang mereka lakukan dipersembahkan semata-mata hanya untuk mengagungkannya. Itu sebabnya, orang-orang yang demikian tidak mempunyai waktu untuk istirahat atau melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat. Justru sebaliknya, mereka sangat menghargai waktu. Sebab setiap saat baginya menjadi nilai ibadah dan prestasi.
Hal ini juga dikatakan dalam kitab al-Hikam sebagai berikut:
Orang yang ada di alam dunia dan belum terbuka baginya lapangan ghaib, tetap terkurung dengan (oleh) syahwat dan adat kebiasaanya, dan terkepung oleh kepentingan-kepentingan kerangka badanya.
Engkau tetap terikat oleh alam benda, selama engkau belum melihat yang menciptakan alam, tetapi bila engkau telah melihat pencipta alam, maka alam ini akan tunduk kepadamu (Bahreisy, 1984).
Kita al-Hikam yang ditulis oleh syeikh Ahmad ‘Athaillah ini memberikan makna yang sama tentang akhlak sebagaimana pendapat para ulama sufi di atasnya. Akhlak merupakan kesadaran seseorang sebagai hamba Allah dan berbuat hanya untuk-Nya. Dunia sebagai jalan atau wasilah melakukan segala aktivitas sebenarnya bukan tujuan utama, melainkan kendaraan untuk menuju kepada sang pemilik alam semesta. Pemaknaan ini bukan berarti orang yang berakhlak tidak mencintai dunia dengan melakukan aktivitas, kerja keras dan meraih prestasi. Akhlak mengajarkan kepada manusia untuk menyadari bahwa dunia yang kita kejar akan ditinggal dan menjadi milik dari generasi berikutnya. Namun ketika dunia yang kita lakukan bernilai positif untuk kebaikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat, maka kita telah mempersembahkan yang terbaik untuk diri sendiri ketika berjumpa dengan Allah s.w.t. dari sini sebenarnya, akhlak menjadi pendorong positif setiap manusia untuk terus berkarya dan melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk masa depan yang kita cita-citakan yaitu mendapat ridha Allah dan masuk kedalam surga-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   111
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872